OUR NETWORK

Menumbuhkan Kesadaran Politik “Menjunjung Langit”

Berlindung di balik kebebasan berekspresi, memang ada sejumlah politikus yang mengampanyekan pentingnya mengembalikan kejayaan khilafah Islamiyah. Siapa mereka?

Ada pepatah mengatakan, “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”. Kita harus menghormati budaya masyarakat yang berkembang di mana pun kita berada. Karena setiap budaya yang berkembang pada dasarnya merupakan ekspresi dari nilai-nilai keyakinan yang sudah mendarah daging, maka nilai-nilai itulah yang harus menjadi rujukan awal dalam setiap langkah di mana pun kita berada.

Sebelum dirumuskan dalam Pancasila, lima nilai dasar yang terkandung di dalamnya sudah hidup dan berkembang dalam masyarakat Indonesia. Pancasila, dengan demikian, bukan nilai baru yang jatuh begitu saja dari langit tanpa pijakan historis. Dari sila pertama hingga kelima, secara faktual sudah ada dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat nusantara (sebelum menjadi Indonesia).


Pancasila bukan semata-mata dirumuskan, tapi merupakan bentuk kristalisasi dari nilai-nilai yang sudah berkembang yang kemudian ditekstualisasikan. Teks Pancasila, dengan demikian, mewakili suluruh keyakinan, nilai-nilai, dan bahkan kepentingan yang ada di Indonesia. Pancasila menjadi meeting dan melting point dari seluruh aspirasi masyarakat Indonesia.

Politik “menjunjung langit” yang dimaksud dalam tulisan ini adalah politik yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila. Politik semacam ini penting diarusutamakan mengingat sudah terlampau banyak contoh gerakan, atau sekadar aktivitas–seperti diskusi atau yang semacamnya–yang mencoba menggagas politik di luar bingkai Pancasila.

Di era keterbukaan seperti sekarang, tidak ada yang bisa melarang kegiatan semacam itu. Tapi jika dibiarkan bisa menjadi duri dalam daging. Lama-lama bisa menjadi gerakan yang membesar dan terus-menerus menjadi ajang propaganda anti-Pancasila. Awalnya mungkin cuma oposan pemerintah, lama-kelamaan akan menjadi oposan Pancasila.

Gerakan anti-Pancasila menjadi sulit dihentikan apabila, pertama, menggunakan narasi yang seolah-olah pro-Pancasila, misalnya dengan mengambil tema agama tertentu yang disertai dengan pengungkapan sejarah tokoh-tokohnya yang berperan besar dalam proses nation building atau ikut mengambil keputusan dalam menetapkan Pancasila sebagai dasar negara.

Tentu saja kita tak bisa menolak peran besar tokoh-tokoh agama, tapi apakah sama karakter tokoh agama saat itu dengan oknum tokoh agama saat ini yang aktif mempropagandakan kebencian terhadap siapa pun yang tidak seagama, atau bahkan sekadar tidak semazhab dengan dirinya?

Saya sebut oknum karena hanya sebagian kecil saja tokoh agama yang anti-Pancasila. Tapi yang kecil itu jika tidak disadarkan bisa berpotensi menjadi besar. Apalagi jika yang kecil itu terus-menerus bersuara lantang seolah-olah mewakili kepentingan banyak orang.

Kedua, yang juga sulit dihentikan adalah pada saat gerakan anti-Pancasila dipelopori partai politik atau aktivis-aktivis partai politik yang memiliki basis dukungan di komunitas dan konstituennya. Dengan berlindung di balik kebebasan berekspresi, memang ada sejumlah politikus yang mengampanyekan pentingnya mengembalikan kejayaan khilafah Islamiyah.

Mereka ini seperti pengembara yang tidak berpijak di bumi, buta akan realitas objektif sehingga gagal memahami apa yang sesungguhnya dibutuhkan segenap rakyat Indonesia. Pada setiap masalah, solusinya khilafah, dengan iming-iming surga bagi siapa pun yang ikut menyebarluaskannya.

Surga seolah menjadi barang dagangan yang bisa dijual-belikan. Dan barang siapa yang tidak membeli dagangannya, balasannya pasti neraka. Maka, semua aktivitas ibadah dijadikan komoditas untuk kepentingan politik yang dipropagandakannya.


Ibadah merupakan aktivitas mulia. Janganlah aktivitas yang mulia ini dicemari dengan kepentingan politik yang tidak jelas arahnya, yang menawarkan mimpi kebahagiaan semu tanpa batas. Bagi siapa pun yang belajar agama dengan benar, tentu sangat mudah membedakan mana bentuk ibadah yang sesungguhnya, yang dijalankan dengan ikhlas karena Allah, atau ibadah sebagai bentuk propaganda politik yang bertujuan mengubah dasar negara, atau setidaknya mendelegitimasi Pancasila sebagai dasar negara.

Dan, yang tidak kalah memprihatinkan adalah tersebarnya propaganda politik anti-Pancasila melalui media sosial yang secara terang-terangan dan massif melalui akun-akun yang tampak terorganisasi dengan baik tapi dengan menggunakan nama-nama samaran yang tidak mudah diidentifikasi. Narasi Islam sebagai agama yang terancam disuarakan terus-menerus sehingga banyak orang percaya dan siap berperang melawan siapa pun yang diidentifikasi sebagai lawan.

Mencermati fenomena semacam ini, kiranya sangat mendesak untuk menempuh langkah-langkah strategis dan taktis guna menguatkan ideologi Pancasila. Keberadaan UKP-PIP (Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila) menjadi sangat vital untuk terus menerus menyebarluaskan pemahaman Pancasila yang konstruktif bagi segenap warga negara.

UKP-PIP harus menang dalam kompetisi penyebaran nilai-nilai Pancasila berhadapan dengan pihak-pihak yang berupaya mendelegitimasinya dengan berlindung di balik kemuliaan nilai-nilai agama. Kesadaran akan pentingnya bersemayam di bawah keteduhan langit Pasncasila menjadi keniscayaan yang harus terus-menerus ditumbuhkan di lubuk hati dan pikiran setiap warga negara.

Kolom terkait:

Menjaga Kewarasan di Era Pasca Kebenaran

Kaleidoskop 2017: Tahun Keprihatinan Beragama

Saya Islam, Saya Indonesia, Saya Pancasila!

Islam, Pancasila, dan Fitrah Keindonesiaan Kita

Jokowi dan Upaya Melawan Trauma atas Pancasila

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…