in

Sesat Pikir Para Kandidat Gubernur Jakarta


Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Agus Harimurti Yudhoyono (ketiga kiri)-Sylviana Murni (kedua kanan), Basuki Tjahaja Purnama (kedua kiri)-Djarot Saiful Hidayat (kiri) dan Anies Baswedan (kanan)-Sandiaga Uno (ketiga kanan) saling berbincang usai debat ketiga Pilkada DKI Jakarta di Jakarta, Jumat (10/2). Debat ketiga itu mengangkat tema Kependudukan dan Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat Jakarta. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/foc/17.
Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni , Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat , dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno saling berbincang usai debat ketiga Pilkada DKI Jakarta di Jakarta, Jumat (10/2). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Dalam debat final Pilkada DKI Jakarta 2017, ada sejumlah sesat pikir yang tampak dibangun dari para kandidat. Baik pasangan calon Agus-Sylvi, Ahok-Djarot, ataupun Anies-Sandi, semua punya kekurangan masing-masing dengan sesat pikir yang dibangunnya demi meraup dukungan publik sebanyak-banyaknya.

Secara umum, berdasarkan hasil polling yang dilakukan Litbang Kompas dengan wawancara selama debat berlangsung, paslon Ahok-Djarot dianggap paling menguasai masalah. Dari skala 1 hingga 10, paslon nomor pemilihan dua ini mendapat skor 7,47. Sementara di peringkat kedua, ditempati oleh paslon nomor pemilihan tiga Anies-Sandi. Mereka mendapat skor 7,02, disusul oleh paslon nomor pemilihan satu Agus-Sylvi dengan skor 6,25.

Terkait program kerja, lagi-lagi paslon Ahok-Djarot mendapat skor tertinggi dari para penantangnya, yakni 8,07. Sedangkan untuk Anies-Sandi dan Agus-Sylvi, masing-masing mendapat skor 7,41 dan 6,35.

Tetapi dalam hal cara penyampaian atau komunikasi, Anies-Sandi mampu unggul. Paslon ini mendapat skor 7,68, sementara Ahok-Djarot 7,52, disusul oleh Agus-Sylvi yang hanya mampu mendapat skor 6,49.

Dan ketika para responden ditanya soal apakah mungkin pilihannya akan berubah, 17,1% yang menyatakan masih mungkin (bisa berubah pilihan), 4,0% yang menyatakan ragu-ragu, dan 77,1% yang menyatakan sudah mantap dengan pilihannya. Selebihnya, yang menyatakan rahasia/tidak tahu/tidak menjawab, hanya berkisar 1,1%.


Jika dilihat, penilaian responden secara umum terhadap penampilan ketiga paslon ini relatif merata. Dari rentang 1 (sangat buruk) sampai 10 (sangat baik), rata-rata nilai yang diberikan responden dari ketiga variable, yakni penguasaan masalah, program kerja, dan cara berkomunikasi, berada di angka 7,14. Tentu saja, penilaian ini menjadi satu faktor bagi responden untuk menentukan paslon mana yang akan dipilihnya pada Pilkada DKI yang tinggal menghitung hari ke depan ini.

Opini Sesat
Salah satu sesat pikir yang paling dominan dalam debat final Pilkada DKI ini adalah adanya upaya menggeneralisasi segala sesuatu. Seperti ditampakkan oleh Anies Baswedan misalnya, upaya generalisasi itu tampak ketika dirinya mengklaim bahwa mayoritas warga Jakarta membutuhkan pemimpin baru.

Jelas, argumentasi semacam ini adalah juga penyesatan publik. Bagaimana bisa kita percaya terhadap klaim yang demikian jika yang mengklaim saja tidak melibatkan data sebagai pembuktian? Bisa jadi memang mayoritas. Tapi adakah bukti konkritnya bahwa sebagian besar warga DKI benar-benar membutuhkan pemimpin baru?

Jika kita membandingkannya dengan hasil temuan dari beberapa lembaga survei, sangat jelas bisa kita temui bahwa Ahok-Djarot acapkali unggul secara elektabilitas. Lihat saja hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), misalnya, atau Populi Center atau Charta Politika. Semua menampakkan hal yang sama.

Itu artinya, ucapan Anies yang mengklaim bahwa mayoritas warga menginginkan pemimpin baru bisa dikatakan bohong belaka. Padahal, yang menginginkan itu hanyalah pendukungnya saja atau yang anti-petahana. Itu pun jumlahnya lebih sedikit jika dibanding pendukung petahana secara hitung-hitungan survei.

Selain Anies, calon wakil gubernur paslon nomor satu (Sylviana Murni) juga kedapatan membangun opini sesat. Ketika diberi kesempatan untuk bertanya ke paslon nomor dua Ahok-Djarot, Sylvi melontarkan kata tanya soal penyandang disabilitas yang seolah-olah tak ada yang bekerja di Balai Kota di masa kepemimpinan Ahok. “Ada gak sih di Balai Kota yang namanya (penyandang) disablitas bekerja?”

Aduh, mpok Sylvi ini ke mana aja ya? Katanya sudah mengabdi puluhan tahun untuk warga DKI Jakarta? Tapi, kok, realitas di Balai Kota saja tidak tahu? Untung Ahok punya data lengkap. Opini yang dibangun mpok Sylvi pun terbantahkan, yang justru membuktikan bahwa dirinya telah membangun opini sesat dalam debat yang semestinya adu data/fakta itu.

Parahnya lagi, sang calon gubernur Agus Yudhoyono juga tampak menambah kesesatan berpikir di tubuh pasangannya. Darinya saya berpikir, sepertinya si Agus ini bukan manusia, melainkan lebih tepat saya sebut sebagai “superman” alias siluman yang bisa melakukan hal-hal mustahil dalam sekejap.

Bayangkan coba, di DKI Jakarta, untuk mengunjungi seribu RT (rukun tetangga) saja, minimal seorang manusia butuh waktu setahun untuk bisa melakukan dan merampungkannya. Itu pun sudah sangat sulit. Tapi ini, pada Agus, dalam rentang waktu beberapa bulan setelah dirinya terpilih sebagai kandidat, dia mengklaim sudah mengunjungi puluhan ribu RT di Ibu Kota Indonesia ini. Luar biasa, bukan? Tidak normal.

Adapun sesat pikir yang terakhir, datang dari calon petahana sendiri, Ahok. Dia bilang kalau pemimpin itu ibarat orang tua yang harus mengatur kehidupan apa yang baik bagi anak-anaknya. Orang tua (gubernur), pikirnya, menjadi pihak yang paling tahu dan karena itu menjadi pengatur. Dan meski opini yang dibangunnya ini terkesan keliru secara relatif, bagi saya, ini konsep keluarga (pemerintahan) yang juga sangat menyesatkan.

Ingat, orang tua bukan dewa, dan anak bukan sapi perahan.

Tapi untung saja ada Djarot. Calon wakil gubernur ini kembali berhasil menjadi pelengkap Ahok dengan kata-katanya yang sungguh brilian: karena hidup itu belajar. Darinya, paslon ini pun benar-benar menjelma sebagai paslon yang ideal. Mereka mampu saling melengkapi, mampu mengisi kekurangan satu sama lainnya.


Written by Maman Suratman

Maman Suratman

Mahasiswa Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR