OUR NETWORK

Sang Fenomenal Salah, Politik, dan Mantan Terindah

Jika dalam dunia bola, pertemuan yang indah dengan mantan bisa terjadi, mengapa tidak di dalam dunia politik? Gara-gara Dilan-kah?

Mohamed Salah, pemain internasional Mesir yang kini membela salah satu elite klub Inggris, Liverpool, tengah menjadi buah bibir. Prestasinya yang gemilang bersama tim berjuluk the Reds itu agaknya menjadi rujukan. Gol demi gol telah lahir dari kakinya, sehingga kini ia memuncaki klasemen sementara pencetak gol terbanyak di English Premier League (IPL) mengalahkan penyerang Tottenham Hotspur, Harry Kane.

Satu hal lagi yang membuat nama Salah kian berkibar adalah keberhasilannya membawa Liverpool ke babak semi final Liga Champions musim 2017/2018. Peran Salah sangat besar, khususnya di leg kedua babak perempat final ketika Liverpool mengandaskan tuan rumah Manchester City 2-1. Sempat tertinggal oleh gol cepat City melalui Gabriel Jesus, Salah berhasil menyamakan kedudukan melalui gol cantiknya. Gol penyama kedudukan dari Salah itulah yang langsung merontokkan semangat the Citizens.

Kini Salah bersama Liverpool telah berada di babak semifinal bersama Real Madrid, Bayern Munich, dan AS Roma. Harapannya tentu saja bisa terus melaju ke partai puncak dan dipungkasi dengan meraih jawara kompetisi yang paling bergengsi antar Benua Biru.

Jika itu terjadi, kemeriahan para fans Liverpool menyambut kemenangan tersebut pastilah gegap gempita. Liverpool sendiri terakhir kali merasakan manisnya juara Liga Champions pada musim 2004/2005 atau 13 tahun yang lalu.

Sang Fenomenal

Meski Liverpool lebih menekankan kerjasama tim atau tidak terlalu menonjolkan kemampuan individu seperti Madrid dengan Cristiano Ronaldonya atau Barcelona dengan Lionel Messinya, namun tidak dapat dimungkiri keberadaan Salah sangat penting bagi tim. Kehadirannya di lapangan sepertinya bisa mengangkat moral dari teman-teman satu timnya.

Memang di barisan penyerang Liverpool, selain Muhamed Salah ada juga Roberto Firmino dan Sadio Mane. Ketiganya—sebut saja Trio SFM—saling membantu dan melayani satu sama lain. Dalam urusan mencetak gol, misalnya, mereka pun saling berbagi. Salah dan Firmino sampai saat ini sama-sama telah mencetak 8 gol di Liga Champions, kemudian diikuti oleh Mane.

Namun demikian, Salah memiliki keistimewaan. Ia bukan saja dicintai oleh rekan-rekan di timnya, melainkan juga oleh para suporter fanatik Liverpool. Bahkan tampaknya Salah berhasil melebur sekat-sekat ideologi atau agama dalam konteks ini. Kenyataan bahwa Salah seorang Muslim yang berasal dari kawasan Timur Tengah—biasanya diidentikkan dengan teroris, apalagi ia membiarkan janggut dan cambangnya tumbuh lebat—tidak mempengaruhi kecintaan fans terhadap dirinya.

Bahkan ada hal yang luar biasa dari apresiasi fans-fans Liverpool terhadap Salah. Misalnya, saat Salah cedera pada pertandingan leg pertama babak perempat final Liga Champions saat ia menjadi pahlawan kemenangan atas Manchester City 3-0 dengan 1 gol dan 1 assist-nya, para fans fanatik the Reds menunjukkan simpati yang mendalam. Ada yang mengatakan bahwa mereka akan pergi ke semua masjid untuk mendoakan kesembuhan Salah.

Di waktu-waktu sebelumnya ada sejumlah pendukung Liverpool yang mengucapkan—meski mungkin dalam nada seloroh—bahwa mereka akan masuk Islam jika Salah terus mencetak gol untuk Liverpool. Kenyataan ini menunjukkan betapa cintanya para pendukung Liverpool terhadap Salah tanpa melihat pada asal-usulnya. Dengan demikian, Salah seolah-olah telah menjadi antitesis atas politik identitas yang kadang menjadi kerikil demokrasi di sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Mantan Terindah

Ada hal menarik lain dari partai semifinal Liga Champions yang mempertemukan Liverpool dengan AS Roma terkait dengan Mohamed Salah itu sendiri. Seperti diketahui bahwa sebelum dibeli Liverpool, Salah pernah merumput selama dua musim di klub yang berjuluk I Giallorossi (Si Kuning Merah) itu. Pada mulanya status Salah dipinjamkan Chelsea ke AS Roma, tetapi kemudian dikontrak secara permanen oleh klub tersebut.

Selama berseragam AS Roma, penampilan Salah sangat impresif. Ia berhasil mencatatka 34 gol dan 24 assist dari 84 pertandingan (bola.liputan6.com 22/02/18). Tidak heran kalau para pemain AS Roma dan para pendukungnya begitu mencintai Salah. Kenyataan ini pulalah yang kemudian membuat Liverpool terpincut untuk menggunakan jasa Salah.

Maka, ketika Liverpool kemudian bertemu dengan AS Roma di semifinal Liga Champions, Salah merasa seperti kembali ke “kampung halaman” di mana ia memiliki berbagai kenangan indah di dalamnya. Menariknya, para pemain dan supporter AS Roma siap menyambut Salah dengan penuh sukacita, terlepas dari apa pun status Salah. Bagi mereka, Salah adalah “mantan terindah” yang tak akan terlupakan.

Bahkan Presiden AS Roma sendiri, James Pallota, berujar, “Ini luar biasa. Akan menyenangkan bisa bertemu dengan Salah lagi.” Pallota mengucapkan kalimat tersebut dengan wajah sumringah sehabis undian semifinal yang mempertemuankan Liverpool dengan AS Roma (topskor.id 14/04/18).

Jika dalam dunia bola, hal-hal semacam ini—pertemuan yang indah dengan mantan—bisa terjadi, mengapa tidak di dalam dunia politik? Politik yang melanggengkan kepentingan justru sangat memungkinkan untuk terjadinya pertemuan kembali atau reuni antara para politisi yang sempat terpisah karena perbedaan pilihan atau haluan politik. Masalnya, di dalam politik, kita jarang mendengar istilah “mantan terindah”.

Ironisnya, yang ada adalah perseteruan atau hubungan panas setelah para politisi itu terpisah atau berbeda pilihan sekoci politiknya. Egoisme politik kadang membuat mereka menyimpan harga diri setinggi-tingginya di hadapan rivalnya itu. Itulah kenapa, misalnya, kita sangat sulit melihat keakraban (kembali) antara Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono, meski keduanya pernah berada di perahu yang sama.

Dengan demikian, apa yang diperlihatkan Salah dengan mantan rekan-rekan dan suporternya di AS Roma perlu dijadikan contoh. Hubungan personal semestinya tetap dijaga baik-baik, meski rivalitas di antara mereka mungkin sangat sengit karena berada di klub yang berbeda. Rivalitas yang dibungkus dengan pertemanan inilah yang agaknya penting diejawantahkan di dalam kehidupan politik Indonesia dewasa ini.

Baca Juga:

Raja Juli Antoni, Partai Oposisi, dan Hoaks

Politik Berpijak Akal Sehat

Tahun Sepakbola, Tahun Politik yang Menggembirakan

Di Sepakbola, Maaf Hanyalah Kata Belaka

Iding Rosyidin
Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penggila sepakbola.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…