Jumat, Januari 15, 2021

Konser Gue 2: Musik, Politik, dan Partisipasi Generasi Muda

Kala Anies Baswedan dan Raffi Ahmad Suap-suapan

Anda mungkin geli melihat foto Anies menyuapi Raffi Ahmad di sebuah mobil mewah. Setelah diguncang oleh skandal "Kandang Kambing", pikiran netizen yang masih terkontaminasi...

Ketika Jokowi Belah Bambu GNPF-MUI

Pertemuan Presiden Jokowi dengan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) dapat diartikan sebagai tahap akhir pemerintah melumpuhkan gerakan itu. Pastinya, pertemuan itu...

Habib Rizieq antara Rekonsiliasi dan Revolusi

Ada hal menarik dari pesan yang disampaikan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Muhammad Rizieq Shihab kepada pemerintah baru-baru ini. Ia mengultimatun pemerintahan Joko Widodo...

Kontroversi Pembubaran HTI

Langkah pemerintah membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menyulut kontroversi, ada yang pro dan tidak sedikit yang kontra. Yang pro mengatakan, HTI layak dibubarkan karena...
Avatar
Zaenal Muttaqien
Sedang studi S2 di Faculté de lettres, langues, arts, et sciences humaines, Université de Valenciennes, Perancis.

Suasana keriuhan dan antusiasme masyarakat dalam Konser Gue 2 [Sumber: www.karebatoraja.com]
Suasana keriuhan dan antusiasme masyarakat dalam Konser Gue 2, Sabtu 4 Februari 2017 [Sumber: www.karebatoraja.com]
Detik-detik menjelang hari Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta, salah satu utak-atik politik tim pemenangan bisa dibaca pada pergelaran musik di Ex-Driving Range Senayan, Jakarta Pusat. Pagelaran musik bertajuk Konser Gue 2 yang berlangsung pada Sabtu lalu (4/2/2017) dimeriahkan oleh Grup Band Slank dan sejumlah artis lainnya, seperti Tompi, Krisdayanti, dan Iwa K.

Walaupun terbatas pada sokongan moril, penyelenggaraan konser musik tersebut tentu tidak boleh dimaknai sebagai seremoni belaka. Kehadiran para seniman layar kaca di tengah masa kampanye diharapkan dapat menjadi jembatan antara pasangan calon dengan calon pemilih, khususnya kawula muda.

Berdasarkan rilis riset Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), persentase pemilih muda dalam Pilkada DKI Jakarta berjumlah 25 persen. Jumlah itu diperoleh dari hasil survei SMRC dalam rentang waktu dua bulan, yakni antara Juni dan Juli tahun 2016.

Direktur Eksekutif SMRC, Djayadi Hanan, memperkirakan apabila jumlah itu ditanggapi secara serius dalam gelaran Pilkada DKI Jakarta 2017 nanti, bukan tidak mungkin partisipasi aktif pemilih muda menjadi kunci sukses diraihnya kursi hangat DKI 1.

Kaitannya dengan pemilih muda, Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta Bidang Sosialisasi, Betty Epsilon Idroos, mendefinisikan lebih lanjut apa itu pemilih muda dan pemilih pemula. Definisi itu diutarakan pada saat penyampaian laporan penetapan daftar pemilih sementara (DPS) DKI Jakarta di Kantor KPU RI, Menteng, Jakarta Pusat, pada 9 November 2016 lalu.

Betty Epsilon mengatakan, pemilih pemula adalah pemilih yang berusia di antara 17-21 tahun. Jumlahnya berada pada angka 10,07 persen, yakni 718.571 orang dari 7.132.856 orang DPS DKI Jakarta. Sedangkan untuk kategori pemilih muda ialah berusia 17-30 tahun. Total persentasenya sebanyak 28,97 persen atau 1.347.855 orang. Besaran jumlah pemilih pemula dan pemilih muda ditetapkan oleh KPU DKI Jakarta pada 2 November 2016.

Dengan merujuk angka persentase di atas, sangatlah beralasan jika acara konser musik itu memperlihatkan kentalnya target politik, yakni mendekatkan pasangan calon Ahok-Djarot dengan para calon pemilihnya, pemilih pemula, dan pemilih muda. Melalui sajian panggung para idola, segmen pemilih ini diproyeksikan akan mengisi slot suara secara penuh.

Sebenarnya, pelibatan acara musik dalam politik bukanlah sesuatu yang baru. Di Indonesia, fenomena suguhan musik dalam politik sejatinya sudah dikenal sejak lama. Contoh yang paling mudah dapat ditemukan pada musik Dangdut.

Di dalam buku Dangdut Stories: A Social and Musical History of Indonesia’s Most Popular Music (2010), antropolog dari Universitas Pittsburg, Amerika Serikat, Andrew N. Weintraub menuturkan bahwa, meskipun musik dangdut dianggap sebagai musik “rakyat” yang kerap dianggap sebagai musik “kelas dua” (kelas bawah), nyatanya mampu menjangkau massa yang tidak sedikit di Indonesia. Hal itu menyiratkan adanya peluang yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan politis, yakni meraup suara dari para peminat dangdut yang jumlahnya cukup signifikan.

Berbeda dengan konteks Indonesia, di negara Inggris, model mengaitkan musik dengan politik dikenal sebagai sebuah gerakan yang terinspirasi oleh gerakan pemuda di Amerika Serikat. Gerakan itu bernama Rock the Vote yang diperkenalkan pada tahun 1996 di kota London. Kemunculan Rock the Vote (1992) dilatarbelakangi oleh partisipasi para pemilih di bawah usia 25 tahun yang tidak optimal, yakni hanya mencapai 61%. Jumlah tersebut dirasa kurang, terutama bila dibandingkan dengan porsi keikutsertaan para pemilih dewasa yang mencapai 75%.

Mengutip pernyataan Heath dkk. dalam Understanding Political Change: The British Voter 1964-1987 (1991), para pemilih muda tidak begitu tertarik pada dunia politik, karena area itu dianggap masih baru. Selain nuansa partai politik yang menuntut serba loyal dan cenderung kaku, politik juga dianggap asing dan tidak relevan dengan kawula muda yang belum memasuki usia dewasa.

Namun, apabila kita melihat konteks Indonesia lewat Pilkada DKI, ternyata generasi muda ini tidak dapat dikatakan sepenuhnya tak acuh pada politik. Di usia yang masih muda, memperkenalkan politik dengan kemasan baru, salah satunya dengan menyisipkan konser musik di tengah masa kampanye, merupakan keputusan yang tidak sia-sia. Bahkan, tidak hanya menghibur, cara ini sedianya mengejawantahkan 3 (tiga) buah strategi politik sekaligus.

Pertama, memperkenalkan pasangan calon dengan para calon pemilihnya secara lebih dekat. Tujuan persuasif ini diyakini sangat sesuai dengan dunia kepemudaan. Sebab, dibandingkan dengan bentuk lain, umpamanya debat kandidat pasangan calon atas program kerjanya, pendekatan politik dengan tampilan menghibur diposisikan sebagai sebuah ajakan yang tanpa disadari perlahan mengerucutkan pilihan mereka.

Kedua, mendapatkan peta pemilih secara lebih jelas. Dengan menampilkan dukungan dari para artis, para pemilih muda diarahkan untuk juga masuk ke dalam lingkaran yang sama. Hal itu bisa diartikan sebagai perekat dukungan agar tidak pecah pada saat pemilihan suara datang. Secara sosiologis tingkat solidaritas para pemuda pun dikenal kuat dan menjadi nilai positif untuk penggalangan dukungan.

Ketiga, mengetengahkan para artis di masa kampanye berarti mengundang media massa, baik cetak maupun elektronik, untuk ikut terlibat. Pertimbangan ini didasari oleh faktor pemenuhan rasa ingin tahu para penggemar atas figur-figur yang mereka cintai. Pemenuhan rasa ingin tahu ini dapat kita lihat dalam momen kunjungan paslon Ahok-Djarot ke markas Slank di Jalan Potlot, Pancoran, Jakarta Selatan.

Jika langkah kombinasi antara musik dan kampanye politik berjalan sesuai rencana, maka apa yang diramalkan oleh Niel Spencer, Observer Review (1996), akan terjawab dalam konteks akomodasi politik. Yakni bahwa salah satu penentu suksesnya sebuah pemilihan umum adalah bagaimana pasangan calon membangun relasi dengan kelompok yang mengantongi pengikut yang tidak sedikit. Dalam konteks Ahok-Djarot, salah satu kelompok yang dimaksud adalah grup musik Slank.

Akan tetapi, perlu juga ditekankan bahwa janji-janji politik yang menyinggung kebutuhan para pemilih merupakan alasan lain jatuhnya pilihan mereka pada salah satu pasangan calon. Pada umumnya, pemilih muda sangat tertarik pada tawaran program kerja yang bisa menjawab kebutuhan personal dan sosial mereka secara langsung.

Sepengamatan saya, di koridor personal, terdapat pendidikan yang baik dan peluang kerja yang besar sebagai hal yang paling penting dan genting. Sementara dalam aspek sosial, mereka cenderung serius mempertimbangkan kualitas pasangan calon pada isu pemberantasan korupsi serta pembangunan akses transportasi yang mudah sebagai solusi konkret untuk permasalahan mobilitas di Ibu Kota Jakarta.

Avatar
Zaenal Muttaqien
Sedang studi S2 di Faculté de lettres, langues, arts, et sciences humaines, Université de Valenciennes, Perancis.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Menata Kinerja Buzzer yang Produktif

  Buzzer selalu hadir membingkai perdebatan carut-marut di ruang media sosial atau paltform digital lainnya. Seperti di twitter, facebook, instagram, dan media lainnya. Buzzer memiliki...

Lika-Liku Ganja Medis di Indonesia

Setiap manusia berhak sehat dan setiap yang tidak sehat berhak dapat pengobatan. Alam semesta telah menyediakan segala jenis obat untuk banyaknya penyakit di dunia...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Our World After The Pandemic: The Threat of Violent Ekstremism and Terrorism, The Political Context

Pandemic C-19: Disruptions Personal and public health with rapid spread of the pandemic globally, more than 90 millions infected and almost two million death...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.