OUR NETWORK
Menanti Habib Rizieq Naik Kelas
Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab memberikan keterangan kepada wartawan usai menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (23/1). Habib Rizieq menjalani pemeriksaan selama empat jam sebagai saksi terkait dugaan kasus penghinaan rectoverso di lembaran uang baru dari Bank Indonesia, yang disebutnya mirip logo palu arit. ANTARA FOTO/Reno Esnir/foc/17.
Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab memberikan keterangan pers usai menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (23/1). ANTARA FOTO/Reno Esnir/foc/17.

Habib Rizieq Shihab sepertinya selalu seru untuk dibahas. Mulai dari membuat demo berjilid-jilid dalam kasus Ahok “si penista agama”, menuding Ketua Umum PDIP menista agama, dilaporkan ke kepolisian namun minta kasusnya diselesaikan secara kekeluargaan, mengancam melaporkan Menkeu dan Gubernur BI gara-gara logo palu arit di uang baru, mempertanyakan Tuhan bidannya siapa, hingga berlaga hendak mencopot Kapolda Jawa Barat dan menyerang HQ Twitter di San Fransisco.

Lihatlah betapa fenomenalnya! Mungkin, kalau tidak ada beliau ini, media tidak ada bahan. Pasti sepi kayak kuburan.

Sebagai Imam Besar ormas sekaliber Front Pembela Islam (FPI), beliau tergolong greget. Pokoknya, kalau ada sesuatu yang tidak disetujui atau dianggap menyimpang, maka beliau tidak akan segan-segan untuk membuat aksi nyata! Baik itu demo maupun pemboikotan. Banyak yang menjadi simpatik kepada beliau dan organisasinya, karena selalu teriak membela kepentingan umat Islam.

Setiap dakwah atau orasi, beliau selalu penuh percaya diri. Momen paling fenomenal itu saat aksi 411 dan aksi super damai 212 yang diklaim dihadiri massa sebanyak 7 juta orang! Dari Sabang sampai Merauke katanya datang dan berkumpul di Monas untuk salat Jumat, bahkan ada yang jauh-jauh datang jalan kaki. Luar biasa.

Adapun maksud beliau ini memang pastinya baik dan mulia sekali, yaitu untuk memberikan masukan kepada pemerintah, alias kritik konstruktif kepada otoritas. Dari segi mobiliasasi massa juga sangat baik sekali. Coba Anda bayangkan, untuk membuat sebuah konser, bintang sekelas Taylor Swift dan Ariana Grande perlu waktu berbulan-bulan untuk persiapan yang matang.

Namun, beliau hanya membutuhkan waktu kurang dari satu bulan untuk sampai pada demo berjilid-jilid yang sukses menghadirkan jutaan orang dari seluruh Indonesia. Belum lagi propaganda yang dibuat di media sosial juga sangat ciamik. Sementara soal sumber pendanaan untuk transportasi dan konsumsi, sih, kayaknya tidak perlu dibahas, karena katanya aksi tersebut “disponsori Allah”.

Banyak masyarakat yang nyinyir terhadap gerakan yang dibuat oleh beliau, namun sebenarnya hal itu biasa saja karena Indonesia itu kan negara demokrasi. Jadi, ya wajar saja kalau beda pendapat. Mulai dari kritik, meme yang nyeleneh, tulisan yang nyinyir, surat terbuka, video ibu-ibu pake helm, macem-macemlah dibuat untuk beliau. Tenang saja, beliau gak mungkin mundur, mentalnya beliau ini sudah mantap sekali dalam hal perjuangan. Sekali maju ya maju terus sampai akhir, kawal terus.

Melihat segala fenomena unik ini, muncul pertanyaan di benak saya: sebenarnya apa sih yang diperjuangkan oleh beliau? Serius, pertanyaan ini menghantui saya, layaknya bayangan mantan gandengan dengan pacar barunya. Beliau ini agitator yang hebat sampai bisa mengumpulkan massa segitu banyak, orator yang oke pula, ditambah memiliki massa yang militan dan setia, pendanaan yang sangat cukup. Lalu, kurang apalagi?

Dengan segala perangkat gerakan sosial yang terbilang mewah itu, saya penasaran, di mana tujuannya? Ke mana beliau hendak berlabuh?

Apakah hanya untuk mengurusi seorang Ahok? Atau logo BI yang secara tiba-tiba tampak mirip palu arit? Atau perkara haram mengucapkan Natal? Maaf sebelumnya, tapi menurut saya itu harusnya sudah bukan kelasnya lagi.

Ahok sudah diproses hukum dengan jaksa senior sebanyak 13 orang dan majelis hakim sebanyak 5 orang. Soal PKI, itu organisasi sudah digenosida bahkan yang terduga pengikut saja turut dihilangkan paksa sejak tahun 1960-an. Coba dipikir lagi. Lapor Megawati? Waduh, banteng sudah matang sekali dalam menghadapi konflik. Sejak zaman Orde Baru saja dia sudah memiliki massa yang militan dan setia. Jadi, aksi ini hanya akan buang waktu dan tenaga.

Baiknya, figur sekaliber Rizieq Shihab itu mengerahkan modal sosialnya yang luar biasa untuk hal yang lebih esensial dan penting untuk kemajuan Indonesia.

Kenapa beliau tidak membuat demo berjilid ketika terjadi kebakaran hutan? Atau masalah pembangunan pabrik semen di Rembang? Membantu ibu-ibu petani yang turun ke jalan memperjuangkan hak mereka. Atau kasus lain yang mungkin membutuhkan pencopotan, seperti “papa minta saham”? Kan Habib ini ahli copot-mencopot.

Kalau memang harus banget isu agama, kenapa gak beraksi ketika kasus Dimas Kanjeng mencuat? Atau kasus penipuan Gatot Brajamusti? Bukankah mereka jelas-jelas sudah menista dan menjual agama? Untuk seks dan uang, lho!

Saya membayangkan, kalau Habib Rizieq turut angkat bicara soal kasus-kasus tersebut, pasti pengaruhnya akan menjadi besar sekali. Semua orang akan berpikir berulang-ulang kali untuk cari perkara sama beliau. Wong rambutnya sehelai saja jatuh sudah berurusan dengan “umat Islam”, kok! Tidak akan ada yang berani menentang perjuangan beliau menuntut keadilan bagi rakyat dan yang lemah, agar sekali-kali dapat menang.

Wahai para simpatisan Sang Habib yang baik dan budiman, tolonglah buat gerakan yang memang benar-benar esensial untuk masyarakat. Bela yang memang sudah nyawanya di ujung tanduk, bela yang memang berteriak darahnya sudah mau habis. Dan jika gerakan Anda berhasil, tetaplah hormati pahlawan Indonesia, apa pun latar belakangnya, karena merekalah Negara Kesatuan Republik Indonesia ini bisa berdiri.

Apabila Anda memerlukan contoh gerakan yang betul-betul esensial dalam mengubah lanskap sosial-politik suatu negara, maka tengoklah perjuangan Martin Luther King di Amerika Serikat memperjuangkan civil rights, di mana penindasan dan diskriminasi terhadap ras hitam terlalu parah, sehingga memang diperlukan pergerakan. Lalu, apa hasilnya?

Sejarah mencatat bahwa pergerakan tersebut membuat perubahan yang sangat berarti. Kita bisa melihat Barack Obama si anak Menteng berdiri sebagai Presiden Amerika Serikat, padahal beliau berkulit hitam. Contoh lainnya, pergerakan kemanusiaan yang diusung oleh Mahatma Gandhi di India, karena diskriminasi ras juga. Over-superiority ras kulit putih. Perjuangan perwujudan kesetaraan dan keadilan seperti itu sangat patut diteladani.

Saya hendak menutup semua ini dengan doa.

Semoga saja Habib Rizieq selalu sehat dan panjang umur dan perjuangan yang dilakukan bisa “naik kelas”, bukan sekadar remeh temeh perkara si Ahok atau pembubaran partai yang sudah bubar sejak puluhan tahun lalu. Mudah-mudahan, netizen juga dapat belajar menjadi lebih dewasa dalam menyikapi figur sekaliber Habib ini. Amin.

Alumnus FH Unika Atmajaya, sedang magang sebagai Pengacara di LBH Mawar Saron.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

REKOMENDASI

KARTUN HARI INI

OPINI TERBARU

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…