OUR NETWORK

Profesor Bahtiar adalah Api dalam Sekam

Bahtiar tidak pernah menyerang kawan maupun lawan di depan umum, meski kritik-kritiknya tidak kalah tajam. Dia memang api dalam sekam.

Saya mengenal dua tokoh Muhammadiyah dengan baik, bahkan boleh dikatakan cukup dekat. Pertama, Andi Mapetahang Fatwa atau yang lebih populer dengan nama AM Fatwa, dan yang kedua adalah Prof. Dr. Bahtiar Effendi (Prof Bahtiar atau Prof BE). Yang pertama wafat pada 14 Desember 2017, yang kedua kemarin (Kamis, 21/11/2019) meninggalkan kita untuk selama-lamanya.

Pada saat Prof BE menjadi Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pimpinan Pusat Muhammadiyah (2000-2005), AM Fatwa adalah salah satu Wakilnya, di samping Jeffrie Geovanie. Sedangkan saya ikut membantu beliau sebagai wakil sekretaris. Sampai akhir hayat, beliau menjadi Ketua PP Muhammadiyah yang bertugas menginternasionalisasi persyarikatan yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini.

Saya tidak bermaksud membandingkan antara AM Fatwa dan Prof BE, karena pasti tidak akan pernah sepadan. Antara keduanya sangat jauh berbeda, yang satu aktivis politik yang sangat berani hingga masuk penjara dan menjadi pejabat negara, yang kedua intelektual tercerahkan yang sejak masih sangat belia sudah menempuh pendidikan di Amerika melalui program AFS, begitupun program master dan doktoralnya ditempuh di Amerika, lalu menjadi dosen di beberapa universitas dan analis politik hingga akhir hayatnya.

Meski sangat jauh berbeda, menurut saya, keduanya merupakan pejuang Islam yang gigih, tentu dalam ranah yang berbeda. Yang pertama saya menyebutnya dengan “api di luar sekam”, sedangkan yang kedua mungkin lebih tepat disebut “api dalam sekam”. Dalam menyikapi perbedaan, yang pertama straightforward, terus terang dan lebih banyak menyerang lawan di depan umum, sedangkan yang kedua tidak pernah menyerang kawan maupun lawan di depan umum, meski kritik-kritiknya tidak kalah tajam.

Prof Bahtiar memperjuangkan peran (politik) Islam melalui ceramah dan tulisan. Ia tak sekadar galau, bahkan sangat geregetan melihat kondisi partai-partai Islam yang ada di Indonesia, karena mereka mewakili mayoritas, tapi peran politiknya minoritas. Baginya, sebagai ajaran yang mengatur banyak hal, Islam seharusnya bisa menjadi pijakan yang kuat untuk memperjuangkan semua nilai kemajuan, termasuk dalam dunia politik.

Ia begitu geram melihat banyak aktivis partai Islam yang masuk penjara lantaran korupsi. Nilai-nilai luhur Islam yang seharusnya dijunjung tinggi dengan cara diimplementasikan dalam mengelola negara malah dibuang dalam bak sampah. Tapi, ya begitulah, kegeraman guru besar Ilmu Politik UIN Jakarta ini hanya terungkap dalam obrolan, atau dalam ceramah yang tidak dekspose media, termasuk di bangku kuliah.

Yang menjadi sasaran kritik keras Prof BE bukan hanya para politikus, tapi juga sahabat-sahabatnya sendiri, para guru besar yang di antaranya termasuk seniornya di UIN Jakarta. Para guru besar itu tidak kalah populer dengan para politikus, tapi perananya tidak sebesar namanya. Suatu ketika ia pernah bilang ke saya: “Si anu itu seharusnya bisa memimpin partai besar, bukan ngurus hal-hal kecil yang bisa kamu urus, Him. Partai Amanat Nasional (PAN) itu bisa besar, kalau diurus dengan benar.” Saya hanya bisa manggut-manggut mendengarnya.

