Sabtu, Desember 5, 2020

Prahara Ahok di Mata Masyarakat Demokratis dan Kaum Beriman

Jum’atan Politik!

Apakah aksi dzikir dan salat Jum'at di Monumen Nasional besok merupakan refleksi semakin menguatnya penggunaan simbol-simbol agama dalam menyalurkan aspirasi politik? Tak ada yang...

Dekonstruksi Syahrur, Pemikir Paling Dibenci Ulama Konservatif (2)

Pada bagian akhir tulisan ini penulis ingin memberikan kritik terhadap gagasan Syahrur tersebut. Selama ini kritik yang dilancarkan kepada Syahrur menurut penulis tidak seimbang,...

Ekonomi Politik Bisnis Rokok

Galibnya, setiap 31 Mei dikenal gerakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Gerakan ini diinisiasi Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) sejak 1987. Secara imperatif, menyerukan agar para...

Siapa yang Sah Mewakili Teknokrat? [Catatan untuk Goenawan Mohamad]

Pada 25 September 1971, ketika majalah Tempo baru terbit pada tahun pertama, dan usia rezim Soeharto masih seumur jagung, jurnalis dan sastrawan muda Goenawan...
Avatar
Yogi Febriandi
Kepala Suku Komunitas Bengkel Peradaban, Aceh - Kota Langsa

Belakangan ini keadaan Indonesia kian memanas. Demo-demo yang dilakukan di beberapa daerah mengisyaratkan adanya gerakan beberapa golongan Islam atas dasar klaim keimanan. Di sisi lain, beberapa masyarakat yang masih dan sangat yakin dengan cita-cita demokrasi juga melakukan gerakan yang masif melalui tulisan-tulisan di media, baik online maupun cetak. Pembahasan pertikaian masih seputar perkara “bacot Ahok di Kepulauan Seribu”.

Meskipun kedua kelompok ini (masyarakat demokratis dan kaum beriman) tidak saling bentrok dalam ruang-ruang publik, keadaan berbeda dengan ruang maya. Di media-media sosial, banyak komentar yang bernafas kebencian keluar dari kedua kelompok tersebut.

Jujur saya merasa amat prihatin dengan suasana di media sosial saat ini terkait tanggapan masyarakat medsos terhadap kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Beberapa mengklaim diri sebagai yang paling intelek, demokrasi, dan dewasa dalam bersikap. Namun beberapa tanggapannya secara nyata juga memberikan aroma kebencian kepada kaum beriman.

Di sisi lain, orang-orang yang mengkalim sebagai kaum beriman, menggunakan ayat-ayat dan tafsir agama untuk membenci seseorang, bahkan memakai tafsir tersebut untuk menghakimi siapakah yang pantas masuk surga kelak.

Presiden Joko Widodo (atas kanan) didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla (atas kiri) menyampaikan pernyataan terkait rencana aksi unjuk rasa 4 November di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (3/11). Presiden dan Wapres menyerukan kepada warga Jakarta untuk beraktivitas normal dan tidak khawatir terkait rencana unjuk rasa 4 November. ANTARA FOTO/Setpres-Rusman/ama/16
Presiden Joko Widodo (atas kanan) didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla (atas kiri) menyampaikan pernyataan terkait rencana aksi unjuk rasa 4 November di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (3/11). [ANTARA/ Setpres-Rusman]
Masyarakat demokratis mulai memposisikan diri sebagai yang paling berhak menentukan tafsir atas bernegara, dan di sisi lain kaum beriman mulai memposisikan diri yang paling berhak menafsirkan tafsir agama. Saya tidak melihat perbedaan keduanya!

Lantas, bagaimana cara menyikapi tindakan kaum beriman? Saya melihat beberapa tanggapan dari masyarakat demokratis mengenai tindakan kaum beriman mulai terlihat “tidak proposional”. Hal ini karena masyarakat demokratis memaksakan cara pandang mereka kepada kaum beriman. Terlihat masyarakat demokratis juga telah mulai menjadi hakim kecil dalam menyikapi prahara Ahok.

Tipologi masyarakat demokratis dan kaum beriman dalam tulisan ini masih mengikuti tulisan saya sebelumnya (Prahara Ahok: Mimpi Masyarakat Demokratis dan Fakta Keimanan). Masyarakat demokratis merupakan representasi dari masyarakat yang menyikapi prahara Ahok dengan nalar demokrasi. Sedangkan kaum beriman adalah representasi dari masyarakat yang menyikapi prahara Ahok dari sudut pandang keimanan.

Rasionalitas Kaum Beriman

Patut diingat bahwa apa yang dikatakan Ahok mengenai al-Maidah ayat 51 telah benar-benar menyinggung perasaan sebagian umat Islam, meskipun ada silang pendapat mengenai substansi dari tafsir tersebut. Namun, perlu dilihat di lapangan bahwa beberapa golongan yang meyakini sikap Ahok telah mengusik keimanan mereka telah berhasil membangun kekuatan dan gerakan massa. Fakta ini tidak bisa ditolak!

Bagi kaum beriman, firman Tuhan adalah yang paling utama. Tak ada yang lebih sakral dari firman Tuhan. Tingkat rasionalitas tertinggi dalam alam pikiran kaum beriman adalah firman Tuhan. Firman Tuhan bukan hanya sebagai cara pandang, cara hidup, dan nilai etika. Firman Tuhan dianggap sebagai alat penyelamat. Ritus yang paling sahih untuk mencapai surga.

Maka, firman Tuhan tersebut memiliki kuasa untuk “menyetel” segala tingkah tanduk dan pola pikir manusia. Karena begitu kuatnya kuasa dari firman Tuhan, maka saya akan memaklumi tindakan kaum beriman dalam merespons prahara Ahok saat ini. Jadi, meski ada isu politisasi dalam gerakan ini, tetap saja dorongan utama masyarakat yang ikut adalah rasa keimanan mereka.

Jumlah kaum beriman yang melakukan gerakan massa untuk menuntut Ahok diadili senyatanya juga terus bertambah. Di daerah-derah, demo anti-Ahok terus mendapatkan simpatisan yang rela turun ke jalan. Ini menandakan bahwa klaim keimanan memang masih menjadi cara pandang rasional dalam mengambil tindakan. Meyakini bahwa keimanan mereka telah diusik oleh Ahok melalui “penistaan” terhadap al-Maidah 51, berbagai dorongan untuk besatu terus disuarakan oleh kaum beriman.

Faktanya, nama-nama besar semisal M. Amien Rais, AA Gym, dan Ustad Arifin Ilham juga menjadi pelopor bagi kaum beriman dan memberi aura positif atas tindakan kaum beriman. Munculnya nama Amien Rais banyak disayangkan oleh kaum masyarakat demokratis. Mereka menganggap Amin Rais sudah kehilangan aura intelektualitasnya dalam menanggapi prahara Ahok. Apakah Amin Rais benar-benar sudah kehilangan intelektualitasannya lantaran bersikap seperti kaum beriman?

Rasa Intelektual Kaum Beriman

Rasa intelektual antara kaum beriman dan kaum masyarakat demokratis memiliki dasar berbeda. Bagi kaum beriman, intelektualita harus tercermin dari sikap keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan. Dalam pandangan kaum beriman, intelektual tidak hanya memiliki tanggung jawab sosial, tapi juga tanggung jawab teologis.

Pandangan ini menjadi pegangan dalam cara berpikir dan bertindak bagi kaum beriman. “Pengetahuan harus bisa mendekatkan diri dan juga membuat rasa rendah diri di hadapan Tuhan”. Itu merupakan kata-kata yang selalu diucapkan oleh Ustad saya sedari kecil.

Jadi, sangat wajar ketika ada anggapan penistaan terhadap Firman Tuhan oleh seseorang, reaksi yang ditimbulkan akan sangat berlebihan. Karena sebagai wujud tanggung jawab keintelektualan, kaum beriman harus membela Firman Tuhan yang dilecehkan. Tapi apa pun, saya menyayangkan aksi dari realisasi wujud tanggung jawab tersebut mengusik ketentraman bernegara dan kehidupan masyarakat luas.

Jadi, tindakan Amin Rais tidak serta merta dapat dikatakan telah menurunkan derajat intelektualitasnya. Begitu pula tindakan kaum beriman tidak serta merta mereka tidak memiliki rasa intelektualitas. Pendapat saya ini tidak serta merta mengucilkan rasa intelektual masyarakat demokratis. Saya hanya mencoba mengajak masyarakat demokratis agar dapat memahami apa yang dirasakan oleh kaum beriman.

Massa dan kendaraan memadati kawasan Masjid Istiqlal jelang pelaksanaan aksi 4 November di Jakarta, Jumat (4/11). Aksi yang diikuti ribuan pengunjuk rasa itu menuntut kepastian hukum terkait dugaan penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/aww/16.
Massa dan kendaraan memadati kawasan Masjid Istiqlal jelang pelaksanaan aksi 4 November di Jakarta, Jumat (4/11). [ANTARA/ Wahyu Putro A]
Demo 4 November

Memberikan tempat bagi kaum beriman untuk menyampaikan aspirasinya dalam demo 4 November merupakan sikap demokratis. Sikap ini tetap harus benar-benar dijaga konsistensinya. Masyarakat demokratis tidak perlu merasa terancam dengan adanya demo-demo yang dilakukan oleh kaum beriman. Masyarakat demokratis sebaiknya menyikapinya dengan memberi ruang kepada kaum beriman, tanpa perlu menghardik atau mencela pengikut ataupun pelopor demo tidak rasional ataupun bukan seorang intelektual.

Aspirasi dari kaum beriman dapat dijadikan sebagai cerminan mengenai sistem demokrasi yang kita anut saat ini. Hate speech dan aura-aura kebencian yang dilakukan oleh beberapa golongan dalam parade demo nanti akan lebih bijak disikapi sebagai konsekuensi  dari kebebasan berpendapat yang juga selama ini terus dikampanyekan oleh masyarakat demokrasi sendiri.

Dengan demikian, menyikapi demo 4 November dapat dijadikan cerminan mengenai seberapa demokratiskah masyakarat kita saat ini. Jadi, sangat tidak perlu kiranya untuk menghardik dan mengucilkan parade demo 4 November ini.

Baca:

Prahara Ahok: Mimpi Masyarakat Demokratis dan Fakta Keimanan

Avatar
Yogi Febriandi
Kepala Suku Komunitas Bengkel Peradaban, Aceh - Kota Langsa
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kerusakan Lingkungan Kita yang Mencemaskan

Menurut data dari BPS, pada tahun 2018 jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 146.858.759 unit, jumlah tersebut meliputi mobil pribadi, mobil barang, bis dan...

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.