in

Politik Giring “Nidji” dan Kemudaan


Ketua Umum PSI Grace Natalie dan Giring “Nidji” Ganesha.

Vokalis band pop Giring ‘Nidji’ Ganesha mencoba peruntungannya di bidang politik. Penyanyi tersebut dilaporkan mendaftarkan diri sebagai calon legislatif Partai Solidaritas Indonesia (PSI) beberapa hari lalu. Selama acara pendaftaran, Giring berjanji untuk tidak terlibat dalam korupsi jika terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dalam pemilihan legislatif tahun 2019.

Nidji bukanlah satu-satu kaum muda yang menjatuhkan keputusan memasuki gelanggang politik. Sebelumnya, yang paling terkenal, Agus Harimurti Yudhoyono yang ikut serta sebagai salah satu calon gubernur DKI Jakarta. Tak pelak, keikutsertaan Agus mengundang kontroversi.

Salah satu pernyataan paling pedas dilontarkan oleh pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusa Bhakti ketika itu yang menyebutnya sebagai “anak ingusan” yang tak tahu apa-apa. Secara intelektual, ucapan ini bukan saja dinilai kebablasan tapi juga menampakkan bahwa sebagai pengamat ternyata Ikrar bukan lagi intelektual kritis yang ditandai oleh kemampuan memutakhirkan wawasan.

Nidji dan Agus bukanlah segelintir prototip anak muda yang punya potensi dahsyat untuk menciptakan dunia baru. Di Indonesia, tak terhitung lagi tokoh-tokoh muda yang menempati pelbagai posisi top. Yuliandre Darwis (36 tahun) sebagai Ketua Komisi Penyiaran Indonesia/KPI 2016-2019, Firmanzah sebagai Dekan FE UI di usia 33 tahun, juga Ustadz Firanda Andirdja (36 tahun), pengajar tetap di Masjid Nabawi yang baru-baru ini meraih Ph.D di Arab Saudi.

Juga jangan lupakan Nara Masista Rakhmatia (34 tahun),  diplomat junior asal Indonesia yang sempat membungkam 6 kepala negara yang mencampuri urusan Papua dan Papua Barat dalam Sidang Umum PBB belum lama ini. Mereka hanyalah sedikit kafilah panjang figur-figur muda yang menorehkan prestasi di atas rata-rata senior mereka.

Terjunnya anak muda berpolitik praktis sebetulnya menggaungkan pesan kuat kepada masyarakat pemilih bahwa “kemudaan” secara serius menjanjikan kekuatan utama dalam kontestasi kepemimpinan. Tanpa terjebak dengan kecenderungan mendewakan segala yang serba muda, kemudaan ini menawarkan tiga kekuatan utama bagi khalayak pemilih dalam pelbagai pilkada yang menjelang.


Pertama, transformasi. Anak-anak muda memang dalam banyak hal miskin pengalaman, tapi mereka pada umumnya tidak menyukai hal-hal biasa atau kelaziman yang berbasis mainstream. Karenanya, anak-anak muda punya obsesi untuk melakukan perubahan; mengubah peluang menjadi pekerjaan, kemungkinan menjadi kepastian, dan mimpi menjadi kenyataan. Daya transformatif ini berakar dari mentalitas penanggung risiko (risk taker) karena anak-anak muda biasanya tidak takut kehilangan (nothing to lose) demi sebuah eksperimentasi.

Kerja-kerja besar untuk menjadikan Jakarta ramah birokrasi dan tatakelola pemerintahan tidak bisa lagi diamanahkan kepada pihak-pihak yang mengklaim diri sudah makan garam namun terbukti gamang mengubah diri. Kesuksesan Wali Kota Holyoke (AS), Alex Morse (26 tahun), mengubah kotanya yang dililiti tiga masalah pelik—kemiskinan, kejahatan dan tingginya angka putus sekolah—terletak pada kecepatannya bertindak dan kemampuannya meletakkan landasan pembangunan kota 10 atau 20 tahun ke depan, bukan menghabiskan diri berinteraksi dengan “pejabat-pejabat berpengalaman.”

Meski dengan kondisi demografi yang berbeda, kisah Alex Morse menjadi inspirasi bahwa kemudaan dan keberanian adalah dua sisi mata uang guna mewujudkan transformasi birokrasi di Tanah Air.

Kedua, inovasi. Kompleksitas persoalan pemeritahan daerah sebetulnya menghajatkan satu kebutuhan utama: layanan prima. Pemimpin muda biasanya melekat dengan dua perbendaharaan penting: teknologi dan inovasi. Layanan yang berbasiskan teknologi dan inovasi dalam banyak hal mampu mengatasi kendala ruang dan waktu. Dengan kecenderungan yang hari ini “serba aplikasi”, pemimpin yang lahir dari rahim anak muda lebih menjanjikan untuk berinovasi.

Inovasi tak pernah subur di lingkungan nir-kompetisi. Mereka yang terbiasa di zona aman atau takut berimprovisasi lantaran takut salah tidak akan berani mencoba sesuatu yang baru. Terus terang, para pemimpin muda diberkahi surplus modal melakukan inovasi. Ini bukan saja lantaran mereka lebih melek dengan ranah IT tapi juga dikarenakan jiwa eksplorasi mereka yang kental.

Bukan bermaksud menafikan potensi yang sama pada para pemimpin senior, kebiasaan banyak pertimbangan di kalangan tokoh-tokoh tua acapkali memperlambat langkah mereka berduet dengan inovasi. Rendahnya penyerapan anggaran di banyak daerah menjadi salah satu contoh umum bagaimana inovasi ternyata masih dianggap ‘alien’ sehingga mementalkan reformasi birokrasi.

Ketiga, ekspresivisme. Banyak yang menganggap anak muda suka cuek dan kurang menaruh hormat kepada orang tua. Ini merupakan kritik konstruktif. Hanya saja, anak-anak muda yang aktivis adalah pengecualian. Kalangan aktivis muda, yang banyak bermetamorfosis sebagai pemimpin muda, malah menjadi mediator, tumpuan harapan dan tempat bertanya oleh rakyat jelata. Kedudukan istimewa ini terbuhul dengan kemampuan ekspresif mereka: diperlakukan sebagai anak di satu sisi sehingga menjadi curahan hati dan dianggap selaku pemimpin tanpa harus dicurigai.

Posisi ini menjadikan pemimpin muda memiliki pesona legitimasi yang lebih murni. Sebagai anak, ia menjadi ladang di mana harapan orang tua disemai. Sebagai pemimpin, ia menjadi sosok yang lebih banyak mendengar supaya lebih kuasa berbuat. Pemimpin senior memang berpengalaman bertahun-tahun, sayangnya tak jarang yang terjadi sebetulnya pengalaman setahun yang diulang berkali-kali.

Anak muda memang belum banyak berkubang dengan masa lalu, tapi mereka dianugerahi kecepatan berlari untuk mewujudkan mimpi hari ini sepanjang diberi kepercayaan. Mustahil kita mengetahui Nara Masista Rakhmatia sekarang tanpa kepercayaan para diplomat senior yang memberikan kesempatan padanya tampil di muka.

Kepercayaan dan momentum berjalan seiring langkah. Begitu juga dengan langkah yang diambil Giring. Ayo Giring, maju terus dan buktikan! Lo bisa, kok!

Kolom terkait:

Giring ‘Nidji’ Berlabuh ke PSI: Betul Mau Bikin Seleb Politik Bertaji?

Politik Kita di Tengah “Tsamaraisasi” Milenial

Grace Natalie dan Jawaban Politik Generasi “Y”


Written by Donny Syofyan

Donny Syofyan

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Padang, dan Mahasiswa Program Doktor Universitas Deakin, Australia.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR