Kamis, Maret 4, 2021

Memaknai Kritik di Alam Demokrasi

Tamasya Al-Maidah: Teror Politik Berkedok Tamasya Agama

Gerakan Tamasya Al-Maidah adalah politisasi agama Islam yang sesungguhnya. Alih-alih menjadikan al-Qur'an sebuah kalam Allah untuk membangun ketaatan umat dan kebaikan untuk publik, baik...

Menumbuhkan Kesadaran Politik “Menjunjung Langit”

Ada pepatah mengatakan, “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”. Kita harus menghormati budaya masyarakat yang berkembang di mana pun kita berada. Karena...

Video HTI, Organisasi Islam, dan Produk Intelijen

Netizen dihebohkan oleh video Gema Pembebasan yang diklaim oleh mahasiswa Universitas Indonesia (UI) pro-Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Dalam video itu, mahasiswa tersebut membawa retorika...

Mengapa Partai Menggaet Para Artis

Pertengahan Februari ini akan menjadi awal dari hari-hari masa kampanye pasangan calon Pilkada Serentak 2018. Ingar bingar politik akan menyesaki ruang publik kita. Pasangan...
Avatar
Roy Martin Simamora
Peminat gender studies. Alumnus Hua-Shih College of Education, National Dong Hwa University, Taiwan.

Begitu sebuah karya seni tercipta, serta tulisan disebarluaskan, ia tidak lagi milik penciptanya, tetapi menjadi milik khalayak publik yang berinteraksi dengannya. Oleh karena itu, sangat terbuka untuk penilaian apa pun: “apakah saya benar-benar memperoleh kesenangan dan pencerahan darinya?”

Di alam demokrasi, manusia hidup sebagai makhluk sosial—meminjam istilah Aristoteles—“zoon politicon”. Manusia hidup berdampingan dengan manusia yang lain. Manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia lain. Di samping saling membutuhkan satu sama lain, manusia juga hidup dalam kritik. Tidak ada manusia yang lepas dari kritik. Tidak peduli pada saat membaca, menulis, berjalan, bernafas, kita akan selalu selalu bersinggungan dengan kritik.

Saya sepakat dengan pendapat Adam Kirsch, dalam esai berjudul How to Live With Critics (Whether You’re an Artist or the President) yang dimuat di The New York Times (June 14, 2017), yang mengatakan: ‘…a critic is just a reader or viewer or listener who makes the question explicit and tries to answer it publicly, for the benefit of other potential readers or viewers or listeners. In doing so, she operates on the assumption that the audience for a work, the recipient of a gift, is entitled to make a judgment on its worth. The realm of judgment is plural. Everyone brings his or her own values and standards to the work of judging. This means that it is also, essentially, democratic. No canon of taste or critical authority can compel people to like what they don’t like”.

Kirsch hendak menyampaikan setiap orang berhak memberi penilaian terhadap seseorang. Setiap orang diberikan otoritas yang kritis untuk mengatakan “saya suka atau saya tidak suka”. Namun, kritik hendaknya disampaikan dengan cara-cara beradab, bukan menghakimi pribadi seseorang, apalagi sampai menyinggung sisi-sisi kemanusiaannya.

Namun, ada pula orang yang kadung mencak-mencak, berpikir negatif, mengira bahwa kritik adalah bentuk ekspresi kebencian. Kritik itu lahir sebagai bahan evaluasi. Kritik lahir sebagai apresiatif dengan analisis yang logis dan argumentatif untuk menafsirkan sesuatu. Dalam perpolitikan, misalnya, politik hadir sebagai bahan masukan dan pelajaran untuk pembaruan kebijakan—lain cerita mengkritik karya atau kebijakan seseorang hanya karena menaruh kebencian.

Kritik boleh dilayangkan kepada siapa saja. Orang boleh mengkritik kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan asas kemaslahatan. Baik itu kritik ke presiden, wakil presiden, menteri, gubernur, bupati, kepala sekolah, dan guru.

Sebagai contoh, setiap orang boleh mengkritik presiden apabila mengingkari janji kampanyenya. Fakta yang terlihat, kita menemukan banyak orang-orang yang melempar kritik. Misalnya, elite politik paling getol mengkritik Presiden Jokowi hanya karena kebijakannya yang tidak sejalan dengan pemikiran partai mereka.

Ada begitu banyak ruang melempar kritik. Lewat media sosial, misalnya. Media sosial yang begitu mudah dan praktis, seseorang dengan mudahnya dapat melakukan kritik dengan meng-update status. Pelbagai kritik bisa dilayangkan kepada siapa pun, namun harus sesuai koridor hukum yang berlaku.

Seseorang boleh mengkritik sebuah kebijakan yang dinilai tidak memenuhi kebutuhan publik. Seorang konsumen boleh mengkritik perusahaan karena produk yang mereka jual tidak sesuai harga atau bermasalah. Karena itu, hampir semua perusahaan menyediakan layanan untuk menyampaikan saran dan kritik kepada para konsumen.

Kritik terhadap kebijakan atau kebijakan dagang (produk) sah-sah saja. Karena dalam demokrasi, kita semua adalah tukang kritik—lain cerita kalau hidup di alam tirani kekuasaan dan monarki—suara anda adalah ancaman bagi penguasa. Penguasa akan berusaha membungkam mulut-mulut yang dirasa membahayakan posisi atau kekuasaannya.

Di alam demokrasi, semua orang memiliki hak dan kebebasan berekspresi. Tetapi harus dibedakan, kebebasan tidak serta merta menjadikan seseorang bebas menyuarakan kritik. Ada sanksi (punishment) yang dijatuhi bagi pelanggar yang menggunakan hak dan kebebasannya secara serampangan.

Dalam konstitusi jelas diatur bahwa semua orang berhak berpendapat, menyuarakan aspirasi kepada penguasa atau pemangku kebijakan tanpa terkecuali. Lalu, apakah kritik sebagai bentuk apresiasi atau kritik sebagai bentuk penghakiman semata? Itu tergantung siapa yang melempar kritik. Melempar kritik pun butuh penalaran, logika berpikir yang masuk akal dan landasan yang kuat. Jangan asal bunyi (asbun).

Seorang teman pernah berseloroh: “Mengapa setiap orang butuh pendapat dalam segala hal? Mengapa mereka tidak bisa menghargai sesuatu, tanpa harus begitu kritis?” Kritik bukan sekadar kritik. Kritik seharusnya solutif. Tidak mendorong perselisihan. Jika seseorang memiliki kritik, itu berarti mereka ingin memberi umpan balik tentang apa yang seseorang lakukan untuk mereka. Itu berarti kesempatan untuk intropeksi diri dan bagaimana mengubah pembaca yang puas dan tidak puas atas karya seseorang.

Keliru besar jika kritik dijadikan sebagai tameng untuk menyerang personal seseorang. Kritik bukan lagi sebagai mengoreksi kebijakan dan perilaku politik tetapi mengarah kepada gunjingan dan cibiran. Kritik tidak lagi sebagai katalisator perbaikan kinerja, tetapi sebagai alat menyerang.

Kritik tidak sesuai fakta tanpa pijakan serta informasi yang sahih juga dapat menimbulkan benturan—ini bukan kritik tapi gosip, hoaks, informasi yang menyesatkan. Bob Dylan mengatakan, “Jangan mengkritik apa yang tidak kamu mengerti.”

Arus modernisasi yang semakin cepat, internet kemudian beralih fungsi sebagai sarana menyampaikan kritik. Akan tetapi, orang kadang tidak bisa membedakan kritik dengan ujaran kebencian. Parahnya, keadaan akan menjadi semakin buruk saat komentar kebencian itu diposkan di internet, bukan tatap muka. Hal ini terjadi karena para penuduh bebas mengekspresikan perasaannya di internet, karena semua yang ditampilkan di layar internet adalah nama pengguna (user) dan deretan kata-kata.

Meskipun demikian, dunia ini penuh dengan para bigot yang memanfaatkan situasi apa pun yang ada untuk mengkritik orang karena fisik seseorang, privasi keluarga, dan identitas seseorang. Sementara kenyataannya adalah bahwa para bigot ini tidak memiliki bukti yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Demokrasi tidak memberikan ruang bagi para agitator, pemain oportunis dan semacamnya, meski demokrasi menganut prinsip keterbukaan. Terbuka bukan berarti sebebas-bebasnya menyuarakan kritik kelewat batas.

Saya sepakat dengan Kirsch, “We will always need political dreamers; but for the sake of our democracy, we must hope that the future belongs to the critics.” Kita hidup dalam kritik. Apa pun kritik itu, tidak akan lepas dari realitas kehidupan kita. Ia tetap tumbuh subur dan beranak pinak di alam demokrasi.

Baca juga:

Demokrasi, Hoax, dan Media Sosial

Vox Hoax Vox Dei

Melawan Hoax ala Ibnu Khaldun

Avatar
Roy Martin Simamora
Peminat gender studies. Alumnus Hua-Shih College of Education, National Dong Hwa University, Taiwan.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.