OUR NETWORK

Partai Baru, Pemilu 2019, dan Kampanye Zaman Now

Dalam teori perilaku pemilih, modal popularitas saja tidak cukup. Setelah partai dikenal (popularitas), tugas berikutnya adalah bagaimana disukai (akseptabilitas) dan kemudian dipilih (elektabilitas). Bagaimana dengan partai-partai baru?

Kemunculan partai-partai baru dalam kontestasi Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 menarik untuk diulas. Dari 15 partai (termasuk Partai Bulan Bintang) yang dinyatakan lolos menjadi peserta Pemilu 2019, empat di antaranya adalah baru. Mereka adalah Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Persatuan Indonesia (Perindo), Partai Berkarya, dan Partai Gerakan Perubahan Indonesia (Garuda).

Dalam beberapa bulan terakhir, popularitas keempat partai tersebut meroket cukup tinggi. Tak hanya kemunculannya yang mencuri perhatian publik, para pendiri dan tokoh di dalamnya juga terdiri dari orang-orang yang sudah akrab dengan jepretan kamera.

Partai Solidaritas Indonesia salah satu contohnya. Didirikan oleh mantan jurnalis televisi, Grace Natalie, partai ini melesat tinggi popularitasnya. Selain diisi oleh para aktivis, artis, dan intelektual muda dari beragam bidang yang melek media sosial, PSI merupakan partai yang mengandalkan kreativitas sebagai modal terbesarnya.

Tak heran, model kampanyenya sangat kreatif dan cara melakukan komunikasi sangat gaul nan milenial. Dalam bertegur sapa, misalnya, PSI menggunakan panggilan “bro” untuk laki-laki dan panggilan “sis” bagi perempuan. Ini merupakan tradisi baru yang menonjolkan egalitarian dalam berpartai.

Dalam sebuah kesempatan, Grace mengatakan Partai Solidaritas Indonesia menawarkan gaya baru dalam berpolitik. Ceruk pemilih yang disasar adalah anak muda dan perempuan. Grace menilai anak muda dan perempuan selama ini dianggap kurang terwakili kepentingannya di dunia politik.

Tak hanya itu, salah satu magnet popularitas PSI adalah figur-figur di dalamnya. Tsamara Amany yang kerap menjadi “media darling” di media sosial, misalnya, juga menjadi pendongkrak popularitas partai. Begitu pula keberadaan Raja Juli Antoni yang sering tampil memukau di layar kaca, jurnalis Isyana Bagoes Oka, ataupun desainer internasional dari Bali Niluh Djelantik, sedikit banyak membantu popularitas PSI.

Apalagi di tengah suasana kebatinan bangsa yang pekat dengan kasus korupsi dan intolerasi, PSI mempu meyakinkan publik melalui penggalangan dana dari publik dengan mengeluarkan satu kartu bernama Kartu Sakti atau Solidaritas Antikorupsi dan Intoleransi. Ini jelas menambah bobot simpati publik terhadap partai.

Partai Persatuan Indonesia (Perindo) juga sama. Partai ini didirikan oleh pengusaha media, MNC Group, Hary Tanoesoedibyo. Ketokohan Hary Tanoe yang sudah malang melintang di dunia politik—mulai dari bergabung di Partai NasDem, Partai Hanura, dan kini mendirikan partai sendiri—merupakan model penting pengerek popularitas partai.

Di samping itu, salah satu upaya untuk menggenjot popularitas partai adalah lewat media, terutama televisi. Lewat jaringan MNC, media yang dimilikinya, iklan Partai Perindo hampir saban hari nongol di televisi.

Di saat yang sama, sikap Perindo yang awalnya kerap berseberangan dengan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla dan kini menyatakan dukungannya terhadap Jokowi dalam Pilpres 2019, bisa menjadi salah faktor yang mendatangkan popularitas partai.

Partai berikutnya adalah Partai Berkarya. Digagas oleh putra mantan Presiden RI Soeharto, Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto, partai ini mendadak booming. Memang, dari sisi simbol dan platform partai, Partai Berkarya mirip Partai Golkar. Tak heran sejumlah pengurus di dalamnya merupakan eks Partai Pohon Beringin itu.

