Senin, Maret 1, 2021

Pragmatisme Partai Politik Tidak Selalu Negatif

Selamat Milad, Tuan Guru Beethoven

Kawan saya Idrus Shahab mengingatkan kita bahwa hari ini adalah tanggal kelahiran Ludwig van Beethoven (Bonn, 17 Desember 1770), lalu memori saya memencar ke...

Satu Tahun Kepemimpinan KPK Jilid Keempat

Waktu begitu cepat bergulir hingga kadang segala sesuatunya tidak terasa telah berlalu. Demikian halnya dengan masa tugas kepemimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) jilid keempat....

Tak Berjilbab=Auto Neraka! Ini yang Ditolak Ibu Sinta Nuriyah

Ibu Sinta Nuriyah baru-baru ini menyatakan jilbab tak wajib bagi wanita Muslim. Kata Bu Sinta, kalau Alqur’an dipahami secara kontekstual, bukan tekstual, kesimpulan yang...

Tentang Hatta dan Perempuan

Di antara para pendiri Republik, Mohammad Hatta adalah satu-satunya orang yang sangat kaku terhadap perempuan. Bahkan Haji Agus Salim yang santun sekalipun sangat pandai...

Menjelang perhelatan politik pemilu legislatif (Pileg) dan pemilu Presiden (Pilpres), pragmatisme menjadi fenomena yang sangat lekat dengan proses politik. Penentuan siapa yang diusung atau didukung menjadi pasangan capres-cawapres, pragmatisme menjadi pertimbangan utama—walau dalam kepentingan komunikasi politik kerap dibalut dengan idealisme. Pragmatisme yang dimaksud, yang paling utama menyangkut faktor keterpilihan (elektabilitas) capres-cawapres.

Pragmatisme politik semacam ini kerap menuai kritik karena elektabilitas sejatinya tidak identik dengan kualitas. Tapi perlu juga digarisbawahi bahwa antara elektabilitas dan kualitas bukan dua hal yang bertentangan. Sangat mungkin, yang elektabilitasnya tinggi juga memiliki kualitas yang bagus. Oleh karena itu, pragmatisme partai politik dalam menentukan pilihan capres-cawapres tidak selalu negatif.

Seperti elektabitas yang tidak selalu bertentangan dengan kualitas, pragmatisme juga tidak selalu bertolak belakang dengan idealisme. Dalam partai politik, antara pragmatisme dan idealisme bisa berjalan beriringan, meskipun kadang bersitegang. Diakui atau tidak, ada korelasi yang positif antara pragmatisme dengan fungsi partai politik sebagai agregator kepentingan rakyat.

Pragmatisme tak selalu menjadi lawan idealisme. Karena dalam politik, pragmatisme bisa menjadi modal dasar dalam membangun idealisme. Ibarat tubuh manusia, pragmatisme berfungsi sebagai panca indera yang bersentuhan langsung dengan realitas; sedangkan idealisme merupakan kombinasi akal sehat dan hati nurani. Akal sehat dan hati nurani hanya bisa berfungsi maksimal dengan bantuan panca indera yang setiap saat menyaksikan dan merasakan langsung realitas sosial.

Dalam politik, pragmatisme merupakan keniscayaan karena terkait erat dengan aspirasi dan kebutuhan-kebutuhan dasar masyarakat. Untuk bisa memperjuangkan dan bahkan merealisasikan aspirasi dan kebutuhan-kebutuhan itulah, kekuasaan politik diperlukan. Memang banyak tantangan, terutama godaan penyalahgunaan jabatan. Tapi justru karena adanya tantangan itulah, akal sehat dan hati nurani berfungsi sebagai pemandu agar kekuasaan tetap berjalan pada relnya; agar kekuasaan difungsikan sepenuhnya untuk kepentingan rakyat.

Mari kita lihat, aspirasi dan kepentingan apa yang dibutuhkan rakyat? Dalam sejumlah survei, publik lebih meminati pemimpin dan partai politik yang mampu menyelesaikan masalah-masalah yang secara riil mereka hadapi setiap saat seperti kemiskinan, pengangguran, banjir dan kemacetan di ibu kota, dan hal-hal praktis lainnya.

Pada saat kebutuhan-kebutuhan praktis ini dikontraskan dengan persoalan moralitas dan keyakinan agama, misalnya, publik lebih cenderung memilih kebutuhan-kebutuhan praktis. Jargon bahwa agama, atau syariat bisa menyelesaikan segala masalah masih terlalu absurd dan lebih terkesan sebagai alat politik ketimbang sebagai sikap hidup dari partai-partai yang mengampanyekannya.

Inilah saya kira tantangan terberat partai-partai yang mengusung tema-tema agama. Partai-partai agama, setidaknya untuk saat ini, tidak mampu memperoleh suara signifikan antara lain disebabkan karena gagal membangun korelasi yang positif antara jargon yang dikampanyekan dengan kebutuhan rakyat.

Kasus Pemilukada serentak tahap ketiga yang berlangsung Juni 2018 menunjukkan dengan jelas munculnya upaya-upaya menjadikan agama sebagai isu politik. Tapi, di beberapa daerah, seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan, menjadi bukti yang sulit dibantah bahwa masyarakat lebih memilih pemimpin yang dinilai mampu menyelesaikan masalah ketimbang yang membawa-bawa isu agama.

Mengapa kampanye dengan menggunakan terminologi agama kurang begitu diperhatikan oleh para pemilih, termasuk pemilih Muslim? Penyebabnya tentu bukan karena agamanya yang buruk, atau bukan karena Islamnya yang tidak laku. Tapi karena kemasan agama yang dibawa para tokoh dan partai-partai Islam sama sekali tidak bersentuhan langsung dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat. Padahal, kunci kemenangan partai politik antara lain berada pada sejauh mana fungsinya dalam menyelasaikan kebutuhan-kebutuhan itu.

Artinya, jika partai-partai Islam masih ingin eksis, strategi perjuangan mereka harus diubah. Bagaimana meyakinkan publik bahwa moralitas agama benar-benar menjadi kebutuhan dasar manusia bukan perkara gampang. Mungkin, cara yang bisa ditempuh adalah dengan menerjemahkan agama dengan realitas sosial politik yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Partai agama harus mengusung tema-tema yang pragmatis.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pernah membuktikan dengan jargon bersih dan peduli, perolehan suaranya naik secara signifikan—padahal semua orang tahu, PKS adalah partai Islam, tapi publik memilih PKS bukan karena pertimbangan agamanya, tapi lebih pada komitmennya untuk melahirkan politisi-politisi yang bersih dan peduli pada kepentingan masyarakat. Tapi apa yang terjadi setelah tokoh utama, Luthfi Hasan Ishaq, tersandung masalah korupsi? Popularitas dan elektabilitas PKS langsung anjlok.

Maka, sekali lagi, setiap partai politik yang menginginkan dukungan signifikan, pilihan pragmatislah yang seyogianya ditempuh. Pragmatis dalam pengertian yang positif, yakni responsif dan mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Masyarakat kita umumnya sudah cukup cerdas. Mereka mampu membedakan mana pragmatisme yang positif dan mana idealisme yang kadang hanya berisi buaian yang sulit dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.