Rabu, Oktober 21, 2020

Musyawarah Para Kiai di Alas Roban

Konspirasi Politik Anak yang Membunuh Khalifah Al-Mutawakkil

Baik dan buruk, kesalehan dan kesalahan, serta kenikmatan dan tragedi berjalan berdampingan bersama Khalifah kesepuluh Dinasti Abbasiyah, Ja’far al-Mutawakkil ‘ala Allah. Sesuai gelar dalam...

Khalifah Harun Ar-Rasyid: Masa Keemasan Abbasiyah

  Sesaat setelah wafatnya Khalifah keempat Abbasiyah, Musa al-Hadi, maka adiknya yang bernama Harun, yang berusia 22 tahun, dibaiat sebagai khalifah. Inilah Khalifah Abbasiyah yang...

Rusaknya Payung Umat

Hari-hari belakangan ini gejala keretakan umat di negeri Indonesia tercinta ini kian mengkhawatirkan. Saling hina dan caci maki antar mereka seolah telah menjadi menu...

Emilia Lisa, Tsamara Amany, dan Suara Politik Perempuan

“Memang kita sebagai perempuan berbicara saja terkadang tidak didengar, apalagi kalau kita selalu diam. Maka katakan apa yang ingin kau katakan, akan tetapi tidak...
Avatar
Ali Romdhoni
Pengajar FAI Universitas Wahid Hasyim, Semarang. Saat ini sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China. Pengurus Cabang Istimewa NU Tiongkok.

Syahdan, lima kiai sepuh bersepakat bertemu di tengah-tengah Pulau Jawa. Pertemuan ini dirasa mendesak untuk segera dilakukan. Pasalnya, kondisi masyarakat di bumi Nusantara sudah sedemikian menderita, lelah, dan terpecah. Tiga ratus tahun sudah mereka hidup di bawah tekanan penjajah.

Alas Roban dipilih sebagai lokasi yang tepat untuk mengadakan pertemuan. Selain lokasinya berada di tengah-tengah Jawa, kondisinya yang berupa rimba raya akan mengaburkan mata perhatian penjajah Belanda, meski tetap saja mata-mata Belanda berhasil mengendusnya.

Bagi Anda yang belum familiar, Alas Roban terletak di jalur lingkar Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Berada di jalur utama Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah, jalan di Alas Roban curam dan berkelok. Hingga saat ini di kanan-kirinya terdapat pepohonan yang tinggi dan lebat.

Pada hari yang telah ditentukan, dari daerah Banten Kiai Haji Nawawi bergerak ke arah timur. Kiai Haji Khalil bertolak dari Pulau Madura menuju ke barat. Begitu pula Kiai Haji Shalih mendekat ke barat.

Sementara di titik yang dituju, di Alas Roban, sudah menunggu Kiai Haji Anwar dan Kiai Haji Abdul Karim. Maklum, sejak awal Kiai Anwar didaulat sebagai tuan rumah, karena asli orang Batang, Jawa Tengah. Sementara Kiai Abdul Karim bertempat tinggal di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah. Dengan demikian dia datang lebih awal.

Kelima kiai ini masing-masing memiliki kesamaan dan ikatan antara yang satu dengan lainnya.

Dalam tradisi keilmuan, semuanya lahir dan besar dalam pendidikan keislaman pesantren. Kota suci Mekkah sama-sama menjadi pelabuhan terakhir perjalanan intelektual mereka. Kelimanya juga pernah menetap di kota kelahiran Nabi itu, dalam waktu yang cukup lama. Bahkan Kiai Nawawi menetap di Mekkah hingga akhir hayat.

Sebagai intelektual Muslim yang mengagungkan sistem transmisi keilmuan, atau ketersambungan antara pengajar dan murid yang bermuara pada Kanjeng Nabi Muhammad, bisa dipastikan mereka berkerabat. Artinya, sangat dimungkinkan mereka murid dari satu tokoh, atau cucu murid dari tokoh yang sama. Kemungkinan lain, salah satu dari mereka adalah guru atau murid dari lainnya.

Dan, memang benar. Kelak, tiga dari lima kiai itu menjadi guru dari mahaguru kiai-kiai pondok pesantren di Pulau Jawa, yaitu Kiai Haji Hasyim Asy’ari Jombang. Ketiga kiai itu tidak lain adalah Syekh Nawawi (Banten), Kiai Khalil Bangkalan (Madura), dan Kiai Shalih Darat (Semarang).

Satu lagi kesamaan yang mereka miliki. Meskipun telah menjadi tokoh yang memiliki reputasi hingga ke mancanegara, hati dan pikiran mereka tetap terikat di bumi pertiwi. Air mata dan kasih sayang mereka dicurahkan untuk bangsa Indonesia.

Kelima kiai ini akhirnya bertemu di Alas Roban. Mereka bermusyawarah, mencari jalan keluar agar rakyat Indonesia bisa terbebas dari penderitaan. Kepada para santri, mereka bersepakat mengajarkan kedaulatan berfikir dan kesanggupan untuk berjuang melawan kezaliman.

