Sabtu, Maret 6, 2021

Pilpres 2019 Dimulai Saat Gubernur Jakarta Dilantik

Minister Susi Pudjiastuti and Fishy Politics: Time to Consider Complex Realities

Last week, Jakarta saw the demonstration of hundreds of fishermen under the Indonesian Fisherman Alliance demanding the reshuffling of Minister of Fisheries, Susi Pudjiastuti....

Hoaks Baik bagi Demokrasi? Tunggu Dulu!

“Ini adalah upaya untuk mematikan demokrasi,” begitu komentar Fadli Zon mengomentari pengungkapan the Family Muslim Cyber Army, jaringan di grup Whatsapp, yang selama ini menyusun,...

Berhentilah Menggunakan Kategori Pribumi!

  Awalnya, banyak yang mengira, termasuk saya, Anies Baswedan akan memberikan pidato perdananya sebagai Gubernur DKI Jakarta dengan mengajak rekonsiliasi kepada masyarakat Jakarta dan sebagian...

Pilkada 2018, Outsourcing Politik, dan Sakralisasi Figur

Salah satu diskursus penting yang perlu diulas dalam ingar-bingar dan centang-perenang gelaran Pilkada Serentak 2018 adalah soal sakralisasi figur. Partai politik berlomba-lomba menjadikan figur...
Eko Kuntadhi
Pegiat Media Sosial

Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo (kanan) memberikan ucapan selamat kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kiri) disaksikan Wakil Gubernur Sandiaga Uno saat pelantikan, di Istana Negara, Jakarta, Senin (16/10). ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Sepertinya pertarungan Pemilihan Presiden 2019 dimulai pada saat Anies Baswedan dan Sandiaga Uno usai dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta oleh Presiden Joko Widodo. Kita tahu pasangan Anies-Sandi dicalonkan oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Gerindra. Kedua partai ini memposisikan diri sebagai oposisi. Bahkan dalam banyak kasus terlihat sebagai oposisi yang nyinyir.

Tentu saja posisi gubernur di Ibu Kota merupakan posisi yang strategis. Lebih dari setengah perputaran ekonomi ada di Jakarta. Isu-isu yang berhembus dari Jakarta akan berdampak besar di seluruh Indonesia.

Inilah yang tampaknya bakal dimanfaatkan PKS dan Gerindra untuk meraih simpati juga menebarkan pengaruhnya. Lumayan, 2019 masih dua tahun lagi.

Jalannya adalah dengan memposisikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai antitesa dari kebijakan pemerintah pusat. Saya membayangkan akan banyak isu yang akan menyeruak, yang merupakan perdebatan kebijakan pemerintah pusat dan Pemprov Jakarta.

Di awal saja kita sudah merasakan kebijakan soal reklamasi Teluk Jakarta yang menjadi perdebatan. Pemerintah pusat punya wewenang hukum untuk melanjutkan. Sementara Anies-Sandi sesuai dengan janji kampanyenya menolak reklamasi pantai Jakarta. Keduanya punya argumen dan tentu saja punya kepentingan.

Penolakan reklamasi bisa saja diberikan pembobotan dengan jargon soal non-pribumi. Jargon ini, meskipun disangkal oleh Anies sebagai ujaran rasis, kita semua tahu dalam konteks apa kosakata pribumi disampaikan dalam pidato pertama Gubernur Jakarta di depan pendukungnya.

Isu pribumi merupakan titik yang paling sensitif dan emosional karena berkenaan dengan kesenjangan ekonomi yang menjadi masalah di semua wilayah di Indonesia. Sasaran tembaknya adalah WNI keturunan Tionghoa yang memang memiliki kemampuan finansial rata-rata jauh lebih baik dari rakyat kebanyakan.

Dalam politik, isu kesenjangan ekonomi adalah bahan baku yang sangat efektif untuk menarik dukungan massa. Dengan isu seperi ini, massa akan terikat lebih emosional. Di Jerman, rasa frustrasi publik karena ekonomi morat-marit akibat Perang Dunia I dimanfaatkan Hitler dengan baik. Kesenjangan dan kecemburuan sosial itu dibungkus dengan isu pribumi (keunggulan ras Aria). Dari sanalah dunia mengenal PD II yang mahadahsyat itu.

Karl Marx juga menggunakan kesenjangan sosial. Bedanya jika Marx menunjuk konflik kaum borjuis dan proletar sebagai pencetus revolusi sosial, di Indonesia makna borjuis itu bisa diartikan sebagai non-pribumi dan proletar itu bisa disejajarkan dengan pribumi. Setidaknya makna itulah yang terekam dalam benak publik waktu kita bicara soal pribumi dan non-pribumi.

Apalagi, di Indonesia ini, isu pribumi dipadukan dengan sentimen keislaman. Kita bisa bayangkan dampak yang akan dihasilkannya.

Masalahnya, soal kesenjangan ekonomi dan sosial ini memang menjadi fakta yang tidak terbantahkan. Kita semua tahu kesenjangan ini terjadi tidak tiba-tiba, tapi terbentuk sejak sekian lama, khususnya pada zaman Orde Baru. Tapi, toh sekarang pemerintahan dipegang Joko Widodo. Jika kita bicara soal kesenjangan sosial, telunjuk akan dengan mudah diarahkan kepada pemerintah pusat sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Apalagi sebelumnya sudah digembar gemborkan soal aseng-asing yang menguasai ekonomi Indonesia.

Tampak jelas ke mana arah kebijakan politik Pemprov Jakarta nanti. Di masa depan seluruh energi politik Anies diperkirakan akan diarahkan untuk menjadi kekuatan antagonis berhadapan dengan pemerintahan Jokowi.

Jadi, jangan kaget jika di masa-masa mendatang akan ada banyak isu yang memperhadap-hadapkan kebijakan pemerintahan pusat dengan Pemprov DKI. Diawali dengan masalah reklamasi, dibungkus dengan jargon “pribumi harus  menjadi tuan rumah dinegeri sendiri”, lalu persepsi soal jurang ekonomi dan sosial akan terbentuk. Jika ini terjadi, tentu yang paling kerepotan adalah Jokowi.

Jadi, kita tahu, partarungan Pilpres 2019 dimulai saat Gubernur Jakarta dilantik beberapa hari lalu.

Kolom terkait:

Omong Reklamasi Minus Politik

Emmy Hafild di Tengah Pusaran Polemik Reklamasi

“Pribumi” Anies, 2019, dan Politik Sentrifugal

Di Indonesia, Tak Ada yang Pribumi!

Menyembuhkan Luka: Melerai Dikotomi Pribumi-Nonpribumi

Eko Kuntadhi
Pegiat Media Sosial
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.