in

Tak Seharusnya Kita Alergi Kiri


Tan Malaka [intisari]

Kita memang selalu menyukai perbandingan atas keberbedaan yang sangat kontras, seperti kaya-miskin, tua-muda, tinggi-rendah, dan sebagainya. Dan, memang, kenyataannya, inilah yang menarik perhatian banyak ahli sejak dulu. Filsuf Ferdinand de Saussure, misalnya, menggelutinya dari segi semiotika struktural. Menurut Saussure, keberbedaan yang kontras ini bukan untuk membedakan, apalagi mendiskreditkan. Keberbedaan ini justru menegaskan kebersamaan, dan tentu saja kebermaknaan.

Bahasa sederhananya, sesuatu tidak lebih hebat daripada sesuatu yang lain. Dikatakan demikian karena sesuatu itu tidak mengacu ke realitas di luar dirinya sehingga bukan untuk diperbandingkan, tetapi untuk mengacu pada relasi keberbedaannya dengan tanda lain. Maksud Saussure adalah, bahwa semata karena (relasi) keberbedaan itulah yang membuat keberbedaan itu jadi bermakna. Artinya, hanya karena pasangan itu (kedua-duanya dan bukan salah satu) ada, eksis, dan berlawanan, maka terciptalah ruang makna.

Posisi ini disebut sebagai pasangan berlawanan (oposisi biner). Dengan kata lain, andai pasangan lainnya tidak ada, sesuatu akan menjadi nirmakna dan tidak eksis. Jadi, dalam benak Saussure, putih tidak lebih agung daripada hitam; kanan tidak lebih superior dibandingkan dengan kiri, dan sebagainya.

Namun, tidak semua sepakat dengan Saussure. Para pengkritiknya mengklaim bahwa dalam oposisi biner, derajat pasangan itu berbeda. Perbedaan itu dapat ditelusuri dari posisi, di mana yang pertama selalu merupakan  yang utama (pusat), sedangkan yang kedua menjadi periferi (pinggiran).

Menarik Dibincangkan

Laki-laki versus perempuan, baik-buruk, dan tinggi-rendah adalah beberapa contoh yang bisa disebut. Di sini memang tampak bahwa yang laki-laki menjadi pusat. Demikiankah adanya? Sekilas boleh jadi demikian. Apalagi, konon, sejarah selalu lebih suka menceritakan laki-laki, hal-hal baik, dan hal-hal tinggi sehingga ketiganya menjadi lebih agung. Tetapi, kritik ini masih lemah, dan tentu saja masih dapat diperdebatkan.

Baca Juga :   Jejak Langkah George J. Aditjondro dan Papua

Inilah yang membuatnya tetap menarik diperbincangkan, terutama dalam konteks kekinian, di mana kita seakan terbangun kembali untuk menghujat kiri dan mengagungkan kanan. Karena kiri dianggap musuh, maka diskusi kekiri-kirian dihabisi.

Betulkah kiri lebih buruk dari kanan? Masih butuh perdebatan, tentu saja. Namun, jika benar posisi pertama yang lebih agung, sangat tak logis jika sampai kini kita menghujat kiri. Bukankah pasangan kata kiri-kanan yang lazim? Tetapi, lagi-lagi, kritik ini masih lemah. Sebab, ini tak berlaku universal. Bagi orang kidal, misalnya, kanan kurang diandalkan.

Sementara itu, bagi negeri kita, justru kirilah yang kurang diandalkan. Beda lagi bagi para terapis. Bagi mereka, kiri dan kanan setara. Itulah sebabnya mereka selalu menganjurkan agar kita menggunakan kiri atau kanan secara bergantian sebagai bentuk dari latihan senam otak. Nah, bagaimana kita menanggapi kasus belakangan ini, di mana kita terlihat alergi sekali dengan kiri?


Berkaitan dengan itu, novelis kita—Tere Liye— tahun lalu melalui fan page facebook-nya juga menggemakan yang sama, mengeliminasi paham kiri, bahkan menyebut bahwa tidak ada orang yang paling berjasa (pahlawan), selain mereka yang berpaham religius?

Yang paling mendesak untuk ditanyakan sebenarnya adalah, mengapa masyarakat kita terlihat antikiri sehingga penghakiman dan pemaksaan menjadi kemestian? Mengapa pula negara melalui polisi terlihat kikuk kepada kerumunan sehingga alih-alih mengamankan acara, tetapi justru menutup acara atas nama keamanan? Ternyata, ada yang salah dengan pemahaman kita. Kita membuat pemahaman sendiri sehingga baik Saussure maupun pengkritiknya sama-sama tak kita ikuti. Ada sebuah ketidaklaziman dan tentu saja itu kezaliman.

Baca Juga :   Ternyata Bukan Ahokers yang Dungu

Kezaliman itu adalah ketika kita membikin teori sendiri tanpa sebuah pijakan pemaknaan. Tanpa pijakan pemaknaan maksudnya adalah penerjemahan sembrono terhadap sesuatu tanpa melalui balutan kisah karena alasan trauma, misalnya.

Sebagai hasilnya, terkondisikanlan sebuah kisah yang mestinya menjadi ingatan, tetapi malah terputus dan tercerai-berai. Kita salah memaknai karena membaca sepenggal-sepenggal tubuh sejarah. Kesalahan itu, misalnya, kita lupa bahwa Bung Karno dididik di rumah H.O.S Tjokroaminoto yang adalah kiri dan yang dengan gagah mengatakan sama rasa terlepas dari perbedaan pada Kongres Sarekat Islam (1917) di Batavia? Lalu, mengapa kita mendadak benci?

Inilah yang saya sebut gagal paham. Kita terbentang di antara kiri dan kanan. Dan, tentu saja kita masih bisa eksis hingga kini karena adanya tarik menarik kiri-kanan, setidaknya antara Bung Karno dan Soeharto, sehingga lahirlah Indonesia yang sekarang. Agaknya mustahil mengatakan jika Bung Karno tak “keliru” dan Soeharto tak “kejauhan” maka lahirlah Indonesia yang persis serupa seperti sekarang.

Lalu, mengapa kita mencoba “membelokkanankan” Festival Belok Kiri seakan-akan kita tak pernah dibalut paham kiri? Mengapa kita alergi melihat pemanggungan kisah Tan Malaka?Apakah Tan Malaka hanyalah “binatang” (rubah) yang merah dan berdarah-darah? Apakah tulang-belulang Tan Malaka sudah kafir sehingga setelah kematiannya, kita toh tak juga mengakuinya?

Kita Pernah dari Sana

Ini sesuatu yang benar-benar gagal paham. Kita semua merindukan Joko Widodo sebagai titisan Bung Karno, yang (pernah) kiri, bahkan Jokowi kini benar-benar mereduplikasi wejangan-wejangan Bung Karno melalui Trisakti.

Saya tak mengatakan Jokowi adalah kiri. Saya hanya mau mengatakan bahwa kita pernah kiri. Bahkan Ben Anderson, dalam Cornell Paper coba menunjukkan bahwa “Peristiwa G-30-S” yang disebut-sebut sebagai kebiadaban para penganut paham kiri bukan kudeta, bukan rancangan PKI, melainkan konflik di dalam Angkatan Darat dan bahwa Soeharto terlibat, langsung atau tak langsung.

Baca Juga :   Kivlan Zen, Isu PKI, dan Bangunan Persepsi Kesejarahan

Harus diakui, seperti kata Goenawan Moehamad, kesimpulan Ben ini dibuat terlalu tergesa-gesa, ketika bahan belum memadai. Tetapi pemerintah “Orde Baru” tak tambah meyakinkannya ketika dengan cara kasar dan pengecut melarangnya masuk ke Indonesia, sejak 1972 sampai setelah Soeharto jatuh. Dari peristiwa itu, sangat logis jika kecurigaan sederhana ini dicuatkan: bahwa paham kanan sebenarnya menggusur kiri. Ini bukan simpulan. Ini hanya kecurigaan.

Yang pasti, kita tak boleh malu mengakui bahwa banyak warga kita yang dulunya pro-Sukarno dan karena itu dituduhkan berpaham kiri lalu dibunuh secara diam-diam. Ada budayawan, seniman, pokoknya para pendukung Bung Karno, semuanya dieliminasi. Fakta ini masih disembunyikan, tetapi kisahnya sudah rahasia lebar-lebar.

Saya mengetengahkan ini agar kita kembali mengingat bahwa kita pernah kiri, pernah kanan. Dan, ini diketengahkan agar kita tak saling menyakiti dengan stigma, trauma, dan alasan apa pun, termasuk keamanan.

Saya percaya, baik kiri maupun kanan sama-sama baik dan itu hanya akan bermakna karena adanya relasi keduanya, sebagaimana diutarakan Saussure. Maksud saya, tak seharusnya kita alergi kiri lalu membubarkan diskusi-diskusi. Itu perbuatan munafik untuk tidak menyebut biadab. Maaf kalau saya terlalu kejauhan!

Kolom terkait:

Perlukah Meluruskan Sejarah Tragedi 1965?

Ingatan Kolektif 1965

Menjadi Indonesia Pasca-1965

Mengapa Saya Ikut Simposium Tragedi 1965

Warisan Terakhir Ben Anderson


Written by Riduan Situmorang

Riduan Situmorang

Pendidik di Medan, Aktivis Antikorupsi, Pegiat Literasi di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) dan Toba Writers Forum (TWF), Medan.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR