Banner Uhamka
Selasa, September 29, 2020
Banner Uhamka

Pulang – Idul Fitri Dan Siklus Kehidupan Manusia

Ben Anderson: Jangan Pukul yang Lemah

Barangsiapa yang pernah ke rumah Om Ben Anderson di di Desa Freeville, di dekat kota Ithaca, New York bagian atas, pasti akan menemukan begitu...

Pemerintah Lembek Berhadapan dengan Simpatisan ISIS

Hari ini, kita tahu batas kesungguhan Kemenag, BNPT, dan pihak terkait, dalam menanggulangi terorisme. Semuanya sebatas hangat-hangat tai ayam. Dengan mudah mereka mewacanakan kepulangan simpatisan...

Belajar Gender dan Orientasi Seksual dari Pernikahan Aming

Saya ucapkan selamat menempuh hidup baru untuk aktor Aming Supriatna Sugandhi yang menikah dengan dengan Evelyn Nada Anjani yang akrab disapa Kevin. Saya sendiri...

Jokowi di Tengah “Negara Bayangan”?

Deep State adalah istilah yang cukup populer di perpolitikan Amerika. Kalau diterjemahkan secara sederhana artinya kurang lebih "Negara Bayangan". Di Amerika, konon, pemerintah dan...

Meski tak banyak manusia sadar, sesungguhnya kehidupan manusia adalah perjalanan penuh kerinduan. Dimulai dari “kejatuhan” , dan disambung dengan keinginan pulang.

Ya, kehidupan manusia sesungguhnya adalah perjalanan pergi dan pulang, dari suatu tempat berangkat ( mabda’ ) menuju suatu tempat kembali ( ma’ad ) yang tak lain adalah tempat-berangkatnya: manusia bersumber dan berawal dari Tuhan, untuk berjalan kembali kepada Tuhan lagi.

Firman Allah Swt.: “Sesungguhnya kita bersumber/kepunyaan/bagian dari Allah, dan sesungguhnya kepada Dialah kita akan kembali.” (QS. 2 : 156).

Kita tercipta – saya harus menyebutnya sebagai terpancar (teremanasi) — dari Allah, tertempatkan ke alam dunia, demi mencari jalan pulang kembali kepada-Nya. Dalam kebijaksanaan (hikmah) Islam, satu siklus lengkap perjalanan hidup manusia melewati dua busur yang membentuk sebuah lingkaran penuh : busur turun ( al-qaws al-nuzul ) dari Allah ke alam ciptaan; dan busur naik ( al-qaws al su’ud ) dari alam ciptaan kembali kepada Allah.

Seperti difirmankan-Nya terkait peristiwa Mi’raj Nabi saw: “Maka Dia pun mendekat, dan makin mendekat lagi. Maka jadilah jarak antara-Nya dengan manusia (dengan Muhammad Saw., sebagai representasi perjalanan kembali manusia kepada-Nya yang paripurna) adalah dua busur panah, atau lebih dekat lagi.” (QS. 53 : 8-9).

Dalam kaitan ini, kebahagiaannya sepenuhnya terletak pada kelancaran perjalanan pulangnya. Kodrat manusia adalah damai dalam Kasih-sayang Tuhan, Sang Maha Rahman, Sang Maha Rahim. Keterpisahannya adalah penderitaan dan kesengsaraan. Meski tak banyak di antara kita menyadarinya.

Kita berjungkir-balik mengejar pencapaian dan kesenangan duniawi – menumpuk harta, meraih kekuasaan, menangguk popularitas – sebenarnya adalah akibat ketersamaran terhadap kerinduan ini. Manusia merasa akan mendapatkan kasih sayang yang didambakannya jika dia miliki semuanya itu. Kenyataannya semua itu hanya fatamorgana. Kebahagiaannya, kepuasannya, kedamaiannnya tak terletak di situ. Yang dia kejar tak kurang dari cinta yang sepenuhnya dapat dia andalkan. Cinta Tuhan. Cinta yang Sempurna.

Maka, pertaruhannya terletak pada seberapa besar dia bisa mendekati-Nya, dengan berusaha menjadi seperti-Nya. Menjadi memiliki akhlak-Nya: berakhlak dengan akhlak-Nya ( al-takhalluq bi akhlaq Allah ), menjadikan hatinya dipenuhi kasih-sayang terhadap sesamanya. Karena, hanya dengan mengembangkan kasih sayang kepada manusia dan seluruh makhluk-Nya ia baru memiliki kesempatan mendapatkan kasih-sayang-Nya.

Kata pesuruh-Nya: ” Barangsiapa tak menyayangi, tak akan disayangi.” Dan kasih-sayang-Nya terletak pada kasih sayang kepada sesama manusia, kepada sesama ciptaan-Nya. Masih kata Rasul-Nya: “Barangsiapa menyayangi yang di bumi, akan disayangi Yang Di Langit.”

Namun, senyampang perjalanan-jauh pulang kepada Sang Sumber, dia bisa dapati tempat pulang di bumi, di antara orang-orang yang menyayangi: Ibu, ayah, saudara, kerabat, sahabat. Mereka yang kita tahu menyayangi kita setulus hati, yang cintanya bisa kita andalkan. Yang kasih-sayangnya sesungguhnya merupakan pancaran kasih Tuhan. Yang ke dalam hati mereka, Tuhan pancarkan kasih-sayang-Nya.

Merekalah sumber kebahagiaan dan kedamaian di dunia. Maka, setiap ada kesempatan, kita selalu terdorong pulang kepada mereka. Sebagaimana arti-aslinya, keterasingan dari kekasih kita adalah laknat.

‘Idul Fitri – kembali ke fitrah — sesungguhnya berarti kembali ke Allah, karena atas fitrah-Nya fitrah kita diciptakan. (QS. 30 : 30). Mudik pun tak lain adalah miniatur perjalanan kosmik kita untuk pulang kepada-Nya.

Maka sudah sepantasnya mudik mengingatkan kita pada-Nya. Bahwa di ujung perjalanan, menunggu Kekasih-sejati kita, Allah Yang Maha Pengasih, yang hanya dalam pelukan-Nya pupus sudah semua kerinduan kita, yang di haribaan-Nya, penuh sudah hasrat kita.

“Wahai jiwa yang tenteram. Pulanglah Engkau ke Pengasuh-Mu dengan rela dan direlai-Nya. Maka, masuklah ke dalam kelompok hamba-hamba-Ku (yang Kucintai). Maka, masuklah ke dalam taman-surga-Ku.”

Pernah dimuat di Mizan Wacana tahun 2018.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.