in

Menuju Kehidupan Berbangsa yang Lebih Baik


Presiden Joko Widodo menunjukkan kemasan hasil usaha kelompok petani saat silaturahmi serikat paguyuban petani Qaryah Thayyibah di Salatiga, Jawa Tengah, Senin (25/9). ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho

“Sekali berarti, sudah itu mati”
(Chairil Anwar)

Kata “mati” dalam petikan puisi Chairil Anwar ini hakikatnya bukan berbicara tentang kematian. Ia justru bicara tentang kehidupan, tentang esensi mencipta untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Chairil Anwar memang mati muda, namun semangatnya tetap hidup. Bait puisinya “aku mau hidup seribu tahun lagi” akan terus mengiang sepanjang zaman.

Dalam kehidupan sehari-hari, terutama di negeri ini, kita terlampau sering mendengar seseorang berujar, “berani mati” untuk sebuah kehidupan. Kita juga sering menyaksikan orang-orang bersiaga dalam pasukan “berani mati” untuk sebuah harapan.

Ujaran dan pasukan ini tidak salah secara gramatika, tapi kurang tepat digunakan sebagai pemacu semangat. Kalau kita mau mati lantas buat siapakah kehidupan ini. Untuk itu, sebaiknya berjuanglah untuk hidup, jangan berjuang untuk mati. “Kita membutuhkan pasukan berani hidup, bukan berani mati,” demikian kata Buya Syafii Maarif.

Pada saat Dr. Soetomo dan kawan-kawan mendirikan Boedi Oetomo, tujuan utamanya adalah untuk mempercepat proses kemerdekaan, dengan cara mempersatukan kekuatan yang masih tercerai berai akibat kekuasaan kolonial yang menerapkan politik devide it impera. Di sinilah semangat nasionalisme tak hanya dihidupkan, tapi juga dimanifestasikan.

Manifestasi nasionalisme dalam konteks kekinian adalah bagaimana membangkitkan semangat untuk hidup yang, meskipun hanya sekali, tapi berarti. Berarti bagi semua (bagi dirinya, keluarga, masyarakat, dan negara). Itulah hidup yang menurut Erich Fromm, penuh harapan. Mengapa harapan kita perlukan, karena ia merupakan unsur yang sangat penting dalam setiap upaya perubahan sosial agar menjadi lebih hidup, lebih sadar, dan lebih berakal (Fromm, 1996:7).

Dalam konteks inilah kita harus terus berupaya akan tercipta suasana kehidupan berbangsa yang lebih baik, lebih bermakna bagi kehidupan bersama, termasuk untuk masa depan anak-anak kita. Tapi, perlu segera digarisbawahi, kehidupan semacam ini tidak akan datang sendiri secara taken for granted. Ia harus diperjuangkan, dengan cara-cara yang baik pula.


Pertama, dengan memupuk rasa saling percaya. Kedengarannya sederhana, tapi justru inilah persoalan besar yang dihadapi bangsa ini. Membangun bangsa pada dasarnya adalah membangun kebersamaan. Bangsa besar ini lahir karena adanya kebersamaan. Kita tak bisa membayangkan jika, misalnya, orang-orang Sunda ingin mendirikan negara sendiri, begitu juga orang-orang Jawa, Minangkabau, Batak, Melayu, Madura, Dayak, Badui, dan lain-lain, tentu Nusantara ini akan terdiri dari beberapa negara.

Tapi rasa kebersamaan itu sekarang kian lama kian terkikis. Kita berjalan bukan hanya secara sektoral, tapi lebih sempit dari itu malah secara individual. Di negeri ini, setidaknya pada saat ini, begitu sulit membangun rasa saling percaya. Di ranah ekonomi, politik, bahkan agama.

Bayangkan, dalam satu komunitas agama, rasa saling percaya itu pun sudah luntur. Maunya menang sendiri. Kebenaran ingin dimonopoli. Seolah-olah surga itu hanya milik golongan tertentu, dengan ciri-ciri tertentu.

Kita tidak tengah membenci pilihan-pilihan individual. Setiap individu punya hak untuk mempertahankan keyakinan yang dianutnya, bahkan untuk memperjuangkan kebebasan yang diinginkannya, tapi bukan berarti kita harus mengorbankan kebersamaan. Karena setiap individu pada dasarnya menjadi bagian dari individu yang lain. Kita tak bisa hidup sendirian.

Karena itulah kita butuh negara, butuh birokrasi, butuh organisasi. Suatu kebersamaan yang diatur dalam kontrak sosial, dengan dilandasi—lagi-lagi—rasa saling percaya. Tanpa ada rasa saling percaya, baik negara, birokrasi, organisasi, atau apa pun namanya, hanya akan menjadi bangunan tua yang dihuni manusia-manusia yang saling memangsa (homo homini lupus).

Kedua, dengan berpikir positif. Menurut para psikolog, buruk sangka akan melahirkan energi negatif bagi lingkungannya. Orang yang selalu curiga akan sulit mencapai harapan yang diimpikannya.

Sebaliknya, orang-orang yang selalu berpikir positif akan lebih mudah mencapai apa yang dicita-citakannya. Karena, menurut Rhonda Byrne—penulis buku best seller, The Secret—nasib manusia ditentukan oleh frekuensi pemikirannya. Jika pemikirannya berada pada frekuensi yang negatif, maka ia akan lebih banyak dihinggapi hal-hal yang buruk. Sebaliknya, jika berada pada frekuensi yang positif, maka segala kebaikan akan menyertai kehidupannya.

Hidup ini pada dasarnya hanyalah pertarungan antara dua cara berpikir, positif atau negatif. Mengapa negeri ini begitu sulit bangkit dari keterpurukan? Dengan formula Byrne, kita sudah mafhum. Barangkali, karena yang menghuni negeri ini, mayoritas orang-orang yang berpikir negatif.

Ketiga, dengan memupuk optimisme. Seperti pikiran negatif, pesimisme bisa menular. Oleh karenanya, optimislah. Jangan biarkan pesimisme menggerogoti kehidupan kita. Boleh percaya boleh tidak, hanya dengan optimisme, harapan hidup orang miskin lebih baik dari harapan hidup orang kaya tapi pesimistis. Maka, pandanglah dunia dengan penuh optimisme, untuk mendapatkan kehidupan yang lebih berarti dan bermanfaat.

Hanya dengan ketiga cara ini (rasa saling percaya, berpikir positif, dan optimisme), tentu ada harapan besar bagi kemajuan bangsa ini. Suatu kemajuan yang menumbuhkan asa dan cita-cita akan hadirnya masa depan yang memberi ruang bagi anak-anak kita untuk hidup dalam suasana ceria, seraya menatap langit, memandang cakrawala…

Kolom terkait:

Dalam NKRI Tak Ada Orang Kafir!

Jangan-jangan Kita Sendiri yang Intoleran?

Kembali ke UUD 1945, Jalan Mundur Demokrasi

Islam, Pancasila, dan Fitrah Keindonesiaan Kita


Written by Jeffrie Geovanie

Jeffrie Geovanie

Anggota MPR RI 2014-2019

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR