OUR NETWORK
Siasat Golkar Merangkul Kang Emil, “Mendepak” Kang Dedi
Dedi Mulyadi dan Ridwan Kamil dalam salah satu acara Golkar di Jawa Barat.

Jalan Ridwan Kamil untuk ikut berkontestasi pada Pilkada Provinsi Jawa Barat 2018 ibarat jalan tol saja. Setelah diusung Partai NasDem, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang mengantongi 21 suara di DPRD Provinsi Jawa Barat, sehingga melampaui syarat suara minimal sebanyak 20 kursi untuk pencalonan, pekan lalu Partai Golkar pun menyatakan sikapnya untuk mengusung Ridwan Kamil sebagai calon gubernur Jawa Barat 2018-2023.

Terlepas ada polemik internal di tubuh DPD Partai Golkar Jawa Barat akibat DPP Partai Golkar merestui Ridwan Kamil, bukan Dedi Mulyadi untuk menjadi cagub, sulit dimungkiri bahwa keputusan DPP Partai Golkar seolah-olah merontokkan lengkingan aspirasi DPD Partai Golkar untuk mengusung kader partai sendiri (Kang Dedi) sebagai cagub Jawa Barat. Tentu pertimbangan Partai Golkar bukan kader, melainkan kemenangan kandidat.

Sejauh ini hasil pelbagai survei politik di Jawa Barat menyatakan bahwa Ridwan Kamil meraup popularitas tinggi, terutama akseptabilitasnya. Karena itu, jika pertimbangannya kemenangan, sikap DPP Partai Golkar masuk akal. Namun, kalau melihatnya dari kepentingan kaderisasi dan perkembangan politik yang bisa saja berubah di kemudian hari, sikap DPP Partai Golkar cukup disayangkan, apalagi ketika mengabaikan Kang Dedi. 

Sejauh ini DPP Partai Golkar terkesan mengabaikan Dedi Mulyadi. Sebab, selain tidak mengusungnya sebagai cagub, Golkar juga tidak mengusung Kang Dedi sebagai calon wakil gubernur (cawagub). Alih-alih Dedi Mulyadi, kabarnya DPP Partai Golkar malah merestui Daniel Muttaqien (anggota DPR RI sekaligus putra Yance) untuk menjadi cawagub pendamping Kang Emil.

Jadi, tampak bahwa Kang Dedi seolah “didepak” Partai Golkar. Di pihak lain, hubungan Dedi Mulyadi tampak intens dengan satu-satunya partai politik di Provinsi Jawa Barat yang dapat mengusung cagub dan cawagub sendiri, yakni PDI Perjuangan. Bila tak dipasangkan dengan Ridwan Kamil, bukan mustahil Kang Dedi akan diusung menjadi cagub Jawa Barat oleh PDI Perjuangan. Dan hal ini akan mengejutkan jika Partai Keadilan Sejahtera (PKS) justru berkoalisi dengan PDI Perjuangan.

Jika skenario itu benar-benar terjadi, Partai Golkar lagi-lagi akan bermain di dua kaki. Secara formal, Partai Golkar turut mengusung Ridwan Kamil. Namun, secara non-formal, sejumlah kadernya di Jawa Barat mendukung Kang Dedi. Tentu saja jika tak berhasil menyandingkan Ridwan Kamil dengan Dedi Mulyadi, langkah ini akan lebih menguntungkan Partai Golkar. Sebab, kuat dugaan, Kang Emil dan Kang Dedi punya peluang keterpilihan yang nyaris sama besarnya.

Selain memiliki visi dan kinerja yang bagus, sulit dimungkiri keduanya juga tampil dan dijadikan figur pemimpin Jawa Barat kontemporer. Bila PDI Perjuangan berkoalisi dengan PKS, lalu mengusung dan mendukung Dedi Mulyadi, bukan Ridwan Kamil, maka Ridwan Kamil akan menemukan pesaing mumpuni. Terlebih bila Dedi Mulyadi dipasangkan dengan kader PKS yang populer dan memiliki tingkat elektabilitas tinggi. Sebab, selain faktor figur Dedi Mulyadi, mesin politik PDI Perjuangan dan PKS pun dikenal militan.

Kini, figur Kang Dedi boleh saja dianggap kalah populer dan kalah elektabilitas dibanding Kang Emil. Namun, dengan modal kefiguran Kang Dedi sekarang yang akan terus digenjot di masa mendatang, bukan mustahil kelak, elektabilitasnya mendekati Kang Emil. Dan jika itu benar-benar terjadi, militansi mesin politik PDI Perjuangan dan PKS akan menjadi penentu kemenangan Kang Dedi atas Kang Emil dalam Pilkada Jawa Barat 2018 mendatang.

Lalu, bagaimana dengan peluang kemenangan figur cagub lainnya di luar Kang Emil dan Kang Dedi? Sampai sejauh ini tampaknya peluang bagi mereka cukup kecil. Sebab, kedua tokoh ini bukan hanya memiliki visi dan rekam jejak kepemimpinan mumpuni, tetapi juga keduanya boleh disebut pemimpin berkarakter. Keduanya bukan saja dikenal nyunda dan memiliki pemikiran yang canggih, tetapi juga eksekutor jempolan dan punya jaringan simpatisan yang luas.

Karena itu, jika Ridwan Kamil berpasangan dengan Dedi Mulyadi, tampaknya Pilkada Jawa Barat 2018 sudah selesai sejak awal bagi kemenangan pasangan ini. Namun, jika keduanya tetap melaju dengan pasangan masing-masing, kemungkinan kalah bagi keduanya tetap terbuka, meski salah satunya yang akan memenangkannya. Jika skenario terakhir yang terjadi, Partai Golkar akan sama-sama menjadi pemenangnya.

Sebagaimana dapat disimak dalam sejarah Golkar, partai ini memang lebih nyaman menjadi bagian dari kekuasaan, sehingga acap memecah diri dalam proses kontestasi agar menjadi bagian dari pemenang. Artinya, jika Ridwan Kamil menang, Partai Golkar akan menjadi bagian dari kekuatan pemenang secara formal. Demikian pula manakala Dedi Mulyadi yang menjadi pemenangnya, kekuatan Partai Golkar Jawa Barat dipastikan akan merapat kepada Kang Dedi.

Namun, di luar skenario perpecahan Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi, tampaknya peluang bagi keduanya untuk berpasangan masih terbuka lebar. Bukankah arena politik praktis dikenal cair dan dinamis? Jika Partai Nasdem, PKB, PPP, Partai Golkar, dan PDI Perjuangan akhirnya mengusung Ridwan Kamil-Dedi Mulyadi, tentu ini akan menjadi koalisi besar di Jawa Barat dan berkontribusi menyukseskan pelaksanaan berbagai program pasangan ini jika terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat 2018-2023. Kita tunggu.

Kolom terkait:

Koalisi Dahsyat PKS-PDI Perjuangan di Jawa Barat

Duet Maut Dedi Mulyadi-Ridwan Kamil

Ridwan Kamil dan Blunder Mayoritas

Ridwan Kamil, Si Cantik “Gedebong Pisang”

Pilih Siapa Ya, Dedi Mulyadi, Demiz, Emil, Apa Kamu?

Miraj Dodi Kurniawan

Alumni S1 Pendidikan Sejarah IKIP Bandung, sedang menempuh S2 Pendidikan Sejarah di Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, Ketua Bidang Kekaryaan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bandung BK Jabar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

REKOMENDASI

KARTUN HARI INI

OPINI TERBARU

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…