in

Tirakat Nusantara untuk Selamatkan Bangsa Indonesia


Candra Malik bersama para seniman Sakeco di Istana Dalam Loka, Sumbawa Besar, NTB. Gus Candra terus bergerilya mengajak masyarakat daerah mempertahankan dan melestarikan akar tradisi dan pokok kebudayaannya. [Sumber: dok pribadi]

Jika pun kita sama-sama meyakini bahwa Indonesia adalah bangsa besar, marilah mulai menyadari bahwa Indonesia adalah bangsa baru. Jika pun Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 dijadikan tonggak sejarah berdirinya bangsa Indonesia, kita perlu menyelamatkan bangsa ini sebelas tahun ke depan agar genap berusia satu abad. Jika pun Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang dijadikan tonggak, maka kita perlu berjuang lebih keras lagi.

Pada setiapĀ 20 Mei, kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Dipelopori oleh Dr Wahidin Sudirohusodo, Dr Sutomo, dan sejumlah mahasiswa STOVIA pada 20 Mei 1908 mendirikan Budi Utomo, organisasi pemuda yang menggerakkan perjuangan ke arah kemerdekaan Indonesia. Namun, lihatlah kini betapa bangsa kita semakin membutuhkan pemuda dan organisasi pemuda yang menjadikan kebangsaan dan kebudayaan sebagai tujuan gerakan.

Politik dan kekuasaan telah mengubah cara pandang anak bangsa, terutama yang memang berkutat pada mahkota dan singgasana. Tampuk kepemimpinan tidak lagi disakralkan sebagai amanat dan perjuangan untuk kemaslahatan rakyat; hanya dijadikan batu loncatan. Meski telah menjalani penempaan di kawah candradimuka, ternyata calon pemimpin tetap mudah berubah tatkala menghadapi ujian terakhir, yaitu kekuasan itu sendiri.


Bangsa Indonesia memang masih muda, dan semoga tidak hanya menua tanpa menjadi dewasa. Sebagai anak kandung dari Bangsa Nusantara, bangsa ini masih belum mandiri. Dalam kebudayaan saja, misalnya, kita masih bersandar kepada Warisan Budaya Nusantara. Tidak ada salahnya, tidak ada buruknya, memang. Dan, justru itu menunjukkan betapa kita mustahil mencerabut sendiri akar dan pokok kebangsaan dan kebudayaan kita.

Baca Juga :   "Dian" yang Harus Dipadamkan

Namun demikian, naif jika kita tidak tahu, apalagi tidak mau tahu, bahwa pihak-pihak luar juga mempunyai kepentingan terhadap bangsa Indonesia. Mereka pun selayaknya diduga memainkan peran penting dalam mengubah cara pandang pemuda-pemuda Indonesia terhadap kebangsaan dan kebudayaannya sendiri. Kita sebaiknya tidak menutup mata dan telinga dari peringatan yang menyebutkan bangsa ini sedang dicabut dari akarnya.

Ya, strategi yang paling mematikan untuk menghancurkan sebuah bangsa memang dengan mencabut dari akarnya. Triknya, antara lain, dengan menghapus riwayat leluhur dari keturunannya, menodai mitos dan legenda dengan teori-teori baru ilmu pengetahuan dan teknologi, dan yang paling masif adalah mengglobalkan dunia atas nama kemajuan peradaban. Padahal, diakui atau tidak, kemajuan teknologi kini disertai dengan kemunduran peradaban.

Modernitas telah menghapus identitas dan globalitas telah menghapus lokalitas. Tak ada lagi bedanya bangsa Indonesia dengan bangsa lain, atau layak diduga ada pihak-pihak tertentu yang semakin gencar mengupayakan agar bangsa kita tidak lagi berbeda dengan bangsa lain. Simbol-simbol bangsa dikawinmawinkan dengan simbol-simbol agama sehingga menjelma simbol-simbol ketakwaan ialah salah satu contohnya saja hari-hari ini.

Agama, tentu saja, diwahyukan Tuhan kepada para rasul bukan untuk tujuan politik, apalagi politik praktis kekuasaan yang bersifat hangus oleh waktu, terbeli oleh pundi-pundi, ternodai oleh korupsi, rentan terhadap perpecahan, dan fana oleh sifat-sifat duniawi lainnya. Karena itulah, dikotomi agama politik dan politik agama menjadi relevan. Penggunaan agama untuk berpolitik hanya perilaku segelintir orang politik yang beragama.

Baca Juga :   Kitab Merdeka [Refleksi Kebangkitan Nasional]

Jika setidaknya dibutuhkan satu abad untuk bisa disebut sebagai bangsa besar, maka anak-anak bangsa Indonesia yang lahir dalam kurun 100 tahun pertama–yang oleh karena itulah patut disebut generasi pertama bangsa Indonesia–memiliki tanggung jawab moril untuk menyelamatkan bangsa ini. Kita tidak ingin bangsa ini mati muda; baik karena bunuh diri atau dibunuh oleh kekuatan jahat. Pilihan kita hanya satu: bersatu.

Jika menilik pidato Presiden Soekarno di Sidang Umum PBB ketika menyodorkan Pancasila sebagai gagasan besar bagi masyarakat dunia, pada 30 September 1960, bangsa Nusantara telah berusia lebih dari dua ribu tahun. Dengan segala pasang surut dan jatuh bangun, bangsa Nusantara telah teruji oleh zaman. Dan, Nusantara menjadi besar karena bangsa ini menghidupkan tirakat; laku batiniah yang menyempurnakan laku lahirian.

Bangsa Indonesia membutuhkan tirakat yang sama kuat dan sakralnya dengan tirakat Nusantara. Kebangsaan dan kebudayaan bukan hanya tentang kerja politik dan pertunjukan. Kebangsaan dan kebudayaan memerlukan kerja ritual dan spiritual. Jika sekolah-sekolah masih hanya mencetak anak-anak pintar, kita memerlukan taman-taman belajar yang melahirkan anak-anak yang cerdas dan mendewasa sebagai manusia arif.

Jika kemanusiaan seorang manusia bisa rusak, dan kerusakan itu dari dalam, yaitu dari hati yang mudah terombang-ambing, begitu pulalah kebangsaan suatu bangsa beserta segala khazanahnya. Kerusakan sebuah bangsa niscaya terjadi dari dalam. Sekalipun pengaruh dari luar tidak bisa kita nafikan, kebaikan dan keburukan suatu bangsa bergantung pada sanubari bangsa itu sendiri. Sudah saatnya kita kembali bertirakat menata hati.


Baca Juga :   Politik Zig-Zag Hary Tanoe

Written by Candra Malik

Candra Malik

Budayawan sufi yang bergiat di bidang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan spiritualitas.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR