in

Khalifah Yazid bin Abdul Malik: Instabilitas dan Pertumpahan Darah


[ilustrasi]
Yazid bin Abdul Malik otomatis menggantikan Umar bin Abdul Azis sebagai khalifah sesuai dengan surat wasiat abangnya, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. Umar dan Yazid memang satu paket disebutkan dalam surat itu. Jadi, saat keluarga besar Dinasti Umayyah meracun Khalifah Umar bin Abdul Azis yang terkenal baik dan sederhana itu, mereka sudah tahu bahwa Yazid yang akan naik menggantikan Umar.

 

Yang mereka tidak tahu tentu adalah bagaimana naiknya Khalifah Yazid akan membawa instablitas politik dan pertumpahan darah selama masa kekuasaannya.

Menurut Imam Thabari, Yazid berusia sekitar 29 tahun saat menjadi khalifah. Selama 40 hari setelah wafatnya Umar bin Abdul Azis, menurut Imam Suyuthi, dilaporkan bahwa Yazid maish meneruskan kebijakan Umar bin Abdul Azis yang lurus dan adil.

Itu sebabnya keluarga besar Dinasti Umayyah jengkel dan tidak sabaran kepada Yazid. Maka didatangkanlah 40 ulama yang kemudian bersaksi bahwa seorang khalifah tidak akan diminta pertanggungjawaban dan tidak akan terkena sanksi apa pun. Sejak itu, Khalifah Yazid menjadi berubah. Kebijakan Umar bin Abdul Azis mulai dia hapuskan. Bani Umayyah pun bersorak melihat perubahan ini.

Luar biasa memang. Mana ada pemimpin yang tidak akan dimintai pertanggungjawaban.

Hadits Nabi jelas menyatakan:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Maka, seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, dan ia pun akan dimintai pertanggungjawabannya. Dan seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya dan ia juga akan dimintai pertanggungjawabannya. Sungguh setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya.” (HR Bukhari)

Dalam tulisan sebelumnya, Khalifah Umar bin Abdul Azis yang Wafat Diracun, telah saya kisahkan bagaimana Umar bin Abdul Azis mengadakan gencatan senjata dengan Bistham, tokoh Haruriyah Khawarij. Lalu Bistham mengirim dua utusannya untuk berdialog dengan Umar. Umar meminta waktu 3 hari untuk menjawab pertanyaan utusan Bistham, namun Umar keburu wafat.

Baca Juga :   4 November dan Politik Peringatan

Lantas apa yang terjadi dengan gencatan senjata ini?

Begitu Yazid menggantikan Umar, Gubernur Iraq Abdul Hamid berusaha mengambil hati Khalifah yang baru dengan mengirim surat kepada Jenderal Muhammad bin Jarir untuk segera menyerang pasukan Bistham. Saat itu Bistham sedang menunggu kembalinya dua utusan yang dikirim untuk berdialog dengan Umar. Bistham tidak tahu bahwa Umar telah wafat.

Maka, ketika pasukan Bistham melihat pergerakan pasukan Muhammad bin Jarir untuk mengambil posisi menyerang, Bistham berkata: “Bukankah kita sudah berjanji meletakkan senjata sampai dua utusan kami kembali dari istana Khalifah Umar?”

Muhammad bin Jarir menjawab, “Kami tidak akan membiarkan kalian menunggu. Kami akan menggempur kalian.”

Mengertilah Bistham bahwa Khalifah Umar telah wafat karena perjanjian gencatan senjata langsung dilanggar. Terjadilah pertempuran antara kelompok Khawarij dan pasukan Khalifah Yazid.

Sebagai catatan, Khawarij yang semula muncul akibat Perang Shiffin di zaman Imam Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah ternyata masih terus memiliki pengikut yang bergerak secara bawah tanah (underground). Ini satu bukti nyata bahwa ideologi Khawarij tidak pernah padam. Khalifah Bani Umayyah sebelumnya juga sering bertempur dengan kelompok Khawarij ini.


Haruriyah ini adalah salah satu pecahan dari Khawarij. Ibn Muljam, yang membunuh Imam Ali bin Abi Thalib, dikabarkan berasal dari kelompok ini. Selain Haruriyah, pecahan Khawarij lainnya adalah kelompok Ibadiyah, yang sekarang mayoritas ada di Oman dan berjumlah sekitar 3 juta pengikuti di seluruh dunia.

Ibadiyah berasal dari nama tokohnya, Abdullah bin Ibad at-Tamimi, yang kemudian berpisah dari kelompok utama Khawarij di masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan (Khalifah Kelima Dinasti Umayyah). Sepeninggal Abdullan bin Ibad, Jabir bin Zaid meneruskan tampuk kepemimpinan kelompok Ibadiyah ini. Kalau kita terima pandangan yang mengaitkan Ibadiyah dengan Khawarij ini, maka ketiga pihak yang terpecah akibat Perang Shiffin dulu itu masih bisa kita temukan saat ini, yaitu Sunni, Syi’ah dan Ibadiyah.

Kembali ke Khalifah Yazid bin Abdul Malik. Pertempuran dengan Haruriyah semula dimenangkan oleh Haruriyah, namun kemudian Khalifah mengirimkan bala bantuan tentara dari daerah lain untuk mengepung Bistham dan pasukannya. Berturut-turut Khalifah mengirim Jenderal Tamim bin al-Hubab, Najdah bin Hakam al-Azdi, Syahhaj bin Wada, masing-masing dengan 2 ribu pasukan.

Baca Juga :   Perang Satu Malam di YLBHI dan Lilin yang Tetap Menyala

Tetapi setiap jenderal yang dikirim Khalifah Yazid mengalami kekalahan. Akhirnya Jenderal Maslamah dikirim dengan 10 ribu pasukan di bawah komando Sa’id bin Amr al-Harashi. Bistham dan Haruriyah Khawarij dibantai habis.

Pertempuran kedua di masa Khalifah Yazid bin Abdul Malik berkenaan dengan Yazid bin Muhallab. Yazid bin Muhallab ini hidupnya bagai rollercoaster: kadang di atas, dan di lain kejap di bawah, terus naik dan turun lagi. Di masa al-Hajjaj bin Yusuf, dia sempat mencicipi kue kekuasaan, namun kemudian disingkirkan Al-Hajjaj. Yazid hidupnya merana. Namun dia mendekat ke Sulaiman bin Abdul Malik yang kemudian menjadi Khalifah. Naik lagi posisi Yazid bin Muhallab sebagai Gubernur Khurasan.

Saat Umar bin Abdul Azis menjadi Khalifah. Nasib Yazid kembali tragis. Umar tidak suka dengan kebengisna Yazid yang gemar menyiksa rakyat Khurasan. Umar juga mempertanyakan soal keuangan kepada Yazid yang terus mengelak. Akhirnya Yazid dicopot sebagai Gubernur Khurasan dan dipenjarakan oleh Umar bin Abdul Azis. Saat Umar bin Abdul Azis wafat, Yazid bin Muhallab kabur dari penjara.

Khalifah Yazid bin Abdul Malik memerintahkan untuk menangkap Yazid bin Muhallab. Imam Thabari bercerita panjang lebar bagaimana Yazid bin Muhallab berhasil menyusun kekuatan dan melawan pasukan Khalifah Yazid. Tidak mudah bagi pasukan khalifah mengalahkannya. Jenderal Maslamah kembali berperan di sini dan pasukannya berhasil mengejar Yazid dan membunuhnya di al-Aqir, dekat Karbala.

Nanti di masa Dinasti Abbasiyah, keluarga Muhallab akan mendapat posisi penting. Begitulah hidup ini seperti rollercoaster. Tragedi dan kejayaan datang silih berganti.
Begitu juga nasib Jenderal Maslamah yang sudah banyak membantu Khalifah Yazid bin Abdul Malik dalam berbagai pertempuran. Setelah meraih posisi puncak di Khurasan dan Irak, tiba-tiba Maslamah dipecat oleh Khalifah Yazid karena tidak mengirim setoran pajak ke Istana.

Baca Juga :   Politik Orang Baik

Nasib tragis juga dialami Gubernur Ifraqiyah, Yazid bin Abi Muslim, yang menerapkan kebijakan membayar pajak yang memberatkan rakyatnya, lantas dia dikepung dan dibunuh oleh rakyatnya sendiri. Khalifah Yazid bin Abdul Malik yang dilapori peristiwa itu malah mendukung tindakan yang diambil rakyat Ifraqiyah.

Masih banyak lagi catatan Imam Thabari akan berbagai pertempuran dan pembantaian di masa Khalifah Yazid bin Abdul Malik. Stabilitas hanya berjalan selama 40 hari dari wafatnya Umar bin Abdul Azis. Setelah itu negara dalam keadaan gonjang-ganjing di bawah Khalifah Yazid bin Abdul Malik.

Khalifah Yazid bin Abdul Malik punya budak perempuan kesayangan, namanya Hababah. Sewaktu Hababah meninggal, Yazid seperti orang bodoh, sehingga Jenderal Maslamah melarang orang menemui khalifah selama 7 hari karena khawatir tersebar berita kondisi Yazid ini. Yazid wafat tak lama kemudian.

Masa kekhilafahan Yazid bin Abdul Malik hanya sekitar empat tahun, namun sekian banyak darah tumpah di bawah kepemimpinannya. Khalifah ini wafat saat masih muda, sekitar 34 tahun. Beliau wafat pada 28 Januari 724 Masehi. Anaknya, al-Walid, saat itu berusia 15 tahun dan belum dipandang layak menggantikan bapaknya. Kekhilafahan beralih kepada Hisyam bin Abdul Malik, sesuai wasiat Yazid. Dengan demikian, empat anak Abdul Malik bin Marwan telah menjadi Khalifah pada Dinasti Umayyah: Al-Walid, Sulaiman, Yazid, dan Hisyam.

Imam Suyuthi mengabarkan bahwa Abdul Malik bin Marwan pernah bermimpi mengencingi mihrab masjid empat kali. Seorang ulama besar Sa’id bin Musayyab kemudian menakwil mimpi tersebut: “Akan ada empat anakmu yang menjadi khalifah.” Ternyata takwil mimpi tersebut benar. Dan satu lagi, ternyata kekuasaan keempatnya tak lebih bagai air kencing di mihrab masjid–sebuah isyarat yang begitu dalam bagi yang memahaminya.

Baca juga:

Tragedi Abdullah bin Zubair dalam Perebutan Khalifah

Khalifah Marwan bin Hakam dan Pohon Terkutuk dalam Qur’an

Perseteruan Khalifah: Abdullah bin Zubair Versus Muawiyah II

Kebengisan Khalifah Yazid Menghadapi Oposisi


Written by Nadirsyah Hosen

Nadirsyah Hosen

Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School, Australia.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR