Jumat, Maret 5, 2021

Rusaknya Payung Umat

Kemungkinan Indonesia Bernasib Seperti Suriah (Bag. 1)

Hari-hari ini, di era lubernya informasi dan meriahnya media sosial, kita dapat melihat semua orang bisa serta-merta berpendapat dan selanjutnya ramai-ramai menganalisis hal sumir...

Mitos Pemilih Rasional di Antara Ahokers, Agusers, dan Aniesers

Debat calon gubernur dan calon wakil gubernur DKI Jakarta yang disiarkan televisi dipastikan disaksikan banyak orang, termasuk dan terutama calon pemilih Jakarta. Sejauhmana dampak...

Ketika Yaman Kembali Bergejolak

Yaman, negara termiskin di Timur Tengah itu, kembali memanas. Koalisi yang dipimpin Arab Saudi meluncurkan serangan udara di ibu kota Sana’a yang mengakibatkan 100...

Bacot Ahok, Al-Maidah 51, dan Linguistik

Masyarakat Indonesia, baik Muslim maupun non-Muslim, heboh karena video berdurasi 31 detik yang diunggah ke Youtube pada 6 Oktober 2016 oleh seseorang bernama Buni...
Avatar
Iding Rosyidin
Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penggila sepakbola.

Hari-hari belakangan ini gejala keretakan umat di negeri Indonesia tercinta ini kian mengkhawatirkan. Saling hina dan caci maki antar mereka seolah telah menjadi menu sehari-hari. Orang-orang Indonesia yang dianggap oleh dunia sebagai yang paling ramah, dengan salah satu sifatnya yang murah senyum, kini justru telah menjelma menjadi penjual sumpah serapah. Sebuah ironi yang tiada terperi.

Yang lebih menyedihkan lagi, sasaran hinaan dan caci maki mereka tersebut seringkali tidak pandang bulu. Asal memiliki pendapat yang berbeda dengan mereka, langsung dihantam dengan serangan yang tampa ampun. Tidak peduli orang tersebut adalah seorang tokoh yang kiprah dan jasanya untuk negeri ini sangat besar. Dan yang paling menyakitkan, para penghina itu juga datang dari kalangan orang-orang yang ditokohkan di republik ini.

Dalam situasi seperti ini, jelas diperlukan orang-orang yang semestinya tampil sebagai penengah sekaligus perekat umat sehingga benih-benih keretakan itu tidak telanjur parah. Luka yang mulai meretas itu tidak keburu menganga. Mereka adalah ulama. Ulama yang sejati-jatinya ulama. Ulama, dalam sejarahnya, kerap menjadi suluh penerang umat. Di saat umat bertikai, mereka segera menjadi payung di mana seluruh umat bisa berteduh di bawahnya.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (dua kanan) dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo (tengah) serta para Kepala Staf TNI mengikuti Istigosah di Silang Monas, Jakarta, Jumat (18/11). Istigosah dan Doa bersama para prajurit TNI-POLRI, masyarakat dan juga anak yatim digelar untuk keselamatan dan persatuan bangsa terlebih menjelang Pilkada 2016. ANTARA FOTO/Angga Pratama/pd/16.
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (dua kanan) dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo (tengah) serta para Kepala Staf TNI mengikuti Istigosah di Silang Monas, Jakarta, Jumat (18/11). [ANTARA FOTO/ Angga Pratama]
Dengan demikian, keberadaan ulama menjadi sangat penting. Dalam perspektif komunikasi (politik), ulama dapat dikategorikan ke dalam apa yang disebut Dan Nimmo (1993) sebagai pemuka pendapat (opinion leader). Mereka memiliki peran yang sangat penting, terutama sebagai penyampai informasi kepada umat.

Dalam perspektif model two steps flow communication, ulama justru merupakan komunikator yang lebih didengarkan oleh khalayak (umat). Dalam hal ini, pesan-pesan pemerintah seringkali menjadi lebih efektif ketika disampaikan oleh ulama kepada umat.

Mungkinkah semua ulama mampu memainkan peran seperti itu? Dari sisi das sollen, semestinya ulama bisa melakukannya. Tetapi tentu saja dalam dunia nyata (das sein), kerapkali terjadi kesenjangan dengan dunia idealitas. Karenanya, tidak setiap ulama mampu, misalnya, memainkan peran penengah pertikaian umat. Bahkan, terkadang, sebagian ulama justru menjadi bagian dari pertikaian tersebut.

Keras Ada Waktunya
Mengapa ada sebagian ulama yang tidak mampu menjadi penengah umat, malah justru menunjukkan sikap keras dengan ikut larut dalam aksi pembelaan yang sangat memihak seperti dalam kasus Ahok?

Banyak yang berargumen bahwa umat Islam tidak boleh diam saja ketika agama Islam dan Kitab Suci al-Qur’an dihina. Bahkan lebih jauh dikatakan, orang-orang Islam yang diam saja ketika hal itu terjadi, keimanannya patut dipertanyakan. Mereka dianggap tidak punya “ruh jihad” untuk membela agama Allah.

Benarkah logika demikian? Ataukah ini mengandung sesat pikir (fallacy) atau semacam jumping conclusion?

