Selasa, Oktober 20, 2020

Risalah Politik untuk Kebajikan 

Makar dan Senyum Presiden

Apa yang kami takutkan dilakukan Prabowo, dan jadi alasan kami memilih Jokowi, ternyata dilakukan Presiden Joko Widodo saat ini. Pagi ini sedih membaca berita ada...

Ongkos-Ongkos “Aksi Bela Islam”

Ongkos finansial demonstrasi yang oleh penggeraknya disebut "Aksi Bela Islam" sama sekali tak kecil. Ongkos itu makin mahal selaras makin banyaknya peserta demo, seturut...

Memahami Hadits Khilafah dan Imam Mahdi dalam Perspektif Lintas Disiplin (I)

Belakangan ini para pendukung khilafah pusing. Argumentasi mereka berguguran satu demi satu. Dari soal ketidakbakuannya sistem khilâfah, lemahnya riwayat mengenai bendera yang mereka klaim sebagai...

Kita Masih Indonesia (Bagian 2)

Jokowi dan Sun Tzu: Win the War not the Battle Bagi Jokowi, "Sang Joki" adalah lawan tanding yang  cukup menggairahkan. Dan Jokowi sangat menikmati pertarungan...

Presiden Joko Widodo.

Saya pernah menjadi pengurus Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pimpinan Pusat Muhammadiyah, salah satu badan pembantu pimpinan yang secara khusus membidangi politik. Di lembaga inilah, kebijakan-kebijakan pemerintah, terutama yang menyangkut hajat hidup masyarakat, dikaji dan direspons secara kontruktif.

Muhammadiyah memang bukan partai politik. Meski demikian, bukan berarti organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan pada tahun 1912 silam ini abai dengan masalah-masalah politik. Dalam khitah yang menjadi pedoman warga Muhammadiyah dalam berpolitik dengan jelas disebutkan bahwa politik merupakan salah satu alat dakwah. Politik, bagi Muhammadiyah, dijadikan sebagai salah satu sarana untuk menebar kebajikan.

Oleh karena itu, saya ingin memperkenalkan suatu risalah politik yang ingin saya istilahkan dengan sebutan “politik untuk kebajikan”. Apa itu kebajikan? Kamus Besar Bahasa Indonesia memaknai “kebajikan” sebagai “sesuatu yang mendatangkan kebaikan”. Setiap orang bisa berbuat kebajikan bagi orang lain. Tapi, kalau kita menginginkan kebajikan dengan dampak positif yang lebih luas, yang dapat menjangkau semua lapisan masyarakat, maka jawabannya harus melalui sarana politik.

Sayangnya, politik untuk kebajikan ini semakin terpinggirkan dari panggung politik kita saat ini. Pada kehidupan sehari-hari, kita dipaksa menyaksikan tontonan politik yang destruktif. Hal ini terjadi karena panggung politik secara umum masih dikendalikan oleh elite politisi yang bernafsu untuk selalu berkuasa, dengan hasrat utama untuk menguasai “yang lain” dengan cara menipu. “Yang lain” itu dapat kita sebut dengan, misalnya, rakyat biasa; yang seringkali dipakai hanya sebagai objek memobilisasi suara.

Politisi hanya mau dekat dan mendekati rakyat manakala ada kepentingan dan hajatan politik. Mereka mendatangi rakyat dengan cara menebar pesona, janji-janji yang menggiurkan, dan uang. Dengan penuh kesadaran, uang disebar dengan harapan akan terlunasi manakala menjadi pejabat. Dan, setelah hajatan politik usai, rakyat dilupakan, dan jika perlu dicampakkan dari denyut nadi kehidupan politik yang dijalankannya.

Sesaat setelah menjabat, elite politisi yang hobi menebar uang ini biasanya lebih disibukkan untuk kembali menghimpun modal politik yang hilang. Dan partai tak lebih sekadar mesin politik manakala ada hajatan politik. Di luar itu, partai menjadi ajang berkumpul untuk sekadar merawat dan melanggengkan kekuasaan.

Maka, jangan heran jika akhir-akhir ini merebak gejala apatisme terhadap partai politik. Karena rakyat mulai sadar diri bahwa selama ini aspirasi dan kepentingan politik mereka tidak diperjuangkan dan tidak pula disalurkan secara wajar. Sebagai artikulator aspirasi publik, elite partai hampir tak berfungsi dan memfungsikan diri. Setelah hajatan poltik usai, elite partai sibuk dengan manuver politik untuk mempertahankan kekuasaan.

Inilah jenis kekuasaan yang lebih menguntungkan elite partai, yang kesetiaan pada rakyat terputus manakala hajatan politik selesai. Kearifan politik elite kita benar-benar hilang. Di samping tidak mengartikulasikan aspirasi rakyat, pada faktanya, politik lebih dijalankan secara kotor, penuh tipu muslihat, dan lebih berbahaya lagi sarat ujaran kebencian dan fitnah.

Nilai toleransi dan kepercayaan diasingkan dari kehidupan politik kita. Politik diartikan semata sebagai seni mengejar dan mempertahankan kekuasaan, dengan cara apa pun. Elite tiba-tiba merasakan ketakutan yang luar biasa jika harus kehilangan kekuasaan. Kekuasaan yang seringkali dikampanyekan secara retoris sebagai amanat Tuhan, pada praktiknya, dipuja-puji dan dijadikan tujuan hidup itu sendiri.

Yang lebih tragis lagi, menjadi pejabat diartikan sebagai orang yang harus dilayani bukan melayani, atau orang yang harus dimuliakan, bukan memuliakan. Kultur dan mentalitas elite seperti ini benar-benar menjangkiti kehidupan politik kita. Politik bermuara pada uang. Tak dapat dipungkiri, uang seringkali dipakai menjadi panglima, dan jaringan kolusi menjadi mafia politik.

Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia Grace Natalie.

Karena itu, saatnya kita mengetuk kesadaran politik pada diri kita sendiri, pertama-tama, untuk instrospeksi, refleksi, dan otokritik secara internal: sudahkah kita mengemban amanat berpolitik untuk kebajikan?

Pelaksanaan risalah politik untuk kebajikan bisa kita mulai dengan sesuatu yang sederhana, namun tidak mudah kita lakukan, misalnya dengan bersikap jujur, adil, toleran, dan penuh semangat pengabdian pada rakyat. Tidak apa, jika mereka yang sudah berlumuran dengan tangan kotor politik akan mencibir dan mencemooh.

Dengan berpegang teguh pada prinsip kebenaran, kejujuran, dan keadilan, pada dasarnya kita telah menjalankan risalah politik untuk kebajikan, minimal memulai dari diri sendiri, melalui partai yang kita jalani. Dengan cara-cara berpolitik seperti ini, hidup kita akan lebih bermakna dan bijak di tengah iklim politik negeri kita yang selama ini tak bersahabat dengan orang-orang yang baik dan jujur.

Dengan menjalankan risalah politik untuk kebajikan pula, kita bisa menyikapi segala sesuatu secara lebih jernih dan benar sesuai hati nurani kita, yang menjadi ruh sejati kebajikan dalam berpolitik. Dan, partai politik yang mampu menjalankan risalah ini, hanyalah partai baru yang masih jernih, yang belum terkena residu kotoran panggung politik yang ada.

Baca juga:

Politik Orang Baik

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

Prekariatisasi Global dan Omnibus Law

"Setuju", dengan intonasi panjang penuh kebahagiaan peserta sidang secara serentak merespons pimpinan demi ketukan palu UU Cipta Kerja atau akrab dikenal sebagai Omnibus Law. Tok,...

Perang dan Cerita

Demonstrasi tolak RUU Cipta Kerja terjadi pada 8 Oktober 2020. Seperti aksi-aksi lainnya, kita barangkali bisa mulai menebak, bahwa sepulangnya nanti, hal-hal yang menarik...

Adakah Yahudi yang Baik di Mata Islam?

Yahudi, selain Kristen, adalah agama yang paling tidak disukai oleh kita, umat Islam di Indonesia atau di mana saja. Entah karena motif politik atau...

Legacy Jokowi, UU Cipta Kerja dan Middle Income Trap

“Contohlah Jokowi. Lihatlah determinasinya. Visinya. Ketegasannya ketika berkehendak menerapkan UU Cipta Kerja. Ia tak goyah walau UU itu ditentang banyak pihak. Ia jalan terus...

ARTIKEL TERPOPULER

Legacy Jokowi, UU Cipta Kerja dan Middle Income Trap

“Contohlah Jokowi. Lihatlah determinasinya. Visinya. Ketegasannya ketika berkehendak menerapkan UU Cipta Kerja. Ia tak goyah walau UU itu ditentang banyak pihak. Ia jalan terus...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Hakikat Demokrasi

Demokrasi bagi bangsa Indonesia sendiri adalah istilah baru yang dikenal pada paruh abad ke-20. Dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, demokrasi dalam bentuknya yang modern...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.