OUR NETWORK

Yang Sunyi dari Gaduh Politik

Bangsa ini membutuhkan rekonsiliasi nasional. Disebabkan oleh politik, diakui atau tidak, kita berjalan ke arah jurang yang mencemaskan. Ranjau telah disebar dan hanya butuh entah kaki siapa untuk tak sengaja menginjaknya.

Apakah yang sunyi dari gaduh politik? Di pucuk-pucuk yang tidak tersentuh oleh kepentingan singgasana, masih ada yang manekung hanya memuji Tuhan. Di balik dinding-dinding kuil yang lembab, juga di belakang mihrab dan sudut-sudut lain di masjid. Pun di deretan panjang kursi di bawah menara genta gereja. Semerbak dupa dan wangi semesta meraup di pura, melanglang bersama doa menuju Sang Pencipta Segala. Di wihara, puja-puji juga dimantrakan: semoga hidup damai tanpa cerai. Di Klenteng, upacara selalu raya.

Di persujudan, kita masih bisa berharap hidup dalam kesunyian, dalam wirid yang hanya mengiba keridaan Allah, dalam zikir yang menghidupkan hati, dalam getar bibir tak henti memuji Nama-Namanya yang Suci, dalam suwung yang penuh kekosongan. Dalam persujudan yang fana pada Sang Baqa, tak ada kepala yang dipertaruhkan selain kepala kita sendiri. Tidak kepala negara, tidak pula kepala daerah. Kita taruh kepala kita sendiri. Tak untuk didongakkan dengan aneka ikrar, tapi ditundukkan karena sering ingkar.

Tapi politik menginginkan ingar-bingar. Kegaduhan. Euforia. Kelatahan yang tak akan dibiarkan usai. Politik menafsukan persatuan dalam perceraian, begitu pula sebaliknya. Tidak ada kawan dan lawan yang selamanya dalam politik. Yang abadi hanya satu: kepentingan, lebih khusus lagi yaitu kepentingan menguasai. Dan, oleh karena itu yang dipanjatkan niscaya doa kemenangan. Yang disedekahkan amplop kosong berstempel kampanye. Seluruhnya dibungkus dalam bara yang terlalu panas untuk menyejukkan.

Politik mengira telah mengambil sebagian besar kesunyian, jika bukan seluruhnya. Padahal, jika pun dianggap hanya kecil, yang kecil inilah yang masih dan terus-menerus menghidupkan nyala di dalam batin kenusantaraan kita. Yang kecil ini pula yang merawat pasak-pasak spiritual dari barat hingga timur, selatan sampai utara, atas dan bawah, kepulauan dan samudera Indonesia agar tidak ambrol dirongrong perebutan kursi kekuasaan. Mereka inilah yang tak tergiur syahwat dunia, yang setia mengasuh umat.

Banyak ulama, kiai, habib, ustaz, biksu, bante, pandita, pedande, sulinggih, romo, uskup, pendeta, biarawan, jiao sheng, wen shi, xue shi, zhang lao, dan pemuka-pemuka aliran kepercayaan, yang meski tak asing dengan politik, memilih untuk mengasingkan diri dari politik. Mereka mungkin tidak kita kenal dalam kancah publisitas, namun mereka bukan tidak mengerti apa yang sebenarnya publik butuhkan. Pun banyak pemeluk agama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, Konghucu, yang memilih hidup tenang.

Diakui atau tidak, politik telah menjelma polusi dalam kehidupan kita, bahkan di dalam kehidupan beragama dan yang lebih privat daripada itu. Pilihan kembali pada kita: membiarkannya memenuhi pendengaran atau kita kecilkan volume hiruk-pikuknya hingga batas minimum hingga walaupun para politisi berteriak dengan seribu pelantang tetap saja tak ada yang terdengar selain keheningan. Jika mereka tidak bisa berhenti bicara, kita dapat berhenti mendengarkannya. Kitalah penentu remote kehidupan kita.

Apa yang masih sunyi ketika politik telah membawa kegaduhan sedemikian rupa dalam kehidupan kita? Berita di televisi, percakapan di media sosial yang kerap berujung pertengkaran, saling membuka aib, dan bahkan berakhir di penjara, tak mengenal lelah membujuk kita agar mau pula menjadi figuran dalam drama-drama politik. Tak cukup hanya menjadikan kita penonton, tapi juga mendorong kita agar menjadi komentator, simpatisan, bahkan pakar segala dari dunia yang sama sekali tidak pernah kita pijak sebelumnya.

Politik hari-hari ini tidak cuma mengenalkan konstituen pada kemerasabenaran yang absolut, namun juga pada kebencian pada mereka yang berseberangan. Mengolok dan menyalahkan lawan sudah menjadi kombinasi pukulan hook dan uppercut. Musuh, ya, musuh—tidak hanya lawan—politik tidak boleh sekadar jatuh, namun harus sampai tumbang masa depannya. Pertarungan tidak dibiarkan hanya terjadi di atas ring, namun juga di kerumunan akar rumput. Pesan damai menjadi lebur di tengah riuh-rendah saling ejek.

Hidup bermasyarakat pelan namun pasti, bahkan kini kencang dan semakin pasti, telah diubah menjadi hidup berkubu. Isu apa pun ditunggangi atau malah dijadikan tunggangan. Nama-nama binatang telah disematkan pada musuh-musuh. Entah jalan damai macam apa yang dapat kita bayangkan. Bangsa ini membutuhkan rekonsiliasi nasional. Disebabkan oleh politik, diakui atau tidak, kita berjalan ke arah jurang yang mencemaskan. Ranjau telah disebar dan hanya butuh entah kaki siapa untuk tak sengaja menginjaknya.

Apakah kita tidak sadar bahwa kita kini berada dalam perang kesadaran? Masing-masing kita mengaku sadar, bahkan merasa diri paling sadar, padahal virus ketidakwarasan telah sejak lama ditebar dan telah sejak lama pula kita hirup tanpa sadar. Hari-hari ini, hari-hari ketika virus tersebut telah merasuk dalam diri kita dan merenggut kesadaran, masihkah kita bisa berharap keadaan tidak lebih buruk dari sekarang? Dengan cara bagaimanakah kita bisa menghilangkan pengaruh buruk polusi politik dalam perang senyap ini? 

Ya, senyap. Sebab, kegaduhan politik telah memekakkan telinga kita sampai tak lagi memberi ruang pada irama kesunyian. Saya menulis artikel ini di kafe yang hidup 24 jam di sebuah hotel Surabaya sambil menikmati gamelan ditabuh mengiringi sinden yang melantunkan ketenteraman. Di bagian lain dari kota ini, dan kota-kota lainnya di Indonesia, nama-nama calon kepala daerah telah didaftarkan. Partai-partai besar telah siap bertarung serentak dalam banyak ring. Kita sebut ini pesta demokrasi. Tapi, benarkah demikian?

Di antara segala kegaduhan politik, masih adakah kesunyian? Dan, Anda berada di mana?

Kolom terkait:

Kaleidoskop 2017: Tahun Keprihatinan Beragama

Ketika Media Sosial Menjadi Semakin Personal

Jangan-jangan Kita Sendiri yang Intoleran?

Tuhan Tidak Menghendaki Olok-olok

Dalam NKRI Tak Ada Orang Kafir!

Candra Malik
Budayawan sufi yang bergiat di bidang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan spiritualitas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.