Sabtu, Desember 5, 2020

Menjaga Semangat Kepahlawanan

Kemacetan Sayap Kiri

Di sela riuhnya polemik Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA), wacana distribusi kesejahteraan selalu menguntit di panggung politik kita. Pada Pemiihan Presiden 2014, wacana...

Netizen Anti-PKI Zaman Now

Ada banyak, juga beragam, respons netizen terhadap kolom bertajuk Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS. Ketika tayang dan tersebar ke hampir antero jagat maya,...

Pilkada untuk Membangun Masyarakat Berkemajuan

Pemilihan kepala daerah tahap kedua yang dilakukan serentak pada awal tahun 2017 diharapkan bisa memberi kontribusi positif bagi terciptanya masyarakat berkemajuan di Indonesia. Harapan ini...

Revisi UU MD3: Bikameralisme yang Terlupakan

Kasus korupsi yang menjerat mantan Ketua DPD Irman Gusman menjadi isyarat negatif dari proses panjang penguatan sistem bikameralisme kita. Politisi DPR yang memang tidak...

[ilustrasi]
 

Kepahlawanan dalam konteks berbangsa dan bernegara adalah proses perjuangan dalam merintis, memerdekakan, dan menjaga keutuhan keindonesiaan. Inti dari keindonesiaan adalah keanekaragaman suku, adat istiadat, bahasa, ras, dan kepercayaan (agama).

Menjaga keutuhan keindonesiaan, dengan demikian, menjaga semangat toleransi dalam negara multikultural. Dan menjaga semangat kepahlawanan sama artinya dengan menjaga keutuhan negara yang multikultural. Semangat inilah yang dibangun Budi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 1928, dan Hari Pahlawan 10 November 1945.

Semangat kepahlawanan seperti ini mutlak harus kita jaga karena, bagi Indonesia, kondisi multikultural merupakan realitas objektif yang tak bisa dibantah oleh siapa pun. Dalam bahasa Profesor  Ahmad Syafii Maarif, kondisi multikultural merupakan fakta keras. Fakta yang tak bisa dilunakkan, atau dikompromikan dengan dalih apa pun.

Bahkan semangat menjaga ideologi suatu agama yang sangat kuat tertanam dalam jiwa seseorang pun tak bisa dijadikan alat untuk merontokkan keindonesiaan. Sekali semangat keindonesiaan rontok karena fanatisme agama, kita akan terpecah belah. Diskriminasi dan ketidakadilan akan tumbuh karena keinginan untuk mengutamakan agama tertentu.

Kita percaya bahwa Indonesia merdeka karena patriotisme para ulama dan tokoh-tokoh agama. Itulah mengapa Indonesia dikatakan merdeka karena berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa. Karena ada keyakinan yang kuat bahwa tanpa ada semangat spiritual, perjuangan kemerdekaan tidak akan menguat dan bergelora.

Inti dari ajaran agama adalah semangat kemanusiaan yang merdeka. Semurni-murni tauhid yang ditanamkan pahlawan nasional Tjokroaminoto pada murid-muridnya, termasuk Sukarno, adalah tauhid yang memerdekakan kemanusiaan. Manusia tauhid adalah manusia yang merdeka, yang hanya tunduk pada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Oleh karena itulah, setiap upaya untuk membangkitkan semangat keagamaan seraya menihilkan keindonesiaan adalah bertentangan dengan semangat kepahlawanan. Karena semangat keagamaan dan keindonesiaan berada dalam satu tarikan nafas yang tak bisa dipisahkan. Tapi, ini juga bukan alasan untuk mempolitisasi agama. Mengeksploitasi semangat agama untuk meraih kekuasaan.

Politisasi agama harus dilawan, seperti juga upaya-upaya untuk menanggalkan semangat kebangsaan dalam membangun semangat keagamaan. Pada saat agama dieksploitasi untuk meraih kekuasaan, pada saat itulah benih-benih diskriminasi dan ketidakadilan telah tertanam. Tidak ada makan siang yang gratis. Setiap dukungan politik bukanlah sesuatu yang tanpa pamrih. Setiap dukungan bermakna investasi yang harus dipetik pada saat kekuasaan sudah ada di genggaman.

Kita tidak sedang memisahkan agama dari politik, tapi yang kita lawan adalah eksploitasi agama untuk kepentingan politik. Semangat juang agama yang seyogianya kita bangun adalah semangat untuk menjaga kemanusiaan, kebersamaan, toleransi, dan saling menghormati keberagaman.

Munculnya sejumlah indikasi intoleransi sebagaimana yang tercermin dalam sejumlah survei politik akhir-akhir ini seyogianya membuat kita waspada, bahwa ada semangat yang muncul untuk merusak keindonesiaan. Semangat yang apabila tidak kita antisipasi bisa membuat kita terpecah belah seperti yang terjadi di sebagian negara Timur Tengah.

Semangat inilah, saya kira, yang melandasi Presiden Joko Widodo mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tentang Organisasi Kemasyarakatan yang sekarang sudah ditetapkan menjadi UU tentang Ormas. Bahwa ada bagian-bagian yang perlu diperbaiki kita setuju, dan ada beragam mekanisme konstitusional untuk memprosesnya.

Mengapa mayoritas anggota DPR menyetujui Perppu Ormas harus dimaknai bahwa masih ada semangat dari para wakil rakyat untuk menjaga keutuhan Indonesia sebagai bangsa dan negara yang berisi keragaman suku, ras, bahasa, adat istiadat, dan agama.

Keputusan Mahkamah Konstitusi untuk mengakui aliran kepencayaan dalam administrasi kependudukan sebagai agama yang bisa dicantumkan dalam Karta Tanda Penduduk (KTP) juga harus kita maknai dalam semangat membangun keindonesiaan.

Dalam Indonesia yang multikultural tidak boleh ada kelompok, sekecil apa pun kelompok itu, yang diabaikan hak-haknya sebagai warga negara. Kebebasan beragama, dan kebebasan menjalankan keyakinan agama, adalah hak warga negara yang dijamin UUD 1945. Dan jaminan konstitusi ini harus termanifestasi dalam ketentuan perundang-undangan yang kedudukannya berada di bawah UUD 1945.

Seperti terhadap Perppu, yang kemudian diputuskan DPR, kita juga harus menghormati keputusan MK. Bahkan, menurut saya, keputusan MK ini bisa menjadi wujud nyata (objektifikasi) dari sila “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”–sila yang paling banyak dikritik karena masih banyak realitas objektif dalam kehidupan kebangsaan kita yang bertentangan dengan sila ini.

Maka, yang merayakan keputusan MK seyogianya bukan hanya para penghayat aliran kepercayaan, tapi juga kita semua yang berkomitmen menjaga semangat keindonesiaan.

Kemerdekaan bangsa dan keutuhan keindonesiaan adalah hasil perjuangan para pahlawan kita di zaman dulu. Dan menjaga semangat kepahlawanan adalah tugas kita, generasi zaman sekarang.

Kolom terkait:

Mengkafirkan Pahlawan, Menistakan Indonesia

Nyai Ahmad Dahlan dan Amnesia Pahlawan Perempuan

Keragaman Agama Itu Sunnatullah

Kebhinekaan Itu Sunnatullah, Hentikan Politisasi Pluralisme!

Islam, Pancasila, dan Fitrah Keindonesiaan Kita

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nasib Petani Sawit Kalau Premium Dihapus

What? Chaos macam apa lagi ini? Itu pikiran saya saat beberapa bulan lalu terdengar kabar dari radio bahwa ada rencana pemerintah untuk menghapus bahan bakar...

Islam Kosmopolitan

Diskursus tentang keislaman tidak akan pernah berhenti untuk dikaji dan habis untuk digali. Kendati demikian, bukan berarti tidak ada titik terang. Justru, keterkaitan Islam...

Kerusakan Lingkungan Kita yang Mencemaskan

Menurut data dari BPS, pada tahun 2018 jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 146.858.759 unit, jumlah tersebut meliputi mobil pribadi, mobil barang, bis dan...

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Yesus, Tuhan Kaum Muslim Juga? [Refleksi Natal dari Seorang Mukmin]

Setiap menjelang perayaan Natal, fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang boleh tidaknya kaum Muslim mengucapkan selamat Natal menjadi perbincangan. Baru-baru ini MUI kembali menambah...

Nasib Petani Sawit Kalau Premium Dihapus

What? Chaos macam apa lagi ini? Itu pikiran saya saat beberapa bulan lalu terdengar kabar dari radio bahwa ada rencana pemerintah untuk menghapus bahan bakar...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.