Sabtu, Maret 6, 2021

Pesan dari Jakarta untuk Para Petahana

Mengapa Saya Ikut Simposium Tragedi 1965

Massa dari Front Pancasila melakukan aksi di depan Tugu Tani, Jakarta, Senin (18/4). Mereka menentang pelaksanaan Simposium Nasional bertema "Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan"...

Politik Kecebong

Kecebong semakin naik daun saja di ruang publik kita beberapa hari ini. Padahal, dipandang dari segi apa pun, nyaris tak ada yang menarik dari...

Menyikapi UU Ormas secara Proporsional

  Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 tahun 2017 tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 17 tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Perppu Ormas)...

Adakah Kesalehan Politik Politisi?

Sejenak agak berkurang mendapatkan berita hoax di media sosial, baik Whatsap, postingan Facebook, maupun kiriman short messenger yang bernada menghardik, membenci serta penuh amarah...
Avatar
Moh. Abdul Hakim
Kandidat Doktor Psikologi Politik, Massey University, New Zealand Dosen Psikologi Sosial & Politik, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok berjabat tangan dengan calon Gubernur DKI Anies Baswedan di Balai Kota, Jakarta, Kamis (20/4). Anies yang unggul dalam hitung cepat Pilkada DKI 2017 putaran kedua mendatangi Balai Kota menemui Ahok. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A.

Pemilihan Kepala Daerah Jakarta 2017 putaran kedua pada Rabu (19 April) membawa pesan penting untuk para calon kandidat petahana: jangan pernah mengusik kenyamanan psikologis para pemilih.

Bila kita kembali menengok peta elektoral Jakarta 5-6 bulan yang lalu, banyak orang yang yakin Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok akan menang dengan mudah. Bagaimana tidak, data dari beberapa lembaga survei terpercaya (seperti Poltracking, Populi Center, Indikator), semuanya menunjukkan tingkat elektabilitas Ahok yang jauh mengungguli calon lawan-lawannya. Bahkan dengan modal keunggulan ini, Ahok (dan Teman Ahok) terlihat berani memaksa” Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan beberapa partai lainnya untuk memberikan dukungan kepadanya.

Lalu, apa yang membuat peta elektoral Jakarta berubah drastis hanya dalam kurun waktu kurang dari 6 bulan?

Sebenarnya apabila dilihat dari segi kinerja sebagai Gubernur, para pemilih mengaku cukup puas dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh Ahok. Meskipun selama kepemimpinannya ada beberapa kebijakan yang menuai kontroversi, seperti relokasi warga bantaran sungai dan reklamasi, survei Indikator Politik Indonesia satu bulan sebelum Pilkada DKI putaran pertama menunjukkan tingkat kepuasan kinerja sebesar 74%, cukup tinggi untuk ukuran seorang petahana.

Sayangnya di samping pertimbangan-pertimbangan rasional, banyak sisi emosional yang turut menentukan preferensi pilihan pemilih. Kadang peristiwa yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan politik atau kinerja petahana justru memiliki pengaruh besar terhadap elektabiltas mereka.

Di dalam buku Democracy for Realists (2016), Christoper Achen dan Larry Bartels mengajukan satu contoh kasus yang menarik. Pada musim panas tahun 1916, warga di sepanjang pesisir pantai New Jersey, Amerika Serikat, mengalami ketakutan massal gara-gara serangan hiu. Akibat serangan tersebut, jumlah kunjungan turis menurun drastis sehingga mengganggu perekonomian warga setempat yang mengandalkan sektor pariwisata.

Kebetulan pada saat musim panas tersebut, Woodrow Wilson (Presiden AS ke-28) sedang mencoba untuk mempertahankan posisinya. Sebelum adanya serangan hiu, Presiden Wilson sebenarnya cukup populer di kalangan penduduk daerah pesisir New Jersey. Ia dan pemerintahannya juga sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengatasi musibah serangan hiu tersebut.

Tapi, bagaimanapun, serangan hiu merupakan peristiwa yang berada di luar kendali politik Presiden Wilson. Namun, warga setempat tampak tidak berpikir sejauh itu, dan cenderung menimpakan rasa kesal mereka kepada pemerintah. Dan, seperti yang dapat diprediksi, suara Woodrow Wilson di daerah tersebut terjun bebas. Kasus ini menggambarkan bagaimana emosi pemilih memiliki pengaruh kuat terhadap preferensi politik pemilih.

Dari sudut kalkulasi politik, seorang kandidat petahana sering disebut memiliki banyak keuntungan saat mencoba bertarung kembali di dalam ajang kontestasi politik. Namun, dari sudut pandang psikologi politik, posisi petahana juga mengandung banyak risiko elektoral yang sulit dikendalikan. Seperti yang diilustrasikan di dalam kasus Woodrow Wilson di atas, warga kebanyakan seringkali tidak mampu melakukan analisis situasi sosial-politik secara mendalam.

Menurut Teori Atribusi dari Freitz Heider (1958), setiap orang memiliki dorongan untuk mencari tahu penyebab dari peristiwa-peristiwa yang ia alami. Namun, alih-alih melakukan penalaran secara mendalam, menurut teori ini, kebanyakan orang cenderung terperangkap di dalam cara berfikir cepat (heuristic thinking), dan berakhir pada kesimpulan yang kurang tepat (attribution bias).

Di dalam proses penalaran cepat, sentimen-sentimen emosional memiliki pengaruh lebih kuat terhadap pilihan politik pemilih dibanding pertimbangan-pertimbangan rasional.
Nalar cepat para pemilih, secara psikologis, merupakan faktor risiko yang harus diperhitungkan oleh setiap kandidat petahana. Performa dalam menjalankan pemerintah tetap menjadi faktor penting. Namun, bila petahana tak mampu menjaga kedekatan psikologis dengan para pemilih, peristiwa buruk apa pun dapat dipersepsi oleh mereka sebagai kesalahan pihak petahana.

Dalam matematika politik, kinerja yang ditunjukkan oleh Ahok selama kurang lebih tiga tahun terakhir bisa saja membawanya kembali menduduki kursi DKI-1. Namun, Ahok (dan konsultan politiknya) sepertinya kurang peka terhadap sentiment-sentimen emosional warganya.

Sebagai masyarakat yang masih sangat kuat dipengaruhi oleh budaya Timur, sebagian besar masyarakat Jakarta terlihat kurang nyaman dengan berbagai macam kontroversi dan hiruk-pikuk yang selalu mengelilingi sosok gubernur mereka.

Rasa ketidaknyamanan para pemilih Jakarta semakin terakumulasi oleh keriuhan politik massif pasca tuduhan penistaan terhadap agama. Secara substansi, sebagian besar warga Jakarta mungkin bisa memaafkan Ahok. Survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia pada Desember 2016 menunjukkan 86% responden tahu Ahok sudah meminta maaf, dan 59% responden merasa bahwa permintaan tersebut tulus dan mereka bisa memaafkan.

Namun, bagaimanapun, keriuhan politik yang terjadi terus-menerus pada akhirnya juga mengganggu secara psikologis. Selain menciptakan ketegangan politik, aksi massa yang terjadi berulangkali juga mengganggu kenyamanan pemilih untuk menjalankan aktivitas mereka sehari-hari. Dan jika Ahok terpilih kembali sebagai gubernur, tidak ada jaminan bahwa keriuhan tersebut akan berhenti.

Persis dalam situasi inilah sebagian pemilih Jakarta mulai mengalami dualisme sikap: mengapresiasi kinerja Ahok di satu sisi, dan di sisi lain merasa terancam oleh segala macam keriuhan yang selalu diasosiasikan dengan tindakannya.

Dan hasil hitung cepat (quick count) Pilkada Jakarta putaran kedua yang baru lalu sepertinya mengafirmasi penelitian-penelitian psikologi politik sebelumnya: petahana seringkali menjadi korban para pemilih yang terusik kenyamanannya.

Avatar
Moh. Abdul Hakim
Kandidat Doktor Psikologi Politik, Massey University, New Zealand Dosen Psikologi Sosial & Politik, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.