Kamis, Maret 4, 2021

Kesaktian Setnov, Kerapuhan Pancasila

Setelah Tsamara Membedah Fahri Hamzah

Menarik membaca tulisan Tsamara Amany berjudul Sesat Pikir Fahri Hamzah. Dalam kolom tersebut, Tsamara menulis tiga sesat pikir seorang Fahri dalam serangkaian twitwar, yakni...

Agar KPU Lebih Mandiri dan Profesional

Apresiasi perlu disampikan kepada Komisi II DPR. Meski awalnya sempat menyampaikan berbagai macam penolakan untuk memilih anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas...

Tragedi Politik Irman Gusman

Siapa yang menduga, Jumat, 16 September, menjadi hari terakhir bagi Irman Gusman menghirup udara bebas sebagai Ketua Dewan Perwakilan Daerah RI periode 2014-2019. Sabtu...

Ahok, Penistaan Agama, dan Demokrasi Kita

Hari-hari ini energi kita seperti habis terkuras untuk menilai pernyataan Basuki Tjahaja Purnama (selanjutnya: Ahok) di Kepulauan Seribu dan reaksi-reaksi atasnya. Mudah-mudahan ini proses...
Muhammadun As
Penulis, tinggal di Yogyakarta

Ketua Umum DPP Partai Golkar Setya Novanto. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

Akhir pekan lalu kita dikejutkan dengan status Setya Novanto (Setnov) yang bebas dari kasus dugaan korupsi e-KTP. Hakim tunggal Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Cepi Iskandar, memutuskan penetapan Setnov sebagai tersangka oleh KPK tidak sesuai dengan prosedur, sehingga tidak sah dan gugur secara hukum.

Politikus Partai Golkar ini memang dikenal sebagai sosok ulet dalam setiap kasus hukum. Terlepas dari konteks hukum dan suara publik, Setnov adalah sosok petarung yang selalu membuat kejutan dalam episode perjalanan politik yang mengitarinya. Ia mampu mengatur ritme gerak politik, sembari terus melangkah maju memastikan agenda politiknya.

Setnov tercatat pernah terseret dalam banyak kasus hukum. Mulai kasus Cessie Bank Bali tahun 1999, penyelundupan Beras Vietnam tahun 2003, kasus Limbah Beracun di Pulau Galang, Kepulauan Riau tahun 2006, kasus PON Riau tahun 2012, kasus etik terkait Donald Trump tahun 2015, kasus Papa Minta Saham tahun 2015, dan kasus e-KTP.

Kasus-kasus ini mampu dilewati Setnov, karir politiknya juga tetap melonjak tinggi. Jabatan Ketua Umum Partai Golkar dan Ketua DPR juga masih aman. Setnov mampu merekayasa peta pertarungan politik dengan cerdas, sekalipun netizen di media sosial banyak yang mencibirnya.

Yang menarik, puncak bebasnya Setnov dari tersangka KPK berbarengan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Ini bukan kebetulan, ini sebuah tanda politik bahwa Setnov juga politisi sakti. Tetapi suara publik juga tidak bisa diabaikan, karena kesaktian Setnov menandai kerapuhan Pancasila. Bagaimana mungkin sosok yang sudah jelas terseret dalam banyak kasus bisa bebas dengan begitu mudahnya? Bagaimana kita menjelaskan sila ke-5 “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” kepada generasi penerus bangsa? Penuh ironi dan tragedi!

Terkait kasus Setnov, seorang guru pasti akan kesulitan menjelaskan sila ke-5 kepada peserta didiknya. Bagaimana mungkin anak-anak di kelas hanya diajarkan untuk menghafal dan menyelami nilai Pancasila, sementara aparatur negara justru memberikan contoh sangat nyata dalam pengaburan Pancasila.

Revolusi Pancasila

Pemerintahan Jokowi-JK sudah mengabarkan dengan tegas sejak awal bahwa revolusi mental adalah program besar bangsa ini. Semua program pemerintah juga harus selalu dikaitkan dengan agenda revolusi mental. Momentum saat ini sangat tepat untuk menegaskan kembali revolusi mental berbasis Pancasila. Jangan sampai program revolusi mental, apalagi di dunia pendidikan, hanya program dalam lembaran kertas saja yang justru akan membodohkan anak bangsa.

Menurut Yudi Latif (2015), revolusi mental harus diorientasikan agar mental Pancasila bisa menjiwai dan mendorong perubahan di bidang material dan politik yang sejalan dengan idealitas Pancasila. Di sini, Revolusi Pancasila menghendaki adanya perubahan mendasar secara akseleratif, yang melibatkan revolusi material (sila kelima), mental kultural (sila ke-1,2,3) dan politikal (sila keempat).

Revolusi (basis) material diarahkan untuk menciptakan perekonomian merdeka yang berkeadilan dan berkemakmuran, berlandaskan usaha tolong-menolong (gotong royong) dan penguasaan negara atas cabang-cabang produksi yang penting yang menguasai hajat hidup orang banyak.

Yudi juga menegaskan bahwa revolusi (superstruktural) mental-kultural diarahkan untuk menciptakan masyarakat religius yang berprikemanusiaan, yang egaliter mandiri, amanah dan terbebas dari berhala materialisme-hedonisme, serta sanggup menjalin persatuan dengan semangat pelayanan.

Sementara revolusi (agensi) politikal diarahkan untuk menciptakan agen perubahan dalam bentuk integrasi kekuatan nasional melalui demokrasi permusyawaratan yang berorientasi persatuan (negara kekeluargaan) dan keadilan (negara kesejahteraan). Revolusi politik ini bisa diwujudkan dengan pemerintahan negara yang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan perdamaian dan keadilan.

Dari sini, lembaga pendidikan mempunyai peran sangat strategis. Yakni memastikan agar revolusi mental tidak hanya berhenti pada perubahan pola pikir dan kejiwaan saja, tetapi juga pada kebiasaan dan karakter yang menyatu antara pikiran, sikap dan tindakan sebagai suatu integritas yang didasarkan pada nilai Pancasila, terutama sila ke-1, 2, dan 3.

Fokus revolusi mental Pancasila adalah mentalitas kemandirian, mentalitas gotong royong dan mentalitas pelayanan. Dari sini, maka lembaga pendidikan akan menghasilkan generasi bangsa yang siap berjuang menegakkan Pancasila. Generasi yang setia menjadikan Pancasila sebagai kritik bagi aparatur negara. Bukan hanya kritik untuk Setnov, tetapi siapa saja aparatur negara dan aparatur pemerintah juga harus selalu diluruskan kalau menyimpang dari Pancasila.

Semua anak bangsa berperan dan bertanggungjawab untuk menjaga martabat bangsa dengan mengamalkan nilai Pancasila dalam keseharian.

Kolom terkait:

Tiga Kolom “Maut” Setelah Setya Novanto Tersangka

Setya Novanto dan Ketidakabsahan DPR

Papa Setnov, Jack Sparrow, dan Patah Hati KPK

Pemain Drama dan Segala Kelicinannya

Revolusi Mental atau Fisik?

Muhammadun As
Penulis, tinggal di Yogyakarta
Berita sebelumnyaPengembangan Kosmetika Asia
Berita berikutnyaMembaca Siasat Panglima
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.