Senin, Oktober 26, 2020

Politik Berpijak Akal Sehat

Keniscayaan Ibu Kota Baru

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) tengah mengkaji rencana pemindahkan Ibu Kota Republik Indonesia.  Total kebutuhan pembiayaan dan skema pembiayaannya kini sedang menjadi perhatian besar. Kepala...

Antara Firza, Rizieq, dan Seksisme dalam Politik

Kita boleh tidak setuju bahkan menentang dengan sikap politik Rizieq Shihab dan Front Pembela Islam (FPI), terutama terkait pandangan mereka yang sangat antipati terhadap...

Pilkada untuk Membangun Masyarakat Berkemajuan

Pemilihan kepala daerah tahap kedua yang dilakukan serentak pada awal tahun 2017 diharapkan bisa memberi kontribusi positif bagi terciptanya masyarakat berkemajuan di Indonesia. Harapan ini...

Surat kepada Wakil Rakyat

Selamat siang, Bapak, Ibu, eh, maksud saya, Yang Terhormat. Hampir kelupaan! Saya sengaja menyapa Bapak dan Ibu yang terhormat pagi ini. Sejujurnya semula surat...

Dunia politik merupakan bidang aktualisasi pengabdian pada negara yang berdimensi banyak dan beragam. Multidimensi politik inilah yang membuat banyak orang sulit atau bahkan gagal memahami konstelasi politik, terutama di Indonesia yang berjalan fluktuatif, belum benar-benar mapan.

Ketidakmapanan politik di Indonesia terutama disebabkan oleh masih banyaknya kalangan yang memasukkan unsur-unsur irasional dalam berpolitik, misalnya dengan melibatkan dukun atau pawang politik. Upaya memenangkan kompetisi di panggung politik dicapai dengan cara-cara yang sulit diterima akal sehat.

Padahal, jika yang bersangkutan benar-benar memenangkan kompetisi, saya yakin kemenangan itu diraih karena memang dia sungguh-sungguh dalam meraih cita-cita politiknya, dengan memenuhi persyaratan-persyaratan yang sesuai dengan apa yang harus dilalui dalam berpolitik. Bukan karena kesaktian dukun atau pawang politik yang ikut bermain untuk memenangkan dirinya.

Contoh lain yang juga sulit diterima akal sehat adalah ketika ada pihak yang mengukur kinerja partai politik hanya semata-mata dari usianya. Mungkin dia lupa bahwa ada partai politik yang justru pencapaian tertingginya diraih pada saat mengikuti pemilu untuk pertama kalinya. Artinya dalam usia yang masih dianggap “hijau” itulah keberhasilan dapat dicapai, dan bukan pada saat dianggap sudah “matang”.

Bahkan, tak perlu disebut apa nama partainya, ada yang semakin matang usianya, justru semakin mengecil perolehan suaranya. Ini membuktikan bahwa usia partai politik tidak ada kaitan langsung dengan kesuksesannya dalam meraih dukungan rakyat.

Perjalanan hidup manusia memberikan kita pelajaran berharga bahwa kualitas hidup seseorang tidak diukur dari panjang pendeknya usia, tapi dari sejauh mana ia bisa memberikan manfaat bagi manusia lainnya. Sejarah membuktikan, banyak tokoh yang namanya harum karena karya-karyanya, atau karena peranan sosialnya, padahal usianya relatif muda.

Partai politik adalah mesin sosial yang digerakkan oleh tenaga dan pikiran manusia. Partai politik yang baik adalah yang diisi oleh orang-orang baik, yang berpikiran baik, memperjuangkan hal-hal yang baik, menjunjung tinggi rasionalitas berpolitik, bukan sebaliknya. Politik yang baik, dengan demikian, adalah yang berpijak pada akal sehat.

Dalam percakapan sehari-hari mengenai politik, kita sering mendengar ungkapan betapa pentingnya menjaga kewarasan berpolitik. Tapi seperti apa aktualisasinya tidak ada penjelasan lebih lanjut. Kewarasan berpolitik hanya menjadi sebatas jargon yang tidak disertai dengan rumusan-rumusan operasional.

Makna kewarasan berpolitik, menurut saya, adalah politik yang berpijak pada akal sehat. Bagaimana operasionalisasinya, bisa ditempuh dengan sejumlah langkah berikut:

Pertama, dengan memperjuangkan apa pun yang dibutuhkan rakyat. Klaim bahwa partai politik berasal dari rakyat dan untuk rakyat harus dibuktikan dengan langkah-langkah konkret. Jika rakyat membutuhkan tempat tinggal yang layak, misalnya, maka partai politik, melalui kader-kadernya yang duduk di lembaga legislatif, wajib memperjuangkan kebutuhan itu dengan mendorong pemerintah—melalui kementerian dan lembaga-lembaga pemerintahan terkait—untuk mewujudkannya.

Kedua, dengan memperkokoh posisi rakyat di hadapan pemerintah. Dalam mesin politik ketatanegaraan, rakyat merupakan komponen yang paling rentan dijadikan korban dalam proses pembangunan. Partai politik bisa eksis dalam suprastruktur politik karena dukungan rakyat. Sebagai imbal balik dari dukungan itu, partai politik harus menjadi agen yang berpihak pada rakyat agar tidak menjadi korban.

Ketiga, dengan berperan aktif mendidik masyarakat untuk bersama-sama membangun negara agar menjadi lebih baik. Negara yang baik adalah yang bebas korupsi, bebas dari ketidakadilan dan diskriminasi. Partai politik yang baik adalah yang ikut bersama-sama masyarakat memberantas korupsi, ketidakadilan, dan diskriminasi.

Keempat, dengan sepenuhnya menggunakan kekuasaan untuk memfungsikan negara sebagai pelindung warganya tanpa kecuali, serta memenuhi hak-hak asasinya. Salah satu eksistensi partai politik adalah pada saat ia berhasil meraih kekuasaan, baik di lembaga eksekutif maupun legislatif.

Harus digarisbawahi bahwa keberhasilan meraih kekuasaan itu sepenuhnya karena dukungan rakyat. Partai politik yang menjunjung tinggi akal sehat adalah yang memahami betul apa konsekuensi logis dari dukungan rakyat itu. Hubungan simbiosis mutualistis bisa dijadikan asas dalam merealisasikan fungsi negara dalam memenuhi hak-hak rakyat yang berada di wilayah kekuasaannya.

Rakyat adalah bagian yang tak terpisahkan dari negara. Tidak ada negara jika tidak ada rakyat. Logika bernegara seperti ini harus menjadi komitmen dari setiap partai politik. Menurut saya, inilah inti dari makna politik yang berpijak pada akal sehat.

Kolom terkait:

Membangun Partai Politik yang Adil dan Beradab

Mitos Pemilih Rasional di Antara Ahokers, Agusers, dan Aniesers

Politik Jalan Kebajikan

Perilaku Korupsi dan Politik Kebajikan

Menjaga Kewarasan di Era Pasca Kebenaran

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

Mencari Petunjuk Kekebalan Covid-19

Orang yang telah pulih dari Covid-19 mungkin khawatir tentang efek kesehatan yang masih ada, tetapi beberapa mungkin juga fokus pada apa yang mereka lihat...

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

“Islam Kaffah” yang Bagaimana?

Sebuah buletin baru “Buletin Dakwah Kaffah” terbit pada 18 Dzulqa’dah 1438 H/11 Agustus 2017. Judul “Islam Kaffah” mengingatkan kita kembali slogan Hizbut Tahrir Indonesia...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.