OUR NETWORK

Surat Terbuka untuk Ahok, Batu Karang Kedewasaan Bangsa

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok meninjau banjir di Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makassar, Jakarta, Senin (20/2). Dalam blusukannya Ahok mengingatkan warga pentingnya untuk membuat sertifikat tanah. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean

Pak Ahok yang saya hormati, salam kenal.

Perkenalkan saya Syaiful Arif, salah satu pengagum Anda. Selama Anda berada di jalan yang lurus, selama itu pula saya akan selalu mendukung Anda. Saya adalah salah satu dari sedikit pemuda di negeri ini yang gelisah memikirkan nasib bangsa ke depan.

Kegelisahan ini sempat saya salurkan melalui sebuah karya tulis yang membahas hubungan agama, politik, demokrasi, dan kebangsaan. Karya yang berupa buku itu telah terbit pada April tahun lalu (2016) dengan judul Falsafah Kebudayaan Pancasila, Nilai, dan Kontradiksi Sosialnya (Gramedia Pustaka Utama).

Di dalam buku tersebut, selain menjelaskan falsafah budaya kita, saya juga meratapi hilangnya nilai-nilai Pancasila di dalam pemahaman, kesadaran, dan praktik politik dalam kehidupan berbangsa masyarakat Indonesia.

Apa tanda-tanda kehilangan itu? Untuk saat ini, dalam momen Pilkada DKI Jakarta 2017, Anda adalah tanda bagi hilangnya nilai-nilai Pancasila itu. Mengapa? Karena sebagian rakyat Jakarta, juga masyarakat Indonesia, melihat Anda tidak sebagai saudara sebangsa yang memiliki hak sama untuk menjadi pemimpin di negeri ini!

Mereka masih mendewakan (politik) identitas berbasis agama dan menyebut Anda sebagai kafir. Padahal, guru bangsa kita, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), berulang kali menegaskan bahwa sebutan kafir di dalam al-Qur’an hanya untuk kafiru Makkah, yakni para penyembah Latta dan ‘Uzza, berhala di Ka’bah itu.

Sedangkan kepada umat Kristiani dan Yahudi, al-Qur’an memberikan “ahlul kitab” (umat yang memiliki kitab suci) sebagai penyebutan yang tepat. Betapa mulianya penyebutan bagi saudara dan sahabat Kristiani dalam kitab suci kami, namun begitu dangkal pemahaman umat terhadap kitabnya sendiri.

Karena memandang Anda sebagai “pemimpin kafir”, sebagian orang itu telah mengabaikan konstitusionalisme yang merupakan prinsip utama kehidupan bernegara. Saya sudah tahu pembelaan mereka hanya satu: kitab suci di atas konstitusi.

Kalau begitu, keluar saja dari negara ini, dan dirikanlah negara agama sendiri! Tampak jelas degradasi kualitas kebangsaan di dalam diri para pembenci Anda, Pak Ahok. Mereka sudah meninggalkan nilai-nilai luhur dari para pendiri negara, perumus Pancasila dan UUD 1945.

Pak Ahok yang saya banggakan,

Ada alasan fundamental kenapa saya mendukung Anda, yakni kualitas politisi demi proses pendalaman demokrasi (deepening democracy). Dalam demokrasi yang diperdalam ini, kita tak mau lagi memilih “kucing dalam karung” yang minim prestasi dan kemaruk korupsi. Kita mau memilih pemimpin kredibel melalui partisipasi warga (civic engagement) dalam kesadaran politik yang rasional.

Sejak Reformasi 1998, baru tiga tahun terakhir kita mulai melihat sosok-sosok pemimpin berkualitas naik ke permukaan, yakni para pemimpin politik yang awalnya kepala daerah, lalu berkembang menjadi tokoh nasional karena integritas, kecerdasan, dan kredibilitasnya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) adalah tokoh yang diangkat oleh rakyat dengan cepat, dari Kota Solo, Kota Jakarta, hingga mendiami Istana Negara. Anda sendiri, dan satu lagi Wali Kota Bandung yang kini nyalon menjadi Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Di tangan figur politisi seperti kalian, saya menemukan inovasi, kerakyatan, dan keberanian melawan angkara murka yang sudah menjadi tabiat laten politik negeri ini.

Hanya saja, kondisi di lapangan dalam kontestasi yang Anda hadapi sekarang berbeda dari sebelumnya. Di masa Pilkada DKI 2012, saat Anda menang bersama Jokowi, kekuatan yang bertarung adalah “semangat baru” vs status quo. Ketangkasan Jokowi-Ahok telah menyatukan rakyat miskin Jakarta dan pemilih rasional kelas menengah.

