in

Konflik Israel Palestina, Siapa Musuh Bersama Sebenarnya?


Beberapa hari lalu (31/7), saya mewawancarai pak Hamdan Basyar, peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bidang kajian Timur Tengah dan Islam. Kami membahas konflik Israel Palestina yang kembali memanas sejak insiden penembakan polisi Israel di Masjid Al-Aqsa.


Menarik sekali mendengar penjelasan dari pak Hamdan. Konflik Israel Palestina ternyata akarnya adalah perebutan tanah. Gerakan politik Zionisme memperjuangkan okupasi tanah oleh Yahudi atas dasar kepercayaan bahwa tanah tersebut adalah milik bangsa Yahudi.

Informasi yang cukup mencengangkan lainnya adalah mengenai tidak semua Yahudi mendukung Zionisme. Bahkan, ada kelompok Yahudi Naturei Karta yang anti-Zionis, meminta Israel berhenti menginvasi Palestina, dan mengkampanyekan secara tegas bahwa Zionisme adalah oposisi dari agama Yahudi (Judaism).

Di sisi lain, terdapat kelompok non-Yahudi yang mendukung Zionisme. Misalnya saja kelompok Christian-Zionism yang kini berkembang pesat di Amerika. Mereka bukan Yahudi, namun mendukung gerakan politik Zionisme yang memanfaatkan agama Yahudi untuk kepentingan ekonomi-politik.

Dari penjelasan pak Hamdan, kita dapat menangkap pesan tegas bahwa musuh kita dalam krisis kemanusiaan di Palestina bukanlah agama Yahudi, namun gerakan politik Zionisme Israel. Sejauh ini, pemerintah Indonesia sudah mengambil langkah yang cukup bijak dalam menyikapi konflik Israel Palestina.

Saatnya kita sebagai warga negara bukan memperkeruh keadaan, namun bersikap kooperatif terhadap langkah diplomatis negara, dengan cara menyuarakan perlawanan terhadap tindakan kejahatan kemanusiaan Israel di tanah Palestina tanpa membenturkan masalah politik ini dengan sentimen keagamaan.

Baca Juga :   Sesat Pikir Deddy Corbuzier Soal Kuliah Tidak Penting

Apapun agamanya, rasnya, suku maupun identitas gendernya, setiap kejahatan yang merampas martabat manusia harus dilawan dalam solidaritas kemanusiaan kita bersama.


Mahasiswi S1 Ilmu Politik Universitas Indonesia. Mengimani kebebasan individu dan kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR