Senin, April 12, 2021

Politik yang Mengayomi

Bumi Dipijak, Merah Putih Berkibar

Siang itu, kami berada di pusat perbelanjaan di Harbin, China. Di salah satu bagian tempat penjualan barang, pihak manajemen menghiasi sudut ruangan itu dengan...

Calon Petahana Wajib Cuti Kampanye atau Mundur?

Dengan percaya diri Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menggugat kewajiban cuti kampanye di Mahkamah Konstitusi. Sebagaimana Pasal 70 ayat (3) Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah...

Kata “Merdeka” dan Papua

Kamus Besar Bahasa Indonesia pada lema Merdeka tidak ada satu pun yang memberi makna negatif. Seluruh makna yang tercantum dalam lema Merdeka adalah positif....

Kaleidoskop 2017: Melihat Jakarta dari Bangkok

Berkunjung ke kota-kota di Asia Tenggara tidak hanya penting untuk membangun perspektif geografis dan sosial-politik masyarakat, melainkan juga semacam refleksi untuk mengetahui sejauhmana ibu...

Di tahun politik apa pun bisa terjadi, kebaikan bisa ditutup-tutupi dengan kebohongan, dan iblis bisa menyamar menjadi malaikat demi tercapainya kepentingan kekuasaan. Norma-norma sosial yang sudah lama mentradisi dan menjadi bagian dari etika sosial yang dipegang teguh oleh masyarakat bisa dikoyak semata-mata untuk memuluskan jalan menuju kekuasaan.

Yang memprihatinkan, pemicu terkoyaknya etika sosial itu lebih sering disebabkan oleh hal-hal yang tidak benar-benar terjadi (hoaks) yang—karena kepentingan kekuasaan— dianggap sebagai kebenaran yang kemudian diviralkan tanpa diverifikasi terlebih dahulu validitasnya.

Fenomena ini mengingatkan kita pada apa yang diungkapkan Kanselir Jerman pendukung utama dan penerus Hitler, Joseph Goebbels, “if you tell a lie big enough and keep repeating it, people will eventually come to believe it.”

Seringkali kita mengecam cara-cara berpolitik Hitler tapi pada saat yang sama kita mempraktikkan ajaran-ajarannya. Inilah kemunafikan yang saat ini tampak nyata di hadapan kita.

Orang-orang yang sebelumnya dikenal sebagai tokoh intelektual, akademisi, atau ulama yang menjadi panutan, bisa berubah menjadi provokator atau bahkan agitator yang menihilkan etika akademis. Etika agama yang mengajarkan pentingnya klarifikasi (tabayyun) pada setiap menerima berita pun diabaikan oleh ulama yang berubah wajah menjadi politikus.

Ruang publik sarat dengan pesan-pesan yang bukan saja tak beraturan, tapi juga sarat kepentingan yang mengoyak hati siapa pun yang memiliki keyakinan akan pentingnya menyebarluaskan kebaikan di mana pun dan di setiap kesempatan. Public virtue (kebajikan publik) mengalami kelangkaan di tengah kepadatan pesan-pesan yang menyesatkan.

Pada situasi seperti inilah, dibutuhkan suara-suara lain, yang terdengar jernih di telinga dan menyejukkan di tengah riuh rendah kerumunan yang berteriak tak beraturan, tanpa kontrol, tanpa ada yang mengarahkan atau membimbing ke jalan lurus lagi terang.

Suara-suara itulah yang keluar dari orang-orang yang mampu mengayomi, melihat setiap persoalan dalam perspektif yang kaya dan beragam. Orang-orang yang bisa membimbing dan bukan yang membingungkan lantaran kebenaran yang disampaikan sudah menyublim dalam kepentingan kekuasaan.

Pesan-pesan politik yang mengayomi menjadi kebutuhan yang mendesak dan seyogianya menjadi tugas siapa pun tanpa kecuali, karena ketersediaan lingkungan yang damai, ramah, dan terbuka pada dasarnya merupakan kebutuhan semua orang.

Berbeda pilihan dan aspirasi politik politik sejatinya bukan halangan untuk menghadirkan pesan-pesan politik yang mengayomi semua orang. Perbedaan atau bahkan pertentangan politik bukan hal yang haram, tapi bukan untuk dihadirkan di ruang-ruang yang tidak semestinya.

Para pendiri bangsa ini telah memberi contoh yang baik pada kita. Bahwa ruang perdebatan sengit tersedia dan termanifestasi di arena yang memang disediakan untuk itu, seperti di sidang-sidang parlemen (konstituante). Ada perbedaan atau bahkan pertentangan yang mencolok, misalnya, di antara mereka yang memperjuangkan kepentingan ideologi agama.

Contoh yang sangat populer adalah antara tokoh partai Islam Masyumi, Mohammad Natsir, dengan tokoh partai Katolik, Ignatius Joseph Kasimo; antara Natsir dan Sukarno; atau antara Muhammad Hatta dan Sukarno. Perbedaan kepentingan dan aspirasi politik tidak membuat mereka berseteru, apalagi saling memfitnah dan menafikan. Di luar arena politik mereka bersahabat dan saling menolong pada saat salah satu di antaranya dilanda kesulitan.

Apalagi pada saat berbicara kepentingan rakyat, bangsa, dan negara, mereka bersatu, menyuarakan kepentingan yang sama. Kemerdekaan bangsa dan kesejahteraan rakyat menjadi semacam common denominator (kalimatun sawa) yang menyatukan mereka. Yang mereka utamakan adalah kepentingan rakyat secara umum yang melampaui sekat-sekat kepentingan ideologi dan agama.

Tapi apa yang terjadi saat ini, kita tampak nyata gagal membedakan mana kepentingan golongan (partai) dan mana kepentingan bersama. Kepentingan partai hampir selalu ditonjolkan seraya menutup rapat-rapat kepentingan bersama. Menonjolkan kepentingan bersama seolah menjadi faktor kelemahan yang bisa berakibat pada kekalahan.

Padahal, jika kita umpamakan, kepentingan bersama adalah rumah dan kepentingan partai (golongan) hanyalah kamar-kamar yang ada dalam rumah itu. Untuk mendapatkan kamar yang bagus, Anda harus memiliki rumahnya, karena dengan memiliki rumah Anda bisa memilih kamar dengan leluasa. Sementara untuk mendapatkan rumah yang bagus, tidak mungkin bisa tercapai jika Anda hanya memiliki kamar, sebagus dan semewah apa pun kamar itu.

Dengan demikian, kesadaran akan pentingnya mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan partai dan golongan adalah syarat mutlak untuk mengembangkan politik yang mengayomi, politik yang baik, ramah, dan terbuka bagi siapa saja.

Syarat berikutnya adalah kemampuan membedakan ruang-ruang artikulasi kepentingan politik, antara ruang yang memang absah untuk memperjuangkan kepentingan partai dengan ruang terbuka yang menjadi milik bersama.  Kemampuan seperti inilah yang dulu dimiliki para pendiri republik.

Dengan dua syarat ini saja, jika kita mau dan mampu, maka konsep politik yang mengayomi akan termanifestasikan dengan sendirinya di tengah-tengah masyarakat.

Kolom terkait:

Risalah Politik untuk Kebajikan 

Kaleidoskop 2017: Tahun Keprihatinan Beragama

Kearifan Politik dalam Menyikapi Perbedaan

Kebhinekaan Itu Sunnatullah, Hentikan Politisasi Pluralisme!

Tuhan Tidak Menghendaki Olok-olok

Berita sebelumnyaSurat Cinta untuk Khofifah
Berita berikutnyaLarang Pangan di Asmat
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.