Tak ada sentimen agama, karena calon gubernya seorang Muslim. Di Pilpres 2014, situasi masih sama. Jokowi masih mewakili spirit kerakyatan dan kebaruan melawan kekuatan politik yang identik dengan militerisme dan gaya kepemimpinan Orde Baru. Maka, dua kekuatan utama pemilih kita (rakyat miskin dan kaum terpelajar) kembali menjadi pemenang tak tertandingi.

Di masa Pilkada Jakarta yang sedang Anda jalani saat ini, situasinya sama sekali berbeda. Anda harus berjihad melawan “populisme kanan” berbasis sentimen Islam. Prof. Vedy Hadiz dari Melbourne University menyebutnya sebagai populisme Islam (Islamic populism).

Konsep ini mewujud dalam sentimen kerakyatan–untuk konteks Islam, keumatan (ummah)–yang menjadikan “aksi bela Islam” sebagai perjuangan bersama yang diusung oleh umat. Memang dalam konteks black campaign, ini taktik yang cerdas, karena Anda dibakukan identitasnya sebagai penista agama.

Namun sekali lagi, taktik ini sungguh kejam, karena telah membelah umat Islam itu sendiri menjadi dua: pro-penista (yang kini sudah diberikan label “munafikun”) vs kontra-penista. Ujaran kebencian (hate speech) terhadap “munafikun” dan non-Muslim juga semakin menguat. Tak berhenti sampai pada hujatan verbal, namun juga tindakan nyata, seperti kasus penolakan jenazah dan larangan berdagang.

UU Penodaan Agama (PNPS No. 1/1965) adalah UU yang kontroversial, yang oleh Mahkamah Konstitusi (MK) pada 2010 diminta untuk direvisi guna memperjelas definisi penodaan agama. Alasannya, agar tidak ada lagi orang-orang yang bernasib sama dengan Anda, korban pemidanaan dengan “pasal karet” ini.

Seandainya Anda kalah nanti, karena “populisme kanan” ini, maka yakinlah bahwa Anda kalah secara terhormat. Meskipun hal ini juga menggambarkan kelemahan demokrasi yang menempatkan kebenaran di tangan mayoritas. Jika akhirnya Anda tidak menjadi Gubernur DKI, pasti ada tempat terbaik di negara ini, yang akan menjadi ladang pengabdian Anda.

Perjuangan belum selesai, di Jakarta maupun di wilayah lainnya di negeri ini. Tangan pengabdi milik orang berjiwa pelayan rakyat seperti Anda pasti menemui wadah untuk berkarya.

Pak Ahok yang saya takzimi,

Berbanggalah, sebab karena Anda, bangsa ini kembali diuji komitmennya atas nilai-nilai keindonesiaan. Kita selama ini mengklaim bangsa majemuk berbasis Bhinneka Tunggal Ika, berbentuk negara Pancasila. Nyatanya, di dalam pilihan politik, negeri ini justru melindas semua nilai luhur itu.

Hanya jika Anda bisa menjadi Presiden RI, bangsa ini pantas disebut sebagai bangsa majemuk yang sungguh percaya pada kemajemukan itu sendiri. Mengapa? Karena pemilihan pemimpin sudah tidak lagi didasari sentimen SARA, tetapi rasionalitas dan kesadaran politik yang nyata.

Mungkin atau tidaknya hal ini terjadi, biar sejarah yang akan menguji. Saya melihat persoalan dukung-mendukung Anda ini memang bukan demi Anda pribadi. Mendukung Anda adalah mendukung rasionalitas politik. Mendukung kejujuran dan ketulusan. Kita bisa membaca kedua hal itu dari “air muka”.

Air muka yang jernih memancarkan kejernihan. Air muka yang keruh dipancarkan oleh mata yang licik, yang mulutnya bicara menjadi “pemadam kebakaran” atas “api Islam liberal” pada sore hari. Padahal, sehari sebelumnya, ia mengklaim sebagai pewaris cita-cita Islam moderat.

Air muka yang keruh itu adalah air dari muka yang teduh bagi para penyebar kebencian atas nama agama dan dengan sadar menungganginya demi tercapainya syahwat berkuasa. Tak apa-apa. Jika Anda kuat menjadi batu karang kedewasaan bangsa ini, amal baik Anda akan dicatat di dunia dan akhirat.

Pak Ahok yang saya cintai,

Teriring doa semoga Anda sekeluarga selalu mendapat lindungan Tuhan YME dan tetap semangat dalam mengawal proses demokratisasi yang kini jatuh di titik nadir. Ingat pepatah Jawa: becik ketitik olo ketoro. Kebaikan akan terbukti baik dan keburukan akan menampakkan buruknya. Salam Indonesia jaya!

Jawa Barat,

25 Maret 2017.

Syaiful Arif
Kolumnis, penulis buku-buku kebangsaan, Direktur Institut Pancasila dan Kewarganegaraan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…