in

Nyali Gus Yaqut


Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut), Ketua Umum GP Ansor.

Belakangan ini ada seorang pemuda yang menarik perhatian saya. Bukan karena parasnya atau jumlah followers yang banyak di Instagram, Facebook, dan Twitter. Tapi karena keberaniannya dalam mengambil sikap.

Yaqut Cholil Qoumas. Ya, dialah pemuda itu. Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor dan Panglima Tertinggi Banser Nahdlatul Ulama. Gus Yaqut, panggilan akrabnya, kini semakin lantang menyuarakan pentingnya menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di hadapan 1.300 Banser di Jawa Barat, 20 Agustus lalu, Gus Yaqut mengajak mereka untuk mengobarkan cintanya kepada Tanah Air.

“Jika hari ini ada kelompok-kelompok yang ingin mengganti, yang ingin meruntuhkan negara ini dengan mengganti menjadi bentuk negara lain, maka sebagai kader Ansor, kader Banser, dan kader Nahdlatul Ulama, kita harus siap berada di garda terdepan menyerahkan nyawa kita. Untuk negara yang kita cintai ini,” katanya.

Pernyataan Gus Yaqut ini tak lain dari bentuk hubbul wathan minal iman yang sering digaungkan oleh Nahdlatul Ulama. Hubbul wathan minal iman artinya cinta tanah air itu sebagian dari iman.

Saya semakin penasaran dengan sosok satu ini. Saya katakan pada diri saya sendiri, saya harus bertemu Gus Yaqut. Sampai akhirnya Senin kemarin (28/08), saya bertemu dengan pemuda pemberani satu ini.

Ketika baru masuk ke ruangan rapat GP Ansor, saya langsung merasa adem. Tulisan pertama yang saya baca di ruangan tersebut adalah: “Rumah Toleransi”. Di bawahnya, tertulis kata-kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib: “Dia yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan.”

Baca Juga :   Demokrasi Membutuhkan Toleransi

Memang, itulah yang saya rasakan di siang itu. Teman-teman dari berbagai latar belakang agama, suku, ras, dan etnis, yang peduli dengan perlawanan terhadap intoleransi, berkumpul. Di tempat inilah, sebagai manusia dan sesama makhluk Tuhan, kita bisa saling belajar, saling bertukar informasi, dan saling melindungi.

Ah, itu dia orangnya. Kesan awal saya, sepertinya sosoknya pendiam. Tapi ternyata, begitu berbicara, jawabannya lurus, tegas, dan tanpa basa-basi.

“Agama ada untuk mengendalikan keganasan manusia. Ketika agama dijadikan dalil untuk melakukan keganasan, maka kami tidak bisa diam,” kata Gus Yaqut dengan tegas. Saya bisa melihat ekspresi wajah teman-teman yang berada di ruangan seperti ingin mengatakan: cocok!

Langkah yang diambil Gus Yaqut dan GP Ansor tentu bukan tanpa risiko. Beberapa kali ancaman datang. Ancaman diserbu? Ancaman pembunuhan? Mungkin sudah jadi makanan sehari-hari. Sayangnya, mereka yang mengancam tak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Mereka pikir nyali Gus Yaqut dan Ansor gampang ciut seperti nyali mereka.

Gus Yaqut dan Ansor jalan terus tanpa peduli dengan ancaman. Mereka sudah siap mempertaruhkan segalanya demi Indonesia. “Kami tidak akan bergeser dari posisi kami saat ini. Apa pun taruhannya. Kami sudah tidak peduli lagi dengan risiko,” ujarnya dengan raut wajah serius.

Bagi Gus Yaqut, perjuangan melawan kelompok intoleran ini bukan sekadar perjuangan untuk Ansor, Banser, atau Nahdlatul Ulama saja. Ini perjuangan untuk segenap bangsa Indonesia. “Kalau negara ini jatuh ke tangan mereka, kita semua akan musnah di muka bumi.”

Baca Juga :   Dipaksa Menerima [Vonis Ahok], Sungguh, Hati ini Tak Bisa

Pemikiran Gus Yaqut ini masuk akal melihat apa yang kini terjadi di Suriah dan Irak. Indonesia tidak boleh menjadi daerah kekuasaan mereka. Karena itu, NKRI harga mati bukan sekadar jargon, tapi bentuk keseriusan GP Ansor menjaga Republik ini untuk generasi selanjutnya. “Bagaimana nasib cucu kita nanti?” kata Gus Yaqut.

Saya kemudian berjalan menyusuri kantor tersebut. Yang saya pikirkan hanya satu, organisasi pemuda Islam terbesar di Indonesia, tapi kantornya sangat sederhana. Tidak banyak peralatan canggih. Ruangan pengurusnya tidak begitu besar dan tak diisi barang-barang mewah juga. Bahkan ruangan Gus Yaqut sebagai ketua umum bisa dikatakan tidak besar. Yang lebih menarik, ruangan ini bisa dimasuki siapa pun.

Tidak ada keangkeran pada ruangan Ketua Umum GP Ansor. Hubungan antara Gus Yaqut dan kader-kader Ansor dan Banser begitu egaliter. Mereka terkesan seperti teman. Tak heran jika mereka memanggil sesama kader Ansor dengan sebutan “sahabat”.

Kader Ansor dan Banser juga tidak memiliki fasilitas berlebihan. Terkadang untuk posting di media sosial, misalnya, mereka sering sekali kehabisan kuota. Yang juga menarik, meski terkesan “garang” dengan seragam Banser tersebut, mereka adalah pribadi yang ramah dan suka guyon.

Kemudian saya berpikir. Mereka bukan kumpulan anak-anak orang berduit. Mereka tidak digaji. Tapi mereka berkumpul di sini. Mereka penuh dengan canda dan tawa. Tak penuh dengan marah-marah. Apa alasannya? Mengapa bisa?

Baca Juga :   Jum’atan Politik!

Cinta. Itulah alasan mereka berkumpul. Tak ada uang yang bisa membeli mereka. Karena, cinta kepada negeri inilah yang membuat mereka tetap berjuang, meski nyawa yang menjadi taruhannya.

Baca juga:

Jangan-jangan Kita Sendiri yang Intoleran?

Saya Islam, Saya Indonesia, Saya Pancasila!

Pancasila, Kawah Candradimuka, dan Anti Absolutisme


Written by Tsamara Amany

Tsamara Amany

Ketua Bidang Eksternal DPP PSI, Mahasiswi S1 Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, Pendiri LSM Perempuan Politik, Penulis buku "Curhat Perempuan: Tentang Jokowi, Ahok, dan Isu-isu Politik Kekinian".

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR