OUR NETWORK

Mitos Pemilih Rasional di Antara Ahokers, Agusers, dan Aniesers

3paslon
Ahok-Djarot, Anies-Sandiaga, Agus-Sylvi [sumber: kompasiana.com]
Debat calon gubernur dan calon wakil gubernur DKI Jakarta yang disiarkan televisi dipastikan disaksikan banyak orang, termasuk dan terutama calon pemilih Jakarta. Sejauhmana dampak debat calon gubernur tersebut bagi pemilih? Apakah performa para calon gubernur dalam debat itu akan mempengaruhi preferensi dan pilihan penduduk Jakarta? Sulit menjawab pertanyaan tersebut secara statistik karena tidak tersedia data yang memadai.

 

Di Indonesia, tradisi debat calon gubernur (dan juga presiden) yang disiarkan secara live di TV merupakan fenomena baru, seiring dengan diberlakukannya pemilihan langsung. Di negara dengan demokrasi mapan, seperti Amerika Serikat, siaran debat presiden dan gubernur telah menjadi tradisi. Debat calon presiden yang disiarkan radio dimulia sejak 1948 antara Thomas Dewey dan Harold Stassen. Namun, debat presiden yang disiarkan TV baru terjadi tahun 1960 yang melibatkan Richard Nixon dan John Kennedy.

Saat ini, debat presiden dan gubernur yang disiarkan TV sudah umum dilakukan di sejumlah negara, seperti Australia, Kanada, Jerman, Israel, Korea, dan banyak lagi. Juga, sudah banyak penelitian dilakukan untuk mengukur tingkat pengaruh debat terhadap para pemilih, apa yang ingin diketahui para pemilih dari debat. Biasanya debat pertama selalu disaksikan oleh lebih banyak pemirsa dibandingkan debat-debat berikutnya.

Karena keterbatasan data statistik untuk mengukur efektivitas debat calon gubernur DKI, maka tulisan ini lebih didasarkan pada analisis teoritis dan sejumlah penelitian yang dilakukan di Amerika.

Dampak Debat

Debat calon gubernur yang disiarkan TV memang menjadi sumber informasi bagi pemilih (voters) untuk mengetahui posisi para calon dalam berbagai isu yang menjadi perhatian, atau berdampak langsung pada, mereka. Di atas panggung debat, para calon gubernur disandingkan bersama untuk mendiskusikan kurang-lebih masalah yang sama, yang akan membantu pemilih membanding-bandingkan pilihan yang tersedia bagi mereka. Pada akhirnya, debat tersebut akan membantu pemilih dalam membuat keputusan pada hari pencoblosan.

Jadi, secara teoritis, menyaksikan debat calon gubernur akan meningkatkan pengetahuan tentang posisi calon gubernur terhadap isu-isu tertentu. Para pemilih bisa menimbang-nimbang isu yang paling menjadi parhatian mereka, dan karenanya debat tersebut–secara hipotetikal–akan mempengaruhi preferensi calon pemilih terhadap calon gubernur tertentu. Dengan kata lain, menyaksikan debat calon gubernur akan mempengaruhi pilihan suara.

Berbagai penelitian di Amerika menyebutkan, debat calon presiden memang berhasil meningkatkan pengetahuan pemilih terhadap posisi para calon presiden dalam berbagai isu. Pemilih juga bisa lebih mengenal watak dan karakter sang calon, termasuk juga prioritas agenda dan kebijakan bagi negara yang kelak akan dipimpinnya.

Yang menjadi teka-teki bagi para peneliti ialah dampak debat terhadap para pemilih yang ternyata tidak sebesar yang kita bayangkan. Sebelum diskusikan dampak debat lebih lanjut, perlu segera disebutkan bahwa yang kemungkinan mempengaruhi pemilih bukan hanya debat para calon, tapi juga komentar-komentar para pengamat di TV. Di Amerika, tak jarang TV tertentu mendeklarasikan siapa pemenang debat.

Biasanya debat atas debat calon presiden atau calon gubernur terus berlangsung setelah debat yang sebenarnya usai. Ini bisa terjadi berhari-hari hingga saat debat berikutnya. Jadi, kita dapat berasumsi bahwa debat dan atensi media pasca debat akan mempengaruhi preferensi dan pilihan para pemilik suara (voters).

Kenyataannya, seperti disebutkan oleh Jamierson dan Birdsell dalam Televised Election Debates (1988), debat yang disiarkan TV tidak mampu mengubah pendirian orang yang sudah punya afiliasi politik. Misalnya, setelah menyaksikan debat, Ahokers tak akan kemudian memilih Agus Yudhoyono atau Anies Baswedan. Demikian juga Agusers dan Aniesers. Pokoknya, mereka tak akan pindah ke lain hati, apalagi body hanya gegara nonton debat calon gubernur.

