Banner Uhamka
Senin, September 21, 2020
Banner Uhamka

Teladan Bangsa, Bukan Cecunguk Penjajah

Mungkinkah FPI Menjaga Kebinekaan?

Apakah mungkin kelompok intoleran semacam Front Pembela Islam (FPI) bisa menjaga kebhinnekaan/kebinekaan? Pertanyaan ini muncul setelah Anies Baswedan, gubernur terpilih DKI Jakarta, menantang FPI...

Penjara dan Spiritualitas Seorang Pemimpin

Setiap pemimpin mengalami masa-masa keterasingan, kesepian, bahkan kepedihan penjara. Setidaknya penjara kegelisahan dalam memikirkan rakyat. Maka, bukan seorang pemimpin kalau jiwa dan fikirannya bebas...

Hoaks Baik bagi Demokrasi? Tunggu Dulu!

“Ini adalah upaya untuk mematikan demokrasi,” begitu komentar Fadli Zon mengomentari pengungkapan the Family Muslim Cyber Army, jaringan di grup Whatsapp, yang selama ini menyusun,...

Tuhan Menyuruh Kita Merdeka

Apa yang menjadi inti ajaran semua keyakinan sejak Adam, millah-nya Ibrahim, Musa, Isa, hingga Islamnya-Muhammad? Semuanya sama-sama berbasiskan “Tauhid” (ke-Esa-an Allah). Tauhid itulah yang...
Avatar
Zuly Qodir
Sosiolog, Dosen Fisipol UMY, Peneliti Senior MAARIF Institute for Culture and Humanity dan Senior JIMM

Merdeka atau mati! Inilah pekik para pejuang bangsa ketika menghadapi kolonialisme yang rakus dan bengis ketika itu. Ada saja memang sekelompok orang Hindia Belanda yang memilih menjadi “antek dan cecunguk Belanda, sang penjajah ketika itu”.  Tetapi sebagian besar warga Hindia Belanda ingin merdeka dari penjajah. Inilah nasionalisme yang kuat oleh sebagian besar warga Nusantara, sehingga kita sekarang menikmati kemerdekaan yang telah berusia 72 tahun.

Jiwa besar pendiri bangsa yang beragam telah menjadikan bangsa ini merdeka dari penjajahan yang menghisap seluruh kekayaan negeri. Para pendiri bangsa harus kita kenang dan hormati jasanya, sehingga bangsa ini tidak menjadi bangsa yang “pikun” atas perjuangan masa lalu yang sangat heroik dan penuh dengan pengorbanan.

Pengorbanan jiwa dan raga tidak pernah meminta penghargaan maupun puji-pujian dari generasi sesudahnya. Namun, hanya generasi yang “tuna hati” dan “tuna akal sehat” yang tidak bersedia menghargai perjuangan, pengorbanan dan ketulusan para pendiri dan pejuang bangsa ini. Oleh sebab itu, penghormatan dan penghargaan pada para pejuang dan teladan bangsa haruslah dilakukan oleh generasi sekarang ini.

Para pejuang dan pendiri bangsa telah menciptakan kebersamaan yang tidak tergadaikan. Para pendiri bangsa telah berdebat hebat untuk merumuskan dasar negara bahkan bentuk negara Nusantara yang waktu itu masih sangat muda. Sementara penjajah terus mengintai agar bangsa Indonesia tetap dalam kekuasaannya.

Kebersamaan yang sangat kuat dari para pendiri bangsa membuatnya tidak bersifat egois karena etnisitas, agama ataupun kelas sosial. Bayangkan jika para pendiri bangsa itu egois, tentu bangsa ini tidak akan pernah ada sampai sekarang ini. Inilah yang harus menjadi perhatian kita semua. Menjadi perhatian para pendidik, politikus, agamawan, birokrat, aktivis LSM, HAM, jurnalis, dan setiap warga negara yang mengaku setia dengan Indonesia.

Tidak boleh ada sekelompok orang yang mengaku paling berjasa dalam mengisi kemerdekaan karena jasanya merasa lebih banyak dibanding warga negara lainnya. Kita harus mencontoh teladan para pendiri bangsa yang telah bersuara keras dan lantang di hadapan penjajah untuk kemerdekaan Republik Indonesia. Kita mesti belajar kearifan dari para pendiri bangsa yang memperjuangkan hak-hak warga negara dihadapan para penjajah.

Adalah sebuah pengkhiatanan sejarah jika ada warga negara yang enggan hormat dan menghargai para pendiri bangsa, dengan kehendak mengubah bentuk negara dan dasar negara yang telah menjadi kesepakatan bersama para pendiri bangsa. Pancasila adalah ijma’ (kesepakatan) para ulama dan pendiri bangsa yang sesuai dengan ajaran agama (Islam sebagai mayoritas). Ijma’ ulama dan pendiri bangsa untuk menjadikan Pancasila sebagai dasar-asas berbangsa dan bernegara merupakan suatu yang harus dipertahankan.

Pancasila tentu bukan agama. Pancasila tidak akan menggantikan agama apa pun, termasuk Islam yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia. Pancasila adalah panduan hidup warga negara Indonesia untuk berbangsa dan bernegara, bukan untuk menggantikan kaidah-kaidah keagamaan apa pun–termasuk Islam. Oleh sebab itu, jika ada sekelompok masyarakat mengatakan bahwa Pancasila akan menggantikan agama, ini jelas bertentangan dengan para pendiri bangsa.

Para pendiri bangsa telah membangun persatuan untuk berbangsa bernegara dengan membuat kesepakatan politik tentang dasar negara atau asas berbangsa dan bernegara. Ijma’ politik pun bukanlah kekalahan umat mayoritas, tetapi bahkan bukti keteladanan yang diberikan para pendiri bangsa yang sangat saleh, jujur, ikhlas serta tidak berpretensi untuk dihormati atau dipuja-puja oleh para penerus bangsa ini.

Para pendiri bangsa telah mengajarkan pada kita bagaimana berbangsa dan bernegara, yaitu tidak hanya mementingkan kelompoknya, baik agama, etnis, ataupun partainya. Para pendiri bangsa telah mengajarkan bagaimana berpolitik yang berintegritas, berpolitik yang santun, berpolitik yang memiliki visi kebangsaan, dan berpolitik yang membangun negara dan bangsa. Kita perlu belajar dari teladan para pendiri bangsa dalam berpolitik, beragama maupun bermasyarakat.

Mereka tidak pernah menjadi pendendam sekalipun berbeda aliran dan pilihan politik. Para pendiri bangsa telah mengajarkan hidup sederhana, tidak bermewah harta dan rakus kekuasaan maupun kekayaan. Para pendiri bangsa telah mengajarkan pada kita bagaimana memahami masyarakat yang sangat beragam. Pendiri bangsa tidak memaksakan kehendak dan pendapatnya sekalipun benar.

Semua yang diajarkan para pendiri bangsa adalah ajaran kehendak untuk merdeka dari penjajahan. Merdeka dari kebodohan, ketertindasan, keterbelakangan serta kepicikan berpikir. Oleh sebab itu, kita tentu harus banyak belajar dari teladan yang telah diajarkan para pendiri bangsa, bukan menutup mata karena kepentingan politik dan kerakusan yang dimiliki dalam berbangsa.

Semoga bangsa ini menjadi bangsa yang bersedia belajar pada teladan pendiri bangsa.

Baca juga:

Megawati, Salam Pancasila, dan Ideologi “Keselamatan”

Indonesia dalam Tamansarinya Internasionalisme

Keluarga Kita dan Rumah yang Retak

 

Avatar
Zuly Qodir
Sosiolog, Dosen Fisipol UMY, Peneliti Senior MAARIF Institute for Culture and Humanity dan Senior JIMM
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Religion in Academic Study; An Introduction

"Religion" in relation to ritual practice became an item in an inventory of cultural topics that could be presented either ethnographically in terms of...

Optimisme di Tengah Ketidakbersatuan ASEAN

Optimisme ASEAN yang memasuki usia 53 tahun pada 8 Agustus lalu harus dihadapkan pada kenyataan pahit dan diliputi keprihatinan. Negara-negara anggota ASEAN dipaksa atau...

Investasi dalam Bidang SDA dan Agenda Neoliberal

Hari telah menuju sore, dengan wajah yang elok Presiden Joko Widodo membacakan naskah pidatonya saat dilantik untuk kedua kalinya pada tahun 2019 lalu. Sepenggal...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

Konflik Yaman dan Kesepakatan Damai Israel-UEA

Kesepakatan damai Israel-UEA (Uni Emirat Arab), disusul Bahrain dan kemungkinan negara Arab lainnya, menandai babak baru geopolitik Timur Tengah. Sejauh ini, pihak yang paling...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.