Rabu, Desember 2, 2020

Santri, Nasionalisme, dan Jihad Zaman Now

Kaleidoskop 2017: Dari Pasar Tanah Abang hingga Grand Bazaar

Tepat sebulan lalu Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menyatakan keinginannya untuk menata Pasar Tanah Abang seperti Grand Bazaar yang ada di Istanbul. Seperti...

Menyelamatkan Demokrasi dari Demoralisasi

Banyaknya aktor politik yang diduga, didakwa, bahkan dipenjara karena tindakan korupsi membuat wajah politik dan demokrasi kita semakin buruk. Ada proses demoralisasi dalam demokrasi....

Isu 1965: Antara NU dan Muhammadiyah

  September baru separuh, namun isu tentang 1965 dan tragedi-tragedi berdarah di sekitarnya, telah beredar kencang. Yang terbaru, insiden di LBH Jakarta, menarik untuk ditelisik...

Gubernur Anies Memang Beda

Beda gubernur adalah ujian yang sama bagi masyarakat Jakarta. Itu adalah citra yang muncul usai pelantikan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sebagai Gubernur dan...
Ribut Lupiyanto
Deputi Direktur C-PubliCA (Center for Public Capacity Acceleration); Penggemar Sepakbola

Sejumlah anggota Banser dan santri mengikuti Napak Tilas sambut Hari Santri Nasional di Kudus, Jawa Tengah (20/10). Napak Tilas dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional itu diikuti 2.500 Santri dan Barisan Serba Guna untuk mengenang perjuangan pahlawan, santri, dan ulama dalam merebut dan mempertahankan kedaulatan NKRI. ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho

“..Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itoe djadi fardloe kifayah (jang tjoekoep kalaoe dikerdjakan sebagian sadja…).”
(Hadlaratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari, 1945)

Petikan di atas merupakan penggalan isi Resolusi Jihad NU yang dibacakan Hadlaratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama kala itu, 22 Oktober 1945. Resolusi Jihad NU menjadi pijakan perjuangan hingga mencapai puncaknya pada peristiwa 10 November di Surabaya yang juga diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Atas dasar inilah setiap 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional. Hari Santri Nasional  ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Penetapan tersebut memberi pengakuan bahwa ulama dan santri pondok pesantren memiliki peran besar dalam perjuangan merebut kemerdekaan Republik Indonesia dan mempertahankan NKRI serta mengisi kemerdekaan.

Peringatan Hari Santri penting direfleksikan dan menjadi momentum guna memupuk rasa nasionalisme dan menggelorakannya dalam aktualisasi kebangsaan. Salah satu aktualisasi yang dibutuhkan bangsa di era sekarang atau zaman now adalah jihad membangun bangsa.

Teologi Nasionalisme

Teologi Islam memang bersifat universal dan berskala global. Namun pengakuan terhadap identitas kebangsaaan masuk dalam cakupan ajaran. Itulah bukti ajaran Islam adalah utuh dan menyeluruh (syammil wa mutakammil). Tidak ada aspek kehidupan yang luput dari teropongnya.

Diskursus Islam dan nasionalisme selalu hangat menjadi polemik. Sebagian menganggap nasionalisme merupakan produk Barat dan termasuk toghut, artinya tidak sesuai Islam. Sebagian besar sebaliknya, menganggap nasionalisme merupakan bagian ajaran Islam.

Relasi Islam dan nasionalisme tidak selalu bersifat tadhadhud atau kontradiktif. Demikian ungkap ulama moderat Mesir, Al-Banna. Muslim yang baik semestinya tidaklah antinasionalisme. Pandangan jernih semacam ini mesti diresapi kaum muslimin Indonesia guna menanamkan nasionalisme dan kecintaan terhadap NKRI. Lebih jauh lagi, nasionalisme yang tergerak atas landasan fundamental teologis semacam ini menjadi energi besar untuk dilanjutkan dalam aktualisasi kebangsaan.

Secara umum nasionalisme memuat beberapa prinsip. Antara lain prinsip kesatuan, kebebasan, kesamaan, kepribadian, dan prestasi. Smith (2003) mendefinisikan nasionalisme sebagai perpaduan dari rasa kebangsaan dan paham kebangsaan. Semangat kebangsaan yang tinggi dapat meminimalisasi kekhawatiran akan terjadinya ancaman disintegrasi bangsa.

Gelora jihad yang berangkat dari pemaknaan teologis yang utuh terbukti telah menjadi senjata ampuh mengusir penjajah dalam upaya mencapai dan mempertahankan kemerdekaan. Banyak pejuang dan pahlawan kemerdekaan merupakan ulama atau berasal dari kalangan pesantren.
Pekik takbir mendominasi peperangan kala itu. Bung Tomo salah satunya. Perang Surabaya bahkan dikobarkan dengan dukungan ulama melalui deklarasi “Resolusi Jihad” yang direstui KH Hasyim Asy’ari dan kalangan ulama di Jawa Timur.

Selain takbir juga dikobarkan oleh semboyan “Isy Kariiman Aumut Syahidan” atau “Hidup mulia atau mati syahid.” Beberapa ayat Al-Qur’an yang memuat kata “Jihad”, seperti surat Ash-Shaff ayat 10 dan 11 serta Al-Baqarah ayat 154.

Aktualisasi Jihad

Diksi pembangunan telah menyebabkan trauma bagi bangsa ini. Pembangunan yang diwujudkan sebagai produk developmentalisme selama 32 tahun selama Orde Baru meninggalkan luka bagi bangsa. Beragam penyakit kronis muncul karenanya, seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Pembangunan mesti didudukkan pada tempatnya sebagai upaya yang mengarah pada perbaikan. Tantangan ke depan semakin kompleks baik secara internal dan eksternal. Penyakit warisan berupa korupsi masih mewabah dan belum ada tanda-tanda mengalami kesembuhan signifikan. Masalah kemiskinan, kriminalitas, penegakan hukum dan lainnya juga masih hadir.

Sedangkan tantangan global menuntut daya saing tinggi dan kecepatan dalam berdinamika. Beragam isu global masuk bertubi-tubi dan bersamaan, seperti terorisme, perubahan iklim, bonus demografi, resesi ekonomi, dan lainnya.

Kesungguhan dalam membangun bangsa mesti ditunjukkan dan dibuktikan oleh semua komponen bangsa. Di sinilah urgensi ruh jihad mesti hadir di semua sendi kehidupan bernegara dan di setiap diri anak bangsa.

Pemerintah penting menggunakan pengobaran jihad sebagai salah satu strategi dalam mengakselerasi pembangunan bangsa. Ulama, kalangan pesantren, lembaga pendidikan Islam, dan institusi ke-Islaman lainnya mesti digandeng dalam upaya ini. Doktrin jihad pembangunan penting ditanamkan kepada umat Islam sejak dini. Baik melalui pengajian di masjid, forum keagamaan, pendidikan di sekolah dan pesantren dan media lainnya.

Kalangan Islam, baik dari pesantren, ustadz, pendidikan Islam dan lainnya juga penting pro aktif mengajarkan dan menggerakkan ruh jihad pembangunan. Konteks jihad membangun di masa kini adalah bagaimana peran umat dan konsep Islam dalam pengentasan kemiskinan, pemberantasan korupsi, penanggulangan terorisme dan radikalisme, keadilan ekonomi, peningkatan iklim kompetisi global dan lainnya.

Potensi demografis sebagai negara berpenduduk Islam terbesar sedunia harus dioptimalkan. Peta jalan dan keteladanan dalam aktualisasi jihad pembangunan dapat menjadi role model bagi negara-negara lain.

Polemik antara ajaran Islam, jihad, dan nasionalisme mesti segera diakhiri dan menatap ke depan. Diskusi yang produktif justru yang harus dikembangkan. Sesekali debat memang diperlukan dalam kerangka ilmiah dan toleransi. Jika akhirnya tetap dalam posisi berbeda pendapat, maka iklim penghargaan atas perdebaan mesti dikedepankan. Kompetitor bangsa ini semakin maju ke depan dan membutuhkan akselerasi bangsa ini.

Umat Islam di Indonesia memiliki potensi kualitas guna mengimbanginya. Energi polemik tidak akan ada hasilnya jika terus dibudidayakan sekadar di mimbar perdebatan. Semangat memberikan peran bagi pembangunan mesti diprioritaskan.

Kolom terkait:

Syekh Hasyim Asy’ari dan Spirit Hari Santri

Merayakan Hari Santri dengan Puisi

Jihad Kebangsaan Kaum Santri

Mau Apa Santri di Zaman Now?

Hari Santri: Pelecehan Seksual dan Wajah Layu Santri

Ribut Lupiyanto
Deputi Direktur C-PubliCA (Center for Public Capacity Acceleration); Penggemar Sepakbola
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

Gejala ‌Depresi‌ ‌Selama‌ ‌Pandemi‌ ‌Hingga‌ ‌Risiko‌ Bunuh Diri

Kesehatan mental seringkali diabaikan dan tidak menjadi prioritas utama seseorang dalam memperhatikan hal yang di rasakannya. sementara, pada kenyataannya kesehatan mental sangat mempengaruhi banyak...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.