OUR NETWORK

Ketika Haters Melambungkan Anies-Sandi

Apa yang dipertontonkan pasangan ini hanyalah sebuah “lakon”. Kehidupan manusia ibarat panggung teater. Demi mencapai suatu tujuan tertentu, seseorang berusaha untuk menciptakan sebuah panggung sandiwara dan citra baru bagi dirinya.
Anies-Baswedan_Geotimes

Dalam beberapa bulan terakhir pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno tengah menjadi buah bibir. Dari anak kecil hingga dewasa, berpendidikan rendah hingga tinggi, di perkotaan hingga pedesaan, ramai-ramai membicarakan tentang keduanya. Media pun tak mau kalah. Demi memenuhi kebutuhan masyarakat, berbagai media (cetak maupun online) berlomba-lomba mencari berita terbaru tentang gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta tersebut.

Lewat pemberitaan yang begitu massif dan sistematis, keduanya kini menjadi perbincangan dan pergunjingan di berbagai ruang dan waktu.

Di samping media, haters memegang peranan yang cukup signifikan di balik kepopuleran Anies-Sandi. Layaknya haters pada umumnya, para pembenci Anies-Sandi mencari berbagai “kesalahan” sekecil apa pun dan dari sumber mana pun. Sebelum pada akhirnya membagi-bagikannya kepada publik lewat media sosial dengan harapan semakin banyak orang yang membenci Anies-Sandi.

Namun, apa yang dilakukan oleh para haters yang sebagian besar merupakan pendukung Jokowi-Ahok malah berbuah blunder. Bukannya kehilangan nama, pasangan Anies-Sandi kian populer dan banyak mendapat fans baru. Mereka tampaknya lupa bahwa sejak era reformasi, telah terjadi perubahan motif konsumsi yang begitu signifikan dari masyarakat terhadap suatu berita. Masyarakat dewasa ini lebih menempatkan tingkat kemenarikan suatu berita sebagai pertimbangan dibandingkan tingkat kepentingannya.

Semakin unik dan aneh judul sebuah berita, maka berita tersebut semakin diminati. Misalnya pemberitaan tentang lip balm Sandiaga Uno lebih heboh dibandingkan berita tentang penghapusan LPJ RT/RW.

Kondisi ini disadari betul oleh pasangan Anies-Sandi. Dengan cerdas keduanya mengkonversi media dan haters menjadi promotor gratis. Keduanya berulang kali dengan cerdik memproduksi berbagai pernyataan dan kebijakan yang nyentrik dan klise dengan bahasa yang menarik dan memiliki daya ledak yang sangat tinggi. Mulai dari OK OCE, rumah vertikal, al-Ikhlas, naturalisasi, Hari Korupsi, pribumi, hingga peruntukan trotoar untuk sepeda motor.

Alhasil, Bam…, para media memproduksi segala kontraversi tersebut. Lalu para pembenci Anies-Sandi dengan begitu garang dan liar membagikan berita tersebut, kemudian merundung dan mengolok-olok keduanya tanpa ampun.

Setelah diserang habis-habisan, apakah mereka lantas berhenti ? Ternyata tidak, justru keduanya semakin sering melantunkan berbagai pernyataan dan kebijakan yang dicap “tolol” oleh para haters. Seolah menikmati perundungan yang mereka alami.

Tertipu Lakon

Para haters benar-benar telah tertipu mentah-mentah. Meskipun tidak memiliki pengalaman mumpuni sebagai kepala daerah, apa yang ditunjukkan keduanya tidak mencerminkan latar belakang mereka. Anies Baswedan, misalnya, selain sebagai rektor, pria bergelar doktor tersebut merupakan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Sementara Sandiaga yang bergelar MBA adalah salah satu pengusaha sukses di Indonesia. Maka, sangat aneh bila selama 3 bulan menjabat, kepemimpinan mereka hanya dipenuhi lelucon dan politisasi agama.