Namun, terkait itu, Tommy mengatakan, Partai Berkarya bukan pecahan Partai Golkar. Partai Berkarya didirikan atas semangat berkarya zaman Orde Baru. Partai ini menjadikan figur Presiden Indonesia kedua Soeharto sebagai roh partai. Inilah yang membuat mengapa partai yang baru berdiri  tahun 2016 itu kini sudah cukup populer.

Terakhir adalah Partai Gerakan Perubahan Indonesia (Partai Garuda). Dideklarasikan pada 16 April 2015 dan dinakhodai Ahmad Ridha Sabana, partai ini terus bergerak melalui beragam jaringan di bawah. Lantaran pernah diterpa isu sebagai parpol berlatar belakang Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Garuda mendadak tenar di jagat media sejak kemunculannya. Apalagi, memang, sang nakhoda partai pernah berujar, “Partai ini mungkin belum pernah terdengar karena gerakan kami silent, kami enggak pengen gembar-gembor”.

Kata “gerakan kami silent” itu kemudian banyak ditafsir orang sebagai model gerakan PKI. Meskipun isu itu kemudian dibantah dan diklarifikasi, namun Partai Garuda sudah telanjur dibicarakan khalayak ramai. Ini tentu berdampak pada popularitas partai.

Kampanye Zaman Now

Tentu popularitas yang dimiliki keempat partai di atas merupakan modalitas dalam kontestasi Pemilu 2019 mendatang. Namun, dalam teori perilaku pemilih, modal popularitas saja tidak cukup. Setelah partai dikenal (popularitas), tugas berikutnya adalah bagaimana disukai (akseptabilitas) dan kemudian dipilih (elektabilitas).

Pasalnya, dikenal tidak lantas disukai. Dan disukai tidak otomatis dipilih. Itulah mengapa, misalnya, ada tokoh yang sangat dikenal oleh publik, namun rendah tingkat elektabilitasnya. Karenanya, tugas empat partai sekarang adalah bagaimana mampu membawa modal popularitas itu kepada akseptabilitas dan elektabilitas.

Tentu ini tidak mudah karena partai-partai baru akan bersaing dengan partai lawas yang sudah lama membangun kepercayaan kepada publik. Di saat yang sama, dari sisi ideologi dan platform, tidak ada disparitas yang tajam antara partai-partai baru dengan partai lama.

Karena itu, tugas partai baru dalam meningkatkan akseptabilitas dan elektabilitas ada dua. Pertama, menyuguhkan program/platform partai yang segar dan mampu menjawab tantangan zaman. Selain akan menjadi narasi perubahan yang ditawarkan kepada rakyat, program/platform partai merupakan pembeda partai baru dengan partai lama.

Ini juga sebagai penanda bahwa partai baru bukan “pembebek” partai lama. Partai-partai baru punya gagasan baru, solusi baru, cara berpartai yang baru, yang selama ini belum mampu disajikan oleh partai-partai lama.

Kedua, partai baru harus mampu menyuguhkan model kampanye zaman now. Secara praktis, wujud model kampanye zaman now adalah kampanye kreatif. Kampanye kreatif penting lantaran mampu menyajikan dua hal sekaligus: gagasan dan hiburan. Menyampaikan gagasan kepada masyarakat dengan bahasan ringan, kekinian, bahkan bisa membuat orang tersenyum.

Secara politik, ini penting untuk menyasar pemilih muda yang jumlahnya menurut Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Pemilu 2019 sekitar 70 hingga 80 juta dari total 193 juta pemilih.

Akhirnya, saya ucapkan selamat untuk partai-partai baru. Selamat berkompetisi dalam kontestasi Pemilu 2019. Dan selamat menjalankan kampanye zaman now.

Kolom terkait:

Partai Baru dan Bahaya Laten Orde Baru

Emilia Lisa, Tsamara Amany, dan Suara Politik Perempuan

Setelah Tsamara Membedah Fahri Hamzah

Politik Giring “Nidji” dan Kemudaan

Raja Juli Antoni, Partai Oposisi, dan Hoaks

Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…