Jumat, Januari 22, 2021

Sang Fenomenal Salah, Politik, dan Mantan Terindah

Rusaknya Payung Umat

Hari-hari belakangan ini gejala keretakan umat di negeri Indonesia tercinta ini kian mengkhawatirkan. Saling hina dan caci maki antar mereka seolah telah menjadi menu...

Mengurai Logika Kebijakan Gubernur Anies

Jalannya pemerintahan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah melewati 100 hari. Artinya, pemerintah pasti telah menemukan langgam birokrasi dan politik kebijakannya. Namun, beberapa kebijakan...

Mencegah Internasionalisasi Kasus Ahok

Keputusan Presiden Joko Widodo membatalkan kunjungannya ke Australia, Sabtu pekan lalu, bisa dipandang sebagai upaya mencegah internasionalisasi kasus Ahok. Sudah bisa dipastikan kedatangan Presiden...

Spirit Bagindo Azis Chan dan Sebuah Kota yang Merdeka

Membangun kota adalah soal memerdekakan manusia. Jika masih ada yang tertindas, berarti pembangunan kota tidak berjalan dengan semestinya.   Alasan tersebut sudah cukup membuat seorang wali...
Avatar
Iding Rosyidin
Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penggila sepakbola.

Mohamed Salah, pemain internasional Mesir yang kini membela salah satu elite klub Inggris, Liverpool, tengah menjadi buah bibir. Prestasinya yang gemilang bersama tim berjuluk the Reds itu agaknya menjadi rujukan. Gol demi gol telah lahir dari kakinya, sehingga kini ia memuncaki klasemen sementara pencetak gol terbanyak di English Premier League (IPL) mengalahkan penyerang Tottenham Hotspur, Harry Kane.

Satu hal lagi yang membuat nama Salah kian berkibar adalah keberhasilannya membawa Liverpool ke babak semi final Liga Champions musim 2017/2018. Peran Salah sangat besar, khususnya di leg kedua babak perempat final ketika Liverpool mengandaskan tuan rumah Manchester City 2-1. Sempat tertinggal oleh gol cepat City melalui Gabriel Jesus, Salah berhasil menyamakan kedudukan melalui gol cantiknya. Gol penyama kedudukan dari Salah itulah yang langsung merontokkan semangat the Citizens.

Kini Salah bersama Liverpool telah berada di babak semifinal bersama Real Madrid, Bayern Munich, dan AS Roma. Harapannya tentu saja bisa terus melaju ke partai puncak dan dipungkasi dengan meraih jawara kompetisi yang paling bergengsi antar Benua Biru.

Jika itu terjadi, kemeriahan para fans Liverpool menyambut kemenangan tersebut pastilah gegap gempita. Liverpool sendiri terakhir kali merasakan manisnya juara Liga Champions pada musim 2004/2005 atau 13 tahun yang lalu.

Sang Fenomenal

Meski Liverpool lebih menekankan kerjasama tim atau tidak terlalu menonjolkan kemampuan individu seperti Madrid dengan Cristiano Ronaldonya atau Barcelona dengan Lionel Messinya, namun tidak dapat dimungkiri keberadaan Salah sangat penting bagi tim. Kehadirannya di lapangan sepertinya bisa mengangkat moral dari teman-teman satu timnya.

Memang di barisan penyerang Liverpool, selain Muhamed Salah ada juga Roberto Firmino dan Sadio Mane. Ketiganya—sebut saja Trio SFM—saling membantu dan melayani satu sama lain. Dalam urusan mencetak gol, misalnya, mereka pun saling berbagi. Salah dan Firmino sampai saat ini sama-sama telah mencetak 8 gol di Liga Champions, kemudian diikuti oleh Mane.

Namun demikian, Salah memiliki keistimewaan. Ia bukan saja dicintai oleh rekan-rekan di timnya, melainkan juga oleh para suporter fanatik Liverpool. Bahkan tampaknya Salah berhasil melebur sekat-sekat ideologi atau agama dalam konteks ini. Kenyataan bahwa Salah seorang Muslim yang berasal dari kawasan Timur Tengah—biasanya diidentikkan dengan teroris, apalagi ia membiarkan janggut dan cambangnya tumbuh lebat—tidak mempengaruhi kecintaan fans terhadap dirinya.