Bagaimana dengan calon pemilih non-partisan? Lagi-lagi, tak ada data memadai seberapa besar pemilih independen di Jakarta khususnya atau di Indonesia secara umum. Menurut penelitian Gallup, di Amerika pada tahun 2000, pemilih yang mengaku independen sebesar 38%, sementara yang mengidentifikasi diri sebagai Demokrat 34% dan Republik 28%.

Menarik dicatat, ternyata kurang dari 10% dari pemilih yang menjatuhkan pilihan karena informasi yang diperolah dari nonton debat di TV. Supaya bersikap adil, sumber informasi tentang posisi calon presiden atau calon gubernur bukan hanya TV. Secara umum, walaupun tingkat partisipasi dalam pemilihan rendah, masyarakat Amerika sangat engaged dengan politik elektoral. Mereka membaca koran dan berdebat bahkan hingga di sekitar meja makan.

Rasionalitas Pemilih?

Banyak pemilih independen menjatuhkan pilihannya pada detik-detik terakhir sebelum hari pencoblosan. Ketika ditanya sehari setelah nonton debat di TV apakah debat calon make up their minds, mereka umumnya menjawab tidak.

Sungguh pun demikian, saya tidak ingin mengesankan bahwa debat calon gubernur tidak banyak manfaatnya. Selain menambah pengetahuan para calon pemilih tentang kebijakan dan posisi calon gubernur terhadap isu tertentu, debat tersebut juga memantapkan pilihan mereka. Tidak lagi beli kucing dalam karung. Mereka menjadi pemilih yang informed, dan karenanya menyadari konsekuensi dari pilihannya.

Hanya saja, fungsi debat calon gubernur yang “memantapkan pilihan” tidak selalu berujung pada pilihan rasional. Pemilih yang merasa mantap dengan calon pilihannya berdasar informasi dan pengetahuan memadai (informed) tidak dengan sendirinya disebut pemilih rasional. Pilihan rasional (rational voting) menuntut bahwa pemilih menentukan pilihan calon berdasarkan posisi calon gubernur terhadap isu tertentu.

Coba renungkan kasus berikut. Terlepas apa yang dikatakan Donald Trump tentang perempuan, ternyata banyak perempuan dan pejuang kesetaraan gender yang memutuskan mendukung dan memilih Trump. Kenapa? Karena mereka memang akan memilih Trump dan debat calon presiden hanya memantapkan pilihan mereka saja.

Ini juga bisa menjelaskan sikap pilihan beberapa kawan di Tanah Air. Sejumlah orang cukup dikenal karena penolakan kerasnya terhadap Undang-undang penodaan agama, bahkan terlibat dalam gerakan anti diskriminasi berdasarkan agama. Tapi karena pilihan calon gubernurnya bukan Ahok, mereka tidak sungkan menggunakan isu agama, termasuk soal tuduhan penistaan agama, untuk membendung laju calon gubernur Ahok. Apakah ini pilihan rasional? Tidak.

Mengikuti argumen Bryan Caplan dalam The Myth of the Rational Voter (2007), barangkali apa yang kita sebut sebagai “pemilih rasional” itu memang mitos belaka.

Argumen Caplan tak bisa digunakan untuk menjelaskan kenapa Ahokers akan tetap memilih Ahok dan kenapa non-Ahokers akan memanfaatkan segala cara untuk menjegalnnya, termasuk dengan isu penistaan agama yang bertentangan dengan prinsip dan keyakinan mereka. Pilihan politik mereka telah memisahkan keduanya. Mereka adalah orang-orang baik (righteous minds) yang dipisahkan oleh politik.

Barangkali Jonathan Haidt bisa menjelaskan fenomena di atas. Dalam The Righteous Mind: Why Good People Are Divided by Politics and Religion (2012), Haidt berargumen bahwa orang menjatuhkan pilihannya dahulu baru kemudian mencari-cari alasan pembenaran. Dia sejalan dengan argumen provokatif David Hume yang menyebutkan bahwa penalaran tak lebih dari a process of post hoc rationalization of the intuitive judgments.

Para calon pemilih memang akan terus mencari pembenaran atas pilihan mereka, walaupun tak berarti menjadi pemilih rasional. Dan debat calon gubernur pun tak akan berhasil mengubah mereka, kecuali memantapkan pilihannya saja.

Mun'im Sirry
Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, USA, Owner KEPITING++. Beberapa karyanya: "Islam Revisionis: Kontestasi Agama Zaman Radikal" (Suka Press, 2018), "Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformis atas Kritik Al-Quran terhadap Agama Lain" (Gramedia, 2013), "Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis" (Mizan, 2015), dan "Scriptural Polemics: The Qur’an and Other Religions" (Oxford University Press, 2014).

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…