Selasa, Maret 2, 2021

Refleksi Imlek: Kerjasama RI-Cina Terganggu Sentimen Rasial?

Intoleransi atau Ketidakadilan?

Sehari sebelum aksi 4 November lalu, Ian Wilson menulis "Making enemies out of friends" (New Mandala). Dia mempertanyakan dugaan bahwa peristiwa itu hanya didorong...

Mengapa Soedurisme? Dan Mengapa Sekarang?

Kegairahan dalam melaksanakan ajaran Islam adalah hal positif dalam berbangsa dan bernegara. Bagaimana Islam bisa menginspirasi etos kerja bangsa kita dalam menjalankan amanat Proklamasi...

Gubernur Anies, Pribumi, dan Homo Sapiens

Wacana pribumi dan nonpribumi menguap kembali ke udara setelah pernyataan pidato perdana Anies Baswedan kemarin. Pernyataan bernada “rasis” itu disampaikan Anies setelah secara sah...

Al-Muktafi: Dicintai Rakyat, tapi Terkena Pengaruh Jahat Sengkuni

Beda pemimpin, beda pula gayanya memerintah. Beda khalifah, beda pula perlakuannya terhadap rakyat. Kepemimpinan berpusat pada personal, bukan institusional. Administrasi pemerintah berjalan tanpa sistem...
Avatar
Edbert Gani Suryahudayahttp://www.edbertgani.wordpress.com
Sarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia, Asisten Peneliti di Centre for Strategic and International Studies (CSIS).

Sumber: nasional.republika.co.id - Presiden Joko Widodo bersalaman dengan Presiden Cina Xi Jinping, di Beijing, Kamis (26/3).
Presiden Joko Widodo bersalaman dengan Presiden Cina Xi Jinping, di Beijing, Kamis (26/3). [Foto: republika.co.id]
Perayaan Imlek kali ini nampaknya akan bermakna cukup besar bagi pemerintahan Joko Widodo. Di tengah tantangan untuk menjaga stabilitas politik dan kebhinekaan di dalam negeri, situasi global semakin tidak menentu. Narasi proteksionisme yang mulai dibawa oleh Amerika Serikat membuat hubungan multilateral secara ekonomi dan politik menjadi semakin sulit sehingga negara-negara akan dihadapkan pada pilihan untuk melakukan relasi bilateral.

Dalam hal ini, Amerika Serikat nampaknya akan menjadi pilihan sulit bagi Indonesia. Karenanya, Cina akan menjadi semakin besar pengaruhnya bagi ekonomi Indonesia. Akan tetapi kepercayaan pada investasi Cina sering terhambat dengan berbagai sentimen rasial. Sampai saat ini, masih ada kelompok masyarakat kita yang berusaha memanfaatkan hal tersebut. Menyama-nyamakan masyarakat pribumi keturunan Tionghoa dengan negara Cina.

Relasi antara negara Indonesia dan Cina mengalami perkembangan cukup signifikan beberapa tahun belakangan ini. Terlihat dari kebijakannya, Presiden Jokowi memang mengarahkan Indonesia untuk banyak bermitra dengan Cina, khususnya dalam hal ekonomi. Hal ini tentu merupakan salah satu fenomena baru yang dibawa pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla dibandingkan dengan masa pemerintahan sebelumnya. Perlahan tapi pasti, hubungan dengan Cina telah menjadi salah satu sumber investasi penting, selain negara lain, yang telah lama membangun kemitraan dengan Indonesia seperti Amerika Serikat dan Jepang.

Kedekatan ekonomi dengan Jepang nampaknya akan semakin berlanjut setelah Amerika Serikat semakin tidak menentu di bawah Donald Trump. Pidato kenegaraan dan langkah nyata yang ia lakukan dalam beberapa hari terakhir telah menunjukkan keseriusannya membawa proteksionisme ke negara AS. Hal ini memberi ruang yang sangat besar secara politik bagi Cina untuk membangun relasi ekonomi politik dengan negara-negara di dunia, khususnya di kawasan Asia Tenggara.

Relasi ekonomi, politik, dan sosial budaya antara Indonesia dan Cina memiliki beberapa potensi dan juga tantangan yang tak bisa dibilang mudah. Modal utama dari relasi kedua negara adalah intensifnya kemitraan yang dibangun oleh Presiden Jokowi dengan Presiden Xi Jinping. Political will serta keeratan hubungan keduanya menyumbang modal besar dalam terealisasinya berbagai program kebijakan kerjasama.

Salah satu program optimis pemerintah adalah menargetkan 20 juta turis dari Cina di tahun 2019 (ingat ya, turis bukan tenaga kerja). Angka ini memang terbilang sangat optimistik. Banyak hal, termasuk yang utama infrastruktur, perlu dikejar pemerintah Indonesia untuk merealisasikan hal tersebut. Pada intinya pesan yang ingin ditampilkan adalah bahwa Cina dilihat sebagai sumber arus wisatawan yang utama untuk Indonesia.

Selain itu, ada pula megaproyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Proyek ini pada awalnya penuh kontroversi. Akan tetapi nyatanya sekarang proyek ini masih bertahan dan dilanjutkan. Realisasi proyek ini pun akan menjadi penting baik bagi pemerintah Indonesia maupun Cina sendiri. Berhasil tidaknya proyek ini akan menjadi percontohan penting bagaimana kredibilitas Cina dalam investasi teknologi tinggi di bidang transportasi.

Sementara itu, proyek ini juga menjadi pertaruhan besar apakah pilihan pemerintah Indonesia untuk membangun relasi ekonomi dengan Cina pada akhirnya adalah pilihan yang tepat atau tidak secara ekonomi. Hal ini disebabkan oleh pinjaman utang yang demikian besar dari Cina untuk mendukung proyek tersebut.

Dengan segala macam rencana kerjasama yang dibangun oleh pemerintah, tantangan terbesar datang dari masyarakat Indonesia sendiri. Sentimen anti Cina, meskipun telah jauh berkurang dibandingkan pada masa Orde Baru, masih membutuhkan langkah-langkah preventif agar tidak naik ke permukaan. Mereka yang tidak pernah mau belajar akan selalu mengaitkan Cina dengan niat penyebaran paham komunisme.

Lebih jauh lagi masyarakat kita seringkali mencampuradukkan kepentingan Cina dengan etnisitas Tionghoa di dalam negeri. Seakan ada relasi dekat di mana etnis Tionghoa di Indonesia adalah antek Cina. Meskipun terbilang sedikit, suara-suara untuk menilai ke arah sana tetap eksis. Paling terakhir adalah penilaian tidak berdasar yang menyatakan bahwa Gubernur non-aktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama adalah seorang antek Cina.

Pandangan-pandangan yang tidak berdasar inilah yang kerap dimunculkan pada momen politis seperti Pilkada Jakarta saat ini. Setiap kali ada pemilihan umum, ‘keturunan Tionghoa selalu dijadikan alat untuk menyebar kebencian. Jokowi sendiri pun tidak lepas dari fitnah ini pada masa kampanye pilpres terakhir.

Sentimen negatif terhadap etnis Tionghoa di Indonesia adalah dosa dari pemerintahan Orde Baru. Segala macam sentimen rasial diciptakan oleh negara. Sebutlah konotasi etnis Tionghoa sebagai antek komunisme, penyalahan etnis Tionghoa sebagai penyebab krisis ekonomi 1998, dan lain sebagainya. Segala macam tuduhan yang disematkan kepada etnis Tionghoa tidak pernah berusaha diklarifikasi dengan baik oleh pemerintah. Gus Dur-lah yang menjadi tokoh sentral dalam upaya menyatukan etnis Tionghoa ke dalam kesatuan bangsa Indonesia. Hasilnya adalah perayaan Imlek yang diperbolehkan saat ini.

Apabila pemerintah menganggap sentimen rasial ini sebagai ancaman terhadap usaha kerjasama antara Indonesia dan Cina, nampaknya usaha untuk merevisi narasi sejarah arus utama perlu dilakukan. Narasi negatif yang menyamakan etnis Tionghoa sebagai antek Cina perlu dihapuskan. Sampai saat ini etnis Tionghoa di Indonesia cenderung “berjuang sendiri” menetralisir sentimen tersebut.

Banyak etnis Tionghoa Indonesia yang telah berprestasi di bidang pendidikan, seni budaya, olahraga, maupun ekonomi, dan politik yang telah membawa kebanggaan dan kemajuan bagi Indonesia. Kondisi ini bukan baru terjadi sekarang. Banyak tokoh-tokoh di masa lampau yang sebenarnya terlibat membangun Indonesia. Hanya saja nama mereka tidak dihargai sebagaimana mestinya.

Sejujurnya, etnis Tionghoa sudah terbiasa dengan kondisi ini selama puluhan tahun. Kemampuan mereka untuk beradaptasi dan terus berkembang dalam kondisi tersebut sungguh luar biasa. Etnis ini sendiri sesungguhnya datang dari beragam latar belakang sosial dan ekonomi dan telah menyatu dalam kelompok-kelompok masyarakat yang lebih besar. Sehingga, meski cenderung masih pasif menyuarakan aspirasi mereka, kelompok etnis Tionghoa telah berakulturasi dan berasimilasi dengan baik.

Presiden Jokowi saat ini memiliki urgensi untuk mendorong terciptanya iklim yang jauh dari sentimen rasial kepada etnis Tionghoa. Perhitungan politis paling sederhananya adalah bahwa pemerintah punya kepentingan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan turis asing dari Cina untuk bisa berkunjung ke Indonesia. Pemerintah perlu menetralisir sejarah yang tidak berdasar agar sentimen negatif terhadap relasi bisnis dengan Cina dapat berkurang.

Kadang memang apabila kepentingan muncul, barulah pemerintah berniat menyelesaikan berbagai kendala yang bisa mengganggu rencana pembangunan. Dengan demikian, tulisan ini tidak memperkarakan Feng Shui, melainkan berusaha memberi pemahaman ekonomi politik dari kondisi negara kita. Semoga Tahun Ayam ini membawa keberuntungan bagi Indonesia.

Selamat Tahun Baru Imlek 2568 bagi yang merayakan!

Avatar
Edbert Gani Suryahudayahttp://www.edbertgani.wordpress.com
Sarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia, Asisten Peneliti di Centre for Strategic and International Studies (CSIS).
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.