in

Pilgub Jawa Barat : Cagub Survei, Cagub Artis, dan Cagub Rakyat


Ridwan Kamil, Deddy Mizwar, dan Dedi Mulyadi [sumber: liputan6.com]

Genderang Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2018 sebenarnya sudah dimulai sejak Januari 2017. Rilis survei tiba-tiba saja bertalu, bunyi-bunyian itu menghentak dan menimbulkan tanya, gelaran apakah yang sebenarnya tengah berlangsung? Berita yang bertebaran awal tahun ini tersebut nyatanya telah menjadi pembuka bagi perjalanan panjang episode sinetron yang baru akan berakhir pada Juni 2018, tahun depan.

Episode pertama sinetron ini dibuka dengan lakon “Ridwan Kamil Cagub Kuat Hasil Survei”. Ini karena Indonesia Strategic Institute (INSTRAT) menempatkan Wali Kota Bandung tersebut sebagai jawara survei dalam rilisnya. Katanya, pria berkacamata ini memiliki basis kuat di daerah Priangan.

Sementara Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, yang lima tahun terakhir tidak pernah absen wara-wiri dalam iklan dan sinetron andalannya, ditempatkan di peringkat kedua raihan survei. Konon, basisnya sangat kuat di daerah Pantura.

Dedi Mulyadi menjadi nama yang menghiasi slot peringkat ketiga. Anehnya, nama ini disebut oleh mereka bukan karena penguasaan basis geopolitik Jawa Barat, melainkan karena karakternya yang dianggap merakyat.

Anehnya lagi, masih dalam survei yang mereka rilis, kriteria calon gubernur Jawa Barat yang merakyat ini justru menempati posisi nomor wahid. Tetapi dalam surveinya, bukan nama Dedi Mulyadi yang menduduki peringkat pertama.

Bola panas yang ditendang oleh INSTRAT, menurut hemat saya, sejatinya berasal dari Ridwan Kamil sendiri. Sebuah jejak digital yang sempat beredar di Twitter menyebutkan bahwa INSTRAT pernah mengawal dia untuk mengantarkan ke depan pintu gerbang kemenangan Pemilihan Wali Kota Bandung pada Tahun 2013 lalu.

Posisi INSTRAT sebagai lembaya survei bayaran yang mengurusi calon kepala daerah, mulai dari penggiringan opini sampai pembentukan relawan, pun tidak dibantah oleh mereka secara institusi.

Bahkan, dalam web resminya, mereka menyebut “Aktivitas yang dilakukan meliputi survey isu, survey politik (elektabilitas/popularitas), quick count, penyiapan konten kampanye, konsultasi branding, konsultasi media, pengorganisasian relawan. INSTRAT dapat bermitra dengan kandidat secara personal maupun partai politik pengusung kandidat tertentu” (instrat.or.id).

Sudah menjadi rahasia umum bahwa hasil survei memang seringkali digunakan oleh pihak berkepentingan untuk melakukan penggiringan opini secara massif. Korelasi antara konten rilis survei dengan media mainstream sudah seperti kumbang dengan bunga, mutualisme, saling menguntungkan dan sangat menyegarkan. Kebugaran bisa terbangun dalam diri keduanya.

Rumor politik yang dimainkan dalam media mainstream sudah seperti rumor transfer pemain antar klub sepak bola. Sangat menarik untuk diikuti oleh para pembaca, naskah yang dibuat pun berisi gosip dan propaganda yang menguatkan subjek-subjek yang bermain di dalamnya.

Baca Juga :   'Saya Memilih Pemimpin Yang Sering di Fitnah'

Soal validitas survei sendiri, hanya realitas waktu yang bisa mengujinya. Pemilihan Gubernur Jakarta awal tahun ini menjadi bukti nyata bahwa hasil survei terbantahkan oleh realitas. Belum lagi di Jawa Barat, sudah dua kali Pilkada Gubernur/Wakil Gubernur, dua kali pula lembaga survei kecele oleh hasil akhir, peringkat ketiga dalam hasil survei malah keluar sebagai pemenang dalam kontestasi lima tahuhan itu.

Kemudian, ramai-ramai para pakar berapologi dalam berbagai dialog Live Event TV Nasional, bahwa wilayah Jawa Barat ini kan luas, survei tidak bisa menjadi gambaran utuh, bahwa rakyat Jawa Barat ini kan tidak bisa ditebak, dinamika yang ada didalamnya naik dan turun dengan cepat, sama sekali tidak bisa diprediksi.

