Selasa, Oktober 20, 2020

Kearifan Politik dalam Menyikapi Perbedaan

Negeri Sekarat Demokrasi

"Makin sedikit negara campur tangan dalam urusan masyarakat, makin baik jadinya fungsi negara itu." ~ Robert Nozick Saya sepakat bahwa negara (para pengurusnya) perlu kembali...

Kami Siap Diverifikasi

Hari ini, 18 Juli 2016, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) telah resmi mendaftar sebagai partai politik ke Kementerian Hukum dan HAM. Saya bersama Ketua Umum...

Kampanye Hitam dalam Pilkada Jakarta

Proses Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta telah memasuki masa kampanye, tahapan yang cukup krusial dalam setiap proses suksesi kepemimpinan. Dikatakan krusial karena pada tahapan...

Demokrasi, Hoax, dan Media Sosial

Penemuan mesin cetak Gutenberg berjasa besar memperkuat demokrasi di Eropa. Tapi ia pula yang digunakan Nazi untuk menyebar fasisme melalui koran-korannya. Radio dimanfaatkan secara...

Panggung politik kita saat ini dipenuhi dengan pertentangan yang tak kunjung berujung, antara yang mendukung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan yang berusaha menihilkannya; antara yang mendukung pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan yang menolaknya; dan antara yang mengapresiasi kinerja Densus 88 dan yang mengolok-oloknya.

Tiga kasus yang saya sebutkan ini sekadar contoh bahwa dalam banyak kasus, kita lebih banyak berbeda, dengan tolok ukur kacamata kuda.

Pertentangan cenderung ke arah yang tidak sehat karena masing-masing merasa paling benar dan berupaya menafikan yang lain. Belum tampak adanya sikap kearifan dalam menyikapi perbedaan pendapat, sebagaimana yang pernah disampaikan Imam Syafii.

“Pendapatku benar, tapi memiliki kemungkinan untuk salah. Sementara pendapat orang lain salah, tapi memiliki kemungkinan untuk benar,” demikian kata imam mazhab yang antara lain diikuti oleh mayoritas Muslim di Indonesia.

Yakin pada pendapat sendiri adalah satu hal, dan sama sekali tidak yakin dengan pendapat yang berbeda adalah hal yang lain. Perspektif yang berkembang di tengah-tengah masyarakat kita, keyakinan pada diri sendiri sama sekali tidak diikuti dengan keyakinan pada orang lain. Padahal, sebagaimana dikemukakan Imam Syafii, kebenaran itu mungkin juga ada di pihak yang menurut kita tidak benar.

Ini bukan berarti kebenaran yang kita yakini sepenuhnya relatif, tapi jika kita mau membuka diri dan bersikap inklusif, niscaya akan terlihat bahwa kebenaran itu ada di mana-mana. Jika sikap inklusif ini dimiliki oleh semua pemeluk agama, niscaya tidak akan mudah terlontar kata “kafir” untuk menista pemeluk agama yang berbeda.

Kebenaran itu seperti emas/permata, yang tetap disebut emas/permata walaupun ada di dasar kubangan lumpur yang kotor, atau bahkan saat berada di tengah genangan air najis.

Oleh karena itu, benar kata Ali bin Abi Thalib bahwa “lihatlah apa yang dikatakan, dan jangan melihat siapa yang mengatakan.” (baca: Jangan Lihat Siapa Gus Mus, tapi Apanya!) Kebencian kita pada seseorang tidak harus membuat kita sama sekali tidak percaya dengan kemungkinan kebenaran dari ucapan-ucapan dan tindakannya.

Islam mengajarkan, jangan pernah menista perempuan pezina, karena ia bisa masuk surga lantaran memberi minuman pada anjing yang kehausan. Sebaliknya, jangan lantas menyombongkan diri karena rajin beribadah, sebab yang rajin salat pun bisa masuk neraka hanya karena membiarkan/membelenggu seekor kucing hingga mati kelaparan.

Artinya, kesalehan bukan sikap yang statis, ia bisa melekat pada siapa pun, sebagaimana kekafiran/kekufuran yang juga bisa melekat pada siapa pun.

Maka, pada saat kita menuduh orang lain kafir, bukan tidak mungkin tuduhan itu ibarat bumerang yang akan berbalik arah pada diri kita. Sebagaimana kita menunjuk-nunjuk orang lain, tanpa kita sadari, pada saat yang sama (selain telunjuk), tiga jari yang lain mengarah pada diri kita. Hanya jempol saja, yang biasanya bersikap “netral”. Karena itulah, jari jempol menjadi perlambang pujian, karifan, dan kebaikan, asal tidak diacungkan secara terbalik.

Atas pertimbangan-pertimbangan di atas, saya ingin mengajak kita semua untuk berusaha mengembangkan kearifan dalam berpolitik. Kearifan politik (political wisdom) yang saya maksud bukan untuk membenarkan yang salah, tapi untuk mencoba melihat sisi kebenaran dari yang kita anggap salah.

Kita boleh saja berjalan di jalan masing-masing, tapi yang harus kita ingat bahwa jalan yang benar bukan hanya jalan milik kita. Mungkin hanya selera, minat, bakat, dan hobi, yang membuat jalan yang kita lalui terasa lebih baik dan lebih indah dari jalan orang lain.

Ada dua cara untuk menumbuhkan kearifan dalam berpolitik. Pertama, dengan banyak belajar dan banyak membaca, terutama teori-teori dan strategi politik baik yang diajarkan para filosof maupun yang pernah dipraktikkan tokoh-tokoh yang sukses dalam berpolitik.

Dengan banyak belajar dan membaca kita akan memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kelebihan dan kekurangan setiap teori dan strategi politik. Dan yang lebih penting kita akan mengetahui bahwa setiap teori dan strategi itu tidak berada di ruang hampa yang statis. Artinya, akan meniscayakan perbedaan pada saat pelakunya berada pada saat dan situasi yang berbeda.

Kedua, dengan cara memperluas pergaulan, mengikis keengganan membuka hubungan persahabatan, bahkan dengan lawan politik sekalipun. Dengan cara inilah kita bisa lebih memahami mengapa ada atau mungkin banyak orang yang berbeda haluan politik dengan kita.

Dengan cara menjalin persahabatan, bukan tidak mungkin lawan politik pun akhirnya akan bergabung dan berada satu barisan dengan kita. Kata pemimpin Afrika Selatan Nelson Mandela, “If you want to make peace with your enemy, you have to work with your enemy. Then he becomes your partner”.

Kolom terkait:

Jangan-jangan Kita Sendiri yang Intoleran?

Merawat Kemajemukan, Menjaga NKRI

Kebhinekaan Itu Sunnatullah, Hentikan Politisasi Pluralisme!

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

Prekariatisasi Global dan Omnibus Law

"Setuju", dengan intonasi panjang penuh kebahagiaan peserta sidang secara serentak merespons pimpinan demi ketukan palu UU Cipta Kerja atau akrab dikenal sebagai Omnibus Law. Tok,...

Perang dan Cerita

Demonstrasi tolak RUU Cipta Kerja terjadi pada 8 Oktober 2020. Seperti aksi-aksi lainnya, kita barangkali bisa mulai menebak, bahwa sepulangnya nanti, hal-hal yang menarik...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Legacy Jokowi, UU Cipta Kerja dan Middle Income Trap

“Contohlah Jokowi. Lihatlah determinasinya. Visinya. Ketegasannya ketika berkehendak menerapkan UU Cipta Kerja. Ia tak goyah walau UU itu ditentang banyak pihak. Ia jalan terus...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Hakikat Demokrasi

Demokrasi bagi bangsa Indonesia sendiri adalah istilah baru yang dikenal pada paruh abad ke-20. Dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, demokrasi dalam bentuknya yang modern...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.