OUR NETWORK

Politik dan Kedewasaan Beragama

Siapa tahu politik hari ini semata-mata duniawi. Bukan ukhrawi. Menjadikan agama dan tuhan sebagai pelantang agar teriakannya terasa semakin menggelegar ke seantero langit.

TIDAK berpolitik pun berpolitik. Sifat politik itu merasa penting, sikap politiknya berupa memperjuangkan kepentingan. Dan kehadiran agama pun merupakan kehadiran politik dalam makna ukhrawi. Tidak berorientasi pada keduniaan, tapi tidak pula meminggirkannya. Yang oleh agama dijadikan pusat adalah akhirat, wa bil khusus kebahagiaan di akhirat. Dan, untuk bisa sampai ke sana, penderitaan duniawi merupakan keniscayaan. Walakin, sekali lagi, agama tak mengajak umatnya menderita di dunia. Sama sekali tidak.

Ada dua rumus mencapai taraf tertentu dalam kehidupan, yaitu rumus manusia dan pencipta manusia, yang satu sama lain sekilas terasa berkebalikan. Seperti saling berlawanan. Misal, untuk urusan mencapai kehidupan sejahtera, atau baca saja untuk mencapai kehidupan kaya raya, manusia punya rumus: timbunlah harta kekayaanmu. Bukalah rekening, simpan uangmu di bank, dan jangan lupa ikutlah asuransi demi masa depan. Jangan sampai tercecer percuma, termasuk ke tengadah para peminta-minta.

Rumus Allah, sang pencipta manusia, berbeda. Jika ingin kaya raja, dan insya Allah sejahtera, jangan timbun uangmu. Jangan kantongi sendiri. Justru rogohlah dalam-dalam sakumu, keluarkan isinya, bagikan. Sampaikan pada yang berhak; mulai dari fakir miskin, yatim piatu, orang-orang yang berjihad fi sabilillah, hingga orang-orang yang memang memerlukan bantuan. Bersedekahlah. Semakin kita bersedekah, insya Allah semakin terbuka pintu rezeki kita. Sedekah tidak akan menjadikan pelakunya jatuh melarat.

Jika ingin tinggi, menurut rumus manusia, maka naiklah. Meninggilah. Sedangkan menurut Allah: turunlah. Merendahlah. Semakin tawadhu, semakin luhur derajat kita. Semakin kita merendahkan diri di hadapan Allah dan merendahkan hati di hadapan sesama makhluk Allah, niscaya semakin tinggi Dia mengangkat derajat hambaNya. Ia yang menyelamatkan diri dari ujub, takabbur, dan riya’, adalah ia yang memang merasa tak pernah cukup modal untuk menyombongkan diri. Dan, oleh karena itulah ia justru diselamatkan.

Sebanyak-banyak yang kita miliki masih lebih banyak yang tidak kita miliki. Dan, sebanyak-banyak yang kita tahu masih lebih banyak yang kita tak tahu. Semakin kita tahu tentang sesuatu sesungguhnya semakin kita tidak tahu tentang sesuatu itu. Dan, yang bersinggasana di atas ilmu adalah adab. Ia bertakhtakan akhlak mulia. Bukankah tugas kerasulan Muhammad SAW adalah menyempurnakan akhlak mulia? Itulah tugas politik ukhrawi dari Sang Nabi Terakhir. Strateginya dengan mewujudkan risalah rahmatan lil ‘alamin.

Dari berbagi dan berendah hati, dua di antara ajaran Islam, kita bisa menarik garis tegas politik ukhrawi agama ini. Yaitu bukan untuk menguasai. Bukan untuk jadi penguasa, apalagi penguasa dzalim. Namun untuk menjadi pemimpin, dan hal itu selalu dimulai dengan menjadi pemimpin bagi diri sendiri. Tidaklah beriman seseorang, sabda Rasulullah SAW, hingga mencintai orang lain bagai mencintai diri sendiri. Bahkan, siapa yang menjadi penyayang di bumi niscaya akan disayangi oleh masyarakat langit.

Pendek kata, politik ukhrawi Islam ialah bersifat dan bersikap Islami: mengasihi dan menyayangi. Menjadi perwujudan yang paling nyata dari kehadiran Rahman dan Rahim, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Berbagi bermakna tak mengambil untuk diri sendiri, pun untuk golongannya belaka. Berbagi di sini bukan berarti berbagi jabatan, kekuasaan, dan kekayaan dengan kroninya, yang dari pangkal hingga ujungnya korup. Berbagi adalah memperjuangkan kesejahteraan bersama bagi sesama anak bangsa ini.

Dengan rendah hati, kita tidak merasa paling jagoan. Kita selalu membutuhkan orang lain. Kita perlu bekerja bersama, bekerjasama. Kepemimpinan memerlukan tidak hanya kepemimpinan itu sendiri, namun keterlibatan semakin banyak pihak, atau bahkan seluruh pihak, untuk memastikan tujuan bersama tercapai dengan baik dan benar. Politik hari ini menunjukkan betapa kita tinggi hati. Pamflet dan poster menebar perasaan hebat politisi, dengan gambar wajah memenuhi kolom iklan politiknya itu.

Ini sebenarnya wajar belaka. Sebab, siapa tahu politik hari ini semata-mata duniawi. Bukan ukhrawi. Menjadikan agama dan tuhan sebagai pelantang agar teriakannya terasa semakin menggelegar ke seantero langit. Adu dalil menjadi semacam tren di kancah politik agar semakin kentara siapa di antara kita yang lebih beriman. Namun, akhlak yang mulia dan adab yang tinggi belum—atau bahkan tidak—terasa di level mana pun. Langkah kawan politik ditelikung, aib lawan politik disingkap, dan syahwat atas kemenangan merajalela.

Beragama pun memerlukan kedewasaan. Allah memang berfirman, ”Sesungguhnya agama yang paling diridhai Allah adalah Islam.” Tapi, ayat 19 dalam Q.S. Ali Imran itu bukanlah dasar untuk menjumawakan Islam di antara agama lain, apalagi sampai menjumawakan kemusliman diri sendiri. Sebab, sebagaimana dalam lanjutan ayat itu, perselisihan terjadi ternyata dipicu oleh kedengkian antarkita sendiri. Tidak menjadikan Islam untuk sombong, merasa benar sendiri, dan merendahkan agama lain, menunjukkan kedewasaan Muslim.

Dan, seperti halnya dalam politik, betapa politisi merasa amat perlu dirinya dikenal seluas-luasnya oleh masyarakat dan kita pun merasa perlu mengenal politisi lebih dekat sebelum memilihnya menjadi wakil kita di parlemen maupun pemimpin kita di level tertentu, Islam mengajari kita untuk menghargai perbedaan yang darinya kita saling mengenal dan berdialektika. Dalam Q.S. Al Hujurat: 13, difirmankan, Allah menjadikan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal—dan, tentu saja, saling menghormati.

Tapi, tujuan saling mengenal itu bukan untuk mencapai kemuliaan duniawi, tapi kemuliaan ukhrawi, yaitu ketakwaan. Dalam lanjutan ayat itu difirmankan, ”Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.” Namun, tentu saja terlalu mengawang-awang membicarakan politik hari ini dari sudut pandang ukhrawi. Saya tahu saya menulis kesia-siaan. Tapi, saya tak mau berhenti berharap. Saya percaya masih banyak politisi yang tidak hanya bisa mengembuskan angin surga.

Tahun ini adalah tahun politik. Pemilihan kepala daerah diselenggarakan serentak di 171 daerah, meliputi 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. Dan sepertinya, agama masih akan menjadi isu sensitif di tengah pergolakan politik, apalagi jelang pemilihan presiden pada 2019. Sudah ada yang mulai berbagi, namun masih sebatas berbagi duit dan janji palsu. Sudah ada pula yang mulai merendah, namun masih berupa merendahkan orang lain. Kita, setidaknya saya, masih menunggu politik mendewasakan kita dalam beragama.

Kolom terkait:

Kaleidoskop 2017: Tahun Keprihatinan Beragama

Jangan-jangan Kita Sendiri yang Intoleran?

Keragaman Agama Itu Sunnatullah

Anies Baswedan dan Otak Politik Mendulang Suara

Jum’atan Politik!

Candra Malik
Budayawan sufi yang bergiat di bidang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan spiritualitas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…