OUR NETWORK

Khalifah Ar-Radhi Billah: Awal Kehancuran Dinasti Abbasiyah

Nasib tragis dialami Khalifah al-Qahir yang dipenjara dan kemudian terlunta-lunta menjadi pengemis buta, sebelum kembali masuk penjara dan meninggal dengan kondisi hina. Akankah nasib ar-Radhi lebih baik?

Inilah Khalifah ke-20 Dinasti Abbasiyah. Disebut-sebut sebagai Khalifah Abbasiyah terakhir yang berkuasa penuh (the real khalifah). Setelah masanya, Khalifah Abbasiyah lainnya hanya sekadar nama, tanpa kekuasaan yang nyata. Bagaimana kisahnya? Mari kita simak bersama lanjutan ngaji sejarah politik Islam.

Nama Khalifah Ar-Radhi Billah (934-940 M) adalah Abu Al-Abbas Muhammad bin Al-Muqtadir bin Al-Mu’tadhid bin Thalhah bin Al-Mutawakkil. Sesaat setelah al-Qahir, Khalifah ke-19 dipaksa turun dari jabatannya, ar-Radhi dibai’at menjadi Khalifah, dan kemudian mencongkel kedua mata al-Qahir yang masih ngeyel tidak mau jabatannya hilang.


Nasib tragis dialami al-Qahir yang dipenjara dan kemudian terlunta-lunta menjadi pengemis buta, sebelum kembali masuk penjara dan meninggal dengan kondisi hina. Akankah nasib ar-Radhi lebih baik?

Ibnu Muqlah, mantan pejabat di masa al-Qahir, yang kemudian memberontak dan mendukung naiknya ar-Radhi, diangkat oleh khalifah yang baru sebagai wazir. Ibn Muqlah berperang penting dalam periode awal kekhalifahan ar-Radhi. Menurut Imam Suyuthi, atas perintah Khalifah ar-Radhi, Ibn Muqlah menuliskan semua kejahatan al-Qahir dan kemudian membacakannya di depan publik. Mengapa itu dilakukan?

Ar-Radhi membutuhkan legitimasi mengapa seorang khalifah dapat diturunkan dari posisinya. Dalam teori, khalifah hanya bisa turun kalau yang bersangkutan meninggal. Ini dikarenakan tidak ada masa jabatan seorang khalifah yang fiks. Khalifah berkuasa seumur hidup. Maka, ada yang menjabat hanya dalam hitungan bulan, dan ada pula yang menjabat sampai 20 puluh tahun, tergantung berapa lama dia bisa bertahan hidup.

Dalam kasus al-Qahir, dia tidak dibunuh, melainkan disiksa belasan tahun hingga wafat mengenaskan. Itu sebagai bentuk balas dendam atas kekejaman al-Qahir, yang dianggap terlalu ringan kalau dia langsung dibunuh. Karena itu, ar-Radhi perlu menunjukkan kepada rakyat betapa jeleknya kelakuan al-Qahir sehingga dia pantas untuk diturunkan dan kemudian dibiarkan hidup dengan menderita. Itulah sebabnya Ibn Muqlah membacakan daftar kejelekan al-Qahir kepada publik.

Ar-Radhi sesungguhnya mewarisi kekuasaan Dinasti Abbasiyah yang sudah tercabik di sana-sini. Praktis Khalifah hanya berkuasa di Ibu Kota Baghdad, dan pengaruhnya sudah sangat menipis—untuk tidak mengatakan telah habis—di berbagai provinsi. Para gubernur seakan telah menjadi penguasa independen di wilayah mereka masing-masing.

Ibn al-Atsir pengarang kitab al-Kamil fit Tarikh menjelaskan situasi ini saat Basrah di bawah pengaruh Muhammad Raiq. Khazastan dan Ahwaz dikuasai Abdullah Buraidi. Iran dipimpin oleh Ali bin Buwayh dengan gelar Imadud Daulah, sementara Kerman dikontrol oleh Abu Ali bin Ilyas. Mosul dikuasai Muhammad bin Tafaj. Bahrain diambil alih oleh Abu Tahir Qaramati.

Di samping itu, ada dua penguasa lain yang mengklaim sebagai pemimpin umat Islam, yaitu Ubaydillah al-Mahdi Billah, yang berkuasa di Afrika Utara (909-934 M) dan dikenal sebagai penguasa Dinasti Fatimiyah. Ini adalah penguasa dari kelompok Syi’ah Ismailiyah. Cukup lama Dinasti Fatimiyah ini berkuasa, sekitar 262 tahun, dari mulai tahun 909 hingga tahun 1171. Dikabarkan pada masa Dinasti Fatimiyah inilah Universitas al-Azhar di Mesir berdiri.

Pada saat ar-Radhi menjadi Khalifah, Ubaydillah al-Mahdi ini wafat. Imam Suyuthi menyerang keras kelompok ini dalam kitabnya, Tarikh al-Khulafa. Misalnya, menurut beliau, klaim bahwa pemimpin Dinasti Fatimiyah berasal dari keturunan Ali bin Abi Thalib itu palsu. Karena sebenarnya kakeknya adalah seorang Majusi. Imam Suyuthi mengutip al-Qadhi Abu Bakar al-Baqilani untuk menguatkan pendapatnya mengenai Dinasti Fatimiyah ini.

Ibn Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah juga berpendapat sama mengenai silsilah Ubaydillah ini. Ibn Katsir mengutip Ibn Khallikan yang mengatakan bahwa para muhaqqiq telah mengingkari klaim nasab Ubaydillah ini. Ibn Katsir kemudian mengajukan komentarnya sendiri: “Aku berpendapat bahwa telah tertera oleh lebih dari satu pakar, di antaranya Syekh Abu Hamid al-Isfarayini, al-Qadhi al-Baqilani, dan al-Quduri bahwa semuanya mendakwa tidaklah benar silsilah nasab tersebut. Bahkan sebenarnya orang tua dari Ubaydillah itu seorang Yahudi.” (Juz 11, hal. 204).


Sekadar menjelaskan buat mereka yang tidak akrab dengan nama-nama ulama yang disebutkan Ibn Katsirdi di atas, Ibn Khallikan (1211-1282 M) adalah seorang ulama bermazhab Syafi’i yang terkenal dengan catatan biografisnya terhadap tokoh-tokoh besar masa lalu.

Ibn Khallikan menulis kitab berjudul Wafayat al-A’yan wa Anba Abna az-Zaman. Abu Hamid al-Isfarayini, yang dipanggil Syekh oleh Ibn Katsir, adalah seorang ahli fiqh bermazhab Syafi’i yang tinggal di Baghdad. Beliau merupakan guru dari Imam al-Mawardi, pengarang kitab fiqh siyasah terkenal, al-Ahkam as-Sulthaniyah.

Al-Qadhi Baqilani, yang dikutip oleh Imam Suyuthi dan Ibn Katsir, juga bukan nama sembarangan dalam literatur keislaman. Lahir pada tahun 950 dan wafat tahun 1013, gelar al-Qadhi di depan namanya karena memang beliau pernah menjadi seorang hakim. Beliau bermazhab Maliki, dan seorang pembela akidah Asy’ariyah yang sangat terkenal.

Nama terakhir adalah al-Quduri. Beliau adalah Abul Husayn Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Ja’far bin Hamdan. Seorang ahli fiqh bermazhab Hanafi, yang juga tinggal di Baghdad dan wafat pada tahun 1037 Masehi.

Lihatlah bagaimana Ibn Katsir mengutip pendapat ulama dari tiga mazhab yang berbeda. Begitulah para ulama jaman old. Kalau sekarang kita berbeda sedikit saja kita sudah dicaci-maki di media sosial.

Sengaja sedikit saya urai nama-nama ulama di atas karena banyak yang tidak mengenal nama-nama ulama klasik. Misalnya, kutipan saya akan kitab klasik para ulama, dalam berbagai artikel saya, dianggap angin lalu bahkan ada yang bilang hanya sekadar dongeng.

Lebih celaka lagi ada yang menganggap tulisan-tulisan saya yang mengutip para ulama klasik itu sebagai tulisan orang liberal. Apa mau menganggap para ulama yang saya kutip itu sebagai liberal? Janganlah karena Anda tidak sanggup membantah atau menyodorkan data sejarah yang berbeda terus kemudian mencaci maki.

Saya sudah sebutkan nama penguasa pertama di atas, yaitu Ubaydillah al-Mahdi dari Dinasti Fatimiyah. Penguasa kedua adalah Abdurrahman III yang disebut sebagai Khalifah di Cordoba, Spanyol. Beliau merupakan keturunan Dinasti Umayyah. Itulah sebabnya kekuasaannya disebut pula sebagai Dinasti Umayyah jilid kedua yang berkuasa di Spanyol dari tahun 929 hingga tahun 1031.

Salah satu simbol kejayaan Islam masa lalu ada pada wilayah Cordoba ini di mana gairah ilmu pengetahuan begitu bergelora, diikuti dengan menjamurnya karya seni, arsitektur, dan berbagai elemen peradaban lainnya. Cordoba ini terpisah dan independen dari pusat kekuasaan khilafah Dinasti Abbasiyah.

Singkat cerita, pada masa ar-Radhi berkuasa, bukan saja berbagai provinsi menjadi otonom yang lepas dari jalur komando kekhilafahan Baghdad, namun juga ada dua dinasti lain di Afrika Utara dan di Cordoba yang mengklaim sebagai khalifah. Artinya, saat itu umat Islam memiliki tiga khalifah yang berbeda: Baghdad, Spanyol, dan Afrika Utara.

Jadi, kalau sekarang umat Islam terpecah dalam berbagai negara-bangsa, ya gak masalah, kan? Lha, wong pada masa khilafah dulu saja ada beberapa pemimpin yang menguasai wilayah yang berbeda? Paham ora, son?

Bahkan sekitar empat tahun di masa Khalifah ar-Radhi jamaah tidak bisa berangkat haji karena Mekkah tidak lagi dikuasai sepenuhnya oleh Khalifah Abbasiyah di Baghdad. Hajar Aswad pun masih belum kembali ke tempatnya semula di Ka’bah karena dicuri pemberontak seperti pernah saya ceritakan dalam tulisan lalu.

Jadi, kalau sekarang ada yang berargumen bahwa kita membutuhkan khilafah untuk menolong umat Islam di Palestina, Suriah, dan Yaman, mereka lupa bahwa di masa khalifah zaman old sempat kehilangan Hajar Aswad dan jamaah tidak bisa naik haji karena jalur yang tidak aman. Barulah pemberontak Qaramithah membolehkan jamaah naik haji setelah meminta jamaah membayar uang cukai masing-masing sebanyak lima dinar. Inilai pungutan pertama bagi jamaah haji.

Sebelum diteruskan, perlu saya umumkan bahwa akan segera terbit kumpulan tulisan saya tentang ngaji sejarah politik Islam ini. Judulnya, Islam Yes, Khilafah No!: Doktrin dan Sejarah Politik Islam dari Khulafa ar-Rasyidin hingga Umayyah. Bahasan mengenai Dinasti Abbasiyah akan diselesaikan dan dikompilasi untuk buku jilid kedua.

Buku terbaru Gus Nadir yang akan segera terbit (kanan).

Diterbitkannya buku jilid pertama ini untuk memenuhi saran dan harapan para pembaca setia yang menginginkan untuk bisa membacanya lebih mudah dan runtut. Monggo dipesan sebelum kehabisan!

Kembali ke kisah Khalifah ar-Radhi. Abu Bakr Muhammad bin Yahya as-Suli menulis catatan penting yang berjudul Akhbar ar-Radhi wa al-Muttaqi. Saat itu as-Suli adalah pembimbing di dalam istana yang mengajari sejumlah pangeran Abbasiyah, termasuk dua orang yang kelak menjadi khalifah, yaitu ar-Radhi dan al-Muttaqi. Dalam catatan as-Suli, Abul Abbas (yang kemudian dikenal sebagai Khalifah ar-Radhi) sangat menyukai sastra. As-Suli mengenalkan berbagai karya sastra sejak Abul Abbas masih belia.

Imam Suyuthi mengabarkan bahwa ar-Radhi seorang penyair yang fasih serta senang bergaul dengan para ulama, luas ilmunya, dan seorang yang dermawan. Ar-Radhi juga disebut-sebut sebagai khalifah terakhir yang memiliki syair yang dibukukan, dan khalifah terakhir yang mampu melakukan khutbah Jum’at.

Inilah sebabnya para sejarawan menganggap ar-Radhi adalah khalifah terakhir Dinasti Abbasiyah yang masih punya kekuasaan secara nyata, meski hanya terbatas di ibu kota. Setelahnya, Khalifah hanya sekadar nama dan simbol belaka.

Kekuasaan jatuh kepada Amir al-Umara. Ini posisi penting yang baru dibuat di masa Khalifah al-Muqtadir, tapi lambat laun kemudian semakin menguat dan akhirnya mengontrol kekuasaan secara penuh, sementara Khalifah hanya layaknya boneka saja.

Buya Hamka dalam bukunya, Sejarah Umat Islam, menulis, “Sejak adanya Amir al-Umara itu hapuslah kekuasaan sama sekali dari Khalifah. Khalifah hanya diberi gaji saja menurut kesukaan Amir al-Umara.” Semoga Buya hamka tidak dianggap liberal gara-gara menulis fakta sejarah yang menyakitkan ini.

Khalifah ar-Radhi jatuh sakit dan kemudian meninggal pada usia 31 tahun. Nasibnya lebih baik ketimbang al-Qahir yang merana dan tersiksa hingga wafat. Beliau digantikan oleh al-Muttaqi, sebagai Khalifah ke-21 Abbasiyah. Kita akan lanjutkan ngaji sejarah politik Islam berikutnya, dengan izin Allah.

Kolom terkait:

Al-Qahir: Khalifah yang Menjadi Pengemis dan Dicongkel Kedua Matanya

Al-Muqtadir: Remaja 13 Tahun yang Menjadi Khalifah dan Hilangnya Hajar Aswad

Al-Muktafi: Dicintai Rakyat, tapi Terkena Pengaruh Jahat Sengkuni

Khalifah al-Mu’tadhid: Jago Perang dan Kuat di Ranjang

Al-Mu’tamid: Terpecah-belahnya Khilafah Abbasiyah

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School, Australia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…