Minggu, Januari 17, 2021

Puasa Kampung dan Puasa Kota

Konvensi PSI dan Disrupsi Politik

Hari ini dan besok, saya diundang menjadi panelis independen, non-partai, untuk konvensi proses nominasi calon walikota yang akan dicalonkan oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI),...

Tentang Para Juara dan Beberapa Catatan Atasnya

Segala puji bagi Manchester City atas musim terbaik di sepanjang sejarah mereka. Ini treble pertama City, demikian media akan menghitung. Bukan. “Empat gelar!” tegas...

Senjakala ISIS di Libya

Menyusul pemberontakan berdarah pada tahun 2011 yang menggulingkan rezim Muammar Khadafi, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) telah memanfaatkan kekosongan politik dan keamanan di...

HAM, Iman, dan Kemanusiaan yang Belum Selesai

Ketika ribut soal Front Pembela Islam  (FPI) dan Dedi Mulyadi terjadi beberapa waktu lalu, saya melihat persoalan ini hampir serupa dengan kasus Lia Eden...
Hasanudin Abdurakhman
Penulis dan pekerja profesional.

Saya lahir dan tumbuh di kampung. Di kampung pula saya mulai berpuasa. Sebagian besar dari kita ini adalah orang-orang urban yang tumbuh di kampung, kemudian pindah ke kota. Atau setidaknya dibesarkan oleh para orang tua yang berasal dari kampung. Nilai-nilai yang kita anut beranjak dari nilai-nilai yang dibentuk di kampung. Banyak dari nilai itu yang tidak diubah, atau ditransformasi, disesuaikan dengan keadaan baru di kota. Banyak orang kota yang hendak mempertahankan cara hidup di kampung, padahal ia sudah pindah ke kota. Termasuk dalam cara kita berinteraksi selama berpuasa.

Di kampung saya dulu, hampir 100 persen penduduknya muslim. Hanya beberapa keluarga orang Tionghoa yang berdagang di kampung kami yang bukan muslim. Tidak hanya itu, sebagian besar penduduk kampung adalah kerabat belaka. Kerabat dalam arti punya hubungan darah. Yang bukan kerabat karena hubungan darah pun menjadi sangat akrab, sebagaimana kerabat yang punya hubungan darah. Dalam kekerabatan itu biasa terjadi seseorang menegur kelakukan orang lain yang dianggap tidak patut.

Seingat saya, meski hampir semua orang di kampung kami itu muslim, tidak semua berpuasa. Banyak yang tidak berpuasa dengan alasan tidak kuat, karena harus bekerja di kebun atau di ladang. Ayah saya cukup sering menasehati kerabatnya yang tidak puasa, baik secara langsung maupun dalam bentuk omelan untuk jadi peringatan terhadap kami, anak-anaknya.

Ayah saya akan menegur dengan keras kalau ada orang yang tidak berpuasa, dan terang-terangan menunjukkannya kepada orang lain. Kata Ayah,”Kalau kau tidak malu pada Tuhan, setidaknya malulah pada manusia”. Kalau ada orang makan atau merokok secara terbuka, Ayah mengomelinya dengan keras.

Waktu ayah saya pindah ke kota mengikuti anak-anaknya, ia sempat kaget melihat perilaku orang-orang. Orang-orang di sekitarnya banyak yang tidak puasa, dan terang-terangan makan dan merokok. Mau menegur, ia segera sadar bahwa orang-orang itu bukan kerabatnya seperti di kampung.

Seragam versus beragam, itu salah satu perbedaan mendasar antara desa dan kota. Di kampung kita cenderung seragam, sedang di kota kita sangat beragam. Di kampung semua orang adalah kerabat, di kota banyak orang yang bahkan tak kenal tetangganya. Tapi banyak orang yang lupa perbedaan-perbedaan mendasar itu, dan memaksakan cara-cara hidup yang
sama, meski ia sudah di lingkungan yang berbeda.

Itulah yang membuat orang-orang menuntut adanya penghormatan kepada yang berpuasa. Wujudnya, jangan makan di depan umum. Warung-warung mesti diberi tirai, agar yang sedang makan tak terlihat dari luar. Kalau perlu disuruh tutup, berhenti berjualan sekalian. Padahal, dengan keragamannya, penduduk kota tidak 100% muslim yang wajib berpuasa. Ada cukup banyak orang-orang yang bukan muslim, yang tetap membutuhkan makan siang.

Banyak orang mempertanyakan, perlukah larangan berjualan itu diterapkan? Apa iya orang berpuasa akan tergoda melihat orang lain makan? Sebenarnya tidak. Rasanya tidak masuk akal kalau orang jadi tergoda untuk berbuka karena melihat orang makan. Yang lebih dominan sebenarnya keinginan untuk mengontrol orang lain.

Keinginan itu menjadi terasa konyol kalau kita saksikan ketimpangan-ketimpangannya. Warung-warung makan disuruh tutup. Tapi warung-warung mini market yang juga menjual makanan dan minuman boleh terus buka. Sementara itu TV terus menayangkan iklan-iklan produk makanan yang ditampilkan secara menggiurkan. Jadi, di bagian mana, terhadap siapa tuntutan untuk menghormati orang berpuasa itu harus diarahkan?

Ringkasnya, ingatlah, kita sudah pindah ke kota. Kebiasaan dan tata cara hidup harus berubah, mengikuti lingkungan baru. Perubahan itu tidak perlu kita lawan, cukup kita menyesuaikan diri saja. Puasa adalah urusan kita sendiri, tidak perlu melibatkan orang lain dalam urusan puasa kita. Sesederhana itu soalnya.

Hasanudin Abdurakhman
Penulis dan pekerja profesional.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.