OUR NETWORK

PSI dan Platform Digital

Di era digital ini, parpol tidak bisa lagi menjalankan organisasi model lama.

Apa untungnya jadi anggota partai?

Jika pertanyaan itu ditanyakan kepada para aktivis parpol saat ini, pasti mereka juga bingung menjawabnya. Padahal dalam masa kampanye ini, mereka menawar-nawarkan kita untuk masuk jadi anggota. Oke, lalu apa setelah jadi anggota?

Iya, dengan memegang kartu anggota parpol kita bisa jadi calon legislatif. Kalau terpilih bisa duduk di kursi empuk, ikut dalam proses pengambilan kebijakan. Bukan hanya itu, dengan jadi anggota parpol kita punya cantolan politik untuk menapaki karier di birokrasi. Atau yang sejenisnya.

Tapi berapa sih yang akan berkarier jadi legislator atau butuh support jaringan politik dalam kariernya? Kayaknya enggak banyak.

Pileg nanti hanya memilih 560 anggota DPR, 2.100-an anggota DPRD I, dan 7.600-an anggota DPRD II. Total yang memperebutkan kursi itu mungkin cuma 80 ribu orang dari semua partai.

Padahal untuk lolos electoral threshold sebuah partai harus mengantongi 4 persen suara sah. Kira-kira sekitar 6 juta suara.

Bagi partai lama, lumayan. Mereka setidaknya sudah punya pemilih loyal. Tapi bagaimana dengan partai baru seperti PSI dan sejenisnya? Meraup 6 juta suara untuk kursi DPR-RI bukan perkara gampang. Jika ada 560 caleg PSI, artinya masing-masing orang minimal kudu mendapat setidaknya 15 ribu suara. Harga satu kursi DPR-RI setara dengan 50 ribu suara.

Jika mengandalkan swing voters, setiap lima tahun partai-partai akan bekerja sangat keras. Soalnya akan terjadi perebutan suara yang luar biasa. Kenapa orang jadi swing voter? Karena bagi sebagian besar orang, jadi anggoa parpol itu enggak menguntungkan. Enggak ada manfaatnya.

Sementara di alam demokrasi bebas seperti ini parpol semestinya berkepentingan menjaring anggota agar suaranya terjaga.

Banyak sudah parpol atau caleg menawarkan keuntungan kalau mau menjadi anggotanya. Misalnya dengan menjadikan kartu anggota sebagai kartu asuransi. Tapi, sekarang sudah ada BPJS. Buat apa lagi tawaran itu?

Maka parpol ditantang untuk menjawab pertanyaan mendasar masyarakat, apa untungnya jadi anggota parpol?

Di zaman serbapragmatis ini, jika pertanyaan dasar itu enggak bisa dijawab dengan cespleng, rasa-rasanya parpol akan harus terus peras keringat saban lima tahun. Mereka jadi pengasong mimpi untuk mendapatkan suara. Jika berhasil, syukur. Jika gagal, coba lagi lima tahun ke depan.

Tapi selama pertanyaan tersebut tidak terjawab, polanya akan seperti itu terus. Parpol selalu akan lelah dengan pemilih musiman yang gampang berubah-ubah.

Jika ada parpol memiliki basis anggota solid, rasanya setiap lima tahun mereka enggak akan sepusing sekarang untuk mempertahankan anggotanya.

Sebetulnya, di zaman internet begini, parpol bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan menjaga interaksi antara semua anggotanya; komunikasi yang tidak sebatas lima tahun sekali, tetapi terjaga terus-menerus.

Salah satu caranya dengan membuat aplikasi yang bisa diunduh dan terinstal di telepon genggam semua anggota. Dari sana mungkin saja banyak kerja sama menguntungkan yang bisa dijalankan. Membuka ruang bisnis antaranggota, kerjasama dengan fintech untuk menyalurkan modal, berbagai gimik, informasi pendampingan, dan lain sebagainya.

Sehingga setiap orang yang menngunduh aplikasi itu bisa berinteraksi langsung dengan yang lain maupun pengurus parpol. Tinggal dipikirkan bagaimana mereka mendapat manfaat ketika menggunakan aplikasi tersebut.

Aplikasi ini berguna juga untuk menjaga loyalitas anggota kepada parpol. Ujung-ujungnya para pengunduh tersebut akan memberikan suaranya.

Saya membayangkan, sebuah aplikasi milik parpol yang berisi semua informasi mengenai siapa saja legislator dari parpol tersebut yang duduk di kursi legislatif. Mereka bisa diakses oleh seluruh masyarakat dari daerahnya. Sehingga fungsi pelayanannya maksimal. Mereka juga melaporkan aktivitasnya via aplikasi itu, termasuk laporan keuangan.

Selain itu, aplikasi tersebut berisi berbagai informasi yang bermanfaat, baik soal program pemerintah, soal bisnis, beasiswa dan lainnya. Jika memungkinkan, bisa disertakan gimik-gimik atau games.

Di era digital ini, parpol tidak bisa lagi menjalankan organisasi model lama. Sekarang orang beli nasi uduk saja bisa online, masa partai politik enggak bisa memanfaatkan perkembangan ini dengan baik?

Model perekrutan gaya lama enggak akan laku lagi. Diperlukan pendekatan-pendekatan lebih kreatif dan interaktif untuk menjaga kedekatan emosi masyarakat dengan parpol. Nah, aplikasi itu bisa dijadikan salah satu jembatannya.

Bagi parpol sendiri, ukurannya gampang. Caleg mana saja yang bekerja serius dapat dilihat dari seberapa banyak warga di dapilnya yang mengunduh aplikasi ini. Dari sana mereka bisa berinteraksi dengan lebih leluasa dengan pemilihnya.

Itu baru satu contoh. Saya rasa ada banyak peluang di dunia digital ini untuk dimanfaatkan parpol dalam menjaring konstituennya.

Ini era digital. Sudah saatnya ada parpol digital. Apalagi parpol seperti PSI yang mengklaim partainya anak milenial. Rasa-rasanya aneh jika pendekatan yang dilakukan melulu bergaya tradisional. Jika kita telusuri, semakin banyak pemilih yang merupakan digital native. Mereka adalah penduduk asli dunia digital. Mereka mengandalkan keperluan hidupnya dengan smartphone di tangan. Bukan hanya di kota-kota besar, justru perkembangan ini semakin marak di daerah-daerah rural. Masyarakat kita mulai asyik memanfaatkan teknologi untuk berbagai kebutuhan.

Dengan mengklaim sebagai partai anak muda, langkah memanfaatan seluruh perangkat digital seharusnya dipelopori oleh PSI. Sebab kunci dalam persaingan hanya dua: jika tidak mampu menjadi terbaik, jadilah yang pertama. Jika PSI membuat platform aplikasi digital, tentu saja konstituennya bisa cepat merespons, karena diasumsikan konstituen yang digarap PSI sudah akrab dengan dunia internet. Dari usia mereka lahir dalam alam teknologi informasi.

Perbedaan antara PSI dengan partai sekelas PDIP atau Golkar, barangkali justru konstituen loyal mereka masih banyak yang gagap dengan dunia digital. Nah, keunggulan inilah yang harus dipikirkan PSI dalam menembus persaingan parpol yang sangat ketat.

Di era ini, jangan lagi berharap persepsi publik hanya mengandalkan dibentuk oleh media mainstream. Ada media sosial yang terdiri dan individu-individu, juga organisasi, yang ikut menentukan nilai sebuah informasi. Selain itu ada juga model aplikasi yang useful, bukan hanya informatif. Inilah yang diharapkan anak-anak muda. Ada manfaat yang didapat langsung dengan menjadi simpatisan atau anggota parpol ini. Karena dengan mengunduh PSI Apps, misalnya, ada banyak manfaat bisa dipetik.

Saya yakin pemanfaatan platform digital, jika dikelola dengan baik, akan sangat membantu mendekatkan parpol dan konstituennya. Ini juga akan menjadi penentu masa depan partai politik.

Pegiat Media Sosial

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…