Sabtu, Oktober 31, 2020

Puasa, Sepakbola, dan Perdamaian Dunia

Cadar dan Wajah Islam

Meskipun tidak selalu, pada hari tertentu saya mengajak keluarga untuk bersama-sama menunaikan ibadah salat di masjid. Seperti pada Jumat pekan lalu. Selain untuk menumbuhkan...

Menakar Kompleksitas Pemerintahan Baru Israel

Politik domestik Israel mengalami komplikasi hebat pasca pemilu dipercepat beberapa hari lalu. Hasil pemilu menunjukkan tak ada blok yang bisa membentuk pemerintahan sendiri. Pemerintahan...

Agar Laut Kita Kembali Sehat

Hari Laut Dunia 8 Juni 2016 mengusung tema “Healthy Oceans, Healthy Planet”. Indonesia penyumbang sampah (plastik) laut kedua terbanyak di dunia setelah Tiongkok. Dua puluh...

Manuver Ombudsman di Ujung Periode Jabatan

Kita membaca begitu ramai pembahasan publik terkait rangkap jabatan di dalam lingkungan BUMN. Banyak pendapat yang mengecam tindakan rangkap jabatan di dalam lingkungan BUMN....
Ribut Lupiyanto
Deputi Direktur C-PubliCA (Center for Public Capacity Acceleration); Penggemar Sepakbola

ozil
Mesut Ozil

Seluruh umat Islam sedunia kini sedang melaksanakan ibadah puasa selama sebulan. Ramadan menjadi bulan paling istimewa bagi Muslim karena janji limpahan pahala dari-Nya.

Pelaksanaan ibadah  puasa tahun ini sedikit berbeda dari tahun sebelumnya. Hal ini lantaran bersamaan dengan penyelenggaraan even sepakbola Piala Amerika dan Piala Eropa. Piala Amerika berlangsung 3-26 Juni 2016 di Amerika Serikat dan diikuti oleh 16 negara.  Sedangkan Piala Eropa berlangsung di Prancis pada 10 Juni-10 Juli 2016.

Umat Islam yang juga penggemar sepakbola tentu mendapatkan ujian terkait even tersebut. Kekhawatiran yang muncul adalah aktivitas menonton Piala Amerika dan Piala Eropa akan menggoda dan menurunkan kualitas ibadah puasa. Fenomena ini penting disikapi proporsional dan bijak. Tapi tak sedikit juga umat Islam, khususnya  di Indonesia, yang senang karena siaran langsung kedua even tersebut ditayangkan di malam hari dan dini hari menjelang sahur.

Piala Amerika dan Piala Eropa memiliki hikmah yang layak direnungkan oleh siapa pun, termasuk umat Islam. Salah satu hikmah tersebut adalah dalam konteks perdamaian dunia. Sepakbola menghilangkan sekat ideologis, konflik negara, dan perpolitikan.

Semua agama tentu mengajarkan perdamaian. Hadirnya konflik, penindasan, penjajahan, dan sejenisnya lebih disebabkan oleh ketamakan manusia terkait duniawi. Begitu pula Islam yang mengklaim sebagai agama damai pembawa rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil ‘alamin).

Banyak ayat Al-Qur’an maupun hadits Nabi SAW yang memberikan petunjuk akan pentingnya perdamaian. Beberapa hal dapat dipahami sebagai prinsip perdamaian dalam Islam (Rachman, 2007). Pertama, Islam mengajarkan persamaan sederajat (Al-Hujurât [49]: 13). Semua sama di mata Tuhan yang membedakan hanyalah kadar ketakwaannya.

Kedua, larangan berbuat zalim (Al-Furqân [25]: 19). Allah mengancam azab atau siksa berat di akhirat bagi pelaku kezaliman. Ketiga, Islam menjalankan teologi kebebasan. Tidak ada paksanaan dalam beragama (QS Al-Baqarah [2]: 256).

Kelima, Islam menjunjung tinggi keadilan (Al-Mâidah [5]: 8). Bahkan Islam mengajarkan adil bagi musuh sekalipun. Keenam, menyerukan kerukunan dan tolong menolog (Al-Mâidah [5]: 2). Tolong menolong tentu dalam konteks kebaikan.

Ketujuh, Islam sangat menganjurkan toleransi (QS Fushshilat [41]: 34-35). Toleransi di sini adalah selain masalah keyakinan. Kedelapan, Islam mengarahkan umatnya untuk meningkatkan solidaritas sosial (QS Al-Ma’ârij [70]: 24-25). Solidaritas duniawi dapat dilakukan kepada siapa saja tanpa memandang SARA.

Islam sering disudutkan karena beberapa oknum umatnya melakukan aksi terorisme. Yang terbaru terjadi di Bandara Istambul, Turki. Beberapa wilayah dominan muslim juga masih terjebak konflik. Hal ini semestinya tidak bisa digeneralisasi, karena ajaran Islam sebenarnya cinta damai.

Islam memang memerintahkan untuk mempersiapkan kekuatan guna menghadapi musuh dan ada konsep jihad fisik. Persiapan sebenarnya untuk menakut-nakuti musuh yang bermaksud akan melahirkan kekacauan dan disintegrasi (QS Al-Anfal [8]: 60). Peperangan hanya diizinkan untuk menyingkirkan penganiayaan dan penindasan.

Batas-batas dan adab berperang pun diatur rinci. Anak-anak, orang tua, kaum lemah, bahkan pepohonan harus dilindungi. Jika musuh menyerah atau tidak berdaya, Quran melarang  membunuh melainkan diajarkan agar segera berdamai (QS Al-Anfal [8]: 61). 

Sepakbola juga menyuguhkan pelajaran perdamaian yang nyata. Keterlibatan pemain, pelatih, manajer, official, penonton, dan lainnya tidak memandang SARA. Semua melebur dengan hanya menonjolkan profesionalisme dan kesamaan dukungan.

Sepakbola menembus batas-batas geografis. Kompetisi dan pertandingan di lapangan hijau berbuah keakraban dan persatuan setelahnya. Para pemain kadang mengenakan pita hitam sebagai bentuk kepedulian atas kemanusiaan.

Para pemain profesional bahkan tidak sedikit yang menyisihkan gajinya untuk program kemanusiaan. Misalnya Christiano Ronaldo yang konsen membantu Palestina. Laga amal juga kerap dilakukan guna mengumpulkan donasi bagi yang membutuhkan.

Ulah-ulah oknum saja yangmenodai sepakbola. Misalnya bentrok fisik di lapangan hingga tawuran antar pendukung. Oknum pemain juga kadang melakukan selebrasi rasis. Semua ini sudah ditangani tegas oleh peraturan persepakbolaan yang independen.

Puasa kali ini tentu menjadi momentum yang tepat memahami kembali konsep perdamaian dalam Islam. Tentu yang lebih penting adalah bersegera mewujudkannya dalam kehidupan nyata.

Aktivitas menikmati sepakbola juga dapat dioptimalkan tidak sekadar sebagai hiburan. Hikmah sepakbola di atas dapat dijadikan bahan perenungan. Islam mengajarkan bahwa hikmah dapat dipetik dari mana saja. Niat menonton sepakbola dapat diluruskan dan diimbuhi dengan upaya perenungan. Selain itu, menghindari acara pendukung yang dilarang agama, seperi menonton ditemani minuman keras.

Manajemen waktu penting dilakukan kali ini. Piala Amerika dan Piala Eropa yang menggoda bagaimana dapat dinikmati tanpa mengabaikan atau mengganggu ibadah di bulan suci ini. Pemangku kepentingan sepakbola Indonesia tentu juga mesti belajar dari Piala Amerika dan Piala Eropa. Prestasi dan manajemen yang baik menjadi kunci kemajuan sepakbola. Iklim spiritual dapat ditambahkan dan menjadi pembeda dari negara-negara lainnya

Ribut Lupiyanto
Deputi Direktur C-PubliCA (Center for Public Capacity Acceleration); Penggemar Sepakbola
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.