in

Saya Percaya Amien Rais, tapi…


Politisi Senior PAN Amien Rais (tengah) memberikan keterangan pers tentang aliran dana kasus korupsi pengadaan alat kesehatan, di Jakarta, Jumat (2/6). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Saya percaya bahwa pembelaan dan penjelasan Amien Rais (AR) tentang dana yang masuk ke rekening beliau dari yang diduga hasil korupsi alat kesehatan (alkes) adalah keterangan yang jujur dan benar. Bahwa AR tidak tahu asalnya dana itu dari mana, sangat masuk di akal. Kenapa? Karena saya tahu bahwa AR sudah sejak lama banyak menerima bantuan dana dari Sutrisno Bachir (SB). Bahkan kala AR mencalonkan diri sebagai calon presiden tahun 2004, konon, bantuan itu jauh lebih besar. Dan AR tidak perlu menanyakan dari mana asal usul uang itu karena SB dikenal sebagai pengusaha yang sukses dengan kekayaan melimpah.

 

Harus saya akui tulisan saya berikut ini subyektif, namun saya punya keyakinan AR yang taat beragama itu mustahil mau menerima dana bantuan bila dia tahu itu berasal dari sumber yang tidak halal.

Andai beliau berhenti sampai pada penjelasan yang sudah jelas itu, dampaknya akan sangat baik. Bila perlu membiarkan proses hukum Alkes berjalan dan bersedia menjelaskan bila diminta membuktikannya di pengadilan nanti. Yang jadi masalah justru reaksi AR yang agak berlebih sampai kepada tuduhan ada unsur busuk di dalam tubuh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang bermaksud menyudutkannya.

Padahal KPK tidak menyebarkan berita itu dan itu beredar di media atas dasar keterangan jaksa penuntut di pengadilan yang belum tentu disetujui oleh majelis hakim. Kemudian AR juga mengatakan punya bukti tentang dua tokoh besar yang terlibat korupsi di negeri ini. Dan seterusnya. Sayang sekali.

AR adalah doktor ilmu politik lulusan Amerika dan seorang alim dalam agama yang sempat menjadi idola banyak orang di negeri ini. Karier politiknya gemilang sampai ketika beliau mencapai kedudukan tinggi sebagai ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pertama pasca reformasi. AR-lah yang memimpin MPR sehingga berhasil menciptakan berbagai amandemen UUD 1945 dengan gemilang yang menjadi dasar kembalinya kehidupan demokrasi yang sehat di negeri ini.

Baca Juga :   Survei CSIS, Kalkulator SBY, dan Politik Islamis

Saya dan kita semua pasti ingat betul 20 tahun yang lalu ketika AR di puncak popularitasnya. Nyaris tidak ada seorang pun yang berani melawan kekuasaan otoriter Suharto diluar beliau. Setelah Suharto jatuh, yang tidak lepas dari perjuangan beliau, AR tidak ingin memanfaatkan peluang berebut mengisi kekosongan kepemimpinan politik saat itu. AR ingin kembali tetap sebagai ketua Muhammadiyah dan tidak menunjukkan keinginan berkuasa.

AR sering mengutarakan bahwa dirinya hanya ingin terlibat dalam “politik tinggi”, bukan politik praktis yang dianggapnya rendah. Saya ingat, saya sendiri bersama M Dawam Rahardjo dan almarhum Amien Aziz khusus berangkat ke rumah beliau di Solo untuk meyakinkannya agar tidak mundur dari keramaian dan melanjutkan perjuangannya dalam politik. Kami kuatir saat itu perjuangan mengembalikan demokrasi di negeri in akan gagal bila beliau tidak terus hadir.

Dengan didukung oleh bebagai tokoh seperti Goenawan Mohamad, Albert Hasibuan, Taufik Abdullah, Toeti Heraty, Zumrotin, AM Lutfi, AM Fatwa, Rizal Panggabean, Amien Rais, dan saya sendiri, kami kemudian menjadi pengagas dan formatur pertama Partai Amanat Nasional (PAN). Harus diakui bahwa PAN tidak akan berdiri tanpa kesediaan AR untuk ikut bersama.


Abdillah Toha dan Amien Rais saat aktif mempersiapkan pendirian Partai Amanat Nasional 20 tahun silam di kantor Abdillah Toha di Jakarta. [Dok. penulis]
Kemudian berbagai rangkaian peristiwa politik terjadi setelah BJ Habibie memutuskan mengakhiri jabatan presidennya setahun setelah reformasi. Ringkasnya, ada kesepahaman pembagian kekuasaan di antara pimpinan partai-partai poros tengah di mana Akbar Tanjung menjadi ketua DPR, Amien Rais ketua MPR, dan Gus Dur sebagai presiden RI. Dalam proses itu, AR sempat “didaulat” untuk menjadi presiden RI oleh Habibie dan sekelompok kekuatan politik, namun AR menolak karena antara lain beliau tidak ingin mencederai hubungan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama karena sebelumnya sudah ada kesepakatan lain.

Baca Juga :   Jokowi, Amien Rais, dan Tuduhan Komunis Itu

 

Dis-ilusi (kekecewaan) pertama bercampur keterkejutan AR dan kita semua saat itu timbul ketika PAN yang didirikan dan dipimpin oleh tokoh reformasi AR pada pemilu legislatif pertama pasca reformasi tahun 1999, hanya meraih tidak lebih dari 7.4 % kursi. PDIP merajai hasil pemilu dengan 33%, sedang partai Orde Baru Golkar, meski merosot dari 74% pada DPR Orde Baru, masih tetap populer dengan perolehan 22%. Pukulan kedua ketika pada Pemilu Presiden tahun 2004, AR dan pasangannya hanya menduduki posisi keempat dari lima calon presiden dan gugur pada putaran pertama.

Hilangnya jabatan ketua MPR dan kekalahan besar pada Pilpres 2004 merupakan pukulan telak pada AR pribadi dan PAN sehinga kami sempat ramai-ramai datang ke rumah beliau di Yogya untuk menghibur. Setelah itu AR melepaskan jabatan sebagai ketua umum PAN, namun kemudian masih aktif di belakang layar ikut menentukan siapa yang dianggap layak menggantikan kedudukannya sebagai pimpinan ekskutif PAN. Dua kali pemilihan ketua umum PAN sejak itu nyaris tidak terbuka dan dimenangkan oleh orang yang direstui AR.

Sejak itu, banyak dari kami penggagas pertama PAN berharap AR tidak lagi berpolitik praktis tapi menempatkan dirinya sebagai guru bangsa yang berada di atas semua golongan, layaknya negarawan mantan presiden atau mantan pejabat tinggi. Harapan ini tak terjadi dan AR yang sudah tak memiliki kekuasaan politik riel ternyata masih terus menerus melakukan manuver-manuver politik tingkat bawah yang sering membingungkan.

Terakhir AR bahkan ikut dan melibatkan diri dalam demo-demo yang tidak jelas arahnya. Tidak jarang beliau malah membuat pernyataan-pernyataan kontroversial seperti merendahkan wibawa presiden dan mengancam akan menjatuhkan Presiden Jokowi jika tak memenuhi tuntutannya, menuduh Ahok korupsi, dan sebagainya.

Baca Juga :   Mari Gus, Rebut Kembali!

Akibatnya, menurut pandangan subyektif saya, popularitas AR di kalangan publik makin lama makin merosot dan AR yang tadinya merupakan aset utama PAN telah menjadi liabilitas partai yang didirikannya.

Saya menulis ini karena saya, dan saya yakin banyak pendiri PAN lain, sayang kepada partai yang kami ikut dirikan. Sebuah partai yang ketika didirikan tidak punya beban masa lalu. Partai yang penuh idealisme dan berdiri di baris terdepan reformasi. Partai yang, menurut pandangan saya, sampai saat ini relatif masih terbersih dibanding partai-partai lain.

Saya menulis ini karena saya juga percaya kepada pribadi Amien Rais yang tegar, berani, cerdas, dan bersih dari keinginan memperkaya diri dari uang rakyat. Negeri ini akan beruntung bila pemimpin sekaliber AR dapat mendudukkan dirinya sebagai begawan yang bersedia menginspirasi bangsa ini demi kemajuan, kedamaian, dan kesejahteraan lahir dan batin warganya. Bukan bermanuver dengan langkah-langkah yang mencerminkan orang yang menderita sindrom kekuasaan.

Usia kita bertambah terus. Tidak ada yang tahu sampai kapan kita akan berada di planet bumi ini. Setiap dari kita pasti ingin meninggalkan legacy yang baik ketika saatnya tiba. Karenanya, doa yang didambakan terkabul oleh setiap Muslim adalah husnul khatimah yang secara harfiah berarti akhir yang baik. Bukan sekadar wafat dalam keadaan beriman seperti yang sering dipahami oleh awam, husnul khatimah juga berarti makin tambah usia makin baik kehidupan kita, bukan sebaliknya. Di ujung usia, kita berharap mengalami puncak kebahagiaan dan kedamaian ruhani dan memberi manfaat positif bagi banyak orang.

Semoga Allah memberi petunjuk dan hidayah kepada saya dan kita semua agar dengan rahmat-Nya kita dapat meraih husnul khatimah. Amiin.

Jakarta, 12 Juni 2017

Kolom super keren:

Pidato Penting Presiden Kita


Written by Abdillah Toha

Abdillah Toha

Pengusaha, mantan politisi, peminat pemerhati sosial politik ekonomi keagamaan. Pendiri, Komisaris Utama Grup Mizan.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR