Selasa, Maret 2, 2021

Mari Gus, Rebut Kembali!

Mengapa Saya Ikut Simposium Tragedi 1965

Massa dari Front Pancasila melakukan aksi di depan Tugu Tani, Jakarta, Senin (18/4). Mereka menentang pelaksanaan Simposium Nasional bertema "Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan"...

Mengapa Aksi 112 Dilarang?

Kepolisian Daerah Metro Jaya melarang kegiatan pengumpulan massa yang dikoordinir di antaranya oleh Forum Umat Islam (FUI) pada hari ini, 11 Februari 2017, atau...

Siasat Partai Mengakali Putusan Mahkamah Konstitusi

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo (tengah) mengikuti rapat kerja dengan Komisi II DPR RI di Gedung Nusantara, Jakarta, Jumat (15/4). Rapat membahas RUU tentang...

Khalifah al-Amin bin Harun ar-Rasyid: Penyuka Sesama Jenis dan Pemicu Perang Saudara

  Dua puluh tiga tahun kekuasaan Khalifah kelima Abbasiyah yang melegenda, Harun ar-Rasyid, telah membawa kemajuan peradaban Islam dan stabilitas politik. Namun, sayang, semua kegemilangan...
Avatar
Denny Siregar
Penulis dan blogger.

“Bapak mau ketemu..”. Pesan itu datang. Oke, siap-siap. Aku pun meluncur ke Jalan Medan Merdeka. Sampai di sana waktu masih ada setengah jam, sampai pula Ketua Umum GP Ansor H. Yaqut Cholil Qoumas alias Gus Yaqut bersama Kepala Banser Alfa Isnaeni.

Hari ini kami akan menemui Menko Politik, Hukum, dan HAM Wiranto.

Entah kenapa aku merasa senang tadi itu. Kepingan-kepingan puzzle mulai bertemu dan tersusun. Mulailah tampak bayangan jelas bagaimana bentuk gambar negara ini nanti.

Ansor memang sedang naik daun di bawah kepemimpinan Gus Yaqut, keponakan KH A. Mustofa Bisri (Gus Mus) ini. Lelaki besar yang sejak dulu tukang berantem ini tidak seseram gambarnya di mana-mana. Ia sangat ramah, humoris, dan terbuka. Pribadi yang menyenangkan mengingat ia memimpin sekitar lebih dari 1,5 juta anak muda yang siap menerima komandonya.

Dan tulisanku tentangnya dan organisasi besarnya pun menembus ruang-ruang gelap yang selama ini tertutup rapat. Sampailah ke meja mantan Panglima TNI, Bapak Wiranto, yang baru saja menghebohkan karena mengumumkan terbitnya Perppu untuk membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia. 

Dalam obrolan tadi, Ansor menyatakan sikap tegas mendukung pemerintah jika pemerintah pun tegas, karena tugas Ansor dan Banser adalah menjaga NKRI jangan sampai lepas karena perilaku ormas radikal.

Memang, negeri ini sekarang butuh anak-anak muda yang tergabung dalam ormas Ansor dan Banser ini. Merekalah antivirus yang efektif jika ingin menyembuhkan negeri ini dari kebodohan yang massif dipompakan ke otak-otak fanatik dan siap menjadi mesin perang itu…

Saya mengusulkan Pak Wiranto menyiapkan payung cadangan karena dampak pembubaran ormas itu tidak main-main. “Jika mereka tidak punya baju organisasi, lalu bagaimana pemerintah bisa mendeteksi mereka di kemudian hari?”

Jangan sampai mereka menjadi lone wolf baru, sel-sel tidur yang baru.

Karena itu, kembalikan proses deradikalisasi mereka kepada rakyat, jangan lagi ke pemerintah karena mereka sudah pasti anti kepada pemerintah. Dan GP Ansor juga Banser adalah salah satu perwakilan rakyat yang siap untuk itu.

Jadikan Ansor dan Banser sebagai kekuatan ekonomi Islam yang baru. Berikan modal mereka untuk membangun usaha-usaha di seluruh negeri.

Dengan ekonomi yang mapan, maka Ansor akan siap merangkul saudara-saudaranya yang Muslim supaya mereka tidak lagi lapar dan bermimpi bahwa yang menyelesaikan masalah ekonomi mereka adalah khilafah.

Ini memang proses panjang, tetapi sudah harus dilakukan. Karena infrastruktur yang megah bagaimanapun tidak akan bisa memperbaiki mental manusia. Yang bisa membenahi mental manusia adalah manusia lainnya.

Akhirnya tercapailah kesepakatan bersama. Dan sebelum pulang, seseorang bertanya kepada saya, “kira-kira tema apa yang akan kita pakai untuk memulai program ini?”

Kopi yang sudah kuraih tertahan di udara. Aku berfikir sebentar dan berkata, “Karena proses ini dikawal oleh warga NU melalui perwakilan Ansor dan Banser untuk merebut kembali konsep Islam dari tangan para fundamentalis, kita serukan saja: Mari Gus, rebut kembali… ”

Kuseruput kopiku. Terimakasih, Pak Wiranto. Terima kasih, Gus Yaqut. Kita kembalikan Indonesia menjadi sebagaimana yang diperjuangkan oleh para pejuang kita dahulu.

Baca juga:

HTI, Yahudi Madinah, dan Perongrong Negara Kesepakatan

83 Tahun GP Ansor dan Ijtihad Penguatan NKRI

Pro-Kontra Perppu Pembubaran Ormas (HTI)

Avatar
Denny Siregar
Penulis dan blogger.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.