Senin, Oktober 26, 2020

Yang Memilih Lalu Kecewa

E-Rekap, Bukan E-Voting

Pembahasan RUU Penyelenggaraan Pemilu mulai mengerucut kepada beberapa substansi penting. DPR dan pemerintah sudah mengusung beberapa isu krusial yang mulai diperdebatkan pada pertengahan Februari....

Khalifah Marwan II: Sang Keledai Penguasa Terakhir Umayyah

Namanya Marwan bin Muhammad. Berkuasa hampir enam tahun. Dialah Khalifah terakhir dari Dinasti Umayyah. Dijuluki dengan sebutan Himar atau keledai--konon ini sebagai ungkapan sanjungan...

Keluar dari Jebakan Politik tanpa Identitas

Pilkada serentak yang baru saja kita lalui menggambarkan satu hal: kita terjebak dalam situasi politik yang benar-benar kehilangan identitas. Contoh paling ekstrem, ada partai...

Al-Mu’tamid: Terpecah-belahnya Khilafah Abbasiyah

Militer Turki menurunkan dan menaikkan khalifah semaunya mereka. Toh, sejelek-jeleknya mereka, mereka sendiri tidak berniat menumbangkan Dinasti Abbasiyah dan menggantinya dengan salah satu dari...
Avatar
Moh. Abdul Hakim
Kandidat Doktor Psikologi Politik, Massey University, New Zealand Dosen Psikologi Sosial & Politik, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Kita mungkin sering mendengar ungkapan “jangan pernah menaruh harapan kepada seseorang, karena ujungnya bisa sangat mengecewakan”. Mungkin ungkapan ini terdengar klise, tetapi di dalam politik elektoral, harapan-harapan kita sebagai pemilih kepada para politisi atau partai politik memang seringkali berakhir mengecewakan.

Dalam kontestasi politik, pemilih tentu memiliki harapan-harapan, dan harapan itu bisa berbeda-beda untuk setiap orang. Ada yang mengharapkan kondisi ekonomi yang lebih baik, situasi sosial yang lebih humanis dan berkeadilan, lingkungan hidup yang lebih lestari, politik yang lebih stabil, kehidupan keagamaan yang lebih teduh, dan lain sebagainya.

Ada sebagian orang yang harapannya sedemikian tinggi, sampai-sampai mereka skeptis bahwa sistem politik yang ada akan mampu mewujudkannya. Tapi, mayoritas pemilih Indonesia sepertinya masih percaya bahwa harapan-harapan itu bisa terwujud melalui mekanisme politik elektoral yang ada. Buktinya, tingkat partisipasi dalam Pemilihan Umum 2014 lalu masih sangat tinggi, 75,11% menurut perhitungann Komisi Pemilihan Umum (KPU),

Dan seperti janji, setiap harapan pun menuntut untuk ditunaikan. Tepat di titik inilah politik elektoral membentur paradoks yang ia ciptakan sendiri. Harapan-harapan politik pemilih nyaris tak terbatas, sementara pilihan-pilihan untuk dapat membayarnya sangat terbatas.

Seorang pemilih mungkin memimpikan sosok presiden yang sempurna; gagah, memiliki darah biru, lantang, tegas, kaya raya, nasionalis, dekat dengan rakyat, suka blusukan, pintar, rendah hati, berpengalaman, dan lain sebagainya. Toh dalam Pemilihan Presiden 2014 lalu pilihan kita tinggal dua, Prabowo Subianto atau Joko Widodo.

Di sisi lain, seorang kandidat atau sebuah partai politik mungkin mencoba tampil populis, seolah-olah mampu mewujudkan semua harapan-harapan pemilih. Tapi, itu nyaris mustahil. Politisi dan partai politik apa pun sama-sama terperangkap oleh pilihan-pilihan yang terbatas karena berbagai situasi; anggaran cekak, birokrasi yang buruk, korupsi, tentangan dari pihak oposisi, tumpukan persoalan lama yang tak terselesaikan, tantangan atas keteguhan integritas diri mereka sendiri, dan ribuan persoalan lainnya.

Semakin populis sebuah partai politik atau seorang kandidat, semakin banyak kebohongan-kebohongan yang harus ia buat.

Pun di negara dengan demokrasi yang sudah mapan seperti Amerika Serikat, probabilitas harapan seorang pemilih akan terwujud sebenarnya sangat kecil. Ilmuwan politik Columbia University Andrew Gelman, ahli statistik Nate Silver, dan ekonomi California University (Barkeley) Aaron Edlin pernah menghitung secara matematis, probabilitas pengaruh satu orang pemilih terhadap hasil Pilpres AS tahun 2008 adalah 1 : 60.000.000.000. Iya, hanya satu per 60 miliar!

Oleh karena itu, setiap kali kita berpartisipasi di dalam proses-proses politik elektoral, kemungkinan matematis untuk merasa kecewa sangatlah besar.

Maka, melihat suasana politik Indonesia sekarang ini, banyak orang yang sepertinya belum mampu mengelola rasa kecewa itu. Yang memilih lalu kandidatnya kalah sering melampiaskan kekecewaannya dalam bentuk kebencian yang tak berkesudahan kepada kandidat yang terpilih. Sementara yang kandidatnya terpilih tapi harapannya tak segera tertunaikan lalu melampiaskan kekecewaannya dalam bentuk apatisme. Dua pola perilaku ini jelas tidak akan membuat kehidupan politik kita menjadi lebih baik.

Kita sering lupa bahwa demokrasi tak bisa bertumpu hanya di atas harapan saja. Ia juga membutuhkan kaki kedua: kesabaran.

Bagaimanapun perubahan-perubahan politik di dalam demokrasi selalu berjalan lamban, dan kadang terasa menyiksa. Tak ada harapan-harapan politik yang dapat tertunaikan dalam waktu semalam saja. Sejarah berulangkali mengajarkan bahwa perubahan-perubahan politik yang terjadi secara massif dan cepat cenderung tak akan langgeng. Ketergesa-gesaan dalam politik justru seringkali menyebabkan kekacauan dan menuntut harga yang terlampau mahal. Lihat saja kekacauan politik di sebagian besar negara-negara Timur Tengah pasca revolusi Arab Spring.

Di dalam psikologi, kesabaran identik dengan konsep delayed gratification, yaitu sejenis kemampuan menahan diri dari dorongan untuk memperoleh balasan dengan segera, dan bersedia menunggu demi imbalan yang lebih besar dalam jangka panjang (Walter Mischel, dkk., Cognitive and attentional mechanisms in delay of gratification, terbit di Journal of Personality and Social Psychology, 1972, 21(2)). Dalam hal ini, kesabaran dalam politik dapat dimaknai sebagai kesediaan kita untuk memberikan waktu kepada seorang kandidat atau partai terpilih untuk memenuhi harapan-harapan pemilih sesuai dengan kerangka waktu yang mereka janjikan.

Kesabaran politik juga mengandung unsur keterbukaan pikiran agar mampu melihat perubahan-perubahan kecil yang sedang terjadi, menuju sebuah perubahan besar di masa yang akan datang.

Kesabaran akan mengendalikan kekecewaan elektoral agar tak menjelma menjadi kebencian dan apatisme. Kekecewaan atas kekalahan Prabowo Subianto dalam Pilpres 2014 lalu, misalnya, tak semestinya membuat pendukungnya membenci sosok Presiden Joko Widodo secara membabi buta. Pun dengan pendukung Ahok dalam Pilkada Jakarta 2017 lalu, mereka tak seharusnya terus menerus nyinyir terhadap semua kebijakan yang diambil oleh Anies Baswedan. 

Kesabaran politik semestinya membuat kita mampu melihat progres yang dapat dicapai oleh para kandidat terpilih secara lebih obyektif, dan seberapa banyak harapan-harapan pemilih yang tak mampu mereka tunaikan. Pada saat pemilihan berikutnya kita tinggal menilai, apakah seorang kandidat atau partai politik layak dipilih kembali atau sudah saatnya untuk diganti.

Kolom terkait:

Peluang Prabowo Pasca Pilkada Jakarta

Aliansi Dua Jenderal?

Menakar Siasat Politik Dua Jenderal

Anies dan Kebohongan Kita

“Pribumi” Anies, 2019, dan Politik Sentrifugal

Avatar
Moh. Abdul Hakim
Kandidat Doktor Psikologi Politik, Massey University, New Zealand Dosen Psikologi Sosial & Politik, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

Mencari Petunjuk Kekebalan Covid-19

Orang yang telah pulih dari Covid-19 mungkin khawatir tentang efek kesehatan yang masih ada, tetapi beberapa mungkin juga fokus pada apa yang mereka lihat...

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

“Islam Kaffah” yang Bagaimana?

Sebuah buletin baru “Buletin Dakwah Kaffah” terbit pada 18 Dzulqa’dah 1438 H/11 Agustus 2017. Judul “Islam Kaffah” mengingatkan kita kembali slogan Hizbut Tahrir Indonesia...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.