Kebetulan, tesis saya di pascasarjana UI Jakarta membahas tentang PAN. Beliau jadi pembimbing sekaligus penguji, di samping Isbodroini Suyanto dan almarhum Ahmad Suhelmi. Prof BE termasuk orang yang sangat prihatin dengan kondisi PAN yang menurutnya jauh dari ekspektasi para pendirinya akibat salah urus. PAN juga dinilai telah keluar jauh dari platform politik adiluhung seperti pada saat pendiriannya.

Prof BE adalah api dalam sekam. Ide-idenya membara, namun belum teraktualisasi di alam nyata. Di Muhammadiyah, misalnya, ia mengusulkan agar ada amal usaha bidang politik yang bisa mewadahi minat dan bakat para aktivis Muhammadiyah yang menurutnya tidak kalah berkualitas jika dibandingkan dengan para politisi yang memimpin partai saat ini.

Ia begitu kesal melihat banyak aktivis Muhammadiyah yang tidak berperan maksimal di partainya masing-masing, termasuk di PAN, partai yang lahir dari rahim Muhammadiyah. Ia juga kesal melihat beberapa pemimpin Muhammadiyah yang hanya bisa prihatin tapi tidak mengambil inisiatif dalam memperjuangkan kader-kadernya agar lebih diperhitungkan di arena politik.

Prof BE adalah api dalam sekam. Ia pengkritik keras Presiden Joko Widodo, mungkin lebih keras dari Fahri Hamzah atau Fadli Zon, karena yang ia sampaikan lebih substantif dan mendasar, tak asal bunyi, apalagi asal beda. Menurutnya, Jokowi tak punya visi, program-programnya hanya mengacu kepentingan sesaat. Saya tidak setuju dengan pendapatnya. Tapi, saya tidak berani membantah. Takut kualat. Karena dia guru yang sangat saya hormati.

Apalagi dia juga menghormati pilihan politik saya. Dia tahu betul saya pendukung Jokowi, dan dia juga tahu saya mendukung Ahok dalam Pilkada DKI, tapi dia tidak pernah menghakimi atau menuduh saya berada di pihak yang salah. Perbedaan persepsi dan aspirasi politik adalah hal yang biasa buat kami.

Prof BE adalah ilmuan politik yang sangat mumpuni. Ia memiliki kekuatan logika yang solid, dengan penguasaan filsafat politik yang mendalam. Dari bimbingannya di kampus, baik di UI maupun UIN, telah lahir banyak sarjana dari berbagai strata.

Buku-bukunya tentang politik Islam menjadi rujukan baik di dalam maupun di luar negeri. Semua sarjana yang meneliti tentang politik Islam pasca reformasi di Indonesia, dipastikan akan merujuk buku Prof BE, terutama buku Islam dan Negara, Transformasi Gagasan dan Praktik Politik Islam di Indonesia, yang berasal dari disertasi doktoralnya di Ohio State University, AS. Ia bahkan disebut-sebut sebagai sarjana paling berpengaruh di balik menguatnya “Mafia Ohio” dalam kancah politik Indonesia.

Ketika mendengar kabar kepergiannya, banyak murid-murid Profesor Bahtiar yang kaget, tidak percaya. Kabar tentang beliau sakit memang sudah lama terdengar, tapi karena dianggap ringan, hanya pembengkakan kelenjar getah bening, jadi dianggap biasa saja. Apalagi, dalam sakitnya, Prof BE tetap berkiprah seperti biasa, hanya sering minta maaf jika diminta mengisi diskusi atau seminar karena sering suaranya hilang. Pita suaranya terganggu setelah menjalani operasi berulang untuk mengatasi penyakitnya.

Meski Prof. BE sudah tiada, pikiran dan gagasannya akan tetap hidup, baik tertuang dalam buku-bukunya maupun melalui proses diseminasi melalui murid-muridnya.

Bacaan terkait

Mengenang Sahabat Karib Saya, Bahtiar Effendy

Islam dalam Teks dan Konteks: Obituari Bahtiar Effendy*

AM Fatwa adalah Api di Luar Sekam

Kala Si Gaek Amien Rais Turun Gunung

Delusi Merusak dan Merasuki Muhammadiyah

Abd. Rohim Ghazali
Sekretaris Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…