Jumat, Februari 26, 2021

Sesat Pikir Para Kandidat Gubernur Jakarta

Menimbang Pemenang Pilpres 2019

Polmark Indonesia belum lama ini merilis hasil surveinya. Survei dilakukan pada periode 13-25 November 2017. Hampir mirip dengan hasil beberapa survei lainnya, survei Polmark...

Pilkada Jakarta dan Hilangnya Akal Sehat Netizen

Persiapan Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta sudah memasuki babak baru dengan penetapan tiga pasangan calon pemimpin Jakarta. Basuki Tjahaja Purnama-Syaiful Djarot (Ahok-Djarot), Agus Yudhoyono-Sylviana...

Khalifah Ketujuh Umayyah: Sulaiman yang Narsis

Sulaiman bin Abdul Malik berusia sekitar 40 tahun ketika akhirnya berhasil menggantikan kakaknya, al-Walid, sebagai Khalifah ketujuh dari Dinasti Umayyah. Al-Walid dan Sulaiman sebelumnya...

Susiku Sayang, Susiku Malang

“Tenggelamkan!” demikian salah satu jargon yang berkali-kali viral di media-media  sosial di Indonesia. Banyak orang menggunakan kata ini demi kepentingannya masing-masing, yang umumnya bernada...
Avatar
Maman Suratman
Mahasiswa Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Agus Harimurti Yudhoyono (ketiga kiri)-Sylviana Murni (kedua kanan), Basuki Tjahaja Purnama (kedua kiri)-Djarot Saiful Hidayat (kiri) dan Anies Baswedan (kanan)-Sandiaga Uno (ketiga kanan) saling berbincang usai debat ketiga Pilkada DKI Jakarta di Jakarta, Jumat (10/2). Debat ketiga itu mengangkat tema Kependudukan dan Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat Jakarta. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/foc/17.
Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni , Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat , dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno saling berbincang usai debat ketiga Pilkada DKI Jakarta di Jakarta, Jumat (10/2). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Dalam debat final Pilkada DKI Jakarta 2017, ada sejumlah sesat pikir yang tampak dibangun dari para kandidat. Baik pasangan calon Agus-Sylvi, Ahok-Djarot, ataupun Anies-Sandi, semua punya kekurangan masing-masing dengan sesat pikir yang dibangunnya demi meraup dukungan publik sebanyak-banyaknya.

Secara umum, berdasarkan hasil polling yang dilakukan Litbang Kompas dengan wawancara selama debat berlangsung, paslon Ahok-Djarot dianggap paling menguasai masalah. Dari skala 1 hingga 10, paslon nomor pemilihan dua ini mendapat skor 7,47. Sementara di peringkat kedua, ditempati oleh paslon nomor pemilihan tiga Anies-Sandi. Mereka mendapat skor 7,02, disusul oleh paslon nomor pemilihan satu Agus-Sylvi dengan skor 6,25.

Terkait program kerja, lagi-lagi paslon Ahok-Djarot mendapat skor tertinggi dari para penantangnya, yakni 8,07. Sedangkan untuk Anies-Sandi dan Agus-Sylvi, masing-masing mendapat skor 7,41 dan 6,35.

Tetapi dalam hal cara penyampaian atau komunikasi, Anies-Sandi mampu unggul. Paslon ini mendapat skor 7,68, sementara Ahok-Djarot 7,52, disusul oleh Agus-Sylvi yang hanya mampu mendapat skor 6,49.

Dan ketika para responden ditanya soal apakah mungkin pilihannya akan berubah, 17,1% yang menyatakan masih mungkin (bisa berubah pilihan), 4,0% yang menyatakan ragu-ragu, dan 77,1% yang menyatakan sudah mantap dengan pilihannya. Selebihnya, yang menyatakan rahasia/tidak tahu/tidak menjawab, hanya berkisar 1,1%.

Jika dilihat, penilaian responden secara umum terhadap penampilan ketiga paslon ini relatif merata. Dari rentang 1 (sangat buruk) sampai 10 (sangat baik), rata-rata nilai yang diberikan responden dari ketiga variable, yakni penguasaan masalah, program kerja, dan cara berkomunikasi, berada di angka 7,14. Tentu saja, penilaian ini menjadi satu faktor bagi responden untuk menentukan paslon mana yang akan dipilihnya pada Pilkada DKI yang tinggal menghitung hari ke depan ini.