Bersikap keras terhadap orang kafir—sebenarnya orang kafir tidak selalu harus non-Muslim— tidak dapat digeneralisasi sedemikian rupa. Tidak setiap waktu orang Islam boleh bersikap keras terhadap orang kafir. Itulah kenapa di dalam sejarah Islam awal ada istilah “kafir harbi” dan “kafir dzimmi”. Dengan demikian, ketika orang-orang kafir itu memusuhi Islam dan berusaha dengan segala cara untuk menghancurkannya, serta tidak dapat lagi diajak bicara, saat itulah sikap keras orang Islam dapat ditunjukkan.

Demikianlah sesungguhnya perilaku Nabi Muhammad yang kerap diperlihatkan pada masa perang. Nabi tidak pernah memulai perang terlebih dahulu. Perang Badr, Uhud, Khandak, dan lain-lain semuanya dimulai oleh kaum kafir. Bahkan ketika orang kafir akan memerangi, Nabi biasanya memilih menggunakan jalur diplomasi terlebih dahulu, misalnya dengan membuat perjanjian, seperti Perjanjian Hudaibiyah.

Kadang Nabi memilih untuk mengalah demi menghindari perang atau menemukan jalan damai. Barulah ketika sudah tidak ada jalan lain, dan kaum kafir keras kepala, Nabi mengambil jalan perang.

Nabi sendiri dikenal sebagai pribadi yang sangat mudah memaafkan bahkan terhadap orang yang telah jelas-jelas melakukan penistaan agama. Misalnya dalam kasus Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarah. Abi Sarah sebelumnya mendapatkan posisi yang terhormat. Ia adalah salah seorang penulis wahyu Nabi, tetapi kemudian ia mengubah wahyu tersebut, bahkan kemudian ia murtad atau keluar dari Islam.

Ada yang mengungkapkan Nabi mengeksekusi Abi Sarah pada saat Fathu Makkah, tetapi hal itu ternyata terbantahkan. Nadirsyah Hosen, dalam Fiqh Menjawab, menjelaskan bahwa Abi Sarah sebenarnya bertaubat dan kembali masuk Islam sebelum peristiwa Fathu Makkah, sehingga Nabi kemudian memaafkannya.

Penjelasan ini dapat ditemukan di kitab Tafsir al-Thabari. Dan dalam kitab Sunan Abi Dawud (hadits nomor: 2308, 3792, dan 3793) dan Sunan al-Nasa’i (hadits nomor 4001) disebutkan bahwa pemberian maaf itu diberikan atas permohonan Utsman bin Affan.

Dengan demikian, Nabi dapat memilah-milah kapan ia harus bersikap keras dan kapan ia bersikap lembut. Dua kasus di atas dapat menjelaskan argumentasi mengenai sikap Nabi tersebut.

Bandingkan dengan kasus penghujatan terhadap Ahok sekarang. Ekpresi kebencian kelompok-kelompok Islam tertentu terhadap Ahok sungguh luar biasa hebat, bahkan ada yang mengancam akan membunuhnya.

Padahal kasus dugaan penistaan agama yang dituduhkan kepada Ahok masih belum jelas. Sejumlah tokoh Islam sendiri, seperti Buya Syafii Maarif atau Mochtar Pabotingi, menegaskan Ahok tidak melakukan penistaan agama. Apalagi surah al-Ma’idah 51 yang dijadikan dasar penghujatan atas Ahok merupakan ayat yang multitafsir, terkait kata “auliya”, yang bisa diterjemahkan “pemimpin”, “teman setia”, atau “sekutu”.

Dari perspektif ini, sebenarnya sikap keras sekelompok Islam terhadap Ahok terlalu berlebihan. Tuduhan penistaan agama yang dialamatkan kepadanya belum jelas dan proses hukum sedang berlangsung, tetapi tokoh-tokoh kelompok Islam penentang Ahok sudah “menjatuhkan” vonis bersalah. Bandingkan dengan sikap Nabi, meski sudah jelas pun bersalah, masih tetap mendahulukan opsi memberi maaf.

Maka, kalau ada orang-orang atau bahkan tokoh-tokoh Islam yang mempertanyakan keimanan seseorang karena tidak ikut aksi bela Islam, jelas itu merupakan sesat pikir (fallacy) atau jumping conclusion. Mereka tidak dapat membedakan kapan waktunya bersikap keras dan kapan saatnya lembut.

Ironisnya, para penuduh Ahok tersebut bukan hanya kelompok masyarakat Islam biasa, tetapi juga mereka yang dikategorikan sebagai ulama. Ketika para ulama bersikap demikian, maka sulit untuk diharapkan bisa memainkan peran dan fungsinya sebagai pengayom dan perekat umat. Sebagai payung, jelas sudah ada robekan di sana-sini, sehingga payung itu tak lagi mampu menahan “tetesan-tetesan air hujan”.

Robeknya payung umat, kalau tidak segera diperbaiki, akan berbahaya bagi umat di republik ini.

Avatar
Iding Rosyidin
Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penggila sepakbola.
Berita sebelumnyaBara di Sukamulya
Berita berikutnyaBerhentilah Menyalahkan Yama!
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.