Aneka apologi semacam ini tidak pernah disampaikan oleh para pakar yang sekaligus menjabat Direktur Eksekutif Lembaga survei itu saat melakukan ekspose terhadap hasil surveinya di ballroom hotel-hotel berbintang.

Jelang survei dilakukan pun sebenarnya masyarakat mendapati fenomena yang sangat menggelikan. Rupa-rupa atribut klien berupa banner, spanduk, baliho, pamflet sampai sticker secara massif dipasang terlebih dahulu dalam wilayah yang hendak dijadikan sampling. Soal dipaku di batang pohon, itu bukan urusan, yang penting atributnya terpasang.


Tentu saja cara ini dalam rangka mempermudah surveyor yang mengolah sample untuk menggiring jawaban atas pertanyaan yang akan mereka ajukan. Anda kenal cagub ini? Menurut Anda bagaimana? Layakkah dia kalau memimpin Jawa Barat? Kalau pilgub dilaksanakan hari ini Anda akan pilih?

Berbahagialah cagub survei karena tidak perlu berpeluh keringat menempa diri untuk peningkatan konsolidasi massa bahkan partai politik. Semua terkondisikan atas nama rilis data survei yang diagungkan saat diekspose dan dicaci maki saat waktu membuktikan kebenaran dari ketidakbenaran.

Cagub Artis

Langkah Deddy Mizwar untuk tetap menjadi bintang iklan sebuah produk sekaligus bintang sinetron sebenarnya patut diapresiasi secara politik. Meski memang secara etika hal tersebut tentu saja mengundang perdebatan panjang karena tidak seluruh waktu artis senior itu digunakan untuk bekerja sebagai Wakil Gubernur. Sebagian digunakan untuk syuting.

Menyikapi psikologi masyarakat Indonesia pada umumnya dan Jawa Barat pada khususnya yang seringkali mudah “amnesia” terhadap isu bahkan tokoh, cara Deddy Mizwar sangat jitu untuk memelihara eksistensi popularitas yang dia miliki. Alhasil secara popularitas, dia masih di atas, statemennya masih dianggap memiliki news value, baik sebagai pribadi maupun dalam kapasitasnya sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat.

Baca Juga :   Pancasila di Tengah Gelombang Radikalisme Agama

Memang, kelelahan yang dia alami akibat melakoni dua pekerjaan sekaligus mengakibatkan seringkali Sang Naga Bonar itu gagal fokus. Misalnya, saat ditanya oleh awak media terkait penanganan musibah banjir di beberapa tempat di Jawa Barat. Ia lebih memilih mengajak warga untuk berdoa dan merenung.

Benar bahwa doa harus dilakukan oleh siapa pun, baik orang yang sedang terkena musibah ataupun tidak sedang terkena musibah. Tetapi dalam konteks dirinya sebagai pejabat publik, respons nyata berupa strategi untuk bergerak di lapangan sebagai bagian dari ikhtiar politik kebijakan tentu lebih dibutuhkan dibanding sekadar merenung atas dosa dan berdoa agar dosa yang mengakibatkan banjir tersebut.

Lagi pula, di sisi lain, terkait banjir ini belum jelas siapa yang berdosa, apakah karena begitu permisifnya pemerintah terhadap berbagai izin perambahan hutan, atau murni karena kesalahan warga yang tidak “berseka” dengan membuang sampah sembarangan ke sungai, atau boleh jadi karena keduanya.

Begitulah Deddy Mizwar, ceplas ceplos saat melontarkan statemen. Gaya ini tidak terlepas dari aura keartisan yang dia miliki. Bagi artis, hal yang biasa dalam melontarkan statemen di infotainmen, apa pun isunya, penting atau tidak penting, yang penting statemen.

Citra alim yang dia miliki pun sebenarnya tidak lahir dari olah spiritual sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Citra itu lahir dari berbagai peran yang dia lakonkan, mulai dari sinetron Lorong Waktu sampai Para Pencari Tuhan.

Berbekal ini, namanya terus disebut dalam berbagai survei, citranya melekat kuat dalam benak para pemirsa TV, terutama kalangan puritan perkotaan. Dalam konteks ini, basis massa Islam yang dimiliki oleh Deddy Mizwar, sebenarnya mirip dengan basis yang dimiliki oleh Ridwan Kamil, termasuk nama lain yang santer dibicarakan, yaitu Aa Gym.

Berbahagialah menjadi cagub artis, tidak perlu berpeluh repot konsolidasi, cukup terima job kontrak iklan dan sinetron. Uang didulang, citra didapat. Soal tugas dalam jabatan, biar staf yang bereskan.

Cagub Rakyat

Tahun 1990 silam, kedua cagub Jawa Barat yang saya sebut di atas entah sedang berada di mana dan boleh jadi masih apatis terhadap kehidupan politik. Ada seorang mahasiswa sekolah tinggi hukum di Purwakarta yang berlari membawa bendera Himpunan Mahasiswa Islam, ia mengkonsolidir massa aksi dan berorasi menyerukan penyelesaian berbagai isu sentral yang saat itu tengah mengemuka.

Baca Juga :   Soranganisme dan Heroisme Ridwan Kamil

Medio tahun 90-an dimanfaatkan betul oleh mahasiswa bertubuh kurus kerempeng itu untuk membangun berbagai basis, baik internal maupun eksternal, sosial maupun politik hingga basis kebudayaan. Dia juga bergerak dari satu panggung sastra ke panggung sastra yang lain, menyentil berbagai kebijakan pemerintah melalui deklamasi puisi yang dia bawakan.

Akhir tahun 90-an, tepatnya tahun 1999, buah konsolidasi itu mengantarkan dirinya menuju titik awal pergerakan politik dalam pemerintahan dengan menjadi anggota DPRD Purwakarta. Usia yang terbilang muda, yakni 28 tahun, tidak menjadikan dirinya kikuk memimpin sebuah komisi di gedung yang terkenal dengan sebutan “Gedung Putih” di Purwakarta itu.

Orang bertubuh kurus kerempeng itu adalah Dedi Mulyadi. Sejak dulu, gaya kampanye yang dia miliki sangat anti-mainstream. Saat seluruh kader kembali ke rumah masing-masing usai melaksanakan kampanye terbuka, dia lebih memilih untuk menginap di rumah warga. Ini dia lakukan untuk menyerap langsung hal-hal yang menjadi keinginan mereka.

Kebiasaan yang rutin dia jalani ini masih terus dilakukan sampai hari ini saat mengemban tugas sebagai Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat. Orang kemudian mencibir kebiasaan itu sebagai “pencitraan akut”. Baiklah, anggap saja itu pencitraan, pertanyaannya satu: adakah manusia yang sanggup melakukan pencitraan selama puluhan tahun?

Mereka yang baru melakukan pencitraan selama beberapa tahun saja sudah berhasil menjadi ikon-ikon pemuncak hasil survei berbagai lembaga. Kok, pencitraan puluhan tahun cuma ada di peringkat tiga saja? Mari jujur dan jawab dengan nurani masing-masing.

Melalui cara yang menurut orang dianggap sebagai “pencitraan” itu, Dedi Mulyadi terpilih sebagai Wakil Bupati Purwakarta pada tahun 2003. Tak hanya itu, cara ini juga berhasil mengantarkan dirinya memenangi dua Pilkada Purwakarta secara berturut-turut, tahun 2008 dan 2013. Dia terpilih menjadi Bupati Purwakarta.

Soal kinerja, terlalu panjang untuk mendeskripsikan hasil pembangunan yang sudah dia lakukan di Purwakarta. Intinya, dulu sebuah anekdot mengatakan “Purwakarta tidak ada dalam peta”, kini anekdot itu sudah usang adanya. Kampung terurus, kota tertata, singkatnya demikian.

Kasihan menjadi cagub rakyat, harus berpeluh keringat dan menjadi pendengar sekaligus menjadi pemberi solusi bagi permasalahan rakyat hingga tak sempat berfose ria dengan istri tercinta.

Kolom terkit:

Pak Ridwan Kamil, Jangan Melacur di Pilgub Jawa Barat!

Utak Atik Gatuk Pilgub Jabar

Dedi Mulyadi di Tengah Isu SARA


Written by Farid Farhan

Farid Farhan

Pegiat Pesantren dan Majelis Taklim

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR