OUR NETWORK

Puisi Neno Warisman dalam Logika Rocky Gerung

Bunda Neno tidak sedang mengancam Allah. Ngawur, itu.

“Salah penempatan doa. Ibarat mau makan, tapi membaca doa mau berjimak.” Begitu komentar di dinding Facebook saya dari seorang aktivis muda Muhammadiyah yang saya tak tega menyebutkan namanya di sini. Tentu saja komentar itu terkait puisi alias munajat alias doa alias apalah yang dibacakan oleh Mbak Neno Warisman dalam kubangan air mata.

Saya tahu, tulisan ini mirip-mirip rangkuman saja. Sebab di mana-mana sudah tersebar beberapa pemaparan atas problem serius dalam puisi doa Mbak Neno. Sayangnya, semua disajikan dalam remah-remah belaka, sehingga saya sebagai penonton setia “Album Minggu Ini” di TVRI era 1990-an yang sangat akrab dengan nama Neno Warisman merasa perlu mengisi ruang rindu untuk menuliskannya secara lengkap bagi setiap penggemar.

Begini. Semua sudah tahu, dalam apa yang disebut sebagai “Puisi Munajat 212”-nya, Bunda Neno dengan begitu dramatis penuh tangis membacakan kalimat doa yang bikin tratapan banyak orang. Memang itu puisi, tapi muatannya jelas-jelas doa. Ini bunyinya:

“… dan menangkan kami, karena jika Engkau tidak menangkan kami, kami khawatir ya Allah, kami khawatir ya Allah, tak ada lagi yang menyembah-Mu.”

Banyak orang lantas mengatakan bahwa Neno sedang “mengancam Allah”. Kalau “kami” tidak menang, maka Allah enggak akan ada lagi yang menyembah. Betulkah kesimpulan massa buih tersebut?

Untuk memahaminya, kita harus paham terlebih dulu bahwa doa itu bukan merupakan doa yang dibikin-bikin serampangan saja. Itu doa yang sangat serius, dahulu kala diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW saat Perang Badar pada tahun kedua kalender Hijriyah.

Perang, atau lebih tepat sebenarnya Pertempuran Badar, merupakan konflik besar bersenjata yang pertama kali terjadi dalam sejarah Islam. Itu merupakan pertempuran legendaris, selalu disebut-sebut saking heroiknya. Pasukan muslim hanya berkekuatan 313 orang prajurit, sementara pihak kafir Quraisy berjumlah 1000 orang.

Pendek kisah, dalam situasi yang tidak berimbang, Rasulullah Muhammad SAW pun berdoa kepada Allah,

“Ya Allah, penuhilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau membinasakan pasukan Islam ini, maka tidak ada yang akan beribadah kepada-Mu di muka bumi ini.” [Hadits Riwayat Muslim 3/1384 hadits no 1763]

Nah, mirip sekali dengan puisi Mbak Neno, kan? Memang. Artinya, berdoa seperti yang diucapkan Mbak Neno itu sama sekali bukan masalah. Doanya sendiri tidak salah, catat itu. Sebab yang jadi masalah bukan doanya, melainkan apakah antara konteks sosio-historis dan redaksional doanya itu nyambung apa enggak. Gitu lho, Mas.

Mari kita teliti. Saat peristiwa Badar, jumlah umat Islam masih sangat sedikit. Nabi Muhammad terjun langsung memimpin pertempuran, dan tokoh-tokoh terpenting Islam mula-mula juga bersama beliau. Konsekuensinya, jika pasukan muslim kalah dan terbantai di Lembah Badar, apa yang disebut oleh Nabi dalam doa beliau itu bukan mustahil akan terjadi, yaitu “tidak ada yang akan beribadah kepada-Mu di muka bumi ini.” Lha iya, wong semua sudah gugur.

Memang tidak semua muslim angkatan pertama itu ikut bertempur. Ada beberapa sahabat yang tidak bergabung, misalnya Utsman bin Affan yang merawat istrinya yang sedang sakit, Ruqayyah putri Nabi. Namun, secara kalkulatif, andai segenap pasukan di Badar itu syahid termasuk Rasulullah Muhammad, sisa yang masih hidup tidak akan cukup mampu bertahan karena terlalu lemah secara sosial, lebih-lebih lagi secara militer. Islam pun tidak akan berkembang, dan sangat mungkin akhirnya rontok.

Dalam sudut pandang keimanan Islam, tentu saja itu sama dan sebangun dengan “tak ada lagi yang menyembah Allah”. Klir sekali.

Dengan situasi seterang itu, tentu saja Nabi Muhammad tidak sedang “mengancam” Allah. Nabi cuma menyajikan peta realitas dan konsekuensi logis yang paling mungkin terjadi, lalu berdoa menagih janji Allah untuk kemenangan umat Islam. Jadi semacam bicara baik-baik, “Ya Allah, ini lho, umat Islam tuh masih sedikit sekali, dan masih sangat lemah dalam berbagai segi. Kalau Engkau biarkan kami kalah dan mati di medan ini, pastilah risalah-Mu akan sangat sulit berkembang, umat Islam pun akan habis. Dan kalau umat Islam habis, lantas siapa yang akan menyembah-Mu?”

Nah, situasi seperti Perang Badar itu berbeda dari perang, eh, Pilpres Indonesia 2019. Bedanya pun pakai banget. Karena beda jauh, konteksnya tidak masuk, muatan doanya jadi tidak nyambung. Karena tidak nyambung, makna doanya bisa berubah akibat ketidaknyambungan itu.

Mari kita cerna baik-baik dengan akal sehat, biar enggak kalah sama Rocky Gerung.

Sebagai pembuka, kita samakan dulu persepsi kita bahwa doa Mbak Neno itu memang terkait pertarungan politik perebutan kursi kepemimpinan nasional. Tidak perlu kita pura-pura tak paham, bahwa dalam syair utuhnya, ada kata-kata dan kalimat semacam “Kau turunkan pertolongan yang dijanjikan, bagi yang terdera, bagi pemimpin yang terfitnah, bagi ulama yang dipenjara, bagi pejuang yang terus dihadang-hadang, bagi pembela keadilan yang digelandang ke bilik-bilik pesakitan.” Ada pula “Untuk hari depan yang lebih baik, untuk kepemimpinan yang berpihak pada rakyat bersama-Mu.” Dan lain-lain.

Jangan berdebat tentang akurasi tuduhan-tuduhan tersebut. Lupakan dulu. Yang jelas, segenap unsur yang saya cuplik barusan itu cocok dengan narasi-narasi tuntutan pergantian kekuasaan yang selama ini didengungkan oleh kaum oposisi.

Selanjutnya, kita bandingkan konteks antara dua kasus historis ini.

Pertama, dalam kasus Perang Badar, umat Islam berhadapan dengan kaum kafir pagan Quraisy. Sementara, dalam kasus Pilpres 2019, umat pro-Prabowo yang didukung Neno Warisman dan disebut dengan kata ganti “kami” dalam puisi munajat itu mayoritas muslim, berhadapan dengan umat pro-Jokowi yang juga mayoritas muslim. Secara simplistis: ini muslim berhadapan dengan muslim. Beda sekali antara kedua kasus.

Kedua, dalam kasus Perang Badar, pihak yang didoakan oleh Nabi Muhammad, yakni pasukan Islam, menanggung risiko kekalahan yang sama artinya dengan kematian. Kematian di sini adalah kematian dalam makna harfiahnya, sebab pertempurannya memang pertempuran fisik bersenjata. Sementara, dalam kasus Pilpres 2019, pihak yang didoakan oleh Neno hanya menanggung risiko kekalahan di atas kertas saja, bukan risiko kematian. Andai Prabowo kalah, pendukungnya tidak akan dibantai, hehehe. Semua masih akan tetap hidup, kecuali kalau memang ada yang kena serangan jantung akibat tak kuat menanggung kekalahan. Semoga saja tidak ada. Amin ya Allah.

Coba cermati. Hanya dengan perbandingan dua unsur itu saja, langsung tampak telanjang betapa doa Nabi Muhammad di Pertempuran Badar tidak nyambung blas jika diterapkan dalam konteks Pilpres 2019. Ini bukan semata karena kritik “Doa Nabi jangan dipakai buat permainan politik dong!” Bukan itu. Namun memang karena segenap konteks unsur-unsurnya tidak memenuhi nalar kontekstual, tidak cocok dengan akal sehat, dan artinya tidak sejalan dengan visi mulia Baginda Yang Mulia Rocky Gerung.

Jelasnya, kalau Prabowo “tidak dimenangkan oleh Allah”, toh jutaan pendukungnya masih tetap hidup dan tetap bisa menjalankan aktivitas beribadah menyembah Allah. Di poin ini saja kekhawatiran Neno tentang “tak ada lagi yang menyembah-Mu” sudah tidak relevan. Saking tidak relevan dan tidak masuk akalnya, justru malah muncul konsekuensi makna yaitu “andai Prabowo tidak dimenangkan Allah, meski kami masih hidup dan sehat-sehat saja, tak ada lagi yang menyembah-Mu.” Di situlah mulai muncul tudingan “Neno mengancam Allah”.

Saya sendiri percaya Bunda Neno tidak sedang mengancam Allah. Ngawur, itu. Namun tudingan itu pun tidak berangkat dari ruang hampa, masuk akal meski cuma secara logika tekstual, dengan peta nalar sebagaimana saya tulis barusan. Iya, to? Iya enggak? Iya dong.

Atau, andai Neno berimajinasi tingkat tinggi bahwa kekalahan Prabowo bermakna lenyap atau moksanya segenap barisan pendukungnya, mulai level Fadli Zon hingga Jonru, toh pihak lawannya yakni pendukung Jokowi mayoritas muslim juga. Mereka tidak akan moksa. Sebagai muslim yang tidak moksa, mereka tetap akan bisa menjalankan tugas “menyembah-Mu”. Begitu, bukan?

Sampai di situ problemnya sebatas tulalit, enggak nyambung, enggak relevan. Akan tetapi, masalah akan jadi sangat besar jika Neno menempatkan pihak lawannya sebagai orang-orang yang tidak menyembah Allah! Apa artinya?

Artinya, Neno sedang melakukan tindakan takfiri alias sikap mengkafirkan jutaan muslim yang mendukung Jokowi. Dahsyat sekali. Sebab, ketidaksinkronan antara doa dan konteks sosial menempatkan kubu lawan Prabowo sebagai orang-orang yang andai mereka menang, mereka tidak termasuk kaum yang “menyembah-Mu”! Inilah yang paling berbahaya.

Kenapa saya bilang berbahaya? Sebab jika tersebar hingga ke kalangan awam terbawah yang akalnya belum sesehat Rocky Gerung, “logika” demikian bisa dipercaya begitu saja. Dilengkapi dengan efek dramatis tangisan Bunda Neno, bukan mustahil ia akan menjadi racun pikiran yang mengerikan, menimbulkan imajinasi negatif berlebihan atas kelompok sosial yang diposisikan sebagai lawan. Produknya adalah: takfiri-kolektif dan dehumanisasi. Inilah pengeroposan yang nyata dalam sendi-sendi sosial kita.

Andai saya jadi Pak Prabowo, saya akan meminta Bu Neno tinggal saja di rumah. Masih banyak aktivitas mulia lain yang bisa dijalankan, misalnya jualan donat atau susu kedelai. Biarkan yang maju berkampanye orang-orang top macam Ustaz Haikal Hassan, idola saya yang lucu itu. Atau minimal sebangsa Novel Bamukmin yang gagah perkasa dan mengharamkan pencoblosan namanya sebagai caleg Partai Bulan Bintang itu.

Sayang, saya bukan Pak Prabowo. Dan sebenarnya saya juga tidak kepingin-kepingin amat jadi Pak Prabowo.

Esais, bertempat tinggal di Bantul.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…