Sabtu, Maret 6, 2021

Saya Islam, Saya Indonesia, Saya Pancasila!

Janji Saya: Jika Ahok Menang, Jika Anies Menang

Kalau saja Rabu hari ini suratan takdir menyatakan bahwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menang, maka dengan kemampuan yang saya miliki (baca: menulis) saya...

Korupsi Massal, Ekstraksi Politik, dan Sekolah Partai

Ibarat rumput di ladang, korupsi di negeri ini terus saja tumbuh subur meski telah berkali-kali dibabat. Korupsi seolah menemukan habitat persemaiannya di negara yang,...

Gubernur Anies dan Polemik Staf Khusus

Anggaran Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) DKI Jakarta direncanakan naik, dari Rp 2,3 miliar menjadi Rp 28,5 miliar di tahun depan. Alhasil, perhatian...

Ahok, Anies, dan Isu Pelayanan Air di Jakarta

Pelayanan air di Jakarta tergolong unik. Sejak tahun 1998, melalui campur tangan kroni mantan Presiden Soeharto, suplai air bersih di Jakarta diserahkan pengelolaannya dari...
Avatar
Tsamara Amanyhttp://perempuanpolitik.id/
Ketua Bidang Eksternal DPP PSI, Penulis buku "Curhat Perempuan: Tentang Jokowi, Ahok, dan Isu-isu Politik Kekinian".

Belakangan ini ada sebagian kelompok yang menawarkan dasar negara baru untuk Indonesia. Dasar negara yang katanya lebih religius. Namun religiusitas ini didasarkan pada agama tertentu, bukan untuk seluruh agama. Bagi mereka, Pancasila dianggap kurang religius.

Hal ini sungguh menarik. Padahal sebenarnya semua agama, apa pun itu, pasti mengajarkan nilai-nilai yang terkandung di setiap sila di Pancasila tersebut. Sila-sila yang terkandung dalam Pancasila merupakan nilai-nilai mulia. Dalam Islam sendiri, misalnya, Pancasila sebenarnya telah mengajarkan hablum minallah wa hablum minannas (hubungan kepada Allah SWT dan hubungan kepada manusia).

Sukarno sendiri sebagai penggali Pancasila sebenarnya adalah seorang nasionalis-religius. Sejak tahun 1930, atau lebih tepatnya sejak pengasingannya di Ende, Sukarno hobi menuliskan tentang pandangan keislamannya. Ia mengaku sebagai pengagum Nabi Muhammad SAW. Dirinya melihat Nabi Muhammad bukan sekadar orang besar saja, tapi juga bukan manusia biasa.

Bahkan sebelum pidato fenomenal tanggal 1 Juni 1945 itu, Sukarno berdoa kepada Allah SWT agar dapat menjawab pertanyaan dr Radjiman Widyoningrat dalam sidang BPUPKI tentang “Apa Dasar Negara Kita?”.

“Ya Allah, ya Rabbi! Berikanlah ilham kepadaku. Besok pagi aku harus berpidato mengusulkan dasar-dasar Indonesia merdeka. Pertama, benarkah keyakinanku, ya Tuhan, bahwa kemerdekaan itu harus didasarkan atas persatuan dan kesatuan bangsa?

Kedua, ya Allah, ya Rabbi, berikanlah petunjuk kepadaku, berikanlah ilham kepadaku, kalau ada dasar-dasar lain yang harus kukemukakan, apakah dasar-dasar itu?”

Ini membuktikan bahwa Pancasila adalah produk hasil munajat seorang Bapak Bangsa kepada Tuhannya. Sebagai penggali Pancasila yang melihat bahwa Pancasila sebenarnya sudah ada dalam keseharian masyarakat Indonesia, Sukarno sadar bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius.

Itulah mengapa sila Ketuhanan Yang Maha Esa ia sebut sebagai salah satu sila yang ada dalam Pancasila. Meski ketika itu sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi sila terakhir, ini bukan karena Sukarno meremehkan peran Tuhan atau peran agama, tapi ia hendak mengedepankan hablum minannas (hubungan antar-manusia) dalam konteks berbangsa dan bernegara.

Namun, ketika hasil kesepakatan meminta sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi sila pertama, Sukarno akhirnya menerima dan menghormati kesepakatan bersama itu.
Dengan adanya sila Ketuhanan Yang Maha Esa, apalagi posisinya ada pada sila pertama, sebenarnya tak bisa dipungkiri bahwa Pancasila adalah ideologi yang religius. Ini pun diakui oleh Hatta.

Dalam buku Bung Karno “Menerjemahkan” Al-Quran karya Mochamad Nur Arifin, Bung Hatta menegaskan bahwa ikrar Ketuhanan yang ditempatkan di Sila Pertama Pancasila merupakan jaminan fondasi moral yang kuat bagi Indonesia. Dalam buku ini pula dijelaskan bahwa selain Hatta, Roeslan Abdoelgani juga menyatakan dalam sidang Dewan Konstituanye bahwa Sila Ketuhanan Yang Maha Esa adalah akar tunggangnya Pancasila. Bahwa sila ini adalah tonggak pengukuh pohon kebangsaan.

Tapi untuk siapa religiusitas Pancasila ini? Sejak awal, hal ini sudah ditegaskan oleh Sukarno ketika ia pertama kali mengemukakan Pancasila sebagai ideologi yang cocok sebagai dasar negara Indonesia.

“Saudara-saudara, saya bertanya: apakah kita hendak mendirikan Indonesia merdeka untuk sesuatu orang, untuk sesuatu golongan? Sudah tentu tidak!” begitulah kata Sukarno. Baginya, Indonesia berdiri atas dasar semua untuk semua. Bukan untuk satu orang atau satu golongan saja.

Dan itulah yang tercermin dalam setiap sila yang ada di Pancasila. Religusitas Pancasila sebagai dasar negara Republik ini tidak hanya untuk satu golongan, namun semua golongan. Pancasila memberikan rasa adil bagi setiap pemeluk agama di negeri ini. Mereka yang menganggap bahwa Pancasila kurang religius atau kurang adil adalah mereka yang hendak mengubah Indonesia yang berdiri atas dasar semua untuk semua menjadi Indonesia yang eksklusif untuk golongan mereka saja.

Sebagai seorang Muslim, saya kagum Pancasila bisa menjadi ideologi yang religius namun tetap terbuka bagi semuanya. Sebagaimana setiap penganut agama lainnya bisa mengatakan hal yang sama, saya ingin katakan dengan bangga: “Saya Islam, Saya Indonesia, Saya Pancasila!”

Baca juga:

Pancasila, Kawah Candradimuka, dan Anti Absolutisme

Benarkah Habib Rizieq Menista Pancasila?

Avatar
Tsamara Amanyhttp://perempuanpolitik.id/
Ketua Bidang Eksternal DPP PSI, Penulis buku "Curhat Perempuan: Tentang Jokowi, Ahok, dan Isu-isu Politik Kekinian".
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.