Di ujung pertemuan, mereka bersama para santri berdoa, memohon kepada Tuhan agar diberikan jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Dari kejauhan, doa-doa yang dilantunkan para kiai dan santri itu terdengar bergemuruh.

Telik sandi Belanda akhirnya bisa menemukan keberadaan mereka. Sumber suara dilacak hingga ketemu. Namun ketika sudah semakin dekat, telik sandi menjadi bingung, karena hanya mendapatkan orang-orang yang duduk bersama menghadap ke arah barat sambil bersuara ha-hu, ha-hu, ha-hu, ha-hu.

Rupanya, saat itu doa-doa yang sedang dilafalkan (dibaca) adalah surah Al-Ikhlas. Karena tidak mengenali bacaannya, telinga si telik sandi tadi hanya menangkap suara ha-hu, ha-hu, ha-hu, ha-hu. Akhirnya, telik sandi berkesimpulan tidak melihat tanda-tanda adanya pasukan atau perkumpulan orang yang mau merencanakan perlawanan.

Kelak, lima hingga enam puluh tahunan kemudian (1945), doa kiai-kiai yang juga menjadi doa dari seluruh rakyat Indonesia ini terwujud. Bangsa Indonesia merdeka.
Peristiwa di atas terjadi pada akhir tahun 1800-an. Saya menerima kisah ini dari figur kharismatik Kiai Haji Dimyati Rois, pengasuh pesantren Al-Fadlu wal Fadilah, Kaliwungu, Kendal, pada pertengahan Februari 2017.

Dari kisah di atas kita menjadi mengerti, begitu besar dan tulus rasa cinta para ulama terhadap bangsanya, Indonesia. Tidak hanya memberikan contoh kepada kaum muda, bagaimana menjadi pribadi yang berdaulat dalam berfikir dan bersikap. Lebih dari itu, para ulama juga mengupayakan lahirnya perubahan secara spiritual. Hal ini sekaligus menjadi ciri khas perjuangan para kekasih Tuhan itu.

Maka, tidak aneh, ketika hari ini terdapat sekelompok orang yang berusaha mengganggu keutuhan NKRI, kaum santri tampil ke muka. Baik secara personal maupun melalui wadah organisasi sosial kemasyarakatan seperti Nahdlatul Ulama (NU). Baik melalui penyampaian argumentasi, maupun keberadaan barisan kaum muda yang siap membentengi negeri, seperti GP Ansor dan Bansernya.

Mengapa demikian? Ya, karena sejak awal nenek moyang dan para gurunya telah menanamkan sikap cinta kepada rakyat dan bangsanya.

Sikap kaum Nahdliyin yang demikian tidak sedang pencitraan atau berperilaku palsu. Tetapi, memang demikian adanya. Sebagaimana para pendahulunya, cinta kaum santri kepada negaranya begitu besar dan serius.

Kepada saya, Mbah Dim (demikian masyarakat luas mengenal Kiai Haji Dimyati Rois) juga menasihatkan bahwa bangsa Indonesia membutuhkan persatuan dari seluruh elemen bangsa, bila ingin berjaya di masa depan.

“…Jauh sebelum Indonesia merdeka, di bumi Nusantara sudah ada orang-orang yang hebat yang memiliki kecerdasan, kedigdayaan dan juga keunggulan dalam menyelenggarakan pemerintahan. Namun, kaum penjajah juga jauh lebih cerdik dalam memecah-belah elemen yang dimiliki bangsa ini,” jelas Mbah Dim.

Memperhatikan hal ini, saya mengajak kepada kaum muda Indonesia agar lebih hati-hati dan cermat dalam membaca situasi terkini. Lebih dari itu, kita harus bersatu dalam membangun negara Indonesia yang kaya raya ini. Sekali lagi, jangan mau dipecah-belah.

Baca juga:

Mari Gus, Rebut Kembali!

Dalam NKRI Tak Ada Orang Kafir!

Jangan-jangan Kita Sendiri yang Intoleran?

Keluarga Kita dan Rumah yang Retak

Avatar
Ali Romdhoni
Pengajar FAI Universitas Wahid Hasyim, Semarang. Saat ini sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China. Pengurus Cabang Istimewa NU Tiongkok.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Flu Indonesia

“Indonesia sedang sakit, tapi cuma flu biasa....” Di pojok gemerlapnya kota metropolitan, jauh dari bising suara knalpot kendaraan, dan bingar-bingar musik dugem, tentu ada masyarakat...

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Jangan Bully Ustazah Nani Handayani

Ya, jangan lagi mem-bully Ustazah Nani Handayani “hanya” karena dia salah menulis ayat Al-Qur’an dan tak fasih membacakannya (dalam pengajian “Syiar Kemuliaan” di MetroTV...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.