Minggu, Maret 7, 2021

Meraih Kemenangan dengan Adil dan Beradab

Belajar Melupakan Jakarta

Visi Mahathir Mohamad sudah cukup menjadi alasan. Negeri Jiran Malaysia memindahkan Ibu Kota Negara, dari Kuala Lumpur ke Putrajaya. Persis pada 19 Oktober 1995,...

Neo-Khawarij, Habib Rizieq, dan Masyarakat Sipil

Maraknya penggunaan tekanan massa untuk tujuan politik tertentu belakangan ini—mulai dari kasus Ahok yang telah melewati beberapa episode sampai unjuk gigi kerumunan orang yang suka...

Pidato Penting Presiden Kita

Semalam saya sangat berbesar hati menyimak pidato Presiden Joko Widodo yang tidak biasa. Di depan lebih dari seratus ribu hadirin yang memadati Stadion Utama...

Video HTI, Organisasi Islam, dan Produk Intelijen

Netizen dihebohkan oleh video Gema Pembebasan yang diklaim oleh mahasiswa Universitas Indonesia (UI) pro-Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Dalam video itu, mahasiswa tersebut membawa retorika...

Tak salah para pendiri bangsa ini meletakkan dua kata, adil dan keadilan, dalam Pancasila. “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, serta “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.” Yang pertama (sila kedua) menjadi upaya yang harus dilakukan, terutama oleh siapa pun yang menjadi pemimpin. Dan yang kedua (sila kelima) menjadi tujuan dari setiap upaya yang dilakukan itu.

Kemanusiaan merupakan titik sentral dari upaya setiap manusia untuk kesempurnaan dirinya. Yang menjadi masalah, tidak semua manusia mampu melihat kesempurnaan itu, meskipun pada dasarnya pada diri setiap manusia punya potensi untuk menjadi sempurna. Disebabkan karena dalam diri manusia juga terdapat potensi yang menyimpang, yang selalu mendorong naluri, hasrat, bahkan rasio untuk melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan kesempurnaan.

Dua kecenderungan inilah yang bertarung dalam diri setiap manusia. Tatkala potensi menyimpang yang lebih unggul, maka pada saat itulah manusia cenderung berbuat jahat dalam beragam ekspresi berkelindan dengan minat dan profesinya. Tidak ada yang bisa menghindar, termasuk yang berprofesi “mulia” dalam pandangan sesama manusia. Maka, “kemuliaan” akan  menjadi semacam kamuflase belaka.

Sebaliknya, pada saat potensi kesempurnaan yang lebih unggul, maka manusia akan mewujud seperti malaikat yang selalu cenderung berbuat baik, dalam beragam bentuk mengikuti minat dan profesinya. Juga tidak bisa menghindar walaupun berprofesi “buruk” sekalipun. Mungkin, Robin Hood masuk dalam kategori ini.

Ibarat bandul jam yang terus mengayun sepanjang jam masih hidup, dua kecenderungan itu pun terus-menerus saling mengalahkan secara bergantian.

Untuk menjaga keseimbangan agar tidak saling mengalahkan dibutuhkan tautan berupa “adil” yang dengan tautan ini manusia bisa merujuk. Barang siapa yang mampu menjaga keseimbangan antara keduanya, maka dialah yang disebut adil pada dirinya sendiri. Jika seseorang sudah adil pada dirinya sendiri, maka hampir bisa dipastikan ia juga akan adil pada orang lain.

Dengan demikian, adil pada diri sendiri menjadi kunci yang membuka keadilan sosial, yakni keadilan yang melingkupi semua aspek kehidupan, dalam politik, ekonomi, hukum, dan sebagainya, termasuk pada lingkungan alam yang ada di sekitarnya.

Ada pepatah yang mengatakan, “khairul umuri ausathuha” (yang paling baik dari segala persoalan adalah jalan tengahnya). Untuk menempuh jalan tengah bukan perkara yang gampang. Ada keserakahan dan ambisi yang terus menggoda dan menyeret manusia pada ketidakadilan.

Di arena politik, menegakkan keadilan semakin sulit karena ada ambisi berkuasa dan menguasai/menundukkan orang lain. Ambisi berkuasa bisa menghinggapi siapa pun, apa pun profesinya, termasuk menghinggapi tokoh agama yang di mata manusia dianggap sebagai profesi “mulia”.

Dari sinilah sebenarnya kita bisa memahami “kegalauan” Presiden Joko Widodo (Jokowi) hingga ia berpendapat, jangan campur adukkan politik dan agama, atau politik harus dipisahkan dari agama. Karena terdapat kecenderungan kamuflase. Profesi “mulia” dijadikan alat untuk meraih kekuasaan, entah untuk dirinya sendiri atau orang lain. Yang dikecam Jokowi sejatinya menjadikan agama sebagai kamuflase untuk menutupi ambisi berkuasa.

Yang mengecam (membully) Jokowi juga bisa kita pahami. Ada dua kemungkinan, karena ketidakpahaman, atau merasa tersinggung karena Jokowi telah membuka kedok dirinya, atau kedok orang yang didukungnya untuk meraih kekuasaan.

Ambisi berkuasa secara generik sejatinya bukanlah kejahatan, karena untuk meraih ambisi bisa dilakukan secara beradab, yakni dengan berpedoman pada norma dan etika politik. Norma mewujud dalam bentuk undang-undang dan aturan main. Etika dalam bentuk kepatutan dan kepantasan.

Norma dan etika tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Norma tanpa etika bisa diakali (dibuat legal, meskipun akal-akalan). Etika tanpa norma bisa menjadi kamuflase. Kampanye di tempat-tempat ibadah, misalnya, meskipun dilakukan dengan penuh sopan santun dan untaian kata hikmah yang lemah lembut, merupakan wujud nyata dari kamuflase. Di permukaan tampak etis tapi pada hakikatnya melanggar norma.

Bahkan kecenderungan kuat menjadikan agama sebagai alat politik juga banyak terjadi di tempat-tempat ibadah. Firman Tuhan dan sabda Nabi ditafsirkan sesuai kepentingan politik. Ini bukan penistaan terhadap firman Tuhan atau sabda Nabi, tapi peringatan, atau lebih tepatnya sindiran kepada mereka (siapa pun dia) yang menjadikan “pesan-pesan moral agama” sebagai komoditas politik.

Mari merenung sejenak, betapa pentingnya keadilan, betapa pentingnya keseimbangan. Menempatkan sesuatu pada tempatnya (tidak dicampur aduk), dan melakukan sesuatu sesuai proporsinya, itulah keadilan.

Dalam berpolitik, apakah cara-cara yang adil dan proporsional ini bisa dilakukan? Tentu saja bisa, meskipun tidak mudah. Bukankah kita punya kata mutiara seperti “menang tanpa ngasorake”, yakni kemenangan yang ditempuh secara adil dan beradab, tanpa harus dengan merendahkan, menghina, dan menista lawannya.

Kemenangan yang diraih tanpa keadilan dan keadaban akan menjadi malapetaka, baik bagi diri sang pemenang maupun segenap rakyat yang akan dikuasainya.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.