Opini Sesat
Salah satu sesat pikir yang paling dominan dalam debat final Pilkada DKI ini adalah adanya upaya menggeneralisasi segala sesuatu. Seperti ditampakkan oleh Anies Baswedan misalnya, upaya generalisasi itu tampak ketika dirinya mengklaim bahwa mayoritas warga Jakarta membutuhkan pemimpin baru.

Jelas, argumentasi semacam ini adalah juga penyesatan publik. Bagaimana bisa kita percaya terhadap klaim yang demikian jika yang mengklaim saja tidak melibatkan data sebagai pembuktian? Bisa jadi memang mayoritas. Tapi adakah bukti konkritnya bahwa sebagian besar warga DKI benar-benar membutuhkan pemimpin baru?

Jika kita membandingkannya dengan hasil temuan dari beberapa lembaga survei, sangat jelas bisa kita temui bahwa Ahok-Djarot acapkali unggul secara elektabilitas. Lihat saja hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), misalnya, atau Populi Center atau Charta Politika. Semua menampakkan hal yang sama.

Itu artinya, ucapan Anies yang mengklaim bahwa mayoritas warga menginginkan pemimpin baru bisa dikatakan bohong belaka. Padahal, yang menginginkan itu hanyalah pendukungnya saja atau yang anti-petahana. Itu pun jumlahnya lebih sedikit jika dibanding pendukung petahana secara hitung-hitungan survei.

Selain Anies, calon wakil gubernur paslon nomor satu (Sylviana Murni) juga kedapatan membangun opini sesat. Ketika diberi kesempatan untuk bertanya ke paslon nomor dua Ahok-Djarot, Sylvi melontarkan kata tanya soal penyandang disabilitas yang seolah-olah tak ada yang bekerja di Balai Kota di masa kepemimpinan Ahok. “Ada gak sih di Balai Kota yang namanya (penyandang) disablitas bekerja?”

Aduh, mpok Sylvi ini ke mana aja ya? Katanya sudah mengabdi puluhan tahun untuk warga DKI Jakarta? Tapi, kok, realitas di Balai Kota saja tidak tahu? Untung Ahok punya data lengkap. Opini yang dibangun mpok Sylvi pun terbantahkan, yang justru membuktikan bahwa dirinya telah membangun opini sesat dalam debat yang semestinya adu data/fakta itu.

Parahnya lagi, sang calon gubernur Agus Yudhoyono juga tampak menambah kesesatan berpikir di tubuh pasangannya. Darinya saya berpikir, sepertinya si Agus ini bukan manusia, melainkan lebih tepat saya sebut sebagai “superman” alias siluman yang bisa melakukan hal-hal mustahil dalam sekejap.

Bayangkan coba, di DKI Jakarta, untuk mengunjungi seribu RT (rukun tetangga) saja, minimal seorang manusia butuh waktu setahun untuk bisa melakukan dan merampungkannya. Itu pun sudah sangat sulit. Tapi ini, pada Agus, dalam rentang waktu beberapa bulan setelah dirinya terpilih sebagai kandidat, dia mengklaim sudah mengunjungi puluhan ribu RT di Ibu Kota Indonesia ini. Luar biasa, bukan? Tidak normal.

Adapun sesat pikir yang terakhir, datang dari calon petahana sendiri, Ahok. Dia bilang kalau pemimpin itu ibarat orang tua yang harus mengatur kehidupan apa yang baik bagi anak-anaknya. Orang tua (gubernur), pikirnya, menjadi pihak yang paling tahu dan karena itu menjadi pengatur. Dan meski opini yang dibangunnya ini terkesan keliru secara relatif, bagi saya, ini konsep keluarga (pemerintahan) yang juga sangat menyesatkan.

Ingat, orang tua bukan dewa, dan anak bukan sapi perahan.

Tapi untung saja ada Djarot. Calon wakil gubernur ini kembali berhasil menjadi pelengkap Ahok dengan kata-katanya yang sungguh brilian: karena hidup itu belajar. Darinya, paslon ini pun benar-benar menjelma sebagai paslon yang ideal. Mereka mampu saling melengkapi, mampu mengisi kekurangan satu sama lainnya.

Avatar
Maman Suratman
Mahasiswa Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.