Minggu, Oktober 25, 2020

Rayuan Politik Kembali ke Masa Lalu

Euro 2016, Manuel Neuer, dan Teman Ahok

Sekurang-kurangnya ada tiga hal "menguntungkan" yang bisa dinikmati pecinta sepak bola tanah air dari perhelatan Euro 2016 di Prancis kali ini. Pertama, Euro menjadi...

Titik Balik Nasionalisme

Cetak biru (blue-print) nasionalisme adalah pemersatu bangsa. Nasionalisme bukan sekadar alat, melainkan nafas pergerakan untuk kemerdekaan. Nasionalisme lahir sebagai perekat sosial untuk mendobrak sekat-sekat...

Mau ke Mana Nakhoda Baru Kapal Jakarta?

Keunggulan demokrasi—mungkin juga pada saat yang sama dianggap kelemahan oleh sebagian kalangan—adalah memungkinkan siapa pun, dari kalangan mana pun, dan dengan kemampuan apa pun,...

Makar dan Senyum Presiden

Apa yang kami takutkan dilakukan Prabowo, dan jadi alasan kami memilih Jokowi, ternyata dilakukan Presiden Joko Widodo saat ini. Pagi ini sedih membaca berita ada...

Realitas objektif kita, kapan pun dan di mana pun, tak bisa dipisahkan dari tiga dimensi waktu yang saling berkelindan, yakni masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Ada banyak pihak yang berupaya memuja, atau hanyut di dalam salah satu dari ketiga dimensi waktu tersebut.

Masa lalu biasanya dipuja para sejarawan, masa kini dipuja para hedonis yang memburu kenikmatan sesaat, dan masa depan dikampanyekan para futurolog. Sikap yang baik adalah yang menempatkan ketiganya sesuai proporsinya.

Yang perlu dicermati, pada setiap menjelang pemilu, selalu muncul kelompok yang mencoba melakukan glorifikasi masa lalu. Mereka tampil seolah-olah sejarawan, padahal bukan. Mereka tak lebih dari barisan politisi yang berupaya meraih kekuasaan dengan memanfaatkan kejayaan para pendahulunya.

Kesalahan-kasalahan seperti ketimpangan sosial, kemiskinan, pengangguran, dan hal-hal yang kurang elok saat ini mereka munculkan ke permukaan, lalu dengan bahasa yang provokatif, dibandingkannya dengan kebaikan-kebaikan masa lalu.

Kita tidak menolak kritik terhadap apa yang terjadi saat ini, juga tidak melupakan kebaikan-kebaikan masa lalu. Yang perlu kita luruskan adalah membandingkan masa lalu dengan masa kini dengan cara-cara yang tidak proporsional.

Bahwa pemerintahan saat ini masih memiliki banyak kekurangan adalah fakta yang sulit dibantah, tapi apakah dengan demikian lantas bisa disimpulkan masa lalu lebih baik dari saat ini. Saya kira tidak. Setiap pemerintahan memiliki kelebihan dan kekurangan. Cara membandingan kekurangan dengan kelebihan itulah langkah politik yang tidak proporsional.

Masa lalu adalah bagian dari sejarah. Kelebihan dan kekuarangannya harus kita lihat secara objektif. Kelebihannya bisa dijadikan contoh, dan kekurangannya bisa dijadikan pelajaran agar kita tidak terjerumus pada kesalahan yang sama.

Untuk sejarah kelam masa lalu, ada baiknya kita memaafkan, bukan untuk melupakan. Memaafkan masa lalu bagian dari kearifan politik generasi zaman now agar tidak ada lagi dendam sehingga terjalin rekonsiliasi nasional. Sikap seperti ini perlu dikembangkan karena dendam politik tidak akan membawa manfaat bagi siapa pun, juga bagi bangsa ini.

Tapi, jangan pula kita melupakan dosa masa lalu. Pada saat kita melupakannya, akan terbuka celah untuk tergoda, terbuai dengan janji-janji manis partai-partai yang mencoba menghidupkan kembali semangat Orde Baru. Untuk meraih masa depan yang lebih baik, seyogianya kita mewaspadai manisnya rayuan kembali ke masa lalu.

Untuk menumbuhkan kewaspadaan, ada baiknya kita mencermati ciri-ciri gerakan politik yang mencoba mengembalikan dinasti politik masa lalu. Pertama, seperti disinggung di atas, dengan cara memuji-muji kejayaan masa lalu dan membandingkannya dengan keburukan-keburukan masa kini.

Dengan berbagai cara, masa lalu diglorifikasi, terutama dengan menyasar mereka yang tengah dalam kesulitan. Mereka datang bagaikan malaikat penolong, memberi janji-janji, juga “amunisi” yang menggiurkan.

Kedua, seraya menglorifikasi masa lalu, pemerintahan saat ini terus menerus ditampilkan dengan wajah yang buruk. Mempertahankan pemerintahan yang ada saat ini diibaratkan seperti memutar roda menuju bencana. Semua program pemerintah direduksi dalam framing berita sesuai keinginan mereka.

Ketiga, dengan memanfaatkan barisan “sakit hati”. Para “mantan” pendukung pemerintah yang balik badan karena kecewa, lantaran, misalnya dicopot dari jabatannya, atau karena belum mendapatkan imbalan apa-apa dari dukungannya terhadap pemerintah, didorong untuk membuat semacam testimoni sehingga keburukan itu seolah tampak nyata, tanpa rekayasa.

Keempat, dengan mendelegitimasi semua produk politik pasca reformasi seperti lepasnya Timor Timur, amandemen UUD 1945, serta pemberian hak pada rakyat untuk memilih pemimpin secara langsung (presiden, gubernur, bupati/wali kota) yang dianggapnya sebagai bentuk penyelewengan dari pembukaan UUD 1945 dan sila keempat Pancasila.

Kelima, setiap ada berita yang miring tentang pemerintah, mereka dengan antusias memviralkannya ke semua platform media sosial seperti Instagram, Facebook, Twitter, dan grup-grup WhatsApp. Dalam konteks ini, karena sama-sama menginginkan presiden baru, kita sulit membedakan antara haters dan pemuja masa lalu. Mereka berbeda tapi memiliki kepentingan politik yang sama.

Dengan mencermati kelima ciri kelompok yang berupaya mengembalikan kejayaan masa lalu ini, selain untuk meningkatkan kewaspadaan, juga bisa menjadi pedoman, terutama bagi generasi baru yang lahir pasca reformasi, yang tidak ikut merasakan keburukan rezim masa lalu.

Segenap rakyat perlu disadarkan akan massifnya rayuan politik kembali ke masa lalu. Sekali kita lalai, terpikat dengan rayuannya, maka pada saat itulah kita telah memberikan peluang bagi kebangkitan Orde Baru.

Generasi muda yang memiliki kesadaran politik akan kemungkinan bangkitnya Orde Baru harus memperkuat barisan, bergerak bersama, bahu membahu, untuk menumbuhkan kesadaran yang sama, terutama pada pihak-pihak yang rawan menjadi korban rayuan.

Kolom terkait:

Partai Baru, Pemilu 2019, dan Kampanye Zaman Now

Partai Baru dan Bahaya Laten Orde Baru

Sangar ala Jokowi

Kepulangan Rizieq dan Arah Gerakan 212

Elektabilitas Partai dan Figur Kader

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

Lelaki Dilarang Pakai Skin Care, Kata Siapa?

Kamu tahu penyakit lelaki: mau menunjukkan kegagahan! (Ayu Utami, Maya) Sering kali, drama dari negeri ginseng menampilkan para aktor maskulin dengan wajah glowing (bersinar) yang menggunakan skin care (perawatan kulit...

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

Disrupsi Perbankan Perspektif Ekonomi Islam

Disrupsi berasal dari bahasa inggris disruption yang memiliki arti sebagai: gangguan, kekacauan atau permasalahan yang kemudian mengganggu aktivitas, peristiwa ataupun proses. Sedangkan inovasi disruptif yaitu...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Mengapa Pancasila Membolehkan Paham Ateisme?

Dalam pasal 156a KUHP disebutkan bahwa “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.