Berkaca pada hal ini, saya menilai apa yang dipertontonkan pasangan ini hanyalah sebuah “lakon”. Erving Goffman (1959) dalam buku klasiknya, Presentation of Self in Everyday Life, menyatakan kehidupan manusia ibarat panggung teater. Demi mencapai suatu tujuan atau keuntungan tertentu, seseorang berusaha untuk menciptakan sebuah panggung sandiwara dan citra baru bagi dirinya.

Hal inilah yang tampak sedang diperankan oleh Anies-Sandi. Demi meningkatkan popularitas di tengah masyarakat, Anies-Sandi dengan segala daya dan upaya berusaha menyematkan citra “bloon”, nyeleneh, intelek, dan agamis pada diri keduanya. Sesuatu yang sama sekali tidak mencerminkan latar belakang kehidupan dan karir mereka.

Meningkatkan Popularitas

Istilah haters make me famous tampaknya sangat berlaku untuk Anies dan Sandi. Faktanya, semakin berbagai kesalahan dan nada negatif tentang Anies-Sandi diberitakan dan dibagikan, keduanya justru semakin dibicarakan dan dikenal publik. Semakin sering berita mereka diburu, semakin media mendatangi keduanya untuk mengklarifikasi berbagai kebijakan dan menghimpun berita baru. Bahkan tak jarang mereka diundang ke berbagai talkshow yang memiliki rating tinggi.

Bagi keduanya, kehadiran media tentu saja menjadi berkah tersendiri. Selain punya kesempatan untuk meluruskan berbagai anggapan miring yang disematkan pada mereka, momentum tersebut juga mereka gunakan sebagai alat untuk mempromosikan berbagai program dan pemikiran keduanya. Baik terkait dengan pembangunan di Jakarta maupun terkait dengan isu-isu nasional. Bahkan tak jarang keduanya menggunakan media untuk memproduksi kontroversi yang baru. Misalnya kejadian unik ketika Sandiaga memakai lip balm di depan media.

Berkat kerja keras dan perjuangan awak media dan haters, popularitas keduanya melambung tinggi. Bahkan Anies yang digadang-gadang akan menjadi salah satu kontestan dalam Pemilihan Presiden 2019 mendatang, kini tingkat kepopulerannya mampu berdiri sejajar dengan berbagai politisi nasional seperti Joko Widodo, Prabowo, Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Gatot Nurmantyo, maupun Megawati Soekarno Putri.

Simaklah survei Populi Center terkait sosok paling populer di Indonesia. Anies Baswedan secara mengejutkan mampu mengungguli politisi nasional macam SBY, Gatot Nurmantyo, dan Harry Tanoe dengan duduk di posisi 5 besar dengan tingkat popularitas 78,2 persen. Hanya kalah dari Jokowi, JK, Megawati, dan Prabowo (jawapos.com, 2 November 2017).

Simak pula hasil survei Polmark yang mendudukkan Anies di posisi keempat. Anies yang tempo hari dijuluki “Menteri gagal” berhasil meraup angka 2,2 persen dalam survei bertajuk “jika Pilres digelar hari ini”. Dalam survei ini Anies hanya kalah dari Jokowi, Prabowo, dan AHY, serta berhasil mempecundangi beberapa nama besar macam JK, Hary Tanoe, Gatot Nurmantyo, hingga Megawati. Sebuah modal berharga bagi Anies bila kelak benar-benar maju dalam kontestasi Pilpres 2019 mendatang.

Melihat realitas yang ada tampaknya Anies harus berterima kasih kepada para haters.

Kolom terkait:

“Pribumi” Anies, 2019, dan Politik Sentrifugal

Anies-Sandi versus PKL Tanah Abang

Anies dan Kebohongan Kita

Mau ke Mana Kebijakan Transportasi Anies-Sandi?

Kemiripan Anies dengan Trump: Rasisme dan Politik “Siulan Anjing”

Pegiat Literasi di Toba Writers Forum.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.