Bahkan ada hal yang luar biasa dari apresiasi fans-fans Liverpool terhadap Salah. Misalnya, saat Salah cedera pada pertandingan leg pertama babak perempat final Liga Champions saat ia menjadi pahlawan kemenangan atas Manchester City 3-0 dengan 1 gol dan 1 assist-nya, para fans fanatik the Reds menunjukkan simpati yang mendalam. Ada yang mengatakan bahwa mereka akan pergi ke semua masjid untuk mendoakan kesembuhan Salah.

Di waktu-waktu sebelumnya ada sejumlah pendukung Liverpool yang mengucapkan—meski mungkin dalam nada seloroh—bahwa mereka akan masuk Islam jika Salah terus mencetak gol untuk Liverpool. Kenyataan ini menunjukkan betapa cintanya para pendukung Liverpool terhadap Salah tanpa melihat pada asal-usulnya. Dengan demikian, Salah seolah-olah telah menjadi antitesis atas politik identitas yang kadang menjadi kerikil demokrasi di sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Mantan Terindah

Ada hal menarik lain dari partai semifinal Liga Champions yang mempertemukan Liverpool dengan AS Roma terkait dengan Mohamed Salah itu sendiri. Seperti diketahui bahwa sebelum dibeli Liverpool, Salah pernah merumput selama dua musim di klub yang berjuluk I Giallorossi (Si Kuning Merah) itu. Pada mulanya status Salah dipinjamkan Chelsea ke AS Roma, tetapi kemudian dikontrak secara permanen oleh klub tersebut.

Selama berseragam AS Roma, penampilan Salah sangat impresif. Ia berhasil mencatatka 34 gol dan 24 assist dari 84 pertandingan (bola.liputan6.com 22/02/18). Tidak heran kalau para pemain AS Roma dan para pendukungnya begitu mencintai Salah. Kenyataan ini pulalah yang kemudian membuat Liverpool terpincut untuk menggunakan jasa Salah.

Maka, ketika Liverpool kemudian bertemu dengan AS Roma di semifinal Liga Champions, Salah merasa seperti kembali ke “kampung halaman” di mana ia memiliki berbagai kenangan indah di dalamnya. Menariknya, para pemain dan supporter AS Roma siap menyambut Salah dengan penuh sukacita, terlepas dari apa pun status Salah. Bagi mereka, Salah adalah “mantan terindah” yang tak akan terlupakan.

Bahkan Presiden AS Roma sendiri, James Pallota, berujar, “Ini luar biasa. Akan menyenangkan bisa bertemu dengan Salah lagi.” Pallota mengucapkan kalimat tersebut dengan wajah sumringah sehabis undian semifinal yang mempertemuankan Liverpool dengan AS Roma (topskor.id 14/04/18).

Jika dalam dunia bola, hal-hal semacam ini—pertemuan yang indah dengan mantan—bisa terjadi, mengapa tidak di dalam dunia politik? Politik yang melanggengkan kepentingan justru sangat memungkinkan untuk terjadinya pertemuan kembali atau reuni antara para politisi yang sempat terpisah karena perbedaan pilihan atau haluan politik. Masalnya, di dalam politik, kita jarang mendengar istilah “mantan terindah”.

Ironisnya, yang ada adalah perseteruan atau hubungan panas setelah para politisi itu terpisah atau berbeda pilihan sekoci politiknya. Egoisme politik kadang membuat mereka menyimpan harga diri setinggi-tingginya di hadapan rivalnya itu. Itulah kenapa, misalnya, kita sangat sulit melihat keakraban (kembali) antara Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono, meski keduanya pernah berada di perahu yang sama.

Dengan demikian, apa yang diperlihatkan Salah dengan mantan rekan-rekan dan suporternya di AS Roma perlu dijadikan contoh. Hubungan personal semestinya tetap dijaga baik-baik, meski rivalitas di antara mereka mungkin sangat sengit karena berada di klub yang berbeda. Rivalitas yang dibungkus dengan pertemanan inilah yang agaknya penting diejawantahkan di dalam kehidupan politik Indonesia dewasa ini.

Baca Juga:

Raja Juli Antoni, Partai Oposisi, dan Hoaks

Politik Berpijak Akal Sehat

Tahun Sepakbola, Tahun Politik yang Menggembirakan

Di Sepakbola, Maaf Hanyalah Kata Belaka

Avatar
Iding Rosyidin
Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penggila sepakbola.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.