Minggu, Maret 7, 2021

Menebak Masa Depan Djarot di Sumut

Antara Firza, Rizieq, dan Seksisme dalam Politik

Kita boleh tidak setuju bahkan menentang dengan sikap politik Rizieq Shihab dan Front Pembela Islam (FPI), terutama terkait pandangan mereka yang sangat antipati terhadap...

Izinkan Ulil Pensiun Membakar Rumah [Tanggapan untuk Muhidin Dahlan]

Saya tidak kenal personally dengan Mas Muhidin Dahlan. Semoga menuliskan tulisan tanggapan dapat dipandang sebagai sebuah cara perkenalan yang asyik.   Muhidin beberapa hari lalu menuliskan...

Kebengisan Khalifah Yazid Menghadapi Oposisi

Tanpa adanya mekanisme kontrol rakyat terhadap khalifah, kekuasaan seorang khalifah menjadi mutlak. Sejarah menceritakan kepada kita mereka yang menolak berba'iat dan mengkritik kekuasaan khilafah...

Puisi Esai Denny JA: Pamflet Harian Seorang Konsultan

Tulisan ini tentu tidak akan menambah catatan panjang para sastrawan dan budayawan yang menolak ketika Denny JA masuk sebagai salah satu tokoh sastra berpengaruh...
Riduan Situmorang
Guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Doloksanggul, Aktivis Antikorupsi, Pegiat Literasi di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) dan Toba Writers Forum (TWF), Medan.

Sebagai warga Sumatra Utara, saya sangat senang ketika Djarot Saiful Hidayat dicalongubernurkan PDI-P di Sumut. Harapan terasa masih ada. Terus terang saja, sebelumnya, saya sudah sangat pesimistis bahwa pemilihan kepala daerah di Sumut tahun ini akan melahirkan pemimpin yang sama: koruptor.

Setelah reformasi, dua kali sudah warga Sumut secara langsung memilih pemimpinnya, dua kali pula mengalami kemalangan. Dimulai dari Syamsul Arifin hingga kemudian Gatot Pujonugroho. Kedua pemimpin hasil dari pemilihan langsung ini mengidap penyakit yang sama: koruptor kakap.

Kini, pemilihan langsung untuk ketiga kalinya akan segera berlangsung. Saya tak tahu bagaimana persisnya perasaan warga Sumut lainnya. Apakah mereka masih merasa trauma dengan pemilihan sebelumnya-sebelumnya atau tidak? Atau, jangan-jangan, bagi warga Sumut, pemilihan ini hanya ajang bagi-bagi uang? Sebab, belum saja pendaftaran, agaknya pada masa Natal lalu, sebuah video dari salah seorang bakal calon gubernur Sumut sudah ketahuan bagi-bagi uang di gereja, sekali lagi: di gereja.

Saya sebut ajang bagi-bagi uang karena dalam video itu si penerima uang sangat bahagia dan sumringah. Tidak hanya bahagia, malah si penerima berebut minta uang tersebut. Tak ada rasa bersalah dari si pemberi dan si penerima. Ya, kita tak bisa menyangkal barangkali ini adalah sikap dermawan dari si pemberi. Kita tentu tak berhak melarang orang memberikan uangnya. Karena itu, tindakan ini sangat jauh dari aroma money politic. Tetapi, betulkah? Baiklah, itu dulu dari segi si pmberi.

Ibarat Prabayar

Yang jauh lebih menyesakkan sebenarnya adalah dari segi si penerima. Mengapa mereka sumringah mendapat uang itu? Apakah karena pilkada tak lain tak bukan hanyalah pesta bagi-bagi uang, sembako, dan semacamnya? Idealnya, pilkada adalah pesta rakyat untuk memilihkan wakilnya di pemerintahan. Pilkada adalah bukti bahwa rakyat berdaulat. Namun, faktanya, pada beberapa pilkada, rakyat justru dibuat tak berdaulat. Rakyat malah dibuat sebagai “pengemis” tingkat tinggi. Rakyat dihargai ratusan ribu rupiah untuk lima tahun ke depannya.

Maka, tak mengherankan jika di kemudian hari, pemimpin dari hasil pilkada itu acuh tak acuh pada rakyatnya. Sebab, pemimpin itu sudah merasa memberikan kewajibannya di awal pemilihan. Ibarat prabayar, pemimpin hasil pilkada ini merasa sudah membayarkan utang-utangnya sebelum pemilihan. Dengan kata lain, pilkada dengan kampanye sebagai instrumen promosinya hanya kosmetik yang sama sekali tak perlu. Kampanye bukan lagi adu gagasan bagaimana membangun daerah.

Kampanye justru ajang untuk mengumpulkan warga untuk huru-hara. Kampanye menjadi unjuk keramaian dan kebisiangan. Siapa paling ramai dan paling bising, seakan-akan itu adalah pemenangnya. Rakyat lantas menjadi kerumunan lugu. Lihatlah, pada setiap pilkada, apakah ada kampanye tanpa hiburan? Mustahil! Kampanye menjadi ajang serua-seruan, ajang dangdut-dangdutan, ajang goyang-goyangan seronok. Pada kampanye, hiburan menjadi tema utama. Tak ada kata-kata magis pada setiap kampanye akbar.

Semua sudah digantikan melodi ingar bingar. Semua sudah ditukar alunan-alunan musik. Meski ada kata-kata, kata-kata itu sama sekali bukan gagasan. Kata-kata itu hanya kalimat ajakan. Kata-kata itu hanya promosi sederhana: pilih saya! Atau, pada tingkat yang mengerikan: kata-kata itu menjadi seruan untuk memecah belah. SARA dikedepankan. Diksi “putra daerah” didegungunkan. Pilkada menjadi teriakan-teriakan kebencian. Pilkada menjadi ajang perkelahian. Pilkada menjadi perang “aku” dan “kamu”.

Pada perang ini, tembok pemisah didirikan. Tak ada orang yang membangun jembatan. Semua menimbun tembok. Satu tujuannya adalah untuk memupuk kebencian. Sebab, kebencian, apalagi kalau sudah disiram dengan bumbu SARA, akan melahirkan keuntungan berganda. Dalam pilkada, kebencian beraroma SARA sinonim dengan kecintaan. Pesannya sederhana: timbunlah kebencian pada lawanmun, maka cinta akan mengalir padamu. Semakin engkau membenci lawanmu, apalagi atas nama SARA, semakin kau mendapatkan peluang menang.

Buktinya sudah jelas. Lihatlah di Jakarta. Satus-satunya faktor yang mengalahkan Ahok adalah kebencian. Mulanya, elektabilitas Ahok sangat mumpuni. Popularitasnya apalagi. Ini semakin mengkilap karena ditambah lagi dengan prestasinya yang gemilang. Semua lawan gentar. Bahkan, partai pun terlihat kikuk. Namun, ketika Ahok “keseleo” lidah, semua menjadi terbalik. Kebencian terus dipompa sehingga Ahok tidak hanya kalah, tetapi juga dipenjarakan. Orang per orang dipersatukan oleh kebencian yang terus-menerus dipompa.

Pesta Kebisingan

Kita tahu, kebencian tak mengenal nalar. Kebencian hanya mengenal satu simpulan: kau selalu salah. Kebencian akan semakin cepat merasuk jika ada mafia yang rela menjadi sponsor di belakang. Pada posisi demikian, kebencian akan semakin tumpah. Sekali lagi, kebencian tak mengenal nalar. Bahkan, kebencian itu pun tidak memiliki Tuhan. Bagi pembenci, kebencian adalah cinta. Semakin engkau benci pada pihak lain, itu membuktikan bahwa kau semakin cinta pada sesamamu. Kebencian itu benar-benar buta dan membutakan.

Kebencian, apalagi kalau sudah menyeret Tuhan, akan menjadi kebencian paling maksimal. Hanya dengan kebencian kita merasa dibenarkan untuk membunuh. Tolehlah Adolf Eichman pada masa Hitler. Kecintaannya pada kelompoknya membuatnya rela menjadi pembunuh paling sadis dalam sejarah. Dia tak merasa bersalah. Bahkan, ketika Eichman akan dihukum mati, Eichman tetap tegar dan merasa pahlawan. Dia merasa tak berdosa atas jutaan nyawa yang tanggal. Dia tetap kagum pada nasihat filsuf kesukaannya, Immanuel Kant.

“Bertindaklah sedemikian rupa sehingga tindakanmu dapat diuniversalisasikan sebagai prinsip moral umum, antara lain, yaitu menunaikan kewajiban, ketaatan pada hukum, pimpinan, agama,” begitu tutur Kant yang selalu dipegang Eichman. Saya menuliskan ini hanya untuk membeberkan betapa kebencian itu tak mengenal apa-apa, kecuali diri dan kelompoknya.

Maka, jangan heran ketika belakangan ini, dengan beragam cara dari arus akar rumput hingga elite, berbagai pihak di antara kita mencari tembok pemisah. Dalam hal ini, Djarot akan kena karena bukan putra daerah. Djarot, saya pikir, sejauh ini adalah orang baik. Namun, justru inilah kelemahannya. Sebab, secara logika, hanya orang baik yang mendukung orang baik. Sebaliknya, orang jahat bisa memprovokasi orang baik dengan menularkan virus kebencian supaya nalar orang baik itu pelan-pelan dimatikan.

Yang pasti, di atas semua itu, bagi saya Djarot adalah orang baik. Djarot adalah masa depan Sumut. Masalahnya sekarang, apakah masih banyak orang baik di Sumut yang peduli pada nasibnya? Pertanyaan lainya, di Sumut, mana yang lebih banyak: orang baik atau yang tak baik?

Pertanyaan pamungkasnya tentu adalah: seberapa hebat orang baik di Sumut akan mendukung orang baik? Apakah mereka senantiasa akan menjadi silent-majority? Kalau demikian, orang baik rentan akan kalah. Sebab, dalam demokrasi, silent itu kekalahan. Kemenangan adalah kebisingan. Bukankah demokrasi adalah pesta suara, pesta kebisingan?

Kolom terkait:

Pak Djarot dan Harapan Seorang Warga Sumut

Importing Djarot di Pilgub Sumut

Politik Agama Yes, Politisasi Agama No

Paket Stigma Mendulang Suara: Cina, Kafir, Komunis, Syiah

Politisasi Agama, Politik Murah Meriah

Riduan Situmorang
Guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Doloksanggul, Aktivis Antikorupsi, Pegiat Literasi di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) dan Toba Writers Forum (TWF